Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 31 "Rasanya Kok Aneh Begini!!"


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang lumayan besar, terlihat seorang laki-laki dengan perban yang melilit keningnya juga plaster yang menutup luka dibawah matanya duduk dikursi kerja berwarna hitam dengan didampingi seorang laki-laki bertubuh jangkung yang sedari tadi sibuk dengan game diponsel pintarnya. Kedua tangan laki-laki itu diletakkan di atas meja dihadapannya. Pupil matanya tidak bergerak untuk beberapa saat , melihat rekaman video yang ada dilayar laptopnya.


Perasaan ingin tau menyelimuti pikiran laki-laki jangkung itu yang tak lain adalah Bima. Bima meletakkan ponselnya dan menghampiri sahabatnya yang sedari tadi terlihat begitu serius mengamati video didepannya tanpa bersuara, membuat rasa ingin taunya menang dari ketidakpeduliannya.


"Sebenarnya video apa yang sedang kau lihat, Tuan Muda Lu? Kenapa serius selali? Ahhh, aku tau, pasti video mesum ya?" tebak Bima asal, dan endingnya malah sebuah jitakan langsung Nathan hadiahkan pada kepala sahabat jangkungnya itu.


"Jangan asal bicara, ini adalah hasil dari pekerjaan kita beberapa hari yang lalu." timpal Nathan kemudian menunjukkan video itu pada Bima.


Mata Bima berbinar kagum. "Wihh, canggih. Bagaimana bisa seluruh aktifitas diperusahaan itu bisa terekam dan tersimpan dalam laptopmu? Ahh, pasti kau sudah meletakkan mata-mata di sana ne?"


Tukk!!


Lagi-lagi sebuah pukukan mendarat diatas kelapa Bima dengan mulus. "Dasar bodoh, jelas-jelas kau sendiri yang membantuku meletakkan kamera-kamera kecil itu, sekarang malah bertanya."


Mata Bima lantas membelalak. "Omo? Jadi karna lensa super kecil hasil buatan tangamu itu? Oh astaga Nathan Lu, selain tampan ternyata kau memang sangat jenius, bagaimana bisa kau berfikir untuk membuat kamera segala dan jelas-jelas sangat berguna. Aku akan bertepuk tangan untukmu, kau memang yang terbaik kawan. Setidaknya kesempurnaanmu bisa menutupi sedikit kebodohanku meskipun aku ini jauh lebih tampan darimu."


"Ck." Nathan berdecak lidah dan menatap tajam sahabat jangkungnya itu. Jika saja dia dan Nathan tidak berteman baik sejak sekolah menengah, pasti Nathan sudah melempar laki-laki jangkung itu kedalam suangai Han saking kesalnya. Ada saja tingkah dan ulah Bima yang membuatnya naik darah dan selalu mengelus dada.


Drett Drett Drett!


Perhatian Nathan sedikit teralihkan karna getaran pada ponselnya. Laki-laki itu memicingkan matanya melihat nama Henry tertera dilayar ponselnya. "Ada apa, Kak?" kedua mata Nathan membelalak setelah mendengar apa yang Henry sampaikan


"Bajingan itu, sepertinya dia sudah bosan hidup. Tahan mereka, aku akan kesana sekarang." Nathan mematikan sambungan telfonnya dan segera bangkit dari duduknya


"Nathan. Ada apa? Kenapa kau terlihat panik?"


"Bajing** itu datang lagi dan memaksa untuk membawa Rio pergi, dia melukai kak Senna dan membuat keonaran dirumah." ujarnya. "Ikut aku." Nathan menarik dasi panjang yang menggantung di leher Bima tanpa memberinya kesempatan untuk bicara.


"Uhuk, uhuk, Yakkk!! Nathan Lu, kau ingin membunuhku eo? Aku tidak bisa bernafas bodoh."


"Berisik."


Nathan mendorong Bima masuk kedalam mobilnya dan menempatkan laki-laki jangkung itu dijok depan samping kemudi. Susah payah Bima menelan salivanya, ia memiliki firasat buruk dengan hal ini sampai akhirnya... "KYYYYYAAAA..." Jeritan ketakutan menggema kana kegilaan dalam mengendarai mobilnya hingga berbagai sumpah serapah berkali-kali meluncur dari mulutnya.


Meskipun terganggu, namun Nathan tidak mau terlalu ambil pusing.. yang ada didalam fikirannya hanyalah Jia dan seluruh keluarganya terlebih lagi Viona juga ada di sana. Dan Nathan takut jika laki-laki itu sampai melukai Viona. "KYYYYAAA." Jeritan histeris kembali meluncur dari bibir Bima saat Nathan menambah kembali kecepatan pada mobilnya.


Tubuhnya benar-benar menegang dan perutnya semakin terasa mual. Mati-matian Bima menahan agar dirinya tidak sampai muntah karna kegilaan sahabatnya itu. Dan perjalanan yang seharusnya ditempuh selama 1 jam hanya Nathan tempuh kurang dari 20 menit saja.

__ADS_1


Dan setibanya di sana, Nathan melihat keadaan rumah peninggalan orang tuanya dalam keadaan kacau balau. Banyak sekali mayat bergelimpangan ,baik itu dari kubunya maupun kubu lawan. Nathan langsung bergabung bersama Kai dan Lay sementara Bima memuntahkan apa yang ada dalam perutnya.


Brakkk!!


Nathan menangkis serangan yang mengarah padanya dan menendang perut orang itu sebelum akhirnya membanting tubuhnya ketanah. Nathan seperti orang kesetanan saat menghajar para penyusup itu tanpa ampun, bahkan Nathan tidak segan-segan menembak dan mematahkan tulang orang-orang itu. Dan sedikitnya sudah sepuluh orang yang nyawanya melayang sia-sia ditangan Nathan. Namun tanpa Nathan sadari, ada seseorang yang berusaha memukulnya dari belakang.


Beruntung ada Bima yang lebih dulu menumbangkannya sebelum balok itu menghantam tubuh Nathan. "Simpan saja ucapan terimakasihmu untuk lain waktu, kawan." ucap Bima sambil menggerlingkan sebelah matanya.


"Kai, Lay urus mayat-mayat ini." Perintah Nathan dan segera dibalas anggukan oleh Kai dan Lay. Nathan meninggalkan halaman dan masuk kedalam rumah untuk memastikan keadaan keluarganya baik-baik saja. "Viona," seru Nathan melihat istri tercintanya.


Soktak Viona menoleh. "Oppa kau disini? Laki-laki itu berhasil meloloskan diri setelah melukai Kak Senna ."


"Kau tidak apa-apakan? Apa dia menyakitimu juga?" tanya Nathan memastikan. Viona menggeleng. "Lalu dimana kak Senna sekarang? Rio, Satya, Frans dan kak Henry. Apa mereka berempat baik-baik saja?" tanyanya memastikan, Viona mengangguk.


"Kak Senna sedang istirahat dikamarnya. Henry oppa pergi untuk menemui teman polisinya, dan tiga bocah itu diatas setelah berhasil mengusir laki-laki itu." ujarnya. "Oppa, kau baik-baik saja kan? Mereka tidak sampai melukaimu bukan?" Nathan menggeleng.


"Pergilah dan temani Kak Senna, aku akan berjaga disini. Aku yakin pasti bajingan itu akan datang sewaktu-waktu. Malam ini kita akan menginap dirumah ini," Viona menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis.


"Baiklah."


-


Gadis itu beranjak dari duduknya, tiba-tiba Viona merasa haus. Dengan langkah tanpa suara Viona meninggalkan kamar Senna, gadis itu mengerutkan dahinya mekihat lampu ruang keluarga masih menyala terang. Menutup kembali pintu kamar Senna. Viona mendekati ruang keluarga, dari kejauhan dia melihat seliut seorang pria yang sedang duduk di sana sambil menikmati segelas wine.


Sepasang mutiara hazelnya memperhatikan penampilan laki-laki itu yang sedikit berantakan, rambut coklatnya tampak acak-acakan, seluruh kancing pada kemejanya di biarkan terbuka hingga terlihat jelas singlet putih yang menjadi dalaman kemejanya. Gadis itu mendesah berat, dengan tenang Viona menghampiri laki-laki itu yang tidak lain adalah Nathan.


Mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat, Nathan segera mengangkat wajahnya yang tertunduk dan mendapati Viona berjalan menghampirinya. Aroma alkohol terserap indera penciumannya membuat kepala Viona menjadi pusing, namun Jessica tidak mempedulikannya dan melanjutkan langkahnya mendekati Nathan.


"Kau tidak tidur?" suara dingin Nathan yang terlewat datar langsung menyambut indera pendengarannya membuat Viona meringis.


Gadis itu mengambil tempat di samping Nathan dan kembali memperhatikan penampilannya. "Oppa, kau terlihat berantakan. Apa kau baik-baik saja?" tanyanya penasaran. Nathan menuang wine kedalam gelasnya yang telah kosong lalu meneguknya dengan sekali tegukan


"Tidak," jawabnya singkat.


Viona terdiam untuk beberapa saat sebelum kembali membuka suaranya. "Apa ini ada hubungannya dengan insiden yang terjadi kemarin siang?" Nathan menggeleng, membuat Viona semakin penasaran karna sepanjang ia mengenal Nathan. Tidak pernah Viona melihat laki-laki itu sekacau malam ini "Lantas?"


"....." namun tidak ada sahutan.

__ADS_1


Viona mendesah berat, dengan halus mengambil gelas wine dari tangan Nathan dan meletakkan kembali ke atas meja. "Cukup, Oppa. Kau tidak boleh minum lagi. Kau sudah mabuk." nasehat Viona namun hanya di sikapi dengan tatapan datar oleh Nathan.


Nathan kembali meraih gelas winenya dan hendak meminumnya membuat Viona menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Dengan cepat gadis itu menyambar gelas wine tersebut dari tangan suaminya lalu meneguknya ,mimik wajah Vivian berubah seketika ketika cairan berwarna putih itu melewati tenggorokannya


"Hoek,, Oppa, kenapa rasanya aneh begini."


Nathan mendengus geli lalu menyentil kening Viona dengan gemas. "Sudah tau tidak bisa minum, masih saja memaksakan diri."


Viona mencerutkan bibirnya, salah satu tangannya mengusap keningnya yang baru saja disentil oleh Nathan. "Oppa, sakit. Berhentilah menyentil keningku sembarangan. Siapa suruh kau mengabaikan nasehatku," ujarnya kesal.


Banyak sekali beban berat yang Nathan fikirkan. Selain membalaskan dendam kematian orang tuanya, Nathan juga harus memikirkan cara untuk mengambil alih harta milik Viona yang berada ditangan Lee Junsu dan berbagai masalah yang terjadi akhir-akhir ini termasuk insiden yang terjadi kemarin siang.


Nathan tidak akan pernah bisa merasa tenang sebelum mantan kakak iparnya itu tertangkap, dan Nathan bersumpah akan membunuh laki-laki itu dengan tangannya sendiri. "Viona, sebaiknya kau pergi tidur, ini sudah hampir pagi." pinta Nathan tidak ingin dibantah.


"Jika aku tidur, lalu bagaimana dengan Kak Senna? Oppa, aku tidak bisa meninggalkan dia sendiri. Bagaimana jika dia membutuhkan sesuatu? Kau tau bukan kalau Kak Senna sedang sakit, dia mengalami cidera." Ujar Viona panjang lebar. Nathan mendengus berat dan menatap tajam gadis didepannya.


"Cukup, Viona Lu. Jangan coba mendebatku, pergi kekamar dan lekas tidur." Viona mencerutkan bibirnya, sambil menghentakkan kakinya, gadis itu melenggang meninggalkan Nathan.


Sebenarnya Nathan tidak ingin bersikap keras pada Viona, tapi jika dia tidak bersikap tegas pasti Viona akan tetap keras kepala dan menolak untuk segera tidur. Dan hal itu Nathan lakukan untuk gadis itu juga, laki-laki itu tau bila Viona belum tidur sama sekali.


Brakkk!!!


Nathan mendongak dan menatap pintu bercat putih yang baru saja di tutup dengan keras, laki-laki itu menghela nafas panjang, sepertinya Viona kesal pada dirinya. Terlihat Nathan beranjak dari posisi duduknya kemudian melenggang menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


-


'Cklekk'


Buru-buru Nathan menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut tebal saat mendengar decitan pintu di buka dari luar. Tanpa melihatnya pun, Viona sudah tau jika itu Nathan. Mengabaikan suaminya, pura-pura Viona menutup matanya. Viona sangat-sangat kesal pada Nathan yang memaksanya untuk segera tidur, padahal dia masih ingin menjaga dan menemani Senna. Nathan mendengus geli melihat sekujur tubuh Viona tertutup selimut tebal, dan jika diperhatikan dia terlihat seperti ulat raksasa.


Setelah menanggalkan kemeja dari tubuhnya, Nathan menghampiri Viona kemudian berbaring disampingnya. Perlahan tapi pasti, Nathan menurunkan selimut yang menutupi kepala Viona sampai sebatas dada. Kedua mata Viona yang masih terbuka lebar bersiborok dengan mata coklat Nathan. "Kau marah padaku?" tanya Nathan memastikan.


Viona menggeleng tanpa mengakhiri kontak matanyal "Lantas kenapa kau terlihat begitu kesal? Ketahuilah, Sayang. Aku bersikap seperti itu karna aku peduli padamu, kau itu seorang dokter seharusnya kau yang lebih mengerti kondisi tubuhmu dibandingkan aku. Maaf, jika tadi berbicara dengan nada tinggi padamu, aku sungguh-sungguh minta maaf." ucap Nathan penuh sesal.


Viona menggeleng kemudian membenamkan wajahnya pada dada bidang Nathan yang tersembunyi dibalik singlet putihnya. "Aku yang seharusnya minta maaf karna sudah sangat kekanakan. Maaf, Oppa... aku memang menjadi sangat sensitive jika sedang datang bulan." Natha menarik pinggang Viona untuk semakin mendekat padanya.


Satu kecupan Nathan daratkan pada pucuk kepala Viona lalu memeluk wanita itu dengan erat. "Tidurlah, sudah hampir pagi." Kecupan lembut Nathan pada keningnya membawa Viona menuju alam mimpi. Viona mengangguk, wanita itu menutup matanya, dan sentuhan lembut pada kepalanya menghantarkan Nathan menghantarkan Viona ke alam mimpi.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2