
Waktu menunjukkan pukul 19.30 malam. Di jalan yang dipenuhi daun-daun kuning yang telah berguguran dari pohonnya, terlihat sepasang suami-istri yang tengah menyusuri jalan ini sambil bergandengan tangan. Malam ini cuaca sangat bersahabat, bulan bersinar terang dan langit di taburi milyaran bintang yang berkelip indah di atas sana.
Tap!!
Si pria tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat perempuan yang berjalan di sampingnya ikut berhenti juga, mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki tampan di sampingnya sedikit bingung. "Ada apa, Oppa? Kenapa tiba-tiba berhenti?" heran Viona sembari menatap suaminya.
Nathan tersenyum tipis. "Mau membuat moment indah di sini?" tawarnya
Viona memicingkan matanya. "Moment indah? Seperti apa?" tanya Viona dengan wajah polosnya.
Nathan menarik tengkuk Viona lalu menakup wajahnya. "Seperti ini," katanya.
Tanpa meminta ijin dulu pada sang empunya, langsung saja dicium bibir itu, dilum**nya penuh kelembutan. Cahaya bulan yang lembut dan milyaran bintang di atas sana menambah kesan romantis pagi pasangan muda tersebut. Meskipun sempat terkejut pasalnya Nathan menciumnya ditempat terbuka, akhirnya Viona menyambut ciuman lembut suaminya dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan.
Terlalu larut mereka dalam permainan, hingga tanpa sadar jika ada beberapa pasang mata yang tengah menatap mereka dengan berbagai ekspresi. Mulai ekspresi terkejut sampai tidak percaya.
Viona membuka matanya dan buru-buru mendorong Nathan saat melihat beberapa pasang mata tengah menatap mereka yang sedang berciuman. Buru-buru Viona membenamkan wajahnya yang memerah pada dada bidang Nathan yang tertutup kain kemeja hitamnya. "Oh no,!! Oppa, lihatlah banyak yang melihat kita." serunya panik.
"Tenanglah, anggap saja mereka semua adalah patung." ujar Nathan dengan santai.
Viona mengangkat wajahnya dan menatap suaminya itu tidak percaya, bagaimana mungkin Nathan bisa tetap bersikap setenang itu setelah kepergok banyak orang tengah berciuman di tempat umum? Tapi Viona tidak mau ambil pusing lagi. Toh, yang mereka lakukan bukanlah sesutu yang kriminal karna yang berciuman dengannya adalah suami sahnya.
Viona dan Nathan kembali melanjutkan langkahnya tanpa beban. Saat ini keduanya tiba di taman, Viona melepaskan genggaman Nathan dan berlari menuju bangku taman yang berhadapan dengan air mancur.
Nathan mendengus geli, menggelengkan kepalanya dan segera menyusul Viona. Namun ketenangan mereka tidak berlangsung lama karna kedatangan beberapa pria yang satu diantaranya sangat Nathan kenali. "Oppa, orang-orang itu.. sepertinya mereka berjalan kemari," seru Viona sedikit panik.
"Tetaplah di sini, aku akan mengurus mereka." Nathan bangkit dari duduknya dan menghampiri orang-orang itu.
Salah satu dari ketujuh pria itu menghampiri Nathan sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya, seringai sinis terpatri menghiasi wajahnya. Salah satu tangannya menarik kemeja hitam yang membalut tubuh Nathan. Nathan yang tidak suka langsung menyentak tangan laki-laki itu dan mengusap kemejanya yang sedikit kusut karna kelakuan laki-laki dihadapannya.
"Tetap saja searogan dulu," ucapnya meremehkan.
Laki-laki itu sedikit memiringkan kepalanya dan menatap sosok gadis yang sedang duduk dibangku taman seorang diri, Nathan mengikuti arah pandang laki-laki didepannya. "Dia sangat cantik, bisakah untukku saja." Laki-laki itu hendak menghampiri Viona namun segera ditahan oleh Nathan.
Nathan mencengkram lengannya dan menatapnya tajam "Jangan coba-coba untuk menyentuhnya jika kau tidak ingin peluru dalam pistol ini sampai menembus kepalamu." ancam Nathan sambil mengarahkan Colt 1911 miliknya pada kepala laki-laki itu. Nathan memiringkan kepalanya dan menyeringai tajam.
"Turunkan senjatamu dari kepala bosku atau kuledakkan lebih dulu kepalamu," Nathan melirik kebelakang saat merasakan sesuatu menempel pada kepala belakangnya.
__ADS_1
Nathan menurunkan pistol itu dari kepala laki-laki didepannya lalu melepaskan tembakan pada pria dibelakangnya dan membuatnya tumbang seketika. Untungnya Nathan menggunakan peredam suara hingga suara tembakan yang dilepaskan tidak menimbulkan suara yang mengundang perhatian.
"Oppa." teriak Viona melihat beberapa orang langsung menyerang Nathan secara bersamaan.
Kepanikan terlihat jelas dari dari raut wajahnya, Viona takut jika sesuatu yang buruk sampai menimpa suaminya. Mata Viona terbelalak melihat salah satu dari mereka menghampirinya. "Ma..mau apa kau?" panik Viona sambil mundur beberapa langkah kebelakang. "Aaaahhh." Gadis itu menjerit saat laki-laki itu berhasil menangkapnya. Sebuah ujung pistol menempel pada pelipis kanannya "O-oppa, tolong aku." teriak Viona ketakutan.
Dan teriakan Viona mengalihkan perhatian Nathan, matanya terbelalak melihat Viona dijadikan sandera. "Lihatlah, istri cantikmu berada di tanganku. Jika kau ingin dia selamat, turuti keinginan bosku."
"Lepaskan dia bajing**," geram Nathan marah.
"Bibirnya terlihat manis, aku jadi ingin menikmatinya."
"BANGSAT."
Bruggg!!
"Oppa." Viona menjerit histeris saat melihat salah satu dari mereka memukul kepala Nathan. Kelengahan Nathan tentu tidak mereka sia-siakan.
Nathan langsung di hajar secara keroyokan, tubuh Nathan di pukul meskipun beberapa berhasil ditahannya. Terlihat darah pada wajahnya. "Oppa...." tangis Viona pecah melihat Nathan dihajar dan dikeroyok seperti itu. Malam yang seharusnya menjadi malam paling tenang dan berkesan untuk mereka berubah menjadi musibah karna kemunculan orang-orang itu.
"Hahahha! Aku fikir kau benar-benar kuat... adik ipar. Ternyata kau tidak ada bedanya dengan kakak tertuamu, sama-sama lemah dan pecundang."
Laki-laki itu bangkit dari posisinya sambil menyeka darah dari pelipisnya yang robek. "Tapi sayangnya aku tidaklah selemah yang kau fikirkan," ucapnya. Nathan melepaskan tembakan pada laki-laki yang menyandera Viona.
"Aaaahhh." jerit gadis itu terkejut.
Viona menutup matanya. D dalam hidupnya, ini adalah kedua kalinya ia melihat kematian seseorang di depan matanya!! Dan parahnya lagi pelaku pembunuhan itu adalah suaminya sendiri. Keadaan kini diambil alih oleh Nathan sepenuhnya. Meskipun dalam keadaan terluka, namun tidak sulit bagi Nathan untuk mengatasi orang-orang itu. Nathan tidak segan-segan menghajar dan menghabisi orang-orang itu dengan sangat beutal. Dan tidak sampai lima belas menit, Nathan berhasil menumbangkan mereka semua kecuali laki-laki yang menjadi pimpinannya.
"Ini adalah harga mahal yang harus kalian bayar karna sudah membuat istriku meneteskan air mata. Dan kau... kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi.. mantan Kakak Ipar." seringai Nathan terkembang semakin lebar. "Selama ini kau sudah membuat sulit kakakku dan inilah waktu akhirmu." laki-laki itu memejamkan matanya dan menggeleng kuat.
"Na-Nathan, kita pernah menjadi satu keluarga. A-aku, akui jika aku banyak melakukan kesalahan pada Senna, tapi tidak bisakah kita bicara baik-baik dulu. Aku mohon, aku tidak mau mati. aku mohon... aku mohon,"
Nathan menyeringai sinis seraya memiringkan kepalanya. Matanya tetap dingin dan penuh dengan intimidasi. "Sayangnya aku bukanlah Tuhan yang muda mengampuni kesalahan hambanya. Dan aku sudah lama sekali menantikan moment ini, moment dimana aku bisa meledakkan kepalamu." ujar Nathan begitu dingin.
Sepertinya pria itu masih belum mengenal Nathan dengan sangat baik. Nathan bukanlah tipe pria yang pemaaf, yang akan memaafkan dan melupakan kesalahannya. Orang lain akan berfikir dua kali sebelum membuat masalah dengan Iblis seperti Nathan. Karna mereka tau jika harga mahal yang mereka bayar adalah dengan kematian. Dan hanya orang-orang bodoh yang berani membangunkan seorang Iblis yang sedang tidur, pria itu contohnya.
"Aku mohon, Nathan. Lagi pula apakah kau ingin membunuhku di depan istrimu. Kau akan buruk dimatanya." Nathan melirik kearah Viona yang masih terus menyusut air matanya.
__ADS_1
"Dia tidak akan meninggalkanku hanya karna membunuh manusia sepertimu. Untuk itu, uncapkan selamat tinggal." Nathan kembali mengarahkan pistolnya pada mantan kakak iparnya tersebut. Pria itu menggeleng, memohon.
"Nathan, jangaaannnn...!"
Doorrr!!!
Tubuh itu ambruk seketika setelah dua timah panas menembus tubuhnya. Nathan tidak langsung membunuhnya hanya membuat cacat dengah melumpuhkan kedua kakinya.
Viona menyeka air matanya, gadis itu berlari menghampiri Nathan dan berhambur memeluknya. Viona mencengkram kemeja hitam suaminya tanpa peduli jika kain berharga mahal itu akan kusut karna ulahnya. "Tenanglah, Sayang. Semua sudah berakhir." bisiknya meyakinkan. Salah satu tangannya mengusap punggung Viona dengan gerakan naik turun. Meyakinkan pada Viona jika semua baik-baik saja.
Viona mengangkat wajahnya, hatinya perih melihat beberapa luka menghiasi wajah Nathan. "Oppa, sebaiknya kita kembali kepenginapan. Luka-lukamu harus segera diobati." ucap Viona yang segera dibalas anggukan oleh Nathan.
"Baiklah,"
.
.
.
Viona menatap sedih suaminya, hatinya terasa begitu perih melihat luka-luka yang menghiasi wajah dan tubuh suaminya. Perban membalut di sana-sini, dan banyaknya perban menandakan berapa parah luka-luka yang dia dapatkan.
Perban membebat kening dan sedikit menjorok pada pelipis kanannyam perban lain menutup luka pada tulang pipi kiri juga leher dan lengannya yang tergores benda tajam. Meakipun ini bukan pertama kalinya Viona melihat Nathan terluka, bahkan luka kali ini tidak seberapa dibandingkan dengan luka yang Nathan alami diawal pertemuan mereka. Tapi tetap saja itu rasanya menyesakkan. Padahal bekas luka yang sebelumnya saja belum hilang dan sekarang muncul luka baru.
"Oppa, istirahatlah. Kau terlihat sangat buruk." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Nathan mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya menyeka lelehan liquid bening yang kembali menetes dari kedua mata indahnya.
"Jangan menangis, Aku mohon." lirih Nathan memohon.
Viona menurunkan tangan Nathan dari wajahnya lalu berhambur memeluknya. Tangis Viona pecah, gadis itu menyandarkan wajahnya pada dada bidang Nathan yang hanya tertutup singlet putihnya.
Memangnya istri mana yang tidak akan sedih dan sakit saat melihat suami yang sangat dia cintai terluka di depan matanya, dan itu pula yang Viona rasakan saat ini. Saat dirasa mulai tenang, Viona melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik itu dengan sendu. "Jangan menangis lagi, Sayang. Sungguh, aku tidak apa-apa. Luka-luka seperti ini tidak akan membunuh suamimu." Bisik Nathan meyakinkan
"Bagaimana aku bisa merasa tenang ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kau dihajar dan dikeroyok seperti itu. Hiks, aku... benar-benar takut." Nathan mendesah berat, dan kembali membawa Viona kedalam pelukannya. Nathan memahami betul apa yang Viona rasakan.
"Maaf, Sayang. Harusnya malam ini menjadi malam yang indah dan membahagiakan untuk kita. Tapi aku malah membuatmu menangis seperti ini. Kepalaku sangat pusing, sebaiknya kita tidur sekarang. Kau juga terlihat lelah,"
Viona menyeka air matanya lalu mengangguk. "Baiklah," jawabnya singkat. Nathan menarik Viona untuk berbaring disampingnya, menjadikan lengan kirinya sebagai bantalan kepala gadis itu. Ciuman lembut pada keningnya mengantarkan Viona menuju alam mimpinya.
__ADS_1
-
Bersambung.