
Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
..."**A**ku bukan lagi wanita sempurna yang selama ini kau impikan. Aku hanya wanita cacat yang tidak berguna, oppa. Aku sudah berakhir.”...
..." Saat ini sudah tidak ada lagi kebahagiaan yang bisa kau harapkan dariku.”...
..."Sebaiknya kita bercerai saja. Kita akhiri saja.. semuanya.. Kau akan lebih baik tanpa diriku, mungkin kebahagiaanmu memang bukan bersama diriku, tapi bersama wanita lain."...
..."Oppa, jalani hidupmu dengan baik. Meskipun aku tidak lagi disisimu, tapi percayalah jika cinta dan hatiku hanya milikmu. Dan selamanya akan selalu seperti itu,"...
..."Aku pergi, jangan mencari ku apalagi mengharapkan ku kembali"...
Zian meremas kertas tak berdosa itu dengan kuat. Pria itu memejamkan matanya. Ia meringis sakit setelah membaca surat Luna. Kepalanya berangsur tertunduk. Dalam kediaman tubuhnya, Zian mulai mengeram marah. Ada rasa marah, kesal, kecewa, sedih, sakit, semua bercampur menjadi satu dan menghimpit dadanya. Zian merasa marah dan kesal pada dirinya sebdiri, mengapa ia sama sekali tidak mengetahui jika selama ini ada iblis bernama Kanker, bersemayam dalam tubuh istrinya.
Ia kecewa kenapa Tuhan harus memberikan penyakit itu pada Luna. Ia merasa sedih karena membiarkan Luna melawan semua ini sendirian. Ia merasa sakit karena Luna-nya yang mengalami ini. Mengapa harus Luna? Dari semua wanita yang ada di dunia ini kenapa harus Luna, kenapa harus istrinya.
Dan jika saja Zian bisa bernegosiasi dengan Tuhan, ia ingin Tuhan mengambil nyawanya dan menukarnya dengan kesembuhan Luna. Andaikan saja dia bisa melakukannya. Tetapi Zian tau jika hal itu tidaklah mungkin terjadi.
Zian menyeka air matanya kemudian menyambar kunci mobilnya. Ia harus menemukan Luna dan membawanya kembali. Dia tidak bisa kehilangan Luna. Zian tidak bisa membiarkan Luna melewati semuanya sendiri saja. Zian tidak ingin kehilangan Luna walaupun hanya satu detik saja.
Mobil Zian melaju pada jalanan kota Seoul yang lumayan padat. Zian meminta bantuan pada orang- orang terdekatnya untuk mencari Luna termasuk Nathan. Zian tidak bisa mencarinya sendiri, karena hal itu hanya akan memakan banyak waktu.
"Luna Qin, di mana kau sebenarnya?" gumam Zian yang terdengar begitu frustasi.
Sudah lebih dari dua jam Zian mencari Luna tanpa hasil. Dia belum juga menemukan keberadaan wanita itu. Sudah banyak tempat yang Zian datangi, tetapi Zian tetap tidak bisa menemukannya. Begitu pula dengan Nathan dan yang lainnya. Mereka juga belum bisa menemukan jejak Luna. Wanita itu hilang bak di telan bumi.
Tiba-tiba ponsel dalam saku celana Zian berdering yang menandakan ada panggilan masuk. Tanpa membuang banyak waktu Zian segera menerima panggilan itu.
"Salah seorang temanku melihat, Luna di Stasiun Hoehyeon. Sebaiknya kau segera ke sana sekarang,"
Zian langsung memutuskan sambungan telfonnya. Dan dia berani bersumpah jika saat ini Reno sedang kebakaran jenggot karena kebiasaannya yang suka memutus sambungan telfon secara sepihak.
Zian putar balik dan bergegas menuju Stasiun Hoehyeon. Stasiun Hoehyeon sendiri adalah sebuah stasiun di Seoul Subway Line 4. Stasiun ini terletak di Namchang-dong, Jung-gu, Seoul, Korea Selatan. Dan kebetulan saat ini Zian berada tidak terlalu jauh dari Stasiun Hoehyeon. Hanya butuh sepuluh menit dia untuk tiba di sana. Zian tidak akan membiarkan Luna pergi kemana pun apalagi berada jauh darinya.
-
Entah apa yang ada di pikiran Luna sampai-sampai dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Zian. Saat ini Luna sedang berada di Stasiun Hoehyeon, Luna berencana meninggalkan Seoul. Luna memiliki rumah yang terletak di kota Busan. Rumah itu adalah rumah peninggalan mendiang Ibu angkatnya yang memang di wariskan padanya.
Meskipun mereka masih berada di negara yang sama. Tapi Luna yakin bila Zian tidak mungkin bisa menemukan dirinya karena dia tidak tau menahu mengenai rumah itu. Karena Luna tidak pernah memberi tau Zian sebelumnya. Begitulah yang Luna pikirkan.
__ADS_1
Luna mengangkat wajahnya saat mendengar sebuah pengumuman jika kereta yang hendak dia naiki sudah siap berangkat dan para penumpang di minta untuk segera naik.
Luna menyeka air matanya kemudian beranjak dari duduknya. Dengan berat hati Luna akan pergi meninggalkan cintanya di kota ini. Namun belum sepuluh langkah dia berjalan, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menghentikan langkahnya. Sontak saja Luna menoleh dan...
PLAKK...
Sebuah tamparan mendarat pada pipi kanannya. Saking kerasnya tamparan itu sampai-sampai membuat wajah Luna menoleh ke samping, pipinya juga tampak memerah. Sontak saja Luna mengangkat wajahnya dan matanya membulat sempurna setelah melihat siapa orang yang berdiri dihadapannya.
"OPPA!!"
.
.
Luna terus menundukkan wajahnya dan tidak berani membalas tatapan tajam Zian yang begitu mengintimidasi. Luna merasa ngeri sendiri melihat tatapan suaminya yang super tajam itu.
"Sampai kapan kau akan menundukkan wajahmu dan menolak untuk menatapku, Luna Qin!!" geram Zian dengan sikap istrinya. "Luna, aku bicara padamu!!" Zian mulai kehilangan kesabarannya karena sikap Luna yang seperti mengabaikan dirinya.
Baru saja Luna hendak membuka bibirnya untuk berbicara, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Dahi Luna menyernyit melihat nama yang menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. "Oppa, sebentar. Pending dulu kemarahanmu, ini dari Dokter Kang. Aku angkat dulu," Luna mencoba bersikap biasa saja dan menunjukkan sisi terkuatnya meskipun pada kenyataannya dia sangat hancur.
"Nona Qin, bisakah Anda datang ke rumah sakit sekarang juga. Ada hal penting yang hendak saya sampaikan kepada Anda,"
"Baiklah, Dokter saya akan ke sana sekarang juga,"
"Dokter Kang, memintaku untuk datang ke rumah sakit. Dia bilang ada hal penting yang ingin dia sampaikan padaku. Oppa, bisakah kau menemaniku? Aku merasa gugup sekaligus takut," ujar Luna.
"Ganti dulu pakaianmu. Setelah ini kita pergi ke sana sama-sama," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
"Kalau begitu tunggu sebentar,"
Bukan hanya Luna. Zian juga mengganti pakaiannya. Dia merasa kegerahan dengan pakaian lengan panjang yang dia pakai seharian ini, di tambah lagi dengan suasana hatinya yang teramat sangat buruk.
Luna keluar dari kamar mandi dan mendapati Zian keluar dari ruangan tempat semua barang-barang pribadi mereka berdua tersimpan dengan pakaian yang berbeda dengan yang dia pakai sebelumnya. Zian memakai pakaian tanpa lengan dan membuat pipi Luna merona seketika.
Jika saja keadaan mereka berdua tidak genting, pasti Luna sudah melompat ke atas tubuh suaminya dan kemudian mengajaknya bercinta. Entah kenapa Luna lebih menyukai jika Zian memakai pakaian lengan terbuka karena menurutnya itu akan membuat Zian menjadi lebih tampan dan lebih keren.
"Ada apa?Kenapa kau menatapku seperti itu?" sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Zian, Luna menggeleng.
"Tidak apa-apa," Luna tersipu.
"Kau sudah siap?" Zian beranjak dari duduknya dan menghampiri Luna. Zian jalan lebih dulu dan meninggalkan Luna beberapa langkah di belakangnya. Pria itu bersikap lebih acuh dan lebih dingin padanya.
__ADS_1
Luna menghela nafas. Tidak seharusnya dia merasa sedih. Karena dirinya juga Zian menjadi dingin seperti ini. Jika saja dia tidak bersikap kekanakan dan mencoba untuk lari dari kenyataan, mungkin Zian tidak akan sedingin itu padanya.
.
.
.
"APA? SALAH DIAGNOSA?"
Luna memekik sekencang-kencangnya setelah mendengar apa yang baru saja dokter Kang sampaikan. "Benar, Nona. Hasil Lab milik Anda tertukar dengan orang lain, kebetulan nama dan marga kalian sama. Untuk itu kami pihak rumah sakit minta maaf yang sebenar-besarnya." Ujar dokter Kang penuh sesal.
"Lalu mengenai gejala-gejala yang saya alami bagaimana, Dokter?"
"Sebenarnya itu adalah hal yang wajar yang dialami oleh wanita yang hendak atau sesudah datang bulan atau memiliki masalah pada pencernaan. Anda dalam keadaan sehat, Nona. Sekali lagi kami selaku pihak rumah sakit meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Anda,"
Zian mendesah berat. Dia benar-benar kesal setengah mati pada dokter dihadapannya ini. Rasanya dia ingin sekali membunuh dokter itu karena sudah berhasil membuat cemas semua orang dan membuat dirinya serta Luna nyaris saja gila akibat diagnosanya yang ternyata salah alamat.
Dengan perasaan kesal bercampur marah. Zian meninggalkan ruangan tersebut. Bahkan dia tidak menunjukkan sikap ramah sedikit pun pada dokter Kang. Zian benar-benar kesal setengah mati.
"OPAA!!" seru Luna dan membuat Zian kau tidak mau menoleh padanya. Tubuh Zian terhuyung kebelakang karena pelukan Luna yang begitu tiba-tiba.
"Oppa, kau dengar apa kata dokter Kang tadi? Ternyata aku tidak sakit dan aku baik-baik saja. Itu artinya impianku untuk memiliki anak satu kandang akan segera menjadi kenyataan. Oppa, bagaimana jika setelah tiba di rumah kita langsung membuatnya? Bukankah lebih sering itu akan lebih baik," Luna menatap Zian dengan mata berbinar-binar. Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklatnya. Luna meringis, jari-jarinya mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Zian.
Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian dan menatap langsung pada mata abu-abunya. "Oppa, kau harus bertanggung jawab padaku. Kau tadi menamparku dengan keras, dan untuk itu... eemmpphh," Luna tidak melanjutkan ucapannya karena Zian lebih dulu membekap bibir wanita itu dengan bibirnya.
Luna bersorak dalam hati. Gelenjar panas dalam tubuhnya seolah-olah mengambil alih kewarasannya ketika ciuman mereka semakin panas dan dalam. Jika saja ini bukan tempat umum pasti Luna sudah langsung memintanya. Dan tidak sampai satu menit Zian sudah mengakhiri ciumannya. Dan keberadaan orang-orang di sana mereka anggap sebagai angin lalu.
"Sudah berkali-kali melakukannya, tapi kau tetap saja payah," cibir Zian seraya mengusap sisa liur di bibir Luna.
Alih-alih marah, Luna malah terkekeh. Dengan mesra Luna memeluk lengan terbuka suaminya. "Ayo kita pergi," dan keduanya pun meninggalkan rumah sakit dan pergi ke parkiran tempat di mana mobil Zian di parkiran.
Zian tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika iris abu-abunya tanpa sengaja menangkap siluet seorang pria baru saja memasuki sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya memarkirkan mobilnya.
Wajah itu begitu tidak asing bagi Zian. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, tapi Zian masih mengingat betul wajah itu. Wajah orang yang paling dia benci dan ingin dia singkirkan dari dunia ini. Dan orang itu adalah Derby Qin, yang tak lain dan tak bukan adalah sepupu Zian.
"Oppa, siapa yang sedang kau lihat?" tanya Luna penasaran. Luna mengikuti arah pandang Zian namun tak mendapati siapa-siapa selain puluhan mobil yang terparkir tanpa ada tuannya.
Zian menggeleng. "Bukan siapa-siapa, aku fikir aku melihat seseorang yang aku kenal. Tapi ternyata bukan. Ya sudah ayo kita pulang sekarang."
"Baiklah,"
-
__ADS_1
Bersambung.