
Aroma lezat makanan yang berasal dari arah dapur membuat kedua mata Nathan yang sebelumnya tertutup seketika terbuka. Pria itu bangkit dari berbaringnya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karna keringat.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Nathan segera dan menghampiri Viona yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. "Pagi," sapa Viona saat melihat kedatangan Nathan.
"Pagi juga, Sayang," sebuah kecupan mendarat mulus pada bibir ranum Viona yang kemudian disusul dengan pagutan lembut. "Apa yang sedang kau masak? Aromanya sangat lezat,"
"Benarkah?" Nathan mengangguk. "Aku memasak makanan kesukaanmu karna sudah lama sekali aku tidak memasak untukmu, bukankah begitu? Oya. Oppa, aku sudah menyiapkan kopi untukmu. Minumlah sebelum dingin," Nathan mengusap rambut Viona dan mengangguk. "Aahhh,"
Trangg...
Pisau dalam genggaman Viona terlepas begitu saja setelah tanpa sengaja mengores ujung jarinya. Darah seketika keluar dari lukanya yang terbuka. Dan melihat hal tersebut tak membuat Nathan tinggal diam. "Ck, kenapa kau ini ceroboh sekali," omel Nathan setelah meludahkan darah yang ada di dalam mulutnya.
"Bukan salahku, tapi pisaunya yang terlalu tajam," jawab Viona membela diri.
Nathan mendesah berat. "Sudah, tidak perlu dilanjutkan lagi. Kita saparan dengan makanan yang telah siap saja," ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.
"Terserah Oppa saja," Viona tersenyum kemudian duduk berhadapan dengan Nathan. Tak lupa Viona mengambilkan nasi dan lauk untuk Nathan. Dan selanjutnya sarapan mereka lewatkan dengan tenang.
.
.
Usai menemani Viona sarapan dan mengantarkannya pulang. Nathan langsung pergi untuk bertemu dengan salah seorang kawan lamanya yang memang Nathan undang secara khusus. Bukan di cafe atau restoran berbintang, melainkan diklub malam miliknya.
Nathan duduk sambil memangku dagunya. Kedua matanya tertutup rapat. Dan derap langkah kaki seseorang yang datang membuat perhatian Nathan teralihkan. Nathan menoleh dan sosok jangkung terlihat menghampirinya.
"Bima,"
"HUAAA... SETAN!!!" Bima menjerit histeris dan langsung melompat dan memelul Theo. "Huhuhu..Hantunya Nathan yang baik hati dan setia kawan, aku mohon jangan menggangguku, aku tau jika aku ini teman yang sangat payah. Tapi aku sangat setia kawan. Huhuhu, jadi jangan memakanku,"
Nathan memutar matanya jengah. "Dasar Bima bodoh, aku manusia dan aku bukan hantu!!" tegas Nathan dan membuat mata Bima terbelalak.
"A-Apa? Kau... bukan hantu? Apa kau sungguh-sungguh Nathan? Kau...jadi kau masih hidup?" tanya Bima memastikan. Antara oercaya dan tidak.percaya Nathan mengangguk. "HUAAA..!".Bima langsung histeris dan memeluk Nathan. "Hiks, aku fikir kau benar-benar sudah mati. Hiks, jika kau masih hidup, lalu kenapa kau tidak pernah datang menemuiku?" ujar Bima terisak.
"Ceritanya panjang," Nathan meleskan pelukkan Bima. "Dan intinya aku masih hidup,"
Bima memperhatikan Nathan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Banyak sekali perubahan pada diri sahabatnya tersebut. Dan yang lebih mengejutkan bagi Bima adalah mata kiri Nathan yang semula cacat kini terlihat baik-baik saja. Dan Bima membutuhkan penjelasan dari sahabatnya tersebut.
"Kau berhutang banyak penjelasan padaku, Xi Nathan. Sekarang bisakah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kau bisa hidup? Dan selama beberapa bulan ini kau pergi kemana saja? Lalu bagaimana dengan Viona? Apakah dia tau jika kau masih hidup?"
"Hn,"
__ADS_1
"Jadi hanya aku saja yang tidak tau?" Bima menatap Nathan tak percaya.
Nathan memutar matanya jengah. "Kau terlalu berlebihan, Bima Park. Bukankah sekarang kau sudah tau jika aku masih hidup?"
"Memang, tapi tetap saja itu sangat menyebalkan!!"
Lagi-lagi Nathan memutar jengah matanya. "Aku sudah merubah identitasku. Orang yang tau aku masih hidup habya Viona, Kakek, Park Yoong dan kau. Aku harap mulutmu itu tidak ember dan membocorkan kebenaran tentangku pada siapa pun.
Aku tidak bisa kembali sebelum berhasil membuat Doris Lu menangis darah. Dan bersikaplah kau tidak mengenalku ketika kita bertemu denganku. Di luar kita adalah orang asing. Jika kau ingin menemuiku, datang saja ke klub ini. Dan ini kartu nama seta identitas baruku,"
Bima membaca nama yang tertera pada kartu nama yang Nathan berikan padanya. "Kevin Xiao? Jadi saat ini namamu Kevin Xiao?"
"Hn, dan kau bisa pergi sekarang. Karna aku masih ada urusan," Nathan bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Yakk!! Bocah kutub, kenapa aku malah ditinggalkan!! Huft, tidak berubah sama sekali. Tetap saja menyebalkan!!"
-
"Vi, jujur saja aku sangat ketar-ketir menunggumu melakukan persalinan. Kata-kata mendiang Senna Sunbae masih belum hilang dari benakku. Sejak awal kau tau jika kehamilanmu ini sangat beresiko tinggi untuk keselamatkanmu. Tapi kenapa kau masih harus mempertahankannya sampai sekarang?"
"Itu karna aku tidak ingin mengecewakan Nathan Oppa. Sejak awal dia sangat menantikan kelahiran anak ini, apalagi anak ini adalah satu-satunya yang aku miliki darinya. Dan aku menyerahkan semuanya pada Tuhan, jika memang Tuhan masih mengijinkan aku tetap hidup. Maka aku akan selamat dalam persalinanku nanti, tapi jika Tuhan harus pergi, aku sudah siap,"
Sejak awal Viona sudah tau jika kehamilannya kali ini sangat beresiko tinggi pada keselamatannya. Senna sudah pernah menyarankan supaya Viona menggugurkan saja janin kembarnya tapi dia menolaknya dan bersikeras ingin mempertahankannya. Anak itu adalah impian Nathan sejak lama, dan Viona tidak ingin mengecewakan Nathan untuk yang kesekian kalinya.
"Viona, jangan bicara sembarangan!! Semua akan baik-baik saja dan tidak akan ada hal buruk yang terjadi padamu, kau mengerti!!"
Ponsel milik Viona tiba-tiba berdering dan nama Kevin menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Setelah meminta ijin pada ketiga sahabatnya, Viona langsung pergi karna Nathan sudah menunggunya. Tapi tentu saja mereka tidak tau kemana Viona akan pergi dan dengan siapa dia akan bertemu
.
.
.
"Oppa," seru Viona.
Wanita itu menghampiri Nathan yang memang sedang menunggu kedatangannya. Keduanya berpelukkan selama beberapa saat. "Apa kau sibuk hari ini?" Viona menggeleng. "Itu artinya kita bisa bersama sepanjang hari ini?"
Viona mengangguk. "Tentu saja, pasti sikembar sangat bahagia karna mereka bisa bersama Papanya lebih lama," ujar Viona sambil mengusap perutnya yang semakin membuncit
Nathan tiba-tiba berlutut di depan Viona. Wajahnya berhadapan langsung dengan perut yang istri. Sudut bibir Nathan tertarik keatas melihat, dengan lembut Nathan mengusap perut Viona lalu menciumnya. Netapa Nathan tidak sabar menunggu kelahiran mereka.
"Oppa, jika seandainya aku tidak selamat dalam persalinan mereka nanti. Apakah kau akan menyalahkan dan membenci mereka?"
__ADS_1
Nathan memicingkan matanya. "Apa maksudmu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
Viona menggeleng. "Kau tau sendiri bukan resiko wanita saat melahirkan sangat besar. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku nanti, apakah aku bisa bertahan atau tidak. Dan aku berharap kau tidak akan pernah menyalahkan apalagi membenci mereka apapun yang akan terjadi padaku nanti," Viona mengunci manik abu-abu milik Nathan dan menatapnya dalam.
"Jangan bicara sembarangan, semua akan baik-baik saja dan tidak akan ada yang terjadi padamu. Dan aku tidak akan mengampunimu jika kau berani meninggalkanku!! Karna aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku walaupun hanya satu detik saja," ucap Nathan dan membawa Viona ke dalam peluklannya.
Viona menutup matanya. Hatinya hancur mendengar ucapan Nathan. Ia tidak tau bagaimana hancurnya Nathan nanti jika dirinya benar-benar pergi. "Tidak Oppa, aku tidak akan meninggakkanmu, tidak akan pernah!!" ucap Viona seraya mengeratkan pelukkannya.
Nathan melepaskan pelukkannya. "Bisa kita pergi sekarang? Aku akan membawamu ke suatu tempat,"
"Benarkah? Memangnya kau ingin membawaku kemana?" tanya Viona begitu antusias.
Nathan menarik ujung hidung Viona. "Jika aku memberitaumu sekarang bukan kejutan namanya. Ya sudah, kita berangkat sekarang," ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.
-
Seorang gadis berparas cantik bersurai coklat keemasan baru saja menginjakkan kakinya di bandara Incheon, Seoul, Korea Selatan. Ia membuka kacamata yang ia pakai dan tersenyum menatap ke sekelilingnya.
Dia memang asli Korea, tapi ia baru saja tiba lagi di Seoul setelah tinggal di Inggris selama 7 tahun. Gadis itu terlihat mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku baru saja tiba, kau di mana?" ujar gadis itu saat sambungan teleponnya tersambung sambil terus melangkah mendorong trolli berisikan koper-kopernya. Sesaat ia memberhentikan langkahnya dan tersenyum. "Oppa," Ujar gadis itu dan melambaikan tangannya pada sosok tampan yang memang sudah menunggu kedatangannya.
"Oppa," panggil gadis itu seraya berlari menghampiri pria yang dia panggil Oppa dan berhambur memeluknya. "Aku merindukanmu," ucap gadis itu sambil mengeratkan pelukkannya. Memeluk sang kakak penuh rindu.
"Oppa juga sangat merindukanmu, Leonil Luna," balas pria yang pastinya adalah Dean
Luna melepaskan pelukkannya. "Oppa, bisakah kita pergi sekarang? Aku sangat lelah, aku ingin segera pulang kemudian beristirahat. Satu lagi, jangan lupa bawakan semua barang-barangku, oke," Luna menggerlingkan matanya pada Deano. Sedangkan Dean hanya bisa mendesah berat
Dengan langkah lebar, Dean segera menyusul Luna yang berjalan beberapa meter di depannya. "Yakk!! Gadis barbar, tunggu Oppa!!"
"Oppa, kau terlalu lamban. Ayo cepat sedikit!!" seru Luna kemudian terkekeh.
"Yakk!! Dasar adik durhaka!!"
Sepasang mutiara indah milik Luna terus memperhatikan apapun yang dilaluinya. Saat ini Luna dan Dean sedang dalam perjalanan pulang. Sesekali Dean menoleh pada sang adik yang terlihat begitu menikmati perjalanannya.
"Kau tidak ingin mampir kemana-mana dulu? Makan siang mungkin?"
Luna menggeleng. "Aku makan siang di rumah saja. Aku ingin segera sampai kemudian tidur. Perjalan panjang ini benar-benar membuatku lelah. Hoam, aku sangat mengantuk,"
Dean mendengus geli. "Dasar tukang tidur," Dean tidak menyangka jika kebiasaan lama adiknya belum hilang juga. Tidak salah jika sejak kecil Luna dijuluki sebagai Sleeping Beauty oleh Ibu mereka karna hobi tidurnya tersebut.
__ADS_1
-
Bersambung.