
"Hiks.... HUUAAA...."
Tangis trio kadal pecah seketika. Mereka meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Bagaimana tidak, semenjak Luna positif hamil, wanita itu selalu saja menindas mereka bertiga dengan berbagai permintaan-permintaannya yang selalu aneh-aneh.
Hari ini contohnya....
Luna meminta dan memaksa memakai kostum badut dan bernyanyi sambil menari di lampu merah. Jika mereka tidak menuruti, maka Luna akan mengancam mogok makan dan jika ada apa-apa pada dirinya, Luna akan menyalahkan mereka bertiga.
Bukannya membela mereka. Viona dan Nathan malah mendukung karena menurut mereka sekali-kali mereka bertiga perlu di beri pelajaran. Dan sepertinya karma sedang berbalik menyerang mereka bertiga. Jika biasanya mereka yang membuat orang lain sengsara karena kenakalannya, maka tidak kali ini, karena merekalah yang menjadi korban dari kejahilan orang lain.
"Kenapa kalian berhenti dan malah menangis? Ayo cepat menari dan nyanyi lagi." Pinta Luna menuntut.
"Nunna, apa kau tidak bisa mengidam yang lain saja? Meminta kami menjadi tampan contohnya, kenapa harus jadi badut, huaaa..." Tangis Satya seketika pecah.
"Benar, Bibi. Hiks, ini sangat-sangat memalukan. Bagaimana kalau ada gadis cantik yang melihat kami dalam wujud mengerikan ini? Bisa-bisa mereka kabur dan menolak untuk kami ajak kencan. Yang lain saja ya," pinta Rio membujuk.
"Tidak mau!! Lagipula ini bukan permintaanku, tapi permintaan si jabang bayi. Bagaimana kalau dia sampai ngiler karena ngidamnya tidak terpenuhi? Kalian mau tanggung jawab?"Luna menatap ketiganya bergantian. Ketiganya menggeleng dengan kompak.
"Tentu saja tidak."
Laurent turun dari mobil kemudian menghampiri mereka berempat. "Uncle, kalian tenang saja. Aku dan, Lucas akan menemani kalian di sini. Lihatlah, aku sudah memakai gaun Princess. Ayo, kita menari sama-sama." Laurent mengedipkan mata pada trio kadal. Sedangkan Lucas berdecak sebal sambil memutar jengah matanya.
"Tapi kenapa kau harus melibatkanku juga," keluh Lucas setengah kesal. Bagaimana tidak, Laurent memaksanya untuk berdandan seperti wanita dan jika dia tidak mau. Laurent mengancam akan membuka aibnya di depan umum, sehingga dia tidak memiliki pilihan.
"Diamlah!! Kau tidak usah banyak mengeluh dan ikuti saja," ucap Laurent sambil berdecak sebal.
Lucas mendengus lelah. Menghentakkan kakinya kesal. Lucas mengikuti Laurent. Sedangkan Luna bersorak heboh, dia begitu menikamati pertunjukkan yang trio kadal dan si kembar ciptakan. Dan Zian yang juga ada di sana hanya bisa mendengus melihat tingkah Luna yang semakin hari semakin merepotkan saja.
-
Malam sudah semakin larut namun Luna masih tetap terjaga. Wanita itu sudah mencoba untuk tidur namun tidak bisa. Matanya begitu sulit untuk di pejamkan meskipun sebenarnya dia sudah mulai mengantuk.
Kemudian pandangannya bergulir pada Zian yang berbaring disampingnya. Suaminya itu terlihat lelap dalam tidurnya, melihat wajah lelah Zian membuat Luna merasa tidak tega untuk membangunkannya
Luna menyibak selimut dari tubuhnya kemudian turun dan berjalan menuju balkon. Udara malam yang terasa dingin langsung menyambutnya begitu pintu kaca yang menghubungkan kamar dan balkon terbuka. Sebenarnya Luna ingin sekali memakan, makanan yang pedas. Tapi dia takut Zian akan mengomelinya karena suaminya itu melarangnya untuk memakan makanan yang pedas.
Luna mengusap perutnya. "Sabar ya, Nak. Mama, tidak ingin papamu sampai mengomeli, Mama karena keinginanmu itu. Lain kali saja ya makan Tteokbokki-nya," Luna mendesah berat. Dia benar-benar ingin sekali memakan, makanan Tteokbokki, tapi Zian pasti akan langsung melarangnya dengan berbagai alasan.
"Apa kau sungguh-sungguh ingin memakan Tteokbokki?"
"Omo!!"
Luna terlonjak kaget karena kemunculan Zian yang begitu tiba-tiba. Dan entah sejak kapan Zian sudah ada di belakangnya. "Oppa, kau di sini? Tapi sejak kapan?"
"Sejak kau mendengus sambil terus menggerutu karena ingin memakan makanan pedas. Mendengar ucapanmu, membuatku merasa seolah-olah aku adalah seorang suami yang jahat karena tidak memenuhi ngidamu itu. Ambil mantel hangatmu, aku akan mencuci muka terlebih dulu," kemudian Zian beranjak dari hadapan Luna dan pergi begitu saja. Sedangkan Luna langsung berjingkrak kegirangan. Dia pikir dia tidak akan bisa memakan Tteokbokki impiannya tersebut.
"Oppa, kau memang yang terbaik. Aku semakin mencintaimu," seru Luna dengan suara sedikit meninggi.
.
__ADS_1
.
Mendapatkan Tteokbokki di negeri orang apalagi Yunani, ternyata tidaklah sesulit yang Zian pikirkan. Ada sebuah restoran yang semua menunya adalah makanan khas Korea Selatan.
Bukan hanya itu saja, karena ternyata paman dan bibi pemilik restorannya adalah orang Korea yang memang sudah menetap di Yunani. Beruntung restoran itu masih buka meskipun waktu setempat sudah menunjuk pukul 00.00 tengah malam.
Usai membeli Tteokbokki, mereka memutuskan untuk langsung pulang. Luna merasakan jika kedua matanya semakin lama semakin memberat dan sulit untuk diajak kompromi lagi. Dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Sepanjang perjalanan. Luna terus saja berceloteh dan menceritakan begitu banyak hal pada Zian. Bukannya merasa bosan, Zian justru merasa terhibur. Meskipun Zian tidak memberikan respon yang baik, tapi dia mendengarkan semua apa yang Luna celotehkan. Mimik wajahnya terus berubah-ubah. Dan itu membuat Zian merasa gemas.
"Wahhh..!! Ada mangsa empuk ni. Berhenti kalian dan serahkan semua harta benda yang kalian miliki!!"
Luna dan Zian menghentikan langkahnya karena kemunculan beberapa pria yang sepertinya adalah preman setempat. Zian langsung menarik Luna untuk berdiri dibelakang punggungnya. "Sebaiknya kalian minggir dan jangan menghalangi jalanku!!" ucap Zian dengan suara dingin terlewat datar. Sorot matanya berubah tajam dan berbahaya.
"Tidak!! Kalian tidak akan bisa lewat sebelum kau memberikan semua harta benda yang kau miliki termasuk... Dia!!" jawab salah seorang dari ketujuh pria tersebut sambil menunjuk Luna.
"Atau begini saja. Kami akan membiarkanmu pergi asal kau mau meninggalkan wanita yang bersamamu itu dan memberikannya pada kami," sahut salah seorang lagi.
"YAKK!!" dan membuat Luna merasa tidak terima karena dirinya bukanlah sebuah barang yang bisa di ambil dan di dapatkan dengan seenak jidat.
"Kau mundurlah, biar aku saja yang menyelesaikan mereka." Zian melirik Luna melalui ekor matanya. Wanita itu kemudian mengangguk. Luna kemudian mundur beberapa langkah ke belakang. "Maju kalian semua," pinta Zian dengan nada rendah namun terdengar begitu berbahaya.
Dan perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Zian yang hanya sendiri di keroyok sedikitnya tujuh orang. Mereka maju dan menyerang Zian secara bersama-sana
Tentu saja hal tersebut tidak membuat Zian tinggal diam. Pria itu menyambut mereka semua dengan tangan terbuka. Dan meskipun hanya sendiri, namun Zian sama sekali tidak merasa gentar sedikit pun menghadapi serangan preman-preman itu.
Sial!" gusar salah seorang dari ketujuh preman tersebut. Mereka mulai terpojok.. Salah seorang diantaranya mulai berfikir jika ia bisa menghabisi Zian pasti ada batasnya. Jadi, kalau diserang terus-menerus, bukan tidak mungkin jika pria itu akan kehilangan banyak tenaga. Pikiran itulah yang membuat pimpinan dari preman itu memerintahkan para anak buahnya untuk menerjang kembali.
Melihat para preman itu meluruk dengan senjata di tangan, Zian tidak tinggal diam dan segera menyambutnya. Kaki dan tangannya bergerak kian kemari. Setiap kali Zian menampar atau menendang, selalu ada tubuh yang terjengkang tanpa mampu bangkit lagi. Zian tidak berniat membunuh para preman yang menurutnya sangat meresahkan tersebut. Zian hanya berusaha memberikan peringatan kecil pada mereka.
Merasa kurang yakin dengan pertarungan pisik, beberapa prwman mencoba menyerang dengan pistol.
Dor! Dor!
Beberapa peluru dilepaskan kearah Zian yang dengan sigap bisa dihindari oleh pria bermarga Qin tersebut. Zian tak lantas tinggal diam, dengan kecepatan tangannya yang mengagumkan m, Zian mematahkan semua serangan dan membuang senjata ditangan mereka.
Beberapa diantara ketujuh preman itu berhasil di tumbangkan dengan serangan trengginas dari Zian.
"BRENGSEK!! SIALAN KAU!!"
Dua preman lain yang sedari hati hanya melihat Zian memporak porandakan anak buahnya, segera memasuki kancah pertempuran. Begitu tiba, pedangnya langsung berkelebat ke arah tubuh Zian yang sepertinya langsung menyadari kedatangannya.
Bettt! Bettt!
Zian pub bergegas menggeser tubuhnya untuk menghhindari sambaran dua tongkat besi dari pria itu. Di susul pukulan balasan yang lebih kuat, ketika kedua tongkat besi milik lawan kembali berputar mengancam tubuhnya.
Plakkk! Plakkk!
"Aaak...!"
__ADS_1
"Aaa...!"
Akibatnya, kedua preman itu memekik kesakitan. Tubuh mereka terlempar deras ke belakang setelah mendapatkan tendangan telak pada dadanya
Kesempatan itu digunakan oleh Zian untuk menghabisi beberapa yang tersisa. Sepasang tangannya bergerak meghajar para preman yang tersisa itu tanpa ampun.
"Keparat, akan kuhabisi kau bajingan!" teriak salah seorang dari tiga yang tersisa dan telah muncul ditempat itu setelah melihat teman-temannya berakhir mengenaskan ditangan Zian.
Dan Zian tentu saja tidak sudi membiarkan para preman itu menang darinya meskipun hanya satu detik saja. Cepat dia mencegah disertai pukulan tongkat beri yang menimbulkan hembusan angin berciutan.
Wuuut...!
Merasakan ada serangan berbahaya, Zian oun bergegas menarik mundur tubuhnya dua langkah. Setelah senjata lawan lewat di depan tubuhnya, Zian pin segera membalas dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Buagh!
Pemimpin dari preman-preman itu pun tak mampu lagi menghindar pukulan telak yang kemudian mengenai bahu sebelah kanannya sehingga ia jatuh terguling di tanah. Pria itu mengeram sambil mencengkram bahunya yang serasa mau patah akibat pukulan Zian.
Bughk!
Selanjutnya Zian dengan cepat kembali menendang perut pimpinan preman itu sehingga dia tak bisa bangun lagi. 'Sial, ternyata bocah Asia ini benar-benar tangguh. Bahkan dia mampu menghabisi hampir semua anak buahku'Β ujar preman tersebut di hujung kesadarannya
Melihat Boss mereka telah tumbang, membuat dua orang yang tersisa memilih mundur dan melarikan diri karena mereka tidak ingin nasibnya berakhir mengenaskan di tangan Zian.
"OPPA,"
Tubuh Zian terhuyung kebelakang karena terjangan Luna yang begitu tiba-tiba. Luna berlari dan langsung menubruk tubuh Zian kemudian memeluknya dengan erat. Zian menarik sudut bibirnya kemudian membalas pelukan Luna.
Beberapa detik berikutnya Luna mengangkat wajahnya dan kedua matanya membelalak melihat darah segar yang berasal dari alis kanan Zian mengotori sisi wajahnya. "OMO!! Oppa, kau terluka!!"
.
.
Tampak sebuah perban yang sedikit menjorok di bagian alis kanan membebat kening Zian dengan rapi. Bercak merah itu menyembul pada permukaan perbannya tepat di atas alisnya yang terluka. Ada luka lain bekas sabetan lada lengan kiri Zian yang juga sudah di benar perban.
Luna mendesah berat. "Hari ini kau terluka karena diriku lagi, Oppa. Kenapa aku begitu membawa sial untukmu, Oppa," Luna merasa bersalah karena telah membuat Zian sampai terluka seperti ini. Ya, meskipun pada kenyataannya itu bukanlah kesalahannya.
"Kenapa kau malah menyalahkan dirimu sendiri? Tidak, Luna!! Aku terluka bukan karena dirimu. Lagipula sebagai seorang suami melindungimu dari bahaya sudah menjadi tugasku."
"Untuk itu, aku sudah tidak ingin mendengar apapun lagi, apalagi sampai kau menyalahkan dirimu sendiri. Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Aku benar-benar lelah, Sayang. Kepalaku terus berdenyut sakit dan rasanya ingin pecah. Kemarilah." Zian menarik lengan Luna kemudian menempatkan wanita itu di sampingnya, menggunakan sebelah lengannya sebagai bantal untuk wanita itu. "Sudah lewat tengah malam, sebaiknya kita tidur sekarang,"
Luna menatap wajah Zian selama beberapa detik dan kemudian mengangguk. "Baiklah."
-
Bersambung.
Maaf riders, karena beberapa hari ini Author cuma bisa up satu bab saja perharinya dikarenakan kesibukan di dunia real yang tidak bisa ditinggalkan. Tetap dukung Author dengan meninggalkan like komentnya dan jangan bosan-bosan untuk membaca dan menunggu ceritanya πππ
__ADS_1