Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 82) "Positif Hamil"


__ADS_3

Seharian ini Luna merasakan perasaan yang benar-benar malas. Wanita itu bahkan tak keluar kamar sama sekali, meskipun itu hanya untuk menyantap sarapannya. Luna merasa pusing dan lemas di waktu bersamaan. Ia seperti tidak memiliki tenaga sama sekali.


CKLEKK...


Perhatian Luna sedikit teralihkan oleh decitan pada pintu. Terlihat sosok Zian memasuki ruangan sambil membawa nampan berisi makanan untuknya. Alih-alih menyambut baik, Luna malah menghindarinya. Dia seperti merasa jijik ketika melihat makanan-makanan tersebut.


"Oppa, untuk apa kau membawa makanan kemari? Bawa keluar lagi, aku tidak suka!!"


Zian menggekeng. "Tidak!! Kau itu belum makan apapun sejak pagi, sebaiknya makan dulu," kemudian Zian meletakkan nampan tersebut di atas meja samping tempat tidur.


Luna menggeleng. "Aku tidak lapar," ucapnya bersitegang.


"Tidak lapar bagaimana? Jelas-jelas kau belum makan sama sekali dari pagi, bahkan perutmu tidak kemasukan apapun selain mangga muda yang kau minta siang tadi. Jadi sekarang kau harus makan," ujar Zian menegaskan.


"Tapi aku benar-benar tidak lapar, Oppa!! Lagipula makan juga percuma kalau endingnya malah aku mutahkan semua," Luna menekuk wajahnya.


Zian memicingkan matanya. "Kau memutahkan semua makanan yang masuk ke dalam perutmu? Sejak kapan? Apa kau sakit?"


Luna menggeleng. "Aku rasa tidak. Aku merasa baik-baik saja, ya meskipun kepalaku sedikit pusing dan perutku agak mual. Mungkin efek karena kemarin kepanasan hampir seharian." Luna mencoba meyakinkan pada Zian jika dirinya baik-baik saja.


"Kau yakin?" Luna mengangguk. "Baiklah, sebaiknya kau keluar, jangan membuat semua orang cemas karena kau tidak keluar kamar hampir seharian," tutur Zian menasehati.


"Aku tau, baiklah aku akan keluar sekarang," Luna mendengus pasrah. Dengan terpaksa ia meninggalkan ranjang super nyamannya meskipun kenyataannya sangat berat. Karena jika tidak, pasti Zian akan mengomelinya.


Dari arah tangga Luna melihat semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga di Villa milik Zian. Entah mimpi buruk apa yang telah dia alami, sampai-sampai Rio menjadi bulan-bulanan kedua paman kecilnya. Pemuda itu ditindas habis-habisan oleh Satya dan Frans.


Dan perhatian semua orang kini tertuju padanya. Satya buru-buru menghampiri Luna guna memastikan keadaannya.


"Kkyyyaaa..!! Nunna, akhirnya kau keluar juga dari sarangmu. Apa kau tau bagaimana cemasnya kami semua. Seharian ini kau mengurung diri di dalam kamar, tidak makan dan tidak minum, kami pikir kau sedang sakit," cerocos pemuda itu panjang lebar.


Tiba-tiba Luba merasakan mual yang luar biasa pada perutnya ketina Satya mendekatinya. Wanita itu mundur beberapa langkah kebelakang. "Yakk!! Bocah, menjauh dariku!! Aromamu membuatku ingin muntah." serunya.


Satya mengerutkan dahinya dan menghirup aroma tubuhnya sendiri. "Wangi kok, tapi kenapa Nunna malah ingin muntah?" heran Satya.


Luna kembali mundur beberapa langkah kebelakang sambil menutup hidungnya dengan telunjuk dan ibu jarinya. "Yakk! Aku bilang jangan coba-coba mendekat atau aku akan memukulmu." Serunya mengancam.


'Hoekk,,!!! Hoeeekk...!'


Luna kembali merasakan mual yang luar biasa. Wanita itu bergegas ke belakang dan menumpahkan apapun yang ada di perutnya. Viona pun menjadi panik begitu pula dengan Zian. Namun Zian mencoba bersikap biasa saja, dia berpikir bila Luna sedang masuk angin atau kurang enak badan biasa.


"Hahahha!! Dasar wanita aneh, seperti orang hamil muda saja tidak tahan mencium wewangian." Ujar Frans sedikit geli dengan sikap yang ditunjukkan oleh Luna.


Sontak saja Zian mengangkat wajahnya. "Hamil muda?" Frans mengangguk.


"Biasanya wanita yang sedang hamil muda akan sering mual dan muntah saat mencium aroma yang menyengat, dia selalu merasa lemas dan malas-malasan saja kerjaannya, persis seperti Luna. Karena dulu, Viona juga mengalaminya ketika hamil si kembar." sahut Nathan menjelaskan.

__ADS_1


Sontak saja kedua mata Rio membelalak ketika dia memikirkan sesuatu. "Tunggu!! Apa mungkin, Luna Nunna memang sedang hamil? Dari ciri-ciri yang di sebutkan oleh Paman, Nathan memperkuat dugaanku jika dia memang sedang hamil muda,"


Zian langsung bangkit dari duduknya kemudian bergegas menyusul Luna dan Viona. Dari kejauhan Zian melihat Viona yang terus menggedor pintu kamar mandi. Di dalam sana Luna terus memuntahkan apapun yang masuk ke dalam perutnya. "Zian, bagaimana ini? Luna terus muntah-muntah di dalam. Nunna, sangat cemas." Ucap Viona pada Zian.


"Tenang saja, Nunna-ya. Dia baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa padanya dan aku berani menjamin itu. Dan mungkin saja hal itu malah pertanda baik, karena kemungkinan besar Luna sedang hamil muda," jelas Zian dan membuat kedua mata Viona membelalak.


"Hamil!!" Zian mengangguk. "Tapi jika di pikir-pikir sepertinya memang benar, Zian. Karena saat hamil dulu, Nunna juga mengalami hal-hal seperti yang Luna alami sekarang. Nunna akan keluar untuk membeli tespack dulu, sebaiknya kau tetap di sini,"


Tak berselang lama setelah kepergian Viona. Pintu kamar mandi terbuka dan sosok Luna yang tampak pucat keluar dari dalam sana sambil memegangi perutnya. "Omo!!" Luna sedikit terlonjak oleh kemunculan Zian yang begitu tiba-tiba. "Oppa, kau mengejutkanku," Luna mengusap dadanya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Zian menastikanm Luna menggeleng, meyakinkan pada Zian jika dirinya baik-baik saja. "Oya, Lun. Kapan terakhir kali kau datang bukan?" tanya Zian memastikan.


"Datang bulan? Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal datang bulan? Aha, aku tau!! Pasti karena kau ingin melakukan ****** kan?" tebak Luna asal. Endingnya sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat wanita itu. "Ck, kenapa kau jadi semakin mesum saja? Bukan karena itu, bodoh!!"


Luna memiringkan kepalanya. "Lalu karena apa?" tiba-tiba kedua mata Luna membelalak sempurna ketika dia memikirkan sesuatu."Omo! Oppa, mungkinkah jika aku sedang-" Luna tak melanjutkan ucapannya dan malah membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya jatuh mengalir dan membuat aliran sungai kecil di kedua sisi hidungnya. "Oppa, apa jangan-jangan ini adalah pertanda jika aku sedang hamil muda? Sudah lebih dari satu Minggu aku telat datang bulan,"


Zian menakup wajah Luna dan mengunci manik coklatnya. "Kita akan segera mengetahuinya, jadi bersabarlah," Luna mengangguk. Wanita itu menurunkan tangan Zian dari wajahnya dan berhambur ke dalam pelukannya.


Dalam pelukkan Zian, Luna menumpahkan semua air matanya. Semua perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Dan Luma tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini hanya dengan kata-kata saja. Semua terasa seperti mimpi yang akan menjadi nyata. Dan rasanya dia sudah tidak sabar menunggu untuk mengetahui kebenarannya. Dan Luna sangat berharap jika yang dia alami saat ini memang sebuah pertanda, pertanda jika dia memang sedang hamil muda.


.


.


.


Dua garis merah didepannya mengabur cepat seiring dengan jatuhnya cairan bening yang menggenang dipelupuk matanya. Dua garis merah itu tanpak menjelas lagi saat cairan itu sudah terjatuh dan membasahi di pipinya. Dan dua garis merah itu tampak mengabur lagi ketika cairan itu menggenang lagi… begitu


seterusnya…


Dan sekarang Luna mengerti alasan kenapa mood-nya sangat mudah berubah, kenapa ia cepat lelah, dan menjadi sangat sensitif. Semua itu karena ia sedang mengandung. Kehamilannya ini juga membuatnya menyadari hal yang paling aneh dalam dirinya. Ia tidak ingin berjauhan dengan ayah dari janinnya itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Zian.


Luna buru-buru keluar dari kamar mandi dan menghampiri Zian yang sedang mondar-mandir menunggu hasil dari tes yang sedang dia lakukan. Tanpa mengatakan apapun Luna langsung berhambur ke dalam pelukan Zian dan menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan semua perasaannya yang bercampur aduk menjadi satu di dalam pelukan suaminya.


"Sayang, bagaimana hasilnya?" Zian melonggarkan pelukannya


Luna mengangkat wajahnya dari dekapan Zian. Wajahnya saat ini telah terarah pada wajah suaminya, memandangnya dengan ekspresi yang tak mampu Zian jabarkan dengan kata-kata. Luna kemudian menunjukkan testpack yang baru saja digunakannya pada Zian.


Ingin meledak rasanya dada Zian saat mengambil benda yang diserahkan oleh Luna padanya. Ada dua garis merah sejajar di tengah benda tersebut. Raut wajah pria itu yang selalu dingin menunjukkan kegembiraan sekarang. Bahkan tampak cairan bening menetes dari sudut mata kanannya.


"Luna, itu?"


Luna menganggu sambil bercucuran air mata. Seperti Zian, dada Luna pun serasa ingin meledak. Wanita itu tersenyum di tengah tangisnya. "A-aku hamil," kata Luna sambil tanpa mengakhiri kontak matanya dengan Zian.


Setelah meletakan benda itu di meja kerja rias, jari telujuk tangan kiri Zian mengangkat perlahan dagu Luna. Diarahkan wajah cantik itu dan dengan perlahan ia menunduk mengecup lembut bibir Luna. Dipagutnya dengan penuh perasaan bibir mungil itu.

__ADS_1


Dan Zian tidak tahu harus berkata apa sekarang, semua perasaan senang, takjub, gembira bercampur aduk menjadi satu. Rasanya Zian masih tidak percaya jika dirinya akan segera menjadi seorang ayah.


Semua begitu luar biasa, rasanya dia seperti ketiban bintang. Mungkin sangat berlebihan, namun itu adalah bentuk dari kebahagiaan dari apa yang Tuhan berikan. "Luna, kau sungguh-sungguh hamil? Ini bukan candaan?" Luna menggeleng.


Luna menggeleng. "Aku hamil, Oppa. Aku hamil," jawabnya menegaskan. "Hiks, akhirnya penantian panjang kita membuahkan hasil juga. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa kita, aku.. akhirnya juga!!"


Zian memejamkan matanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Luna. Zian berjanji pada dirinya sendiri. Jika dia akan menjaga Luna dan juga janin di dalam rahimnya tersebut. Dan berita membahagiakan ini tentu tidak bisa dia simpan sendiri, Zian akan segera memberitahu yang lainnya mengenai kehamilan Luna.


-


Semua begitu bahagia menyambut kehamilan Luna. Zian terutama, dan semenjak dia tau jika Luna hamil, Zian menjadi sangat overprotektif pada wanita cantik tersebut. Zian selalu melarang Luna untuk melakukan ini dan itu, bukan maksud Zian ingin membuat Luna merasa tidak nyaman. Tapi semua itu Zian lakukan semata-mata memang karena dia teramat sangat peduli pada Luna.


Zian hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk menjaga Luna dan kandungannya, bukannya merasa kesal dengan sikap berlebihan suaminya, Luna justru merasa bahagia karena itu artinya Zian sangat peduli padanya juga janin di dalam rahimnya.


Luna terbangun dengan perasaan yang benar-benar malas. Seharian ini dia tidak ingin melakukan apa pun. Saat melihat jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi.


Masih dengan menggunakan pakaiannya yang tadi malam, Luna turun dari tempat tidur dan keluar kamar, rasa haus membuatnya berjalan menuju dapur. Dan dari kejauhan dia melihat Zian yang sedang berbincang dengan Nathan dan Viona.


"Kau sudah bangun?" tegur Viona saat menyadari kedatangan adiknya. Dan pertanyaan Viona langsung menyita perhatian dua pasang mata pria yang duduk satu meja dengannya.


Zian segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Luna. "Kau memerlukan sesuatu?" tanya Zian memastikan.


Luna mengangguk. "Aku sangat haus. Oya, Oppa... aku ingin makan mangga muda, bisakah kau memberikannya untukku?" Luna menunjuk pohon mangga yang tumbuh dan berbuah lebat di belakang Villa. Wajahnya tampak memelas, jurus tejitu untuk meluluhkan Zian


"Nanti setelah kau minum susu hamilmu. Viona Nunna sudah membuatkannya untukmu. Tunggulah di sini, akan aku ambilkan dulu," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Saat ini mereka masih berada di Yunani. Zian berencana kembali ke Korea saat kandungan Luna memasuki bulan ke empat. Zian tidak ingin mengambil resiko besar apalagi menurut Viona jika tiga bulan pertama kehamilan itu resikonya untuk keguguran sangat tinggi, itulah kenapa Zian mengambil keputusan tersebut. Dan masalah pekerjaan bisa dia serahkan pada Reno.


Sedangkan Viona sendiri tidak tega jika harus meninggalkan Luna yang sedang dalam keadaan hamil muda. Dia memutuskan untuk tetap tinggal di sana. Lagipula Nathan bisa tetap bekerja meskipun dari jarak jauh. Saat ini perusahaannya di pegang oleh Henry. Nathan meminta kakaknya tersebut untuk mengambil alih pekerjaannya selama dia tidak ada.


"Nunna, lihatlah apa yang kami bawakan untukmu," seru Frans.


Frans, Satya dan Rio datang sambil membawa beberapa biji mangga muda yang kemudian mereka berikan pada Luna. Bukan hanya mangga muda saja. Mereka juga membawa berbagai jenis makanan mulai dari makanan pedas sampai yang asam. Dan semua itu mereka lakukan semata-mata karena rasa peduli mereka pada ibu hamil yang satu ini.


Dan melihat apa yang mereka bawa membuat liur Luna nyaris menetes, apalagi semuanya adalah makanan kesukaannya. Tapi dari semua makanan yang mereka bawa, ada satu yang paling menarik perhatiannya, yakni mangga muda.


"Bisakah kalian kupaskan mangga itu untukku?Aku benar-benar ingin segera memakannya,"


"Tentu, Bibi. Aku akan segera mengupaskannya untukmu," seru Rio menyahuti.


Dan Zian tak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Hatinya menghangat melihat senyum bahagia di bibir Luna. Semua yang terjadi pada hidupnya terasa seperti mimpi yang menjadi nyata, Zian benar-benar bahagia. Dan hadirnya calon buah hati yang kini berada di dalam kandungan Luna akan segera menyempurnakan kebahagiaan Zian.


Zian berjanji akan selalu menjaga dan melindungi apa yang Tuhan titipkan padanya, karena semua itu sangat berharga dan penting dalam hidupnya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2