Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 80) "Tuhan Lebih Tau"


__ADS_3

Lucas memicingkan matanya melihat cara jalan Luna yang menurutnya sedikit aneh. Bocah berusia enam tahun tersebut benar-benar penasaran apa yang terjadi pada bibinya tersebut.


"Bibi, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa jalanmu aneh begitu?" tanya Lucas tanpa basa-basi.


Dan pertanyaan Lucas langsung menarik perhatian trio kadal untuk segera menoleh dan menatap pada wanita itu. Dahi Rio menyernyit, seringai tercetak di bibir Kissable-nya. "Ekhem, sepertinya baru ada yang melakukan pergulatan panas ni." Sindir Rio dengan seringai yang sama. "Bibi, ngomong-ngomong berapa ronde yang kau habiskan bersama paman, Zian? Sampai-sampai kau di buat kesulitan berjalan seperti itu."


Pletakk.....


"Appooo..." Alhasil tiga jitakan mendarat mulus pada kepala coklat Rio. "Yakk!! Kenapa kalian malah menjitakku?" protes Rio sambil menatap Luna, Satya dan Frans bergantian.


"Siapa suruh kau mengatakan hal yang tidak-tidak di depan anak kecil," ujar Luna menyahuti.


"Aku hanya menyampaikan apa yang aku lihat dengan mata kepalaku. Lagipula itu adalah berita bagus yang harus di bagi-bagi,"


"Dasar bocah ini, sebenarnya apa saja kau yang pelajari di sekolah? Kenapa otakmu jadi semesum ini!!"


"Aku tidak mesum, Nunna-ya. Hanya mengikuti naluri saja. Lagipula aku kan bisa banyak belajar dari kalian berdua, bukankah begitu, Paman," Rio mengedipkan matanya pada Zian.


"Wahh, seperti ada yang sudah bosan hidup ni," sahut Frans menyahuti.


"Sudahlah,Hyung. Langsung di bantai saja, jika kau membutuhkan asisten, aku bersedia kok. Ayo sama-sama kita beri pelajaran pada bocah ini," ucap Satya menimpali.


"Yakkk!! Paman, kenapa kalian berdua malah ikut-ikutan juga? Kenapa kalian semua malah menyudutkanku?"


"Itu karena, Paman terlalu berisik," sahut Lucas menimpali.


"Yakk!! Kenapa kau malah ikut-ikutan juga bocah!! Dan kenapa semakin hari mulutmu itu malah semakin tajam saja? Kau benar-benar duplikat dari paman, Nathan."


"Ck," Lucas berdecak dan memutar jengah matanya. Bocah itu turun dari duduknya kemudian pindah ke samping Nathan. "Pa, boleh tidak kalau aku duduk di samping,.Papa saja?" tanya Lucas seraya menatap Nathan.


"Tentu saja boleh, Nak." Jawabnya tersenyum.

__ADS_1


Mengabaikan Rio yang sedang di keroyok oleh Luna, Satya dan Frans. Zian segera duduk di kursinya dan mulai menyantap makan malamnya.


Tak lama setelahnya Luna mengikuti jejak Zian, dia terlalu malas untuk berdebat dengan Rio. Satya dan Frans yang tidak ingin kehabisan makan malam segera bergabung bersama yang lain, Rio terakhir. Dan selanjutnya makan malam mereka lewatkan dengan tenang.


.


.


.


Usai makan malam Luna dan Viona memutuskan untuk memisahkan diri dari para pria. Sepasang saudari kembar itu duduk di taman belakang Villa menikmati langit malam bertabur bintang.


Untuk sejenak keheningan menyelimuti kebersamaan Luna dan Viona. Kedua wanita itu sama-sama diam dalam kebisuan. Bukan karena canggung, tapi mereka ingin menikmati pemandangan langit yang menakjubkan.


Gemercik daun maple yang terus berguguran warnai heningnya malam. Suara yang dihasilkan bernaung sejenak di indera pendengaran. Membawa perasaan damai bagi setiap orang.


Ribuan manik-manik langit tampak memainkan cahayanya yang benderang. Dan diantara semua bintang yang bertaburan di langit. Ada satu bintang yang menarik semua atensi Luna. Bintang tercantik yang terlihat paling terang diantara bintang lainnya.


Rigel...


Bintang cantik berwarna biru itu merupakan bintang paling terang di rasi bintang Orion, dan menjadi bintang paling terang ketujuh di langit malam. Tidak salah jika Rigel cukup mudah di temukan ketika ribuan bintang tengah bertaburan di langit malam.


"Eonni kau lihat bintang di sana? Bukankah Rigel sangat cantik," seru Luna sambil menunjuk bintang biru tersebut.


Viona mengangguk setuju. "Kau benar, Rigel memang sangat cantik.,"


"Eonni, apa kau percaya jika orang yang sudah meninggal akan menjadi bintang? Dulu saat aku masih kecil, Ibu sering memberitahuku jika orang yang sudah meninggal akan menjadi salah satu bintang di langit,"


"Dan kau percaya?"


Luna menggeleng. "Awalnya tidak. Tapi semenjak ibu angkatku meninggal, aku mulai percaya. Saat aku merindukannya, aku selalu pergi ke balkon untuk melihat bintang. Dan setiap malam aku selalu memandang bintang yang sama. Seolah-olah aku meyakini jika bintang itu adalah perwujudan dari mama setelah dia meninggal. Bukankah terdengar konyol? Tapi anehnya aku malah mempercayainya," ujarnya panjang lebar.

__ADS_1


Luna tersenyum getir. Membicarakan ibu angkatnya membuat dia menjadi merindukannya. Meskipun wanita itu bukanlah ibu kandungnya, namun nyonya Leonil selalu memperlakukannya dengan penuh kelembutan. Dia tidak pernah membeda-bedakan antara dirinya dan Dean yang notbainya adalah putra kandungnya sendiri.


"Udara semakin dingin, sebaiknya kita masuk sekarang." Ucap Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan taman.


.


.


.


"Oppa, apa yang sedang kau lakukan?" tegur Luna melihat keseriusan Zian. Wanita itu menutup kembali pintu kamarnya kemudian menghampiri suami tercintanya itu.


Zian mengangkat wajahnya dan menatap sekilas pada Luna. "Tidak ada, hanya memeriksa beberapa Email yang masuk saja," jawabnya.


Kemudian Luna membaringkan tubuhnya di samping Zian duduk. Wajahnya menghadap langit-langit kamar. "Oppa," panggilnya memecah dalam heningnya suasana.


"Hm," sahut Zian datar.


"Ini sudah satu tahun lebih. Tapi kenapa aku belum hamil juga?Apa mungkin kalau aku mandul?" Sontak saja Zian menoleh dan menatap Luna yang juga menatap padanya."Jangan menatapku dengan tatapan mengerikan seperti itu. Itu hanya asumsiku saja, tidak usah di anggap serius," tuturnya.


Ken mematikan laptopnya kemudian meletakkan di atas meja samping tempat tidur. Ken menarik lengan Luna dan memaksanya untuk duduk, jari-jari besarnya menuntun punggung Luna kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Belum bukan berarti tidak bisa. Cepat atau lambat, pasti Tuhan akan mengabulkan keinginan kita. Mungkin Tuhan masih belum mempercayai kita untuk menjaga titipannya, karena Tuhan tau jika kita berdua masih belum benar-benar siap untuk menjadi orang tua," tutur Zian panjang lebar. Zian meletakkan dagunya di atas kepala coklat Luna.


Sama halnya dengan Luna. Zian pun sangat mendambakan kehadiran seorang anak di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Karena Zian merasa jika hidupnya tidak akan sempurna tanpa kehadiran seorang buah hati dalam rumah tangga mereka. Dan Zian akan menunggu dengan sabar, sampai Tuhan mengabulkan keinginannya itu.


"Jangan sedih dan berpikir yang tidak-tidak lagi. Tetap optimis dan percaya jika Tuhan akan mengabulkan doa kita," Zian mengecup kepala coklat Luna.


"Kau benar, Oppa. Karena Tuhan lebih tau dari pada kita,"


"Ya sudah, ayo kita tidur. Ini sudah malamm Aku sangat lelah, Sayang. Kepalaku agak pusing," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2