Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 25 "Malaikat Tak Bersayap"


__ADS_3

Menjadi seorang Istri tidak membuat Viona melupakan tugasnya sebagai seorang dokter. Menjadi dokter ahli bedah sudah menjadi impian Viona sejak dia masih kecil, dan akhirnya impiannya itu pun menjadi kenyataan. Dan kini Viona menjadi salah satu dokter bedah terbaik yang di miliki rumah sakit tempatnya bekerja selama beberapa tahun ini.


Selain memiliki paras yang cantik bak boneka, Viona juga di kenal sebagai dokter yang baik dan ramah. Tidak salah jika banyak sekali pasien anak-anak yang menyukainya dan sering kali menyebutnya sebagai malaikat tak bersayap. Erika salah satunya. Bocah pengidap kanker darah yang sudah menjadi pasiennya sejak dua tahun yang lalu.


Rencananya Viona akan memeriksa keadaan bocah berusia tujuh tahun itu setelah menyelesaikan operasinya. Yang ia ketahui keadaannya semakin memburuk sejak beberapa bulan ini.


Akhir-akhir ini Erika sering mengalami mimisan dan muntah-muntah. Hal itu membuatnya sangat khawatir dan harus lebih memperhatikan keadaannya. Viona, Kirana dan Sunny selalu bergantian memantau keadaan bocah itu. Sunny dan Kirana selalu membantunya menjaga atau menghibur bocah itu saat dirinya sedang sibuk dengan operasinya. Memantau keadaan Erika sudah menjadi tanggung jawab Viona sebagai dokternya. Dan sebelum menemui bocah itu, ada kerabat pasien yang harus Viona temui terlebih dulu untuk memberikan informasi mengenai keadaannya.


Viona baru saja keluar dari ruang operasi. Gadis itu membuka maskernya dan menghampiri keluarga pasien yang sudah menunggu di depan ruang operasi sejak empat jam yang lalu. Senyum lembut tersungging di bibir merah mudah dokter cantik itu saat seorang wanita setengah baya menghampirinya "Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" Ucap wanita itu dengan dua anaknya yang sudah remaja.


"Tidak ada yang perlu anda khawatirkan, Nyonya. Suami Anda baik-baik saja. Operasinya berjalan lancar, tinggal menunggunya sadar saja." ucap Viona ramah.


"Dokter, terimakasih. Terimakasih karna telah menyelamatkan ayah kami." ucap seorang wanita muda di sampingnya.


Viona tersenyum kemudian menggeleng. "Ini semua kehendak Tuhan. Tanpa ijin darinya operasi ini tidak mungkin berjalan lancar. Dan juga berkat doa kalian semua." ujar Viona.


"Anda memang dokter yang sangat hebat. Selain cantik, Anda juga sangat baik. Sungguh hati Anda seperti malaikat, Anda adalah sosok Malaikat tak bersayap. Sekali lagi terimakasih Dokter." ucap seorang pemuda sambil membungkukkan badannya berkali-kali. Viona hanya menyikapinya dengan senyum tipis.


Mereka adalay keluarga pasien yang kurang mampu. Pihak rumah sakit sempat menolak untuk melakukan operasi karna mereka tidak memiliki uang yang cukup. Namun tiba-tiba Viona datang dan mengatakan akan melunasi semua biasa operasi dan menjadi dokter yang bertanggung jawab dalam mengoperasi pasien.


Dan tanpa Viona sedari, seorang laki-laki memperhatikannya sedari tadi. Melihat hal itu membuat sudut bibir laki-laki itu tertarik keatas. Ia jadi ingat dengan awal pertemuannya dengan gadis itu. "Sayang." seru orang itu sambil melangkahkan kakinya menuju tempat Viona berada. Senyum hangat di wajah dinginnya tidak pudar sedikit pun, serta pandangan matanya menyiratkan jika dia sangat merindukan dokter cantik tersebut.


Merasa familiar dengan suara itu, lantas Viona pun menoleh pada sumber suara. Senyum dibibirnya semakin merekah melihat kedatangan suami tampannya.


"Oppa." serunya.


Meninggalkan keluarga pasiennya. Viona berjalan menghampiri Nathan yang sepertinya datang untuk menjemputnya. "Malam ini kau lembur?" tanya Nathan sambil mengencup singkat kening Viona. Ritual wajib yang selalu dia lakukan setiap kali menjemput sang istri .


Gadis itu menggeleng. "Malam ini giliran Sunny dan Kirana. Tapi sebelum pulang, bisakah Oppa menemaniku menemui seseorang terlebih dulu dan aku ingin memperkenalkanmu padanya?"


Nathan memicingkan matanya. "Seseorang? Siapa? Apa kau berusaha untuk selingkuh dariku, eehhh?" Viona terkekeh.


Dengan mesra dia memeluk lengan terbuka suaminya dan apa yang Viona lakukan tentu menarik perhatian banyak pasang mata untuk menatap pada mereka. Gadis itu tidak merasa sungkan apalagi malu, toh yang dipeluk juga bukan orang lain melainkan suaminya sendiri dan Nathan tidak merasa keberatan untuk hal itu. Karna dengan begitu Viona menunjukkan pada semua orang jika dia adalah pasangannya

__ADS_1


"Boneka dan coklat? Memangnya siapa yang ingin kau temui?" tanya Nathan penasaran.


"Oppa akan segera mengetahuinya." jawabnya tersenyum.


-


Cklekk!!


Viona membuka pintu di depannya lebar-lebar hingga terlihatlah sosok gadis kecil yang tengah duduk diatas ranjang rumah sakit sambil memainkan sebuah boneka barbie. Hadiah ulang tahun dari Viona satu bulan yang lalu.


Erika mengangkat wajahnya mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat, senyum di bibir gadis kecil itu mengembang melihat siapa yang datang. "Dokter cantik." serunya riang. Viona langsung merentangkan kedua tangannya melihar gadis kecil itu turun dari atas tempat tidurnya dan memeluknya.


"Dokter cantik, kemana saja kau seharian ini? Kenapa tidak datang sama sekali?" Erika melepaskan pelukannya dan menatap Viona dengan wajah di tekuk.


Viona meraih tangan Erika dan menggenggamnya. Maaf Sayang, Dokter cantik sibuk sekali hari ini jadi tidak ada waktu untuk menemuimu. Dan sebagai gantinya, Dokter cantik membawakan sesuatu untukmu."


"Huaaa!! Ini untukku?" Viona mengangguk. Erika begitu gembira mendapatkan boneka dan coklat dari Viona. Kemudian landangan Erika bergulir pada Nathan. "Ngomong-ngomong, siapa Paman tampan itu, Dokter? Apakah dia kekasih Dokter cantik?" tunjuk Erika pada Nathan yang berdiri disamping Viona.


Nathan tersenyum kemudian menghampiri bocah perempuan itu dan duduk di sampingnya. "Paman sangat tampan, sangat serasi jika bersanding dengan Dokter cantik." ujar Erika polos.


"Benarkah? Huaaa! Aku turut bahagia untuk kalian."


Setelah perbincangan panjang mereka. Viona meminta Erika untuk segera tidur dan gadis kecil itu menurut tanpa protes. Setelah Erika tertidur pulas, Viona membetulkan letak tidurnya dan menyelimuti Erika sampai sebatas dada. Viona tersenyum lembut dan mengelus surai panjang Erika yang mulai menipis karna kerontokan yang dia alami. Erika tidak pernah mau membotakkan rambutnya seperti anak-anak yang lain.


Gadis kecil itu memutuskan untuk tetap mempertahankannya meskipun tidak selebat dulu.


Tanpa Viona sadari. Nathan terus memperhatikan gerak-geriknya. Bagaimana cara Viona memperhatikan Erika dengan lembut dan penuh kasih sayang. Bagaimana cara gadis itu berkomunasi dengan seorang anak kecil.


Sudut bibir Nathan tertarik keatas, Viona tidak hanya berhasil membuatnya jatuh cinta.. namun juga terkagum-kagum dengan kelembutan, kebaikan dan kerendahan hatinya. Kadang Nathan berfikir terbuat dari apa hati gadis itu, apakah dia seorang Malaikat yang sengaja menyamar sebagai manusia biasa? Sehingga memiliki hati sebaik itu. Nathan tidak pernah menyesal meskipun Tuhan mempertemukan mereka sedikit terlambat, toh gadis itu kini sudah menjadi miliknya.


-


Viona dan Nathan sama-sama menghentikan langkahnya saat melihat kedatangan mantan tunangan Viona yang pastinya adalah Leo Adrinata. Viona sedikit merinding melihat tatapan laki-laki itu hingga tanpa sadar ia mengeratkan genggamannya pada tangan Nathan. Memaksa laki-laki itu untuk menoleh padanya. Kepanikan dan kecemasan terlihat jelas dari sorot matanya yang teduh.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Berani-beraninya kau selingkuh dariku, VIONA ANGGELLA!!" Leo menggeram marah melihat tangan Viona dan Nathan yang saling menggenggam erat. "Kemari kau." Pintanya tajam.


Tapi Nathan langsung menarik Viona untuk berdiri dibelakangnya saat Leo mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan gadis itu. "Brengs**, siap kau? Berani-beraninya menghalangiku, dia itu milikku, calon istriku. Apa kau ingin aku laporkan karna berani membawa tunangan orang eo." bentak Leo pada Nathan.


"Benarkah? Tapi sayangnya gadis yang kau anggap sebagai tunanganmu ini adalah Istriku yang sah." jawab Nathan tenang.


Nathan mengangkat tangannya dan Viona secara bersamaan, menunjukkan sebuah cincin pernikahan mereka pada pria bermarga Ardinata tersebut. Melihat hal itu membuat kemarahan Leo semakin memuncak. "Aku peringatkan padamu, mulai detik ini jangan pernah lagi mengusik hidupnya atau kau akan berhadapan denganmu."


"Bangs**, siapa kau berani mengaturku? Dia itu tunanganku dan orang tuanya sendiri yang menunjukku sebagai calon suaminya, jadi pernikahan kalian sampai kapanpun tidaklah sah."


"Berhentilah menjadi pria bodoh yang diperbudak cinta. Tindakanmu yang memalukan seperti ini mencerminkan jika kau tidaklah berpendidikan sama sekali." ujar Nathan di iringi seringai tajam andalannya.


"KAUUUU!!"


Dengan cepat Nathan menahan pukulan Leo yang mengarah padanya. Laki-laki bermarga Lu itu mengangkat wajahnya dan menatap Leo tajam. Meskipun sekilas, namun ketakutan terlihat dari sorot mata Leo saat melihat tatapan nyalang Nathan yang menusuk dan penuh intimidasi. "Kita pergi dari sini." ucap Nathan lalu menarik lembut tangan Viona dan membawanya menjauh dari Leo.


Bahkan Nathan tidak peduli pada Leo yang saat ini tengah uring-uringan tidak jelas. Pria itu berteriak dan memaki Nathan habis-habisan. Dia marah, kesal dan tidak terima karna Viona malah menjadi miliknya. Yang artinya Leo baru saja kehilangan tambang emas paling berharganya.


Saat ini mereka berdua berada di dalam mobil milik Nathan. Sesekali Viona menatap suaminya yang tengah fokus pada jalan raya di depannya. Wajahnya terlihat datar, terus terang Viona merasa tidak enak pada suaminya karna sikap Leo tadi. "Oppa." panggil Viona ragu-ragu. Laki-laki itu menoleh dan menatap sekilas wajah istrinya sebelum kembali fokus pada jalan raya di depannya


"Ada apa, Sayang?" ucap Nathan tanpa menatap lawan bicaranya.


"Maaf, bila kedatangan Leo tadi membuatmu tidak nyaman. Aku tidak tau jika dia tiba-tiba datang lalu membuat keributan." Viona menundukkan wajahnya.


Nathan menggeleng. "Tidak perlu di bahas lagi. Toh ini bukan salahmu juga, sekali-kali orang seperti dia perlu di beri pelajaran." Tutur Nathan tersenyum.


"Kau ingin makan di mana? Di rumah atau di tempat biasa saja?"


"Bisakah kita makan di rumah saja? Aku sudah kehilangan selera makanku." Ucap Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan.


"Baiklah, terserah kau saja."


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2