
"Na ajikdo noreul jiul su obso. Jakkujakku niga singgangna. Niga nomu bogo sipo. Bamse hansumdo jal su obso. Ne nam changmuneul dudeurineun bissori. Niga ttona borin geujari. Nomunado geuriwoso. Bamse hansumdo ja sul obso nan." Zian menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan di setiap baitnya hingga terangkai melodi yang begitu indah yang berpadu dengan suara merdu Zian yang enak untuk di dengarkan.
Lirik lagu itu mewakili perasaannya yang terpendam jauh di dalam relung hatinya, bahkan suara berisik dari teman-temannya sama sekali tidak Zian hiraukan dan menganggap itu sebagai angin lalu. Zian terlalu larut dalam dunianya sendiri.
Pemuda dengan balutan tank top putih polos yang melekat pas di tubuhnya itu begitu menghayati setiap baitnya.
Inilah yang selalu Zian lakukan akhir-akhir ini, setiap ada kesempatan Zian pasti menyanyikan lagu itu. Para sahabatnya hanya bisa memandang Zian penuh keheranan, meskipun ini bukan pertama kalinya tapi itu tetap saja membuat mereka yang dasarnya selalu ingin tau menjadi semakin penasaran.
Tuttt .. Tuttt .. Tuttt ..
"Ahhh tersambung." Pekik Simon kegirangan saat nomor yang Ia hubungi dapat tersambung, pekikan keras Simon menyita perhatian Hyung-Hyungnya. Semua menatap Simon penuh selidik.
"Girang sekali kau? Memangnya siapa yang kau hubungi?" Tanya Reno penasaran.
"Hahaha, mau tau saja." Balasnya acuh.
'Hallo,'
Kedua mata Simon terbelalak menyadari seseorang yang ada di sana mengangkat pangilannya. Pemuda itu berjalan mendekat dan menghampiri Zian yang sedang bersenandung sembari memainkan gitarnya, Simon bermaksud agar seseorang yang ada di sebrang sana dapat mendengarnya.
"Hyung, ada apa denganmu? Kenapa akhir-akhir ini kau selalu menyanyikan lagu galau?" Simon yang mulai penasaran tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak bertanya pada Zian. Satu pertanyaan baru saja terucap dari bibirnya.
.....
Hampa, Zian tidak memberikan jawaban apa-apa.
"Mungkin saja Zian sedang mengalami patah hati." Sahut Adrian dengan entengnya. Sontak pemuda itu menoleh dan menatap Adrian tajam.
"Asal kau tau, tidak semua lagu sedih bisa mencerminkan patah hati. Dan kenapa kalian begitu ingin tau?" Zian memandang Adrian dan Simon dengan tatapan yang sama dan nada bicara dingin dan sedikit menusuk.
"Mianhae Hyung. Kami tidak bermasud untuk mengetahui tentang masalah pribadimu hanya saja aku cemas melihatmu seperti itu akhir-akhir ini." Tutur Simon.
"Aku baik-baik saja kau tidak perlu mencemaskan apa pun tentang diriku." Ujarnya dengan nada yang sama. Kemudian Zian beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.
-
Sinar matahari begitu terik pagi ini, sinarnya yang terang memberikan warna berbeda setelah malam tenggelam dalam peraduannya. Sinarnya yang cereh di sambut hangat oleh burung-burung kecil yang berkicau riang di atas dedahanan, bunga-bunga tampak bermekaran, aromanya yang semerbak membuat pagi ini terasa begitu segar dan alami.
Pepohonan menggoyangkan dahannya seperti sebuah tarian yang indah, kegembiraan itu begitu terasa bagi setiap insan manusia yang mulai mengawali paginya. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku pada gadis cantik berparas barbie bernama Leonil Luna.
Kedua mata Luna terbuka perlahan, gadis itu baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Tidak ada yang istimewa hari ini, semuanya sama seperti hari-hari sebelumnya.
Hidupnya terasa hampa tanpa ada seseorang yang bisa mengembalikan senyum di wajah cantiknya, kehilangan ayahnya memang membuat hidup Luna menjadi sangat berat. Meskipun tuan Leonil bukanlah ayah kandungnya, tapi bagaimana pun juga dia adalah ayah yang memberikan banyak cinta untuknya. Jadi wajar jika Luna begitu sangat kehilangan pasca kepergian tuan Leonil beberapa bulan yang lalu.
Hari-harinya di penuhi air mata sampai seseorang datang dan mengangkat dia dari jurang kesedihan yang selama ini membelenggunya. Tetapi di saat Ia mulai merasa nyaman dan mulai terbiasa dengan kehadirannya, orang itu justru menjatuhkannya ke dalam lubang yang sama.
Luna kembali tenggalam dalam kesedihan yang tak berujung, rasa sakit kehilangan tuan Leonil masih belum juga sembuh namun luka baru kembali Ia dapatkan.
"Hei, gadis pemalas. Tumben sekali kau sudah bangun?" Luna menoleh pada sumber suara terlihat sosok Viona berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Eonni,"
"Segeralah bersiap, teman-temanmu sudah menunggumu di bawah." Vioba mengelus rambut panjang adik kesayangannya dan tersenyum tipis.
"Jadi Irene dan Rega sudah datsng. Katakan padanya, Eonni. Aku akan segera bersiap-siap, 15 menit lagi aku akan segera turun." Viona tersenyum lembut dan mengangguk tipis.
"Baiklah, sebaiknya jangan lama-lama. Kasian mereka jika harus menunggu terlalu lama,"
"Aku tau,"
Dan selepas kepergian Viona. Luna menyibakkan selimut yang menutupi separuh tubuhnya, gadis itu bangkit dari berbaringnya kemudian turun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Luna tidak ingin sahabat-sahabatnya menunggu terlalu lama.
-
"*Zian, perusahaan membutuhkan dirimu. Aku mohon, tinggalkan kehidupan lamamu dan mulai tata kembali hidupmu yang berantakkan itu. Wujudkan keinginan terakhir kakekmu, dan kembangkan perusahaan miliknya,"
"Hanya kau satu-satunya harapan yang kami miliki, Zian. Mama harap kau mau memikirkannya baik-baik*,"
Zian menutup matanya dan mendesah berat. Perbincangannya dengan ibunya satu minggu yang lalu terus terngiang-ngiang di telinganya. Ekspresi ibunya ketika memohon masih terekam jelas dalam memorynya.
Ibu serta kedua kakaknya menaruh harapan besar padanya. Dan akan sangat keterlaluan jika ia tak menuruti keinginan mereka.
Zian bangkit dari duduknya dan pergi menemui sang ibu yang saat ini sedang beristirahat di kamarnya. Kondisi ibunya memang tidak begitu baik sehingga sulit baginya untuk menjalankan aktifitas seperti kebanyakan wanita seusianya.
Decitan suara pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian seorang wanita yang sedang membaca majalah di kamarnya. Wanita itu lantas menoleh dan mendapati Zian berjalan menghampirinya.
"Zian, ada apa, Nak?"
"Keputusan yang sangat tepat, Nak. Mama sangat bangga padamu, buat perusahaan kakekmu berkembang dengan pesat dan gulingkan Qin Corp. Kita harus memberikan pelajaran pada ayahmu dan wanita itu!!"
"Mama tidak perlu khawatir tentang hal itu, karna itu yang menjadi rencanaku!!"
-
Pagi datang begitu cepat. Cuaca pagi ini begitu cerah, sungguh hari yang indah untuk mengawali hari yang baru. Bangun lebih pagi dari biasanya, Zian kini sudah rapi lengkap dengan pakaian formalnya.
Banyak sekali yang berubah pada diri Zian. Rambutnya yang telah di pangkas lebih pendek dari sebelumnya, poni yang biasanya berantakan di dahinya atau kadang-kadang membingkai wajah tampannya juga di tata lebih rapi hanya beberapa helai yang dibiarkan jatuh di atas dahinya.
Zian terlihat sangat tampan dengan balutan setelan formalnya. Pemuda itu keluar dari kamarnya dan melenggang pergi. Dia tidak ingin sampai terlambat di hari pertamanya bekerja. Dan Zian bersumpah akan membuat perusahaan milik mendiang kakeknya berjaya kembali agar ia bisa menumbangkan perusahaan milik sang ayah.
-
Waktu berjalan dengan cepat. Tidak terasa satu tahun telah berlalu. Tak banyak yang berubah dalam hidup Luna. Semua masih tetap sama, hambar dan tak berwarna.
Luna menghela nafas dalam-dalam. Susah payah Ia menelan salivannya untuk yang kesekian kalinya, matanya menatap nanar ke arah derasnya air hujan dari dalam cafe tempat Ia dan teman-temannya berkumpul.
Cuaca hari ini memang sulit di tebak, pagi ini langit begitu cerah. Namun tiba-tiba saja tanpa terduga hujan turun dengan derasnya. Luna meletakkan kepalanya di atas meja tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ada apa denganmu, Lun? Kenapa kau terlihat kacau? Kau sakit?" Luna mengalihkan pandangannya dan menatap gadis yang duduk di sisi kanannya kemudian menggeleng.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." Balasnya.
"Kau masih memikirkan tentang mendiang ayahmu?" Tanya pemuda yang duduk di samping kanan Luna.
"Salah satunya itu, tapi ada hal lain yang sangat mengganggu perasaanku." Jawabnya.
"Apa itu?" Irene dan Rega kompak bertanya, Luna menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian dan mendengus panjang.
"Ini tentang novel yang aku baca, ada beberapa part yang hilang sehingga aku tidak tau bagaiman akhir kisanya. Padahal ininsudah satu tahun, tapi belum juga menemukan beberapa partnya yang hilang." Luna menyembunyikan wajahnya di atas lengannya yang Ia lipat di atas meja.
"Hanya karna itu? Ayolah, Lun. Kau jangan seperti itu, seharusnya hari ini kau itu bersenang-senang. Bukankah sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini, apa kau tidak merindukan saat-saat seperti ini?"
"Tentu saja aku-"
Luna tidak melajutkan kalimatnya saat tanpa sengaja mata coklatnya menangkap sosok pemuda yang sangat Ia kenal memasuki cafe di mana Ia dan kedua sahabatnya berada dalam keadaan rambut basah. Pemuda itu tidak hanya sendiri, ada sosok lain yang datang bersamanya, dan dia seorang perempuan.
"Zian?" Lirih Luna bergumam, gadis itu membetulkan posisi duduknya, matanya masih terkunci pada pemuda itu yang juga menatap kearahnya.
Ini adalalah pertemuan mereka berdua setelah malam itu, Luna seakan terbius oleh tatapan Zian yang dingin namun terasa hangat.
Entah hanya perasaannya saja atau mungkin benar adanya, jika Zian semakin tampan saja apalagi dengan warna dan model rambut barunya yang membuatnya terlihat lebih fress. Di tambah penampilannya yang sangat jauh berbeda dari Zian yang pernah dia kenal sebelumnya. Penampilannya itu membuat Zian terlihat seperti seorang CEO muda.
Luna tak berkedip sedikit pun. Dan untuk sesaat dia melupakan bagaimana caranya bernafas.
Tidak kuat berlama-lama memandang mata Zian, Luna segera mengalihkan pandangannya dan mengakhiri kontak mata di antara mereka.
"Sepertinya hujan sudah mulai reda, sebaiknya kita pergi saja dari sini." Luna bangkit dari duduknya seraya menyambar tas miliknya yang terletak di atas meja.
"Kenapa? Bahkan kita belum menyentuh sedikit pun pesanan-pesanan ini." Irene mencoba melayangkan protesnya pada Luna seraya menatap gadis itu penuh harap.
"Untuk apa terburu-buru, duduklah lagi." Hara menarik lengan Luna, mau tidak mau Luna harus mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana dan menghindari Zian.
Luna terus menatap Zian dari kejauhan. Ia merasa tidak suka dengan sosok gadis yang datang dengan pemuda itu apalagi melihat kedekatan mereka. Hati Luna seperti terbakar bara api. Luna tidak tau siapa wanita itu dan apa hubungan dengan Zian.
"Oya, aku lupa kalau aku masih ada urusan. Aku duluan ne. Irene, kali ini bayarkab dulu pesananku ya. Aku benar-benar terburu-buru,"
"Tapi Lun-"
"Aku akan menggantinya tiga kali lipat. Oke, aku pergi dulu."
Luna meninggalkan cafe dengan langkah terburu-buru, namun di tengah langkahnya ia menyempatkan diri untuk melihat ke arah Zian yang juga menatap datar padanya. Sorot mata mereka sama-sama memancarkan kerinduan yang begitu besar.
"Zian, kau mau kemana?" seru wanita yang datang bersama Zian. Tapi sayangnya seruan wanita itu tak di hiraukan sama sekali olehnya. Wanita itu pun segera berdiri dan menyusul Zian keluar.
Zian berlari keluar cafe. Tapi setibanya di luar, tapi yang dia cari sudah tidak ada. Karna sosok Luna sudah menghilang dari jangkauan matanya. "Leonil Luna, aku sangat merindukanmu!!!"
-
__ADS_1
Beraambung.