Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 81) "Tuhan Yang Menentukan"


__ADS_3


Hai riders, jangan lupa baca juga ya novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment-nyajuga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Malam sudah semakin larut namun Luna masih tetap terjaga. Berkali-kali wanita itu mencoba untuk menutup matanya tapi tetap tidak bisa. Luna menggulirkan pandangannya pada sosok tampan yang berbaring disampingnya, Zian sudah terlelap sejak beberapa jam yang lalu.


Pelan-pelan Luna menyingkirkan tangan Zian dari perutnya kemudian beranjak dan pergi ke balkon.


Hawa dingin yang sedikit menusuk langsung menyambutnya ketika kedua kaki jenjangnya mulai menginjak lantai balkon. Luna merapatkan mantelnya. Udara malam di Yunani memang lebih dingin di bandingkan dengan udara di Korea.


Malam ini langit terlihat begitu cerah. Tak ada gumpalan awan ataupun mendung hitam yang selalu menelan malam dalam kegelapan. Jutaan manik-manik bertaburan menghiasi langit malam, saling berkedip dan memainkan cahayanya. Sang Dewi malam bertahta disinggasananya.


Ini adalah malam ketiga mereka berada di Yunani. Dan Luna menyimpan sebuah harapan besar di negeri para dewa-dewi ini. Tak banyak yang Luna minta apalagi sesuatu yang muluk-muluk, Luna hanya ingin segera hamil dan memiliki anak. Hanya itu harapan Luna.


"Bukannya tidur, kenapa kau malah berdiri di sini?" suara dingin terlewat datar itu mengintrupsi Luna untuk menoleh pada asal suara. Terlihat Zian berdiri diambang pintu dengan sambil bersidekap dada. "Masuklah dan segera tidur, udara di sini sangat dingin,"


Luna menggeleng. "Sebentar lagi, Oppa. Aku benar-benar belum mengantuk. Aku tidak bisa tidur, lalu kau sendiri kenapa malah bangun?"


Kemudian Zian beranjak dari tempatnya berdiri dan menghampiri Luna. Zian menarik lengan Luna lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Di dekapnya tubuh mungil itu dengan erat. "Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak jika kau saja tiba-tiba menghilang." Ucapnya setengah berbisik.


Luna mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Zian. "Aku tidak menghilang, Oppa. Hanya keluar untuk mencari angin segar saja. Lagipula mana mungkin aku bisa menghilang, sementara kau tau jika aku tidak bisa hidup tanpa dirimu," ujarnya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Zian.


Zian melonggarkan pelukannya. Sepasang mutiara abu-abunya mengunci manik coklat milik Luna. "Memangnya apa yang sedang kau lakukan di sini, tengah malam begink?" tanya Zian penasaran.


"Menunggu bintang jatuh. Kata orang, jika kita membuat permohonan ketika ada bintang jatuh, niscaya keinginan kita akan di kabulkan,"


"Dan kau mempercayainya?" Zian menyela ucapan Luna.


Luna mengangkat bahunya. "Entah, karena aku sendiri belum pernah mencobanya dan sekarang aku mencoba untuk membuktikannya,"


"Memangnya apa yang ingin kau minta jika ada bintang jatuh?" tanya Zian penasaran.


"Anak. Hanya itu!! Dan aku sangar harap apa yang aku inginkan bisa segera terkabul. Aku sangat menginginkan seorang anak, hanya itu yang begitu aku inginkan saat ini,"


Mimik wajah Luna berubah sendu. Luna benar-benar ingin memiliki seorang anak. Dia begitu sangat mendambakan kehadiran seorang anak di dalam pernikahannya dan Zian. Luna belum merasa sempurna jika belum memiliki anak, untuk itu dia ingin sekali bisa segera memiliki anak.


Zian kembali membawa Luna ke dalam pelukannya ketika melihat kedua matanya yang tampak berkaca-kaca. "Bersabarlah, Sayang. Cepat atau lambat, Tuhan pasti akan mengabulkan doa kita dan impianmu menjadi seorang Ibu pasti akan segera menjadi kenyataan. Sebagai manusia biasa kita hanya bisa berdoa dan berusaha, karena Tuhan yang menentukan segalanya.


Luna menguap lebar. "Oppa, tiba-tiba saja aku mengantuk. Bagaimaba kalau kita masuk dan tidur sekarang?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian yang juga menatap padanya.

__ADS_1


Zian mengangguk. "Ya sudah, ayo kita tidur,"


-


Gludukk!


Gludukk!


Gubrakk!


Suara mirip benda terjatuh mengalihkan perhatian Luna yang tengah sibuk di dapur membantu Viona menyiapkan sarapan. Penasaran suara apa itu, Luna dan Viona segera berlari meninggalkan dapur dan mendapati trio kadal yang tengah terguling di lantai dalam posisi tumbang tindih.


"Astaga, apa-apaan kalian bertiga ini?" teriak Luna seraya menghampiri mereka bertiga. Ketiga pemuda itu mengangkat wajahnya dan tersenyum tiga jari. Frans, Rio dan Satya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hehehe, kami sedang terburu-buru dan tidak sengaja tersandung. Endingnya seperti yang kau lihat, Nunna-ya." Jelas Satya.


"Huaaa!! Paman, sampai kapan kalian berdua akan menindih tubuhku? Apa kalian tidak tau? Jika kalian itu sangat berat mirip gorila, apa kalian berdua ingin membuatku patah tulang?" oceh Rio sambil menyendul tubuh Satya dan Frans dengan pantatnya. Kedua pemuda itu menindih tubuh Rio


"Huaaa.. Paman, cepat menyingkir sekarang. Pinggangku rasanya mau patah." Teriak Rio histeris.


"Ck, berisik sekali kau ini, Rio Lu. Dan enak saja menyebut kita berdua mirip gorila," keluh Satya seraya bangkit dan beranjak dari atas tubuh Rio.


Kemudian Satya mengulurkan tangannya dan membantu Rio untuk berdiri, pemuda itu meringis sambil memegangi pinggangnya yang serasa ingin patah. "Aaahhhh! Pinggangku, sepertinya aku mengalami patah tulang. Paman!! Aku tidak mau tau, pokoknya kalian berdua harus bertanggung jawab. Kalau kalian tidak mau aku akan menuntutmu ke pengadilan supaya kalian di penjara selama 2 hari. Jadi cepat ganti rugi sekarang juga." Rio mengulurkan tangannya pada Satya dan Frans.


Satya menepis tangan Rio dan menggeleng keras kuat. "Aku tidak mau, lagi pula itu bukan sepenuhnya salahku. Bahkan setiap kali kita jatuh berjamaah, kau selalu berada di atas tubuhku. Kalau sekarang giliran ku dan Satya yang menindihmu tentu itu bukan kami berdua." ujar Frans membela diri.


Rio menggeleng. "Aku tidak mau tau. Pokoknya aku menuntut ganti rugi pada kalian berdua, titik tanpa koma." Ucap pemuda itu menegaskan.


"Kami tidak mau!!"


"Aha...! Itu artinya kalian berdua sudah siap jika aib kalian aku buka di depan semua orang. Biar semua orang tau kalau dua pemuda yang paling tampan ternyata memiliki hobi yang menggelikan, mengoleksi ****** ***** dan kolor warna pink,"


"YAKK!!!"


Luna dan Viona sama-sama mendengus geli. Mendengar perdebatan mereka hanya membuat kepala mereka pusing saja. Mengabaikan mereka berdua yang masih berdebat, Viona kembali ke dapur dan menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertundak. Sedangkan Luna hendak kembali ke kamarnya untuk membangunkan Zian.


"OMO?" dan Luna terlonjak kaget ketika dia berbalik badan dan mendapati Zian sudah berdiri di depannya. "Oppa, kenapa kau mengejutkanku? Bagaimana jika aku sampai terkena serangan jantung dadakan karena ulahmu ini?" protes Luna sambil mengusap dadanya seraya menghela nafas.


Zian mendengus geli. Dengan gemas Zian menjitak kening Luna.


"Mereka membuat keributan lagi?" perhatian Luna dan Zian teralihkan oleh pertanyaan Nathan.

__ADS_1


Keduanya menoleh. Luna mengangguk. "Selalu saja membuat keributan, apa mereka tidak merasa bosan," Nathan menggelengkan kepala dan meninggalkan mereka berdua begitu saja.


Zian kembali menatap Luna. "Ganti pakaianmu, aku ingin membawamu ke suatu tempat." ucapnya.


Luna memiringkan kepalanya. "Kemana?" tanyanya penasaran. "Lalu bagaimana dengan, Vio eonni dan, Nathan oppa? Apa mereka akan ikut juga?"


Zian menggeleng. "Mereka memiliki acara sendiri. Dan kau akan tau setelah kita tiba di sana. Aku akan memberimu waktu sepuluh menit untuk bersiap." Kemudian Zian beranjak dan meninggalkan Luna begitu saja.


Luna menatap Zian dengan dahi menyernyit. Dia merasa sangat penasaran, memangnya kemana Zian akan membawanya pergi. Mungkinkah ke tempat istimewa? Pikir Luna. Tak ingin membuat Zian menunggu terlalu lama. Luna pun bergegas pergi ke kamar untuk bersiap-siap dan berganti pakaian. Mereka akan pergi setelah menyantap sarapan.


.


.


Siang ini, matahari sudah bertengger manis menerangi langit kota Santorini tepat diatas kepala. Burung-burung sedang sibuk untuk membuat nyanyian-nyanyian yang menenangkan telinga.


Angin sepoi-seou menembus kulit putih Luna dan Zian yang terekspos. Rumput hijau yang dihiasi oleh warna-warni bunga mawar membuat hati Luna merasa tenang. Ia sungguh tidak menyangka bila Zian akan membawanya ke tempat seindah ini.


Mengabaikan suaminya. Luna berjalan menuju tepi danau. Wanita itu duduk di sebuah batu besar dengan kedua kakinya yang dia masukkan ke dalam air danau yang jernih.


"Hangat.." pikir Luna.


Luna memejamkan kedua matanya. Mencoba menikmati udara pegunungan yang sejuk dan terasa alami. Memberikan rasa nyaman dan rileks karena kehangatan dan aroma wangi bunga mawar yang menyapa hidungnya. Sepoi angin yang terasa hangat, memberikan rasa nyaman dan tenang di waktu bersamaan.


Luna sedikit terlonjak ketika merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas dan membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya.


"Kau menyukai tempat ini?" tanya orang itu seraya meletakkan dagunya di atas bahu kanan Luna.


"Hhmm," wanita itu mengangguk. "Aku tidak tau jika ada tempat seindah ini di pulau Santorini. Oppa, apakah ketika datang ke pulau ini kau selalu menyempatkan diri untuk datang kemari?" tanya Luna pada sosok tampan yang memeluknya.


Zian mengangguk. "Tempat ini adalah tempat favoritku ketika datang kemari, selain karena udaranya masih alami, tempat ini juga jauh dari kebisingan kota. Itulah kenapa aku sangat menyukai tempat ini. Bisa di bilang tempat ini merupakan tempat favoritku di pulau ini," tutur Zian.


"Aku juga menyukainya. Tempat ini begitu menarik dan luar biasa. Sayang tidak ada tempat penginapannya. Oppa, aku tidak ingin kembali dulu. Tidak masalah bukan jika kita di sini lebih lama lagi?" Luna menatap Zian penuh harap.


Pria itu tersenyum dan mengangguk mengiyakan. "Baiklah," Luna tersenyum dan berjingkrak senang. Luna melepaskan dekapan Zian kemudian berpindah dan naik ke atas pangkuan Zian. Mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian kemudian mengecup singkat bibirnya.


"Gomawo, Oppa. Kau memang yang terbaik, aku semakin mencintaimu," sekali lagi Luna mengecup bibir Zian, dan kemudian berhambur ke dalam pelukannya.


Luna merasa sangat bahagia memiliki Zian di sisinya. Zian adalah sumber kebahagiaan dalam hidupnya, dan tanpa adanya Zian mungkin hidupnya tidak akan sempurna.


Luna tidak merasa menyesal karena sempat terlambat menyadari perasaannya pada Zian. Tapi semua itu tidaklah penting lagi, karena sekarang mereka telah bersama-sama. Terikat dalam ikatan suci yang di sebut pernikahan.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2