
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang ganti juduI jadi SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
"Senang bekerjasama dengan Anda, Tuan Qin,"
Zian dan rekan bisnis barunya saling berjabat tangan setelah menandatangani kontrak kerja sama perusahaan mereka. Zian tersenyum miring.
"Senang bekerjasama dengan Anda juga, Tuan James,"
James Meyer adalah salah satu investor terbesar di perusahaan milik Derby, dan dengan mudahnya Zian menarik pria itu untuk berdiri dan bergabung dengan perusahaannya setelah sebelumnya Mayer Group membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan milik Derby dan membuat perusahaan itu kembali mengalami penurunan saham.
Reno menghampiri Zian setelah pria berkebangsaan asing itu meninggalkan ruangan atasannya tersebut. "Sepertinya kau berhasil lagi, Tuan Qin," ucap Reno kemudian duduk di sofa yang bersebrangan dengan Zian.
"Hn, memangnya siapa yang bisa menolak jika uang sudah berbicara. Dia akan mendapatkan keuntungan yang besar dengan bergabung di perusahaan ini. Dan keuntungan yang akan dia peroleh bisa sepuluh kali lipat, dari keuntungan yang Derby janjikan. Bukankah itu sangat mengiurkan?" Zian menyeringai.
"Kau memang hebat Zian Qin, aku sangat bangga memiliki Boss sehebat dirimu. Dan untuk itu kau harus menaikkan gajiku mulai hari ini. Aku mendapatkan dua kucing liar baru, dan itu membutuhkan banyak dana. Aku harap kau menyetujuinya,"
Zian mengangkat wajahnya dan menyeringai dingin. "Oh,kau ingin potong gaji? Oke tidak masalah!!" ucapnya dengan seringai yang sama.
"YAKK!!!"
"Aku akan menaikkan gajimu sebesar lima persen. Jika kau sudah tidak ada kepentingan lagi, tinggalkan ruangan ini karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!!"
"Omo!! Kau mengusirku? Dasar rubah kutub menyebalkan!!" selanjutnya Reno melengos pergi dan meninggalkan Zian sendiri diruangannya.
Ting....
Perhatian Zian sedikit teralihkan. Ada satu pesan masuk. Pria itu terlihat bangkit dari duduknya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan. Sudut bibir Zian tertarik ke atas. Dia meletakkan kembali ponselnya tanpa berniat membalas pesan tersebut.
Zian duduk kembali di mejanya. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan segera. Supaya bisa pulang lebih awal. Karena Zian tidak ingin membuat Luna menunggu.
-
Luna berjalan dengan tenang menyusuri koridor rumah sakit yang lengang. Sesekali ia tersenyum dan mengangguk kecil saat beberapa perawat yang lewat menyapanya. Ia memang sudah cukup dikenal di sini karena sering mampir, maklum saja, karena saudari kembarnya bekerja di rumah sakit ini.
Selain ingin memeriksakan kondisi kandungannya. Luna juga ingin mengunjungi kakaknya. Dia sangat merindukan Viona karena sudah beberapa hari tidak bertemu.
Kaki Luna berhenti melangkah di depan sebuah pintu tertutup. Luna mengetuk pintu itu terlebih dulu. Barulah setelah itu tangannya bergerak menyentuh pegangan pintu dan membukanya.
Derap heels Luna memantul di kesunyian dinding kamar yang dicat putih bersih dengan aroma khas yang menyengat. Ia melangkah pelan tapi pasti, menghampiri meja yang terletak di sudut kamar, tepat menghadap jendela terbuka yang memperlihatkan pemandangan kota di luar.
__ADS_1
"Eonni,"
Sosok Viona yang duduk di meja kerjanya menoleh begitu mendengar suara Luna. Helaian rambut coklat gelap yang tergerai di punggungnya sedikit membiaskan cahaya dari matahari di luar. Viona tersenyum melihat kedatangan sang adik.
"Kau sudah sampai, Eonni pikir kau tidak jadi datang." Viona bangkit dari duduknya dan kemudian melangkah menghampiri Luna.
"Tentu saja jadi. Aku sangat kesepian sendirian di rumah. Apalagi tidak ada aktifitas yang bisa aku kerjakan di rumah." Luna mendesah berat.
"Apa yang kau bawa?" Viona menunjuk bingkisan di tangan Luna
"Oh ini, makan siang untukmu. Aku membelinya saat dalam perjalanan kemari," jawabnya."Eonni, apa hari ini kau lembur?"
"Eonni rasa tidak. Memangnya kenapa?"
"Bagaimana kalau kau menemani aku berbelanja perlengkapan bayi? Aku tidak nyaman jika harus pergi sendiri. Zian Oppa, terlalu sibuk dan aku tidak memiliki banyak kenalan di sini, selain Cherly dan kedua teman doktermu itu."
"Em, bagaimana kalau akhir pekan saja? Lagipula ini sudah siang."
Luna berpikir sebelum menjawab pertanyaan Viona. "Emm, aku rasa tidak buruk. Jadi kita bisa bersama-sama, sekalian jalan-jalan."
"Itulah yang aku pikirkan."
-
Dia baru saja kembali dari rumah sakit tempat Viona bekerja, dan dia memutuskan untuk singgah sejenak di taman yang tak jauh dari kantor suaminya berada.
Luna terlihat berkirim pesan dengan Zian. Dia mengatakan jika ingin memakan ice cream dan sedang menunggu Zian di taman yang tak jauh dari perusahaannya.
Ponsel milik Luna tiba-tiba berdering. Wanita itu tersenyum dan segera menerima panggilan tersebut.
"Oppa, kau ada di mana? Aku sudah ada di taman,"
"Luna, aku baru saja mendapatkan musibah. Mobil yang aku kendarai hilang kendali dan aku mengalami kecelakaan tunggal. Sekarang aku ada di clinik tak jauh dari taman."
"Apa? Oppa, tunggu. Aku akan segera kesana," Luna mematikan sambungan telfonnya dan segera menghentikan Taxi. Dia harus segera melihat bagaimana keadaan Zian. Dan Luna hanya bisa berharap semoga luka yang dialami oleh suaminya tidaklah parah.
.
.
"Oppa,"
Perhatian dua orang di dalam ruangan itu teralihkan oleh seruan seseorang dari arah pintu. Terlihat Luna menghampiri Zian dan Reno yang sedang berbincang.
__ADS_1
Tidak ada luka yang berarti selain luka pada pelipisnya yang sudah tertutup perban dan lebam pada tulang pipi kanannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Luna, raut wajahnya menunjukkan jika dia begitu cemas.
"Aku berusaha menghindari sebuah truk yang hilang kendali, dan terpaksa aku menabrakkan mobilku ke pembatas jalan." Terang Zian.
"Lalu apakah kau sudah boleh pulang?" Zian mengangguk. Pandangan Luna kemudian bergulir pada Reno. "Ren, antarkan kami pulang." Reno mengangguk.
Luna menuntun Zian dan membantunya turun dari ranjang. Wanita yang sedang hamil itu mendengus berat. "Kenapa kau sering sekali terluka sih, Oppa. Sekali saja, apa kau tidak bisa membuatku cemas," Luna memandang Zian setengah frustasi.
"Maaf, Sayang. Namanya juga apes, mau bagaimana lagi." Luna mendesah berat. Dan dia tidak berkomentar lagi.
.
.
Mereka tiba di rumah setengah jam kemudian. Luna langsung mengantarkan Zian ke kamar untuk beristirahat. Sedangkan Reno langsung pamit pulang. Dia harus menjemput Ibunya yang sedang di salon.
"Oppa, sebaiknya kau istirahat saja. Kau terlihat sangat buruk. Aku akan membuatkan bubur untukmu." Jika hanya membuat bubur saja, Luna bisa, meskipun rasanya tidak seenak bubur buatan Ibu serta kakaknya.
Luna meninggalkan Zian sendiri di kamar dan pergi ke dapur. Namun ketukan pada pintu membuat langkah kakinya terhenti. Luna beranjak dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Ibu," seru Luna melihat kedatangan Kalina.
"Ibu, langsung kemari setelah kau memberitahu jika Zian habis mengalami kecelakaan. Ibu juga sudah membuatkan bubur untuknya, lalu di mana dia sekarang?"
"Dia sedang istirahat di kamar. Aku memintanya untuk istirahat setelah dia meminum obatnya."
"Ya sudah, sebaiknya simpan buburnya di kulkas. Kau bisa menghangatkannya saat Zian ingin memakannya. Ibu harus pergi sekarang. Ada pertemuan penting di yayasan yang harus ibu hadiri," ujar Kalina yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
Setelah mengantarkan ibunya sampai depan pintu. Luna kembali ke dalam untuk melihat apakah Zian sudah tidur atau belum. Dan setibanya di sana dia malah melihat suaminya itu sedang memangku laptopnya.
"Oppa, bukankah aku memintamu untuk istirahat. Tapi kenapa kau malah sibuk bekerja?" Luna menghampiri Zian kemudian mengambil laptop itu dari pangkuan suaminya.
"Luna, kembalikan. Ada beberapa file yang harus aku periksa,"
Luna menggeleng. "Aku tidak akan segan-segan untuk membanting laptop ini jika kau tidak mau menurut. Oppa, berhentilah menjadi worcaholic sebentar saja dan pikirkan kondisimu juga. Kau sedang sakit, jadi jangan kebanyakan membantah!!"
Zian hanya bisa menghela nafas. Dengan terpaksa dia menuruti kemauan Luna. Karena jika tidak di turuti maka akan sangat panjang ceritanya. Luna bisa mengomelinya sampai berjam-jam, dan itulah kenapa Zian lebih memilih jalur aman.
-
Bersambung.
__ADS_1