
Pagi masih berembun, dan tanah masih basah. Seperti biasa, Zian selalu bangun lebih awal dan bersiap untuk pergi bekerja.
Sejak keluar dari rumah sakit setengah tahun yang lalu, Zian memutuskan untuk tinggal sendiri di rumah pribadinya. Zian menolak untuk tinggal bersama ibu serta kedua kakaknya. Entah apa alasannya, hanya saja Zian merasakan kekecewaan yang begitu besar kepada sang ibu tanpa tau apa sebab dan alasannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian. Zian segera turun untuk menyantap sarapannya. Tidak ada yang istinewa, hanya sepotong roti tawar dan selai kacang kesukaannya.
Namub langkah kaki Zian terhenti diujung tangga ketika iris kanannya yang dingin mendapati sosok perempuan sedang berkutat di dapur miliknya. Raut wajah dan tatapannya sangat jelas terlihat jika Zian sangat tidak suka melihat keberadaan perempuan itu dirumahnya.
"Amanda Roberto, sedang apa kau di sini?" suara dingin Zian langsung mengintrupsi Amanda untuk menoleh pada asal suara. Perempuan itu tersenyum lebar melihat kedatangan Zian.
"Oppa, kemarilah. Aku datang membawakan sarapan untukmu, bagaimana kalau kita sarapan bersama-sama?" usul Amanda sambil meneluk lengan Zian dengan manja.
Zian menyentak tangan Amanda dari lengannya dan menatapnya tajam. "Pergi kau dari sini. Dan berhenti menjadi wanita yang tidak tau malu yang suka seenaknya nyelonong masuk ke rumah orang lain. Bisa saja aku menuntutmu karna sudah masuk rumahku tanpa ijin. Jadi pergilah sekarang juga sebelum aku hilang kesabaran!!"
Brakk...!!
Amanda membanting makanan-makanan yang telah dia susun di atas meja dan menatap Zian dengan pandangan terluka."Sampai kapan, Zian? Sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti ini? Aku tunanganmu, tapi kenapa kau selalu memperlakukanku seperti orang lain? Susah payah aku memisahkanmu dari perempuan itu, tapi kenapa kau tetap tidak bisa melihat keberadaanku?" teriak Amanda yang tanpa sadar mengungkit tentang Luna.
Membuat Zian sedikit tersentak dibuatnya. "Memisahkanku dari perempuan itu? Siapa yang dia maksud?" gumam Zian membatin. Dab Amanda buru-buru menutuo mulutnya dengan mata sedikit membelalak menyadari apa yang baru saja dia katakan.
"Ya Tuhan, apa yang baru saja aku katakan. Sial, kenapa aku harus mengungkit tentang gadis itu segala sih!!" geram Amanda membatin.
Zian memicingman matanya dan menatap Amanda penuh selidik."Perempuan itu? Siapa?" tanya Zian meminta penjelasan.
Amanda langsung gelagapan. Dia bingung harus menjawab apa, karna tidak mungkin Amanda mengatakan yang sebenarnya pada Zian tentang Luna. Amanda menggeleng. "Bu-bukan siapa-siapa. Hanya perempuan yang tidak penting. Sudahlah, karna kau sudah mengusirku, lebih baik aku pergi saja," Amanda menyambar tasnya dan berniat untuk pergi. Tapi sayangnya langkahnya langsung dihentikan oleh Zian.
Brugg...!!
"Aaahhh,"
Punggung Amanda berbenturan keras dengan tembok karna dorongan Zian. Sebelah tangan Zian mencengkram rahang Amanda hingga wanita itu meringis kesakitan. "Katakan, Amanda Roberto!! Siapa perempuan yang kau maksud itu?"
"Bu-bukannya aku sudah bilang, bukan perempuan yang penting, kenapa kau harus penasaran. Lagipula dia bukanlah perempuan baik-baik, karna dialah kau menjadi seperti ini. Dia yang sudah menyebabkanmu mengalami kecelakaan, hilang ingatan dan cacat. Sudahlah Zian, sebaiknya aku pergi saja. Tidak ada gunanya aku berlama-lama disini, kau tidak pernah menganggapku sama sekali," ujar Amanda.
Amanda mendorong tubuh Zian dengan sekuat tenaga hingga pemuda itu terhuyung kebelakang. Dan kesempatan itu Amanda gunakan untuk melarikan diri dari Zian sebelum pemuda itu semakin banyak bertanya.
Sementara itu... Zian langsung terdiam setelah mendengar ucapan Amanda. Dia menjadi sangat penasaran dengan perempuan yang di maksud oleh wanita itu. Mungkinkah dia adalah perempuan yang sama yang sering datang dalam mimpinya? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
-
Daun daun berguguran. Dunia bagaikan berubah jadi hitam dan putih bagi seorang Leonil Luna.
Mata coklat jernihnya yang dulu selalu memancarkan kehidupan kini tampak redup seperti lentera yang hampir kehabisan minyak tanah sebagai sumber utama dari cahaya agar sinarnya bisa tetap terang.
Semua berawal dari sebuah insiden yang terjadi enam bulan yang lalu. Di mana ia dan Zian kembali terpisah oleh sebuah tragedi memilukan.
Demi bisa menyelamatkan nyawa pemuda itu, Luna sampai membuat kesepakatan dengan Dahlia, ibu kandung Zian. Dahlia bersedia mendonorkan darahnya pada Zian jika Luna mau meninggalkan putranya itu dan pergi sejauh mungkin dari hidupnya dan Luna menyanggupinya.
__ADS_1
Luka yang sebelumnya saja belum sembuh pasca perpisahannya dengan Zian, kemudian Luna mendapatkan kabar dari Viona jika Zian mengalami amnesia. Rasanya dunia Luna seperti runtuh, hatinya semakin hacur berkeping-keping.
Zian hilang ingatan, pasti pemuda itu melupakan semua tentangnya, semua kenangan mereka berdua dan tentang janji-janji yang pernah mereka buat bersama.
Luna tidak tau, kenapa takdir selalu mempermainkannya? Kenapa takdir baik tak pernah berpihak padanya? Kenapa tak ada kebahagiaan yang Tuhan berikan dalam hidupnya selain luka dan ai mata.
Terkadang Luna merasa jika Tuhan tak pernah berlaku adil padanya, karna Tuhan selalu mengambil semua hal indah dalam hidupnya. Pertama sang ibu, kemudian ayahnya, dan terakhir Zian. Luna selalu merasa jika dirinya telah dipermainkan oleh takdir.
"Nunna, di sini,"
Satya terlihat melambaikan tangannya pada Luna saat melihat kedatangan gadis itu. Satya, Rio dan Frans sedang menjemput Luna di bandara.
Karna paksaan Viona, akhirnya Luna pun mau kembali ke Korea dan menghadapi takdirnya.
"Aisshh...!! Kenapa kalian lama sekali? Apa kalian tau berapa lama aku menunggu kalian di sini?" Luna mengomeli dan memarahi trio kadal habis-habisan karna mereka bertiga sudah membuatnya menunggu terlalu lama di badara.
Rio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Maaf, Bibi. Kau tau sendiri bukan jika jalanan Seoul ketika jam segini itu sangat padat, macet" jawab Rio memberi penjelasan.
"Alasan, sudahlah... Cepat bawakan koperku dan temani aku makan siang sebelum pulang. Aku sangat lapar," renggek Luna sambil memegangi perutnya. Ia sangat kelaparan. Dan kemudian Luna meninggalkan mereka bertiga begitu saja.
"Yakk!! Nunna, tunggu kami!!"
-
Nathan mengunjungi Zian di kantornya. Pemuda itu dalam keadaan yang buruk. AC dalam ruangan di matikan, asap rokok dan aroma minuman yang begitu menyengat begitu terasa ketika Nathan tiba di ruang kerjanya.
"Kau terlihat sangat kacau, Zian Qin! Reno menghubungiku dan mengatakan jika kau terlihat sangat kacau. Sebenarnya kau punya masalah apa? Karna tidak biasanya kau seperti ini," ujar Nathan panjang lebar.
Zian mengangkat wajahnya dan mata kanannya menatap Nathan dengan serius."Hyung, katakan padaku. Sebelum aku kecelakaan dan hilang ingatan. Apakah aku pernah dekat dengan seorang gadis? Karna hampir setiap hari aku selalu memimpikan seorang gadis, tapi sayangnya aku tidak ingat siapa gadis itu, dan aku juga tidak tau seperti apa rupanya. Katakan, Hyung. Kau pasti mengetahui sesuatu,"
Nathan mendesah berat. "Mungkin tidak ada gunanya aku menyimpan rahasia tentang masa lalumu terlalu lama. Nathan mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukkan sebuah foto pada Zian."
"Kau lihat gadis di sebelah kanan Viona yang sedang tersenyum manis itu? Namanya, Leonil Luna. Dulu kalian begitu dekat, dia adalah teman lamamu, kalian sempat terpisah selama bertahun-tahun. Tapi dua setengah tahun yang lalu kalian kembali di pertemukan oleh takdir."
"Dan semenjak saat itu, kalian menjadi sangat dekat dan selalu bersama-sama. Dia adalah gadis pertama yang kau terima kehadirannya. Dan demi menyelamatkan nyawamu, dia rela mengorbankan perasaannya dan pergi sejauh mungkin dari hidupmu. Hati kalian selalu terikat, meskipun saat ini kalian terpisah oleh jarak dan waktu. Kau memang kehilangan ingatanmu, tapi bukan hatimu."
"Jangan terlalu dipaksakan, lambat laun kau pasti akan mengingatnya kembali. Sudah hampir waktunya makan siang, aku harap kau tidak melewatkannya lagi, aku harus pergi sekarang,"
Zian termenung setelah mendengar kata-kata Nathan. Leonil Luna, nama yang terdengar tak asing baginya. Siapa pun dia, Zian pasti akan menemukannya.
-
Luna dan trio kadal memasuki cafe dan kemudian duduk di meja dekat jendela yang di pilih oleh gadis itu.
Di tengah langkahnya, banyak sekali pasang mata yang melihat kearah Luna dan tak sedikit pula yang curi-curi pandang ke arahnya.Tapi Luna tak terlalu ambil pusing apalagi terlalu memikirkannya. Luna tetap berjalan santai melewati mereka.
Seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka beremoat sambil sesekali mencuri-curi pandang pada Satya. Dan pelayan itu langsung gelagapan ketika Satya menggerlingkan mata nakal padanya. Satya terkekeh geli setelah pelayan itu pergi.
__ADS_1
"Dasar mata keranjngang, tidak bisa melihat yang bening sedikit matanya langsung meleng," cibir Frans yang langsung mendapatkan delikan tajam dari Satya. "Apa? Bukankah yang aku katakan itu kenyataan?"
"Idih, bilang saja kalau kau itu iri karna aku lebih terkenal darimu," ujar Satya menyombongkan diri.
"Percaya diri sekali kau,"
"Cukup kalian berdua!! Berhenti bertengkar dan biarkan aku makan dengan tenang," amuk Luna pada keduanya.
Sementara itu, Rio terlihat mengulum senyum penuh kemenangan. Dia puas melihat kedua paman kecilnya di omeli habis-habisan oleh Luna.
Ting...!!
Lonceng di atas pintu cafe berbunyi yang menandakan ada pengunjung yang datang. Luna langsung berdiri dari duduknya ketika melihat siapa orang yang berjalan memasuki cafe. Tak jauh berbeda dari reaksi Luna. Orang itu juga langsung menghentikan langkahnya ketika mata kanannya bersiborok dengan sepasang mutiara coklat indah milik Luna.
"Zian," gumam Luna setengah berbisik.
Luna merasakan udara disekitarnya tiba-tiba kosong. Semua terasa hampa dan hanya kehadiran Zian yang terasa nyata. Mata coklatnya memancarkan kerinduan yang begitu besar, sepasang iris coklatnya menatap Zian penuh kerinduan. Ya, Luna memang sangat merindukan Zian. Jika keadaannya masih sama, pasti Luna sudah berlari menghampiri pemuda itu dan memeluknya.
'Dia adalah gadis pertama yang kau terima kehadirannya. Dan demi menyelamatkan nyawamu, dia rela mengorbankan perasaannya dan pergi sejauh mungkin dari hidupmu. Hati kalian selalu terikat, meskipun saat ini kalian terpisah oleh jarak dan waktu. Kau memang kehilangan ingatanmu, tapi bukan hatimu.'
Kata-kata Nathan seketika berputar di kepalanya setelah kedua matanya saling bersiborok dengan mutiara coklat milik Luna. Zian melanjutkan kembali langkahnya dan menghampiri gadis itu yang tampak terpaku.
"Paman, Zian. Kau juga di sini? Bagaimana kalau kau bergabung saja bersama kami?" seru Rio saat menyadari keberadaan Zian.
"Benar, Hyung. Karna makan siang bersama-sama itu lebih menyenangkan dari pada kau makan siang sendiri saja," Satya menyahuti.
"Kau tenang saja, Nunna kami yang cantik ini yang akan mentraktir kita. Kau boleh memesan apapun yang kau mau," Frans tk mau kalah.
"Aiss, kenapa hanya berdiri saja. Ayo duduk," Rio menarik lengan Zian dan memaksanya untuk duduk. Zian dan Luna duduk saling berhadapan.
Sambil menyusut air matanya. Tiba-tiba Luna bangkit dari duduknya. "Aku akan ke toilet sebentar," ucap Luna dan pergi begitu saja. Tanpa mengatakan apapun pada trio kadal. Zian berdiri dari duduknya dan langsung mengejar Luna.
"Aaahhh,"
Tubuh Luna tertarik dan punggungnya berbenturan pelan dengan tembok. "A-apa yang kau lakukan? Lepaskan, kau menyakitiku," Luna mencoba berontak dan melelaskan cengkraman Zian pada pergelangan tangannya.
"Katakan, siapa kau sebenarnya? Kenapa hampir setiap malam aku selalu memimpikan tentang dirimu. Hubungan istimewa seperti apa sebenarnya yang kita miliki di masa lalu? Katakan, katakan Leonil Luna!!" pinta Zian menuntut.
Alih-alih menjawab. Luna malah menundukkan wajahnya. Bulir-bulir air mata bercucuran dari mata indahnya. Hatinya bergemuruh hebat, dadanya terasa sesak seperti terhantam dua bongkahan batu besar. Zian merasakan sesak yang luar biasa ketika melihat air mata Luna.
Zian menakup wajah Luna dan menatapnya dengan penuh kelembutan."Bantu aku, Luna. Bantu aku mendapatkan kembali ingatanku yang hilang, bantu aku agar aku mengingat siapa dirimu. Karna aku tau, kita memiliki hubungan special di masa lalu!!"
-
Bersambung.
...Wahai para pembaca yang baik hati. Ayolah jangan pelit-pelit buat kasih like komentnya di novel ini. Tiap hari pembaca jumlahnya ribuan tapi like-nya yang nyasar kesini dikit buanget 😭😭 Biar otornya makin semangat buat ngetik novelnya. Karna satu like dan koment kalian sangat berarti buat author 🙏🙏🙏...
__ADS_1