Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 124 "Kolor Pink Rio"


__ADS_3


Baca dan like koment juga new novel Author ya. Dijamin seru apalagi yang suka cerita Vampire.


-


Semua akan indah pada waktunya.


Mungkin sudah ribuan kali Nathan mendengar istilah tersebut. Sebuah kalimat yang bermakna jika kebahagiaan dan ketentraman dalam menjalani hidup akan datang juga jika waktunya telah tepat. Dan takdirlah yang akan memilih waktunya sendiri, sama dengan apa yang Nathan alami.


Sekian lama bersabar akhirnya kebahagiaan itu datang untuknya. Ya, kebahagiaan Nathan adalah semua tentang Viona, wanita yang begitu dia cintai. Dan satu-satunya wanita yang dia miliki dalam hidupnya.


Kicauan burung pagi menjadi lagu alam pertama saat mentari bersinar dari ufuk timur. Suasana indahnya pagi terasa lengkap di kediaman Xi saat sosok jelita berparas cantik bersenandung riang sembari mengaduk sup untuk sarapan pagi.


Viona dengan sangat terampil menata meja makan dengan berbagai kudapan yang telah dia masak. Dan hebatnya semua makanan yang tersaji di atas meja merupakan hasil masakannya tanpa ada campur tangan para pelayan yang setiap pagi selalu menyajikan sarapan untuk sang tuan besar.


Viona tersenyum lebar dan menatap puas hasil masakannya. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung didinding dan waktu sudah menunjuk pulul 06.50 pagi. Yang perlu Viona lakukan sekarang adalah menunggu kedatangan Nathan dan Kakek Xi. Dan sembari menunggu mereka berdua, Viona berencana menyiapkan buah segar sebagai pencuci mulut.


"Ahhh,"


Pisau dalam genggaman Viona jatuh begitu saja setelah mata pisau itu tanpa sengaja melukai ujung jarinya. Darah segar terlihat keluar dari jarinya yang terluka. Dan selanjutnya, Viona merasakan bila jarinya berada di dalam mulut hangat seseorang.


"Oppa," kaget Viona milihat Nathan tiba-tiba berdiri dihadapannya.


"Dasar ceroboh, apa kau tidak bisa melakukannya dengan lebih berhati-hati," omel Nathan sambil menatap Viona tajam.


Viona mencerutkan bibirnya. Dia sudah menduga bila Nathan akan mengomelinya karna hal tersebut. "Dasar menyebalkan, tau istrinya sedang terluka bukannya prihatin, aku malah diomeli. Nak, kau mendengarnya bukan? Papamu mulai bersikap menyebalkan lagi," ujar Viona sambil mengusap-usap perutnya.


Nathan mendengus geli. Lagi-lagi Viona menggunakan janinnya, dan kali ini untuk menyalahkan dirinya. Dengan gemas Nathan menyentil kening Viona. "Dasar kau ini. Jangan libatkan dia, apalagi meracuni otaknya saat dalam kandungan,"


"Siapa suruh Oppa mengomeliku," jawab Viona tak mau kalah.


"Morning, cucu-cucu kesayangan Kakek,"


"OMO!!" Viona terlonjak kaget dan nyaris saja terkena serangan jantung dadakan karna kemunculan Kakek Xi. Kakek satu cucu itu muncul dengan style masa kininya yang membuat Viona langsung bergidik ngeri. "Kakek, apa-apaan Kakek ini? Kenapa semakin hari penampilanmu semakin mengerikan saja? Astaga, sepertinya virus berbahaya dari trio kadal sudah merusak syaraf Kakek,"


"Oh, ayolah Sayang. Jangan seperti itu. Apa kau tidak melihat jika Kakekmu ini mirip dengan Personil Superjunior Yesung. Bukanlah wajah Kakek 11-12 sama Yesung? Bukankah begitu Nathan?"


Nathan memutar mata jengah. "Hn, terserah kau saja, pak tua!!" jawab Nathan datar.


Kakek Xi mencerutkan bibirnya. Berbicara dengan Nathan memang membutuhkan tingkat kesabaran yang ekstra, dan untungnya saja Kakek Xi sudah kebal. Karna sikap dingin Nathan menurun dari mendiang Ayahnya.


"Wah, keliatannya sangat lezat. Kebetulan sekali Kakek juga sudah sangat lapar. Ayo, sebaiknya kita sarapan sekarang," ajak Kakek Xi pada cucu dan cucu menantunya. Dan selanjutnya sarapan mereka bertiga lewati dengan tenang.


-


Ketukan pada pintu membuat perhatian Viona dari layar laptopnya sedikit teralihkan. Beberapa saat berselang tampak seorang perawat menghampirinya.

__ADS_1


"Dokter Anggella, ada pasien!" panggil perawat pada Viona yang baru saja selesai mengetik laporan.


Viona mengangguk. "Baiklah! Aku akan segera ke sana!" Dengan segera ia merapikan laporannya dan pergi menuju ruang dimana pasien baru berada.


Baiklah, ini pertanda bahwa ia akan lembur lagi hari ini. Selama berjalan menuju ruangan tersebut, ia memikirkan bagaimana caranya ia memberi kabar pada Nathan. Karna sudah pasti suaminya yang overprotektif itu akan memarahinya habis-habisan jika dirinya tidak mengabarinya apalagi tidak memberitaunya jika hari ini kemungkinan dia akan lembur.


Semenjak Viona dinyatakan hamil oleh dokter, Nathan memang menjadi begitu protektif pada Viona. Nathan sering sekalo mengomelinya dan melarangnya melakukan ini dan itu yang bisa membuatnya kelelahan.


Dan sudah pasti Viona tak ada waktu untuk mengabari suaminya saat ia mulai memeriksa pasien.


.


.


"OMO!!"


Viona terlonjak kaget saat tiba diruangannya dan mendapati Nathan sudah menunggunya di sana. Viona mulai was-was, takut bila Nathan akan mengomelinya lagi seperti beberapa hari yang lalu karna bekerja tak ingat waktu. Mencoba untuk tetap tenang, Viona berjalan menghampiri Nathan yang berdiri diambang jendela ruang kerjanya yang terbuka.


Viona memeluk Nathan dari belakang sebelum pria itu berbalik dan mengomelinya habis-habisan. Viona menyandarkan wajah pada punggung yang tertutup vest abu-abunya. "Mau datang kenapa tidak menghubungiku?"


"Bagaimana mau menghubungimu jika ponselmu saja tidak aktif," jawab Nathan dengan nada sinis.


"Maaf, tadi aku membentu Dokter Kang melakukan operasi darurat, aku mematikan ponselku dan lupa untuk menghidupkannya lagi," jelas Viona.


Nathan mendesah berat. Pria itu lantas melepaskan pelukkan Viona kemudian berbalik dan posisi mereka saling berhadapan. Jantung Viona berdegup kencang, melihat sorot mata tajam Nathan membuat Viona seperti sedang uji byali. Dan mungkin setelah ini Nathan akan menelannya bulat-bulat.


"Eh," Viona tampak terkejut, ternyata Nathan tidak mengomelinya. Wanita itu menarik sudut bibirnya dan mengangguk pelan. "Baiklah Oppa, beri aku lima menit,"


.


.


Keberadaan Nathan dan Viona dicafe begitu menarik perhatian. Banyak pasang mata wanita yang terus-terusan menatap pada Nathan, dan hal tersebut membuat Viona kesal setengah mati.


Tapi mau bagaimana lagi, begitulah resiko yang harus dia alami karna memiliki suami yang teramat sangat tampan. Dimana pun Nathan berada, sudah pasti banyak pasang mata yang akan menatapnya.


Dan itu sudah menjadi hukum alam. Di mana ada pria tampan, pasti disitu banyak wanita yang akan mengaguminya. "Astaga, apa mereka belum pernah melihat orang tampan sebelumnya," gerutu Viona begitu kesal. Sedangkan Nathan hanya bisa mendengus seraya menggelengkan kepala melihat tingkah istri kecilnya.


Ponsel dalam saku celana Nathan tiba-tiba bergetar yang menandakan ada sebuah pesan masuk. Nathan membuka pesan tersebut kemudian membaca isinya.


"Tuan, kami melihat kedatangan Doris Lu. Dia baru saja mendarat dibandara Incheon. Apa yang harus kami lakukan?"


Nathan menghubungi orang yang baru saja mengirimkan pesan padanya. "Awasi saja dulu dan perhatikan gerak-geriknya. Lakukan apapun untuk mengetahui apa yang sedang dia rencanakan kali ini," tutur Nathan menjelaskan.


"Baiklah Tuan, kami mengerti,"


Nathan memutuskan sambungan telfonnya lalu memasukkan kembali ke dalam saku celananya. "Telfon dari siapa Oppa? Dan memangnya siapa yang datang? Apakah dia wanita simpananmu sampai-sampai harus diawasi segala?" tanya Viona begitu penasaran.

__ADS_1


"Sembarangan, berhentilah berfikir yang tidak-tidak apalagi tentang wanita baru dalam hidupku." Tegas Nathan sedikit kesal. Lagi-lagi Viona menuduhnya. ""Doris Lu, Park Yoong mengatakan jika bajingan itu telah kembali dan pagi ini terlihat di bandara. Makanya aku minta Park Yoong untuk mengawasinya terus." Tutur Nathan menjelaskan.


"Ahh, begitu ya. Aku mengerti." Viona menganggukkan kepala. "Oppa, aku sudah siap, bisa kita pulang sekarang?" Nathan mengengguk. Dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan ruangan kerja Dokter cantik tersebut.


-


Ini sudah tengah malam, kan? Henry tidak bodoh untuk tahu ini sudah malam. Tapi yang membuat ia kelihatan bodoh adalah marah-marah pada seekor nyamuk yang terus saja berdenging ditelinganya. Membuat Tiffany berpikir kalau suaminya yang itu mungkin masuk dalam barisan sedikit normal-bersama Rio, Satya dan Frans. Tapi, sepertinya malah lebih sakit daripada diri mereka bertiga.


"Arrkkhhh, nyamuk sialan. Berhentilah berdengung diteling. Perasaan tempat ini adalah hunian mewah tapi kenapa masih ada nyamuk juga!!" Henry yang tiba-tiba berteriak dan membuat Tiffany yang sedang menidurkan si kecil sedikit terlonjak.


"Yakk! Kenapa kau kau harus berteriak? Kau membuat anakmu terkejut," amuk Tiffany pada suaminya. Sedangkan Henry langsung mengangkat tangannya dan jarinya membentuk huruf V. Tiffany mendengus berat.


Tiffany jadi benar-benar yakin kalau suaminya itu perlu dibawa ke psikiater, bahkan kalau perlu ke negara tempat Rio dilahirkan supaya diaqq bisa segera ditangani oleh psikiater terbaik.


"KKYYYAAA!! PAMAN, KEMBALIKAN KOLOR ITU PADAKU!!"


Sekali lagi Tiffany terlonjak kaget. Bukan Henry tapi Rio. Tiffany tidak tau hal gila apalagi yang mereka lakukan kali ini, dan Tiffany berani bersumpah jika itu ada hubungannnya dengan kolor milik Rio yang warna dan motif-motifnya menggemaskan itu.


Rio segera turun dari tempat tidurnya dan mengejar Satya yang seenak jidat mengambil kolor pink motif panda miliknya. Sedangkan Frans sedang melakukan live video dan menunjukkan kegilaan yang terjadi. Live video Frans langsung diserbu ribuan orang dan mereka memberikan koment-koment yang menggelikan.


"Huaa, Paman cepat kembalikan kolor itu padaku atau aku akan lompat dari sini. Hiks, aku baru membelinya Paman dan belum memakainya. Jadi kembalikan kolor pink itu padaku," renggek Rio memohon.


"Hahaha. Ini sangat unik dan terlihat mahal. Pasti aku akan mendapatkan keuntungan besar jika berhasil menjualnya disitus online," ujar Satya.


"JANGAN!" Rio langsung histeris. "Jangan dijual, aku mendapatkannya saja susah sekali. Malah seenaknya mau kau jual, tidak-tidak. Aku tidak membiarkannya!!" tegas Rio.


"Kalau begitu ambil kalau kau bisa," tantang Satya.


"Huaa.. Paman jangan jahat, cepat kembalikan kolor itu padaku!! Kemarin dot susuku dan sekarang kolor baruku. Hiks, kenapa kau begitu jahat!!" jerit Rio setengah frustasi.


Dan beginilah mereka ketika di rumah. Meskipun mereka sangat kompak ketika melakukan aksinya. Tapi tidak ketika dirumah. Mereka malah terlihat seperti kucing dan tikus.


Jika biasanya Satya dan Frans yang selalu menjadi korban kejahilan Rio. Kini giliran Rio yang menjadi korban kejahilan Satya. Satya mengambil kolor pink motif panda miliknya dan mengatakan akan menjualnya di situs online. Tentu saja Rio tidak terima.


Tiba-tiba saja Rio berhenti. Matanya membelalak membuat Satya menghentikan aksinya juga. Tampak sebuah seringai disudut bibir Rio, dia mendapatkan sebuah ide.


"MAMA!" tiba-tiba Rio berseru histeris. Sontak saja Satya menoleh dan hal tersebut dimanfaatkan oleh Rio untuk mendapatkan kembali kolor pinknya. "Ye, aku berhasil." seru Rio dan bersorak kegirangan.


"Yakkk! Bocah, jadi kau menipuku!!" teriak Satya tak terima.


Sementara itu. Tanpa semua penghuni rumah itu sadari, sebuah sedan hitam terlihat memasuki halaman. Seorang keluar dari mobil tersebut dan menyeringai tajam. Pria setengah baya itu menatap bangunan dihadapannya kemudian berkata...


"Anak-anak, Ayah pulang,"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2