
Para pembaca yang budiman. Baca juga ya new novel Author. Jangan lupa buat tinggalkan like ❤🙏🙏 dan koment ya 🙏🙏...
-
Sebagai seorang suami, tentu saja Nathan merasa sedih dengan keadaan Viona saat ini. Pasca mengalami keguguran satu bulan yang lalu Viona menjadi lebih banyak diam dan melamun. Nathan seperti kehilangan sosok Viona yang hangat dan ceria, dan hal itu membuat Nathan merasa sangat sedih. Nathan merasakan seperti kehilangan sebagain dari dirinya.
Semua orang-orang terdekat mereka selalu datang untuk menghibur Viona termasuk Tiffany, calon istri Henry. Nathan tidak menyangka bila Viona dan Tiffany ternyata sudah saling mengenal. Mereka berdua adalah sahabat saat masih sama-sama di America.
Saat ini Nathan, Viona, Henry dan Tiffany sedang berada di taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman Nathan. Nathan berfikir bila Viona mungkin membutuhkan angin segar untuk itu dia memutuskan untuk membawanya jalan-jalan.
Semenjak keluar dari rumah sakit, Viona selalu mengurung dirinya di kamar dan hal itu membuat Nathan menjadi semakin sedih dan cemas.
"Vio, lihatlah. Aku membawakan banyak makanan kesukaanmu, mau mencicipinya? Aku jamin kali ini tidak akan membuatmu sakit perut lagi seperti saat itu, mau mencobanya sedikit?" tanya Tiffany. Saat ini wanita yang tak lama lagi akan menyandang marga Lu itu duduk berdampingan dengan Viona di bangku taman.
Viona mengangguk seraya memaksakan senyumnya, wanita itu kembali mengalihkan pandangannya pada bunga-bunga yang ada di depan sana. Sesedih apapun hatinya saat ini, Viona mencoba untuk tetap terlihat tegar di depan semua orang terutama di depan Nathan. Dia mencoba menyembunyikan rasa sakitnya sendiri. Dan semenjak keluar dari rumah sakit, Viona tidak pernah terlihat menangis lagi. Semua tangis itu Viona tahan di dalam hatinya.
Melihat anggukan Viona membuat senyum di wajah Tiffany mengembang lebar. Tangan wanita itu terlihat cukup lincah dalam memindahkan beberapa makanan yang ia bawah dalam satu wadah yang sama yang kemudian dia berikan pada Viona, di tengah kesibukkannya itu. Tiffany terus berceloteh, menceritakan segala hal saat dia masih di America dan rasa tidak percayanya bila Viona bisa mengenal Nathan dan kemudian mereka berdua memutuskan untuk menikah.
Namun tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibir Viona untuk membalas celotehan Tiffany, wanita itu hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Tiffany tidak merasa tersinggung apalagi marah, ia sangat memahami perasaan sahabatnya itu.
Tak jauh dari sana. Nathan dan Henry berdiri memperhatikan kedua wanita itu.
Dengan keheningan menyelimuti kebersamaan mereka. Sepasang mutiara coklatnya tak lepas sedikit pun dari Viona yang sejak tadi hanya diam termenung sambil menatap lurus kedepan. Meskipun Nathan tidak mengatakan apa pun, bukan berarti Henry tidak memahami apa yang tengah di rasakan oleh Nathan. Sebagai seorang kakak, tentu saja Henry sangat memahami perasaan sang adik.
"Bagaimana perkembangannya? Aku dengar perusahaan milik Derry Ardinata benar-benar berada di ambang kebangkrutan? Sepertinya kau melakukannya dengan sangat baik," ujar Henry memecah keheningan, dia sengaja membahas hal lain yang tidak berhubungan dengan musibah yang baru saja menimpa Nathan dan Viona. "Sepertinya semua usahamu selama ini akan berakhir dengan manis." imbuhnya.
Nathan mendesah berat. "Aku akan segera menyelesaikannya, Ge. Aku tidak akan menahannya lebih lama lagi. Mereka harus menerima akibatnya, aku meminta Kai untuk mengurus pertemuanku dengan bajingan tua itu." tutur Nathan.
"Dan membuka jati dirimu di depan bajingan itu?" Tebak Henry seratus persen benar.
"Bingo," angguk Nathan membenarkan. "Jika selama ini aku beraksi secara tertutup dan menjadi mysterious boys, maka kali ini tidak lagi. Aku akan menghancurkan bajingan tua itu secara terang-terangan dan membuat dia membayar mahal atas semua perbuatannya pada keluarga kita. Aku tidak akan pernah mengampuni mereka karna nyawa harus di bayar dengan nyawa."
Henry terdiam mendengar penuturan Nathan, sepertinya laki-laki itu tidak main-main dengan ucapannya. Henry mengenal adiknya itu dengan sangat baik, dia bukanlah tipe orang yang mudah menarik kembali kata-katanya dan berubah pikiran. Nathan tidak akan pernah segan-segan untuk menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Dan Henry menangkap kesungguhan itu dalam kata-kata juga sorotnya.
Henry kembali memandang Nathan, mencoba mencari tau apa yang sebenarnya tengah di fikirkan oleh sang adik. Tapi Henry tidak menemukan jawaban apa pun dalam sorot matanya. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Tidak senang, tidak gembira, tidak juga sedih atau suram. Itu adalah emosi yang sulit ditebak dari seorang Nathan Lu.
Wajahnya menggelap, auranya begitu suram. Henry tidak tau apakah itu ada hubungannya dengan musibah yang baru saja terjadi atau justru tentang Derry Ardinata? Henry ingin sekali bertanya pada Nathan namun lidahnya terasa keluh dan suaranya tercekat di tenggorokkannya. Dan akhirnya Henry pun memilih untuk tetap diam.
__ADS_1
"BERHENTIIIII."
Teriakan Viona dengan cepat menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di taman itu termasuk Henry dan Nathan. Dan Tiffany yang duduk disebelah Viona hanya bisa menatap wanita yang kini berdiri itu dengan terkejut. "Viona , ada apa?" tanyanya bingung.
Viona berdiri tanpa menghiraukan pertanyaan Tiffany. "Jangan ambil milikku, kalian berhenti. Berhenti di sana! Berhenti sekarang!!"
Hati Viona seperti terbakar saat melihat pria dan wanita yang tengah berjalan dari kejauhan. Pasangan itu terlihat begitu bahagia dengan seorang bayi mungil yang berada dalam pelukkan si wanita. Sementara si pria sesekali terlihat mengusap kepala bayi itu dan mengecupnya.
Jika saja musibah itu tidak terjadi pada dirinya, pasti Viona juga bisa berada diposisi wanita itu di masa mendatang. Nathan yang tentunya akan sangat bahagia dengan lahirnya bayi mereka dan Viona yang bahagia karna kehadiran buah hati yang melengkapi hidupnya.
Jika saja musibah itu tidak pernah terjadi pasti Viona tidak akan sesakit dan sehancur ini. Tidak akan ada air mata yang tumpah. Tidak akan ada rasa takut berkepanjangan yang membelenggu jiwanya.
Viona begitu menyayangkan kenapa harus melihat kebahagiaan orang lain di saat dirinya sedang terpuruk seperti ini? Nathan yang penasaran segera menghampiri Viona yang berjalan dengan cepat menghampiri pasangan suami-istri yang tampak kebingungan di depan sana. "Tetap di sana, dan jangan coba-coba membawa pergi milikku." Pria dan wanita itu semakin dibuat kebingungan dengan sikap Viona.
Mereka hanya bisa terpaku seraya sesekali bertukar pandang. Dalam benaknya mereka terus bertanya-tanya kenapa wanita berparas jelita itu berteriak dan terlihat marah. Nathan segera menghalangi langkah Viona. "Ada apa denganmu?" sebuah pertanyaan meluncur dari bibirnya, kedua tangannya mencengkram bahu Viona yang mencoba untuk terus memberontak.
"Lepaskan aku, Oppa!! Jangan coba-coba menghalangiku!!"
"Vio, tenanglah!!"
"Aku bilang lepaskan, biarkan aku mengambil milikku."
Rasanya seperti ada ribuan pisau tajam yang menghujam dada Nathan. Nathan tidak mampu lagi bersuara, apa yang ingin dia katakan seakan tertahan di tenggorokkannya.
Melihat Viona seperti ini membuat Nathan semakin hancur, cengkramannya di pundak Viona sedikit bergetar. Sebisa mungkin Nathan menahan Viona untuk tidak berontak lagi dengan membawa wanita itu kedalam pelukkannya. "Vona, aku mohon berhenti. Sadar Viona, sadar!! Anak kita sudah tidak ada lagi,"
"Hisk, lepaskan aku, Oppa. Biarkan aku mengambil anakku, aku ingin anakku. AKU INGIN ANAKKU!!"
"VIONA, CUKUP!!!" bentakan keras Nathan akhirnya membuat Viona diam.
Wanita itu tidak lagi merontak dan berteriak-teriak, perhatiannya sepenuhnya teralihkan. Mata hazelnya yang tampak kosong menatap Nathan tanpa ekspresi "Ada apa denganmu? Kendalikan dirimu dan cobalah untuk berfikir dengan jernih. Sadarlah, anak kita sudah tidak ada. Janin itu sudah meninggal!! Apa kau tidak mengerti juga," Tidak ada jawaban dari Viona. Bentakkan Nathan seolah membawa Viona kembali dari alam bawa sadarnya. Wanita itu menyapukan pandangannya dan menatap apa yang ada di sekelilingnya.
Ia melihat Tiffany yang masih berdiri di tempat semula, tak jauh dari posisi Tiffany berdiri dia melihat Henry lalu pandangannya bergulir pada orang-orang yang menatapnya kebungungan. Suasana di sana mendadak hening, bahkan terkesan tegang. Dalam hatinya Viona terus merutuki apa yang sudah di lakukannya, kemudian menatap Nathan yang tengah memandangnya sendu.
"Ya Tuhan"
Perasaannya kembali bergejolak, hatinya diselubungi perasaan sedih yang seolah tidak ada ujungnya. Dengan cepat Viona memeluk Nathan dan membenamkan wajahnya pada dada bidang yang tersembunyi di balik kemeja hitam lengan itu.
"Oppa, hiks... anak kita, hiks.. sudah tidak ada." Nathan mendongakkan wajahnya.
__ADS_1
Rasanya seperti ada pisau yang menguliti dadanya dengan brutal. Sekuat apa pun dia mencoba untuk tetap terlihat tegar, namun pada akhirnya pertahannya tetap runtuh juga. Nathan tidak bisa lagi menahan air matanya agar tidak sampai menetes. Viona memang hancur, tapi Nathan jauh lebih hancur. Dia hancur melihat keadaan Viona saat ini yang begitu terpuruk.
.
.
.
"Untuk sementara sebaiknya biarkan dia beriatirahat. Kakak sudah menyuntikkan obat penenang," ucap Senna seraya menghampiri Nathan berdiri terpaku di depan jendela kamarnya yang terbuka.
Laki-laki itu tidak memberikan respon apa pun pada ucapan Senna, pandangannya terpusat pada taman mawar yang ada di bawah sana. "Apa yang sebenarnya terjadi padanya, Kak? Kenapa dia bisa sampai seperti ini? Kenapa dia bisa sampai kepas kendali atas dirinya sendiri?" tanya Nathan tanpa menatap lawan bicaranya.
Senna menatap Viona sebelum menjawab pertanyaan Nathan. Wanita itu berdiri di samping adiknya dan ikut memandang objek yang menjadi pusat perhatian Nathan sejak beberapa waktu yang lalu.
"Dia mengalami depresi pasca keguguran dan hal semacam ini sudah sering terjadi pada wanita hamil yang baru saja kehilangan calon bayinya." Ujar Senna memaparkan.
Natha menoleh pada Senna dengan cepat. Alisnya terangkat dan matanya menatap Senna penuh selidik. "Depresi?" serunya tidak percaya. "Bagaimana bisa?" ucapnya penuh keheranan.
Senna mendesah berat kemudian mengangguk. "Depresi wajar terjadi pada wanita yang baru saja mengalami keguguran. Jika kita lihat dari sikap Viona pasca dia mengalami keguguran, tidak diragukan lagi bila yang dia alami saat ini adalah depresi.
Selama satu bulan belakangan ini dia menjadi pendiam dan sering terlihat murung. Nafsu makannya juga menurun dengan drastis, waktu tidurnya selalu terganggu karna mimpi buruk." Ujar Senna panjang lebar.
Natha tidak menampik, memang benar semua yang Senna katakan. Hampir setiap malam Viona selalu terbangun karna mimpi buruk dan kemudian dia terjaga sampai pagi. "Tapi, Kak. Bukankah depresi akibatnya akan sangat fatal? Bisa saja Viona mengalami kegilaan karna depresinya, lalu... apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya? Lagi pula bukankah depresi masih bsa di sembuhkan?"
"Itu benar, dan hal semacam itu bisa saja terjadi bila kita terus membiarkan dia berada dalam perasaan sedih dan takut. Buat dia lebih terbuka lagi padamu, sering-sering ajak dia berkomunikasi dan dengarkan semua keluh kesahnya. Biarkan dia mengungkapkan semua yang dia rasakan dan tertahan di dalam hatinya.
Yang terpenting berikan semangat padanya dan katakan jika semua yang terjadi bukanlah kesalahannya. Dan hanya kau, Adikku. Satu-satunya orang yang bisa melakukannya. Satu lagi, buktikan padanya bila dia begitu dicintai dan dibutuhkan oleh orang-orang di sekitarnya terutama Kau. Dia selalu metakutan jika kau akan meninggalkannya karna berfikir jika dia tidak becus menjaga buah cinta kalian," tutur Senna panjang lebar
"Baiklah, Kakak harus pergi sekarang. Kakak masih harus kembali kerumah sakit. Jaga istrimu dengan baik, Kakak pergi dulu,"
Selepas kepergian Senna suasana di kamar itu mendadak hening. Nathan beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekati Viona. Laki-laki itu duduk disalah satu sisi tempat tidurnya.
Dengan lembut, Nathan mengusap pucuk kepala Viona tanpa melepaskan pandangannya pada wajah damai yang tengah terlelap itu. Saat matanta tertutup seolah semua baik-baik saja, Nathan tidak melihat ada kesedihan apalagi duka yang begitu dalam.
Wajahnya terlihat polos dan damai seperti tidak memiliki beban apa pun. Nathan mendongakkan wajahnya saat netra coklat kembali memanas. Hatinya semakin hancur melihat keadaan Viona saat ini. Dia begitu terpukul dan terpuruk karna kehilangan janinnya. Mungkin yang Viona lakukan sedikit berlebihan. Tapi Ibu mana yang tidak hancur saat kehilangan calon buah hati yang begitu dia dambakan untuk melengkapi hidupnya. Dan sikap Viona sangatlah wajar. Setiap Ibu pasti akan merasakan hal yang sama jika berada diposisinya.
Karna tidak ingin mengganggu istirahat Viona, Natha pun memutuskan untuk keluar dan membiarkan Viona istirahat dengan tenang. Nathan ingin menenangkan dirinya meskipun hanya beberapa detik saja. Mungkin sedikit minum minuman beralkohol tidak buruk juga, pikirnya.
-
__ADS_1
Bersambung.