Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 93 "Rencana Licik Viona"


__ADS_3

Nathan mengerem tiba-tiba saat mata kanannya tanpa sengaja melihat siluet wanita yang sangat ia kenal tengah berada di salah satu caffe yang cukup ternama di Seoul bersama seorang pria yang wajahnya cukup familiar. Melihat interaksi antara mereka berdua membuat hati Nathan seperti terbakar bara api. Apalagi ketika melihat si wanita tersenyum pada pria dihadapannya.


Sebisa mungkin Nathan mencoba mengendalikan dirinya, dia tau jika kedekatan mereka hanya sebuah kepalsuan belaka yang mungkin salah satu dari rencana Viona. Tapi tetap saja rasanya sangat menyakitkan, lagi pula suami mana yang tidak akan cemburu melihat istrinya dekat dengan pria lain meskipun yang dia lakukan hanya sebuah kebohongan.


Rasa heran menghinggapi perasaan sosok pria bersurai hitam legam yang duduk di samping Nathan. Pria itu 'Bima' mengikuti arah pandang Nathan, mata hitam Bima membelalak saking kagetnya dan nyaris saja dia pingsan melihat apa yang sedang disaksikan oleh kedua matanya.


"Kyyaaa...!! Hantu!!" Bima menjerit histeris sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Sesekali Bima mengintip dari sela-sela jarinya hanya untuk memastikan apakah yang dia lihat itu nyata atau tidak. "Ma-masih ada dan kakinya napak di tanah, a-artinya dia bukan hantu,"


"Dasar bodoh!! Jelas saja bukan karna yang kau lihat itu adalah manusia dan dia nyata," sinis Nathan menegaskan.


"A-apa? Ta-tapi bagaimana mungkin? Bu-bukankah Viona dia sudah-"


"Dia bukan Viona, hanya seseorang yang mirip dengannya," Nathan menyela cepat.


Nathan tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Bima jika dia memang Viona. Bima bukanlah tipe pria yang mudah untuk menjaga rahasia, bisa-bisa semua rencananya maupun Viona akan berantakkan karna ulah Bima.


Nathan menyalahkan kembali mesin mobilnya, dan dalam hitungan detik mobil itu meninggalkan khawasan Hongdae. Dia tidak ingain semakin terbakar cemburu melihat pemandangan menyakitkan itu. Jika saja keadaannya tidak serumit ini, pasti Nathan sudah langsung membuat perhitungan dengan Jordy karna berani menggoda istrinya.


Dan sementara itu...


Viona yang meyadari keberadaan Nathan di luar caffe menjadi cemas. Pria itu memberikan tatapan membunuhnya pada Jordy. Dan Viona hanya takut jika Nathan sampai gelap mata kemudian menghabisi nyawa Jordy yang kemudian mengacaukan semua rencananya. Tapi hal itu sangatlah mustahil, dan lagipula Nathan tidak memiliki alasan kuat untuk melakukannya. Begitulah yang Viona pikirkan saat ini.


"Tidak.. tidak, tidak mungkin Nathan Oppa sampai membunuhnya. Dan lagi pula dia tidak memiliki alasan untuk melakukannya, tapi apa artinya tatapan mengerikan itu. Omo!! Mungkinkah dia? Tidak... tidak, itu lebih mustahil lagi," ujar Viona membatin.


"Ada apa Nona Kim? Kenapa kau terlihat sangat gelisah?" tanya Jordy penasaran


Sontak Viona mengangkat kepalanya dan menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa cemas karna takut tidak bisa mendapatkan tas dan sepatu yang selama ini aku incar. Aku ingin membelinya tapi tidak pernah ada waktu, apalagi sepatu dan tas yang ingin aku beli itu sangatlah terbatas jumlahnya dan hanya ada 10 di dunia. Rencananya hari ini aku akan pergi untuk membelinya," ujar Viona panjang lebar.


"Jadi karna masalah itu? Bagaimana jika kita pergi sekarang saja? Aku akan menemanimu untuk menbelinya," usul Jordy.


Viona mendesah berat sambil memasang mimik sedihnya. "Aku rasa tidak bisa. Dompetku sepertinya terjatuh saat kau menarikku tadi. Jadi mungkin lain kali saja," ujarnya.


"Dompetmu terjatuh?" kaget Jordy. Viona menggangguk. "Astaga, jika hanya uang masalahnya. Kau tidak perlu cemas. Aku akan membelikan tas dan sepatu itu untukmu,"


Viona menggeleng. "Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkanmu. Dan lagi pula aku tidak ingin memiliki title sebagai wanita matre karna kau membelikan tas dan sepatu itu untukku yang sangat jelas tak murah harganya."


"Apa yang kau bicarakan? Biarkan saja orang-orang itu mau bicara apa. Lagi pula aku yang ingin membelikannya untukmu, bukan kau yang memintanya padaku,"


"Baiklah karna kau memaksa, aku mau,"

__ADS_1


"Nah, begitu dong,"


.


.


.


Jordy hanya menatap gamang isi dompetnya yang semakin menipis. Sedikitnya 100 juta won melayang sia-sia hanya untuk sebuah tas dan sepasang sepatu. Jordy ingin membatalkannya tapi dia merasa malu dan gengsi, karna bisa-bisa Viona akan memandangnya sebagai pria yang perhitungan.


"Makasih untuk tas dan sepatunya Jordy-ssi, kau sungguh sangat baik. Pasti istrimu itu sangat beruntung memiliki suami yang baik dan tidak perhitungan sepertimu," Viona muntah dalam hati. Jika bukan karna terpaksa, dia juga tidak akan sudi untuk memujinya.


"Hahaha. Tentu saja, semasa dia masih hidup aku selalu memanjakannya. Apapun yang dia inginkan pasti aku turuti. Maklum orang kaya plus suami sayang istri,"


Rasanya Viona benar-benar ingin meludahi wajah Jordy. Dia benar-benar merasa muak dan jijik mendengar ucapannya itu. Lagi-lagi karna terpaksa, jika tidak, Viona benar-benar tidak akan sudi untuk melakukannya! "Akukan mirip dengan mendiang istrimu, menurutmu. Bagaimana jika kau membelikan aku satu-dua helai dress? Tapi jika kau keberatan aku juga tidak akan-"


"Sama sekali tidak," Jordy menyela cepat. "Kau bisa pilih dress mana pun yang kau suka. Aku akan membelikannya untukmu. Jangankan dua, satu toko ini pun aku sanggup untuk membelinya,"


"Benarkah? Kau sungguh sangat baik, "


"Biasa saja, sebaiknya pilih yang mana pun yang kau sukai,"


"Uhh, dengan senang hati," Viona tertawa puas dalam hati. Dia sangat puas karna berhasil merampok isi tabungan Jordy. Dan tidak tanggung-tanggung 300 juta won."Mampus kau Jordy Lim, memangnya enak aku kerjain," seru Viona membatin.


-


Dengan jantung yang berdebar kencang, Viona menghampiri Nathan. "Tuan Lu, kapan kau datang? Apa kau sudah dari tadi?" tanya Viona penasaran.


"Kau habis berbelanja? Banyak sekali barang yang kau beli?"


"Hanya pemberian teman, sebaiknya kita masuk sekarang. Udara di sini lumayan dingin,"


Setelah menyimpan barang-barangnya. Viona pergi ke dapur untuk membuatkan kopi non gula Nathan. Viona tau betul jika suaminya itu paling benci rasa manis. "Bagaimana kau bisa tau jika aku menyukai kopi non gula?"


"Jadi kau tidak menyukai manis? Aku tidak bermaksud sengaja, tapi karna aku kehabisan gula jadi tidak aku beri gula," dustanya.


Viona menghampiri Nathan kemudian duduk diatas pangkuannya. Kedua tangannya mengalung pada leher Nathan dan nata berlensa biru miliknya mengunci manik kanan milik pria itu. "Apa yang sebenarnya terjadi pada matamu? Kenapa kau selalu menutupnya?" tanya Viona pura-pura penasaran.


"Cacat,"

__ADS_1


"Cacat? Bagaimana bisa?"


"Karna sebuah insiden,"


"Huft, sangat disayangkan sekali. Pasti mata itu akan sangat indah jika masih sempurna. Tapi eyepach ini juga membuatmu keren,"


Nathan memeluk pinggang ramping Viona dan menarinya lebih intim. Tubuh mereka menyatu sempurna hanya kain yang melekat pada tubuh masing-masing sebagai batasnya. "Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau merindukan mendiang istrimu? Kau bisa menganggapku sebagai dia jika kau menginginkannya, aku tidak akan keberatan,"


"Bahkan jika seandainya aku melakukan Sesuatu yang tidak-tidak padamu?" tebak Nathan tanpa mengakhiri kontak matanya.


Viona mengangguk. "Ya, tapi ketika kita melakukannya kau jangan terkejut saat mengetahuiku sudah tidak perawan lagi,"


Nathan memicingkan matanya. "Kau sudah tidak perawan?" Nathan pura-pura terkejut. "Bagaimana bisa?" tanyanya penuh Slidik.


"Jangan menatapku seperti aku seorang jalang. Karna yang mengambil kesucianku adalah suamiku sendiri,"


"Kau sudah pernah menikah?" Viona mengangguk. "Memangnya pria seperti apa dia?"


"Seperti Iblis, karna dia tidak akan segan-segan untuk membunuh siapa pun yang berani membuat masalah dengannya," Viona melepaskan pelukkannya pada leher Nathan kemudian beranjak.


"Meskipun dia berdarah dingin dan seperti Iblis, tapi dia tidak pernah memperlakukanku dengan buruk. Dia selalu memperlakukanku dengan lembut dan penuh kehangatan, dan aku sangat merindukannya," Viona menundukkan wajahnya. Air mata tampak menggenang dipelupuknya.


Viona benar-benar tidak bisa menahan rasa rindunya pada Nathan yang teramat sangat besar. Saking besarnya rindu itu sampai-sampai membuat dada Viona sesak seperti terhimpit dua bongkahan batu besar.


Dan selanjutnya yang Viona rasakan adalah sebuah pelukkan hangat yang menenangkan jiwanya. "Jika rindumi sebesar itu padaku, maka jangan pernah berpura-pura menjadi orang lain lagi didepanku, Viona Lu!!"


Degg...


"Ba-bagaimana kau bisa tau?" kaget Viona.


"Karna aku adalah suamimu!!"


Viona melepaskan pelukan Nathan kemudian berbalik, posisinya dan pria itu saling berhadapan. Kedua mata Viona tampak berkaca-kaca. "Oppa," lirih Viona dan berhambur ke dalam pelukkan Nathan, tangis Viona pecah dan wanita itu menangis sejadi-jadinya. "Oppa, aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu," lirih Viona sambil mengeratkan pelukkannya.


"Dasar bodoh, bagaimana bisa kau berfikir untuk merahasiakan semuanya dari suamimu sendiri. Apa kau tau bagaimana hancurnya aku saat mengetahui kau telah tiada? Aku hancur, Vi. Aku benar-benar hancur saat mengetahui kau telah tiada," lirih Nathan sambil menutup mata kanannya.


"Maaf Oppa, aku benar-benar minta maaf," lirih Viona penuh sesal.


Nathan melepaskan pelukkannya. Jari-jarinya menghapus jejak air mata dipipi Viona dan bibirnya mengulum senyum lebar. "Melihatmu kembali dalam pelukkanku seperti mimpi yang terasa nyata. Gomawo karna sudah kembali kepelukkanku, Viona Lu,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2