Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 143 "Nathan Versi Mini"


__ADS_3

Hati-hati Nathan membuka perban yang menutup pelipis dan tulang pipi Viona. Ternyata luka pada pelipisnya lebih parah dan lebih dalam dari yang Nathan duga. Sedangkan luka pada tulang pipinya adalah luka bekas hantaman gagang senjata lawannya.


Setelah membersihkan keringat di sekitar lukanya dan mengoleskan salep luka. Nathan menutup kembali luka di pelipis dan tulang pipi Viona dengan kain kasa yang kemudian dia rekatkan dengan plaster.


Sebenarnya dia merasa tidak nyaman dengan perban-perban itu, apalagi kasa pada pelipisnya yang letaknya sedikit menjorok pada kelopak matanya yang membuat pandangan pada mata kirinya sedikit terganggu. Karena kasa itu membuat kelopak mata kirinya setengah tertutup akibat posisi lukanya yang melintang kebawah.


Tapi Viona juga tidak memiliki pilihan lain selain menutup luka-luka tersebut dengan perban. Dan selama lebih dari satu minggu Viona harus merelakan wajah cantiknya di hiasi oleh perban.


Viona menekan kain kasa yang menutup luka di pelipis kirinya. "Oppa, bisa tidak kau benahi saja letak perbannya. Sebaiknya tutup sekalian mata kiri ku dengan perbannya, jujur saja pandangan pada mata kiri ku masih sedikit berkunang-kunang akibat sayatan benda tajam yang aku alami kemarin,"


"Apa kau yakin? Tapi rasanya akan sangat tidak nyaman, Vio. Atau lebih baik tidak usah di perban saja lukanya?" Nathan tampak ragu, pasalnya lebih dari tiga tahun hidup dengan satu mata yang berfungsi, jadi Nathan paham betul bagaimana rasanya melihat dengan satu mata saja.


Viona menggeleng. "Lukanya akan semakin lama sembuhnya jika dibiarkan terbuka terus karena debu bisa masuk. Aku akan membukanya saat malam hari saja," ujar Viona.


"Hn, baiklah jika itu yang kau mau, berbaringlah" Nathan pun menuruti permintaan Viona.


Nathan melepas perban dari pelipis kiri Viona, kemudian meletakkan sebuah kasa yang berukuran cukup lebar dan setebal jari orang dewasa pada mata kiri istrinya yang kemudian dia rekatkan dengan plaster.


Jari-jari lentik Viona menyentuh perban yang menutup mata kirinya. Lalu Viona mengambil eyepacht medis berwarna putih dan memakai pada mata kirinya yang sebelumnya tertutup kasa.


"Nah, begini rasa lebih baik," ucap Viona ."Oya, Oppa, kau tidak ke kantor hari ini?" tanya Viona setelah Nathan menyelesaikan pekerjaannya.


Nathan menggeleng. "Aku memutuskan untuk menghandle semua pekerjaan dari rumah saja, supaya aku bisa memiliki lebih banyak waktu untuk anak-anak. Akhir-akhir ini aku selalu meninggalkan mereka dan jarang memiliki waktu untuk menemani si kembar bermain," tutur Nathan.


Viona sangat mendukung keputusan suaminya itu. Benar apa kata Nathan, akhir-akhir ini dia memang jarang sekali ada waktu untuk si kembar. "Aku setuju dengan dengan keputusan yang kau amb ini. Karna hal itu akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan Lucas dan Laurent," ujar Viona.


Nathan menakup wajah Viona kemudian mengarahkan bibirnya pada kasa yang menutup mata kiri istrinya lalu ciumannya turun menuju tulang pipi kanannya yang tertutup perban juga , sebelum akhirnya ciuman itu berpusara pada bibir ranumnya.


Kelopak mata kanan Viona tertutup perlahan, kedua tangannya mengalung pada leher Nathan saat merasakan ciuman itu yang semakin lama semakin dalam dan menuntut.


Sebelah tangan Nathan menekan kepala belakang Viona dan semakin memperdalam ciumannya, tangan kirinya memeluk pinggang ramping Viona dan menariknya lebih dekat hingga jarak diantara mereka terbunuh sepenuhnya.


"Aku lapar, kita sarapan sekarang," Nathan melepaskan ciumannya. Viona mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah,"


-


Luna menatap pantulan dirinya di cermin dan mendesah berat. Perban juga tampak membalut di sana-sini termasuk lehernya. Leher Luna tidak sengaja terkena goresan senjata lawan ketika mereka terlibat perkelahian sengit kemarin siang.


Dan perban-perban yang menutup luka di wajahnya sangat mengganggu penampilannya. Tapi jika tidak di perban, malah terlihat lebih buruk lagi.


"Aarrkkhhh... Dasar perampok-perampok sialan. Gara-gara mereka wajahku jadi babak belur seperti ini, lalu bagaimana dengan, Vio Eonni? Apa dia baik-baik saja? Apalagi lukanya kemarin lebih parah dariku, atau sebaiknya aku ke sana untuk memastikannya?" ucap Luna pada dirinya sendiri.


Luna menyambar tasnya dan pergi begitu saja. Dia berencana untuk menemui Viona guna memastikan keadaannya. Luna cemas jika luka yang Viona alami sangat serius apalagi luka-luka itu lebih parah darinya.


Tiga puluh menit berkendara, Luna tiba di kediaman Viona. Ia pun bergegas turun dan buru-buru masuk ke dalam. Kedua mata Luna membelalak melihat mata kiri Viona yang tertutup oleh perban.


"Eonni!!" pekik Luna. "I-ini?"


"Tidak apa-apa, Lun. Eonni sengaja menutupnya karena pandangan mata kiri eonni masih agak berkunang-kunang. Dalam beberapa hari perbannya juga bisa di lepas," terang Viona.


"Huft, syukurlah.. Aku pikir lukamu itu parah," dan Luna pun bisa menghela nafas lebar.


Viona tersenyum lembut. "Pasti, Nak. Apalagi yang mendoakan adalah anak Mama yang cantik ini," Viona mengusap rambut Laurent dengan penuh kelembutan.


Laurent menakup wajah Viona dengan tangan mungilnya kemudian mencium mata kiri dan tulang pipi kanan Viona secara bergantian.


"Sayang, Bibi Luna juga mau dong," Luna menunjuk kening dan dagunya yang juga tertutup perban.


Laurent menghampiri Luna kemudian mencium kening dan dagunya secara bergantian. "Aiggo, langsung sembuh dan tidak sakit lagi. Kemari lah, biarkan Bibi menggendong mu," Luna membawa Laurent ke dalam pelukannya. "Di mana Lucas? Kenapa aku tidak melihatnya?"


"Dia pergi bersama Papanya, Lucas merengek meminta supaya Nathan oppa mengajaknya berkeliling sambil menaiki mobil." Tutur Viona.


Luna terkekeh. "Dasar bocah, ada-ada saja kemauannya."


-

__ADS_1


Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Tidak terasa usia si kembar kini sudah menginjak usia 4 tahun. Laurent dan Lucas tumbuh menjadi anak-anak yang sangat tampan dan cantik.


Lucas mewarisi sifat ayahnya yang seperti kutub utara, sedangkan Laurent mewarisi sifat ibunya yang hangat seperti mentari pagi. Dan jika diibaratkan. Mereka berdua seperti siang dan malam.


Laurent sedang membantu Viona menyiapkan makan malam di dapur. Ibu dan anak itu terlihat begitu kompak, termasuk pakaian yang mereka kenakan pun sama.


Sebuah dress putih tanpa lengan bermotif bunga yang di balut sebuah cardigan hitam setengah lengan berbahan brukat. Bedanya milik Laurent ada pita nya sedangkan milik Viona tidak.


Sepasang mutiara hazel Viona menatap putrinya dan tersenyum tipis. "Mama, Laurent tidak sabar menunggu Papa pulang. Pasti Papa akan tersenyum dan memuji masakan Laurent," bocah itu berceloteh membayangkan ketika Nathan pulang kerja dan dia akan memuji rasa masakannya. Viona terkekeh.


"Tentu saja, Papa akan memujimu, karena masakan putri Mama yang cantik ini sangat lezat," ujar Viona seraya menarik ujung hidung mancung Laurent.


"CICIT-CICIT KU TERSAYANG!! KAKEK BUYUT DATANG!!"


Seruan dari arah teras mengalihkan perhatian Viona dan Laurent yang sedang menyiapkan makan malam di dapur, juga Lucas yang sedang asik bermain game di ruang keluarga.


Sosok Kakek Xi datang bersama trio ajaib. Lucas mengangkat wajahnya dan menatap horor pada kakek buyutnya.


"Ck, pak tua. Kenapa semakin hari penampilanmu semakin mengerikan saja," cibir Lucas melihat penampilan Kakek Xi yang sangat jauh menyimpang dari usianya.


"Lucas, lihatlah apa yang Paman bawakan untukmu," Satya mengangkat bingkisan di tangannya. "Paman membelikan banyak mainan untukmu," lanjutnya.


Lucas memutar jengah matanya. "Kau pikir aku bocah. Ck, menggelikan,"


"Ya Tuhan, kenapa semakin hari mulutmu semakin tajam saja, Nak!! Kau tidak ada bedanya dengan Papamu. Dingin, arogan dan bermulut tajam. Paman benar-benar tak habis pikir denganmu, Xi Lucas," ujar Satya seraya menatap Lucas tak percaya.


Lagi-lagi Lucas hanya memutar jengah matanya mendengar ocehan pamannya. Sedangkan Viona hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Lucas benar-benar Nathan dalam versi mini.


"Tentu saja, karena dia adalah putraku," sahut seseorang dari arah belakang.


Kedua mata Laurent berbinar-binar melihat siapa yang datang. Gadis kecil itu meninggalkan Ibunya dan menghampiri sosok pria yang tengah melenggang memasuki rumah.


"PAPA!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2