
Brugg...
Tubuh kedua perempuan itu sama-sama terhuyung kebelakang setelah tanpa sengaja mereka bertabrakkan. Salah satu diantara mereka berdua segera menghampiri wanita yang sedang hamil itu guna memastikan keadaannya.
"Agasshi, Anda tidak apa-apa 'kan?" tanyanya memastikan. Ia sangat cemas sekaligus takut jika wanita hamil tersebut sampai kenapa-napa. Wanita itu mengangkat wajahnya dan....
"OMO!!" Keduanya sama-sama terkejut karna wajah mereka yang sangat mirip bak pinang di belah dua. Yang membedakan hanya warna rambut dan penampilannya saja. Dan mereka berdua adalah Luna dan Viona.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa begini?" seru Luna nyaris tak percaya. Dan hal serupa juga dirasakan oleh Viona. "Katakan jika ini mimpi, melihat wajahmu rasanya aku seperti sedang bercermin," ujar Luna masih tak percaya.
Viona terkekeh. "Sepertinya bukan hanya sekedar mitos belaka jika di belahan dunia ini kita memiliki kembaran tapi tak sedarah,"
"Ya, aku rasa itu benar. Oya. Perkenalkan, aku Leonil Luna," Luna mengulurkan tangannya pada Viona. Viona mengulurkan tangannya dan membalas uluran tangan Luna.
"Aku Viona, senang bertemu denganmu Luna-ssi. Dan sepertinya pertemuan kita ini bukan hanya sekedar kebetulan saja, tapi sebuah takdir. Dan...Aduhh!! Perutku," tiba-tiba Viona merintih sambil memegangi perutnya dan hal tersebut membuat Luna menjadi sangat panik.
"Vi-Viona-Ssi, ada apa? Apa perlu kita kerumah sakit?" tanya Luna yang segera dibalas gelengan oleh Viona.
"Tidak perlu, hanya sedikit kram saja. Oya, Luna-ssi. Aku harus pergi sekarang, mungkin keluargaku sudah menungguku. Senang bertemu denganmu, baiklah aku pergi dulu. Bye..." Viona melambaikan tangannya pada Luna begitu pula sebaliknya.
Luna menatap kepergian Viona dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada rasa familiar menjalari perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata ketika ia bersentuhan dengan Viona.
Luna tak ingin memikirkannya lagi. Ia segera berbalik dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Tapi tiba-tiba Luna teringat dengan kata-kata Viona 'Dan sepertinya pertemuan kita ini bukan hanya sekedar kebetulan saja, tapi sebuah takdir'. Luna mengangkat bahunya, karna memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini.
-
Nathan menghentikan mobilnya dihalaman utama kediaman keluarga Lu. Tentu dengan penyamaran yang lengkap. Mantel hitam, topi dan masker.
Nathan melepaskan tembakkannya secara membabi buta pada semua orang yang ada di sana, dan sedikitnya sudah ada 15 nyawa yang melayang sia-sia ditangannya. Parahnya lagi Nathan melakukannya kurang dari lima menit.
Nathan mendobrak pintu utama hingga menimbulkan suara dentuman yang begitu keras. Beberapa pria yang ada di dalam langsung menghampiri Nathan sambil menodongkan senjatanya. Tapi Nathan bergerak lebih cepat, ketujuh pria itu berhasil Nathan tumbangkan hanya dalam hitungan detik saja.
"DORIS LU!! KELUAR KAU!!" teriak Nathan. Suaranya menggema dan memenuhi di seluruh penjuru ruangan. "KELUAR KAU BAJINGAN!!"
"Tuan besar sedang tidak ada ditempat. Beliau sedang pergi,"
"Kau mau kemana? Jangan masuk ke sana, itu ruangan pribadi boss besar,"
"Minggir kau!!"
Nathan menendang pria itu hingga tersungkur dan melewatinya begitu saja. Nathan masuk ke dalam kamar utama kemudian membobol brangkas yang ada di dalam sana dan mengeluarkan beberapa dokumen penting milik keluarga Lu. Itu adalah aset kekayaan keluarga Lu, Yang seluruhnya atas nama dirinya, Henry dan Senna.
Dan sebelum keluar, Nathan meletakkan bom aktif di kamar Doris. Nathan berniat meledakkan mansion mewah milik keluarga Lu beserta semua orang yang ada di dalamnya dan membuat Doris menjadi seorang gelandangan. Setelah semua harta bendanya hangus terbakar, sudah bisa dipastikan dia tidak akan memiliki apa-apa.
"Doris Lu, terimalah kehancranmu," Nathan menyeringai ditengah langkahnya.
Dengan langkah tenang Nathan meninggalkan bangunan berlantai tiga tersebut. Dan belum sampai 100 meter mobil Nathan melaju, mansion mewah itu sudah meledak dan kemudian rata menjadi tanah.
-
Tapp..
Luna menghentikan langkahnya saat iris coklatnya tanpa sengaja melihat Dean mengendong seorang wanita dipunggungnya. Kedua tangannya terkepal kuat dan matanya memanas, hatinya seperti tercabik-cabik melihat pemandangan yang begitu menyakitkan tersebut.
Katakan saja Luna gila karna dia cemburu melihat Dean bersama gadis lain. Bukan karna dia merasa iri pada gadis itu dan takut kasih sayang Dean padanya akan berkurang.
Lalu apakah Luna mencintai Dean? Maka jawabannya iya!! Luna memang mencintai Dean, bukan sebagai seorang adik kepada kakaknya melainkan rasa cinta seorang wanita kepada pria.
Luna tau jika dirinya bukanlah putri kandung dalam keluarga Leonil. Dia diadopsi oleh keluarga berhati malaikat tersebut ketika usianya baru menginjak 7 tahun.
Luna yang selama ini hidup tanpa keluarga tentu saja merasa sangat bahagia, apalagi mereka begitu menyayangi dirinya, Dean terutama.
__ADS_1
Rasa sayang yang Luna miliki pada Dean lama-lama berubah menjadi rasa cinta. Tapi sayangnya Luna tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Dean dan hanya memendamnya di dalam hati.
"Luna," panggil Dean saat melihat keberadaan Luna tak jauh dari tempatnya berada. "Sedang apa kau di sini? Dan kau datang bersama siapa?"
"Sendiri?"
"Dasar gadis nakal! Tidak seharusnya kau kelayapan sendirian malam-malam begini, bagaimana jika kau sampai-"
"Untuk apa Oppa peduli," Luna menyela cepat. "Sudahlah, aku tidak ingin mengganggu kalian berdua. Aku pergi dulu," tatapan tak suka jelas Luna tunjukkan pada wanita yang bersama Dean.
Sedangkan Dean tampak terheran-heran. Pasalnya ini pertama kalinya Luna bersikap sedingin itu padanya. "Dean, memangnya siapa gadis itu? Apakah dia kekasihmu? Sepertinya dia sangat tidak menyukaiku,"
Dean melirik kebelakang pada wanita yang masih ada dalam gendongannya tetsebut. "Bukan, dia adalah adikku dan namanya Luna. Mana mingkin dia tidak menyukaimu, sedangkan kalian belum pernah bertemu sebelumnya. Mungkin itu hanya perasaanmu saja," ujar Dean panjang lebar.
Wanita berambut pendek itu mengangguk. "Ya, mungkin saja."
-
'Nathan, di mana kau sekarang? Segeralah pergi ke rumah sakit. Tiba-tiba Viona mengalami kontraksi, sepertinya dia akan segera melahirkan,'
Kedua mata Nathan lantas membelalak setelah mendengar apa yang Kakek Xi sampailan. "Apa? Bagaimana mungkin, bukanlah usia kandungnya baru menginjak 8 bulan?"
"Sudah!! Kau jangan cerewet, sudah cepat datang saja kenari. Dia sangat membutuhkanmu, kondisi Viona sempat drop dan dia tidak sadarkan diri sampai tiga kali,"
Kedua mata Nathan lagi-lagi membelalak mendengar ucapan Kakek Xi. "Apa? Tiga puluh menit lagi aku akan tiba di sana," Nathan langsung tancap gas setelah memutuskan sambungan telfonnya. Dan dalam hatinya Nathan terus berdoa semoga tidak ada hal buruk yang menimpa Viona dan anak mereka.
.
.
Nathan berlari di lorong sebuah rumah sakit terkenal di Seoul. Matanya terus melihat ke samping kiri dan kanannya, pada nomor pintu yang ia lewati. Hatinya sedang senang sekaligus khawatir.
Dia baru saja mendapat kabar jika Viona, akan segera melahirkan. Dan tanpa membuang banyak waktu. Nathan pun langsung melesat menuju rumah sakit, tempat Viona akan melahirkan.
Serasa meledak dada Nathan kala ia melihat Viona sedang terduduk di atas kasur rawatnya dengan menggendong seorang bayi mungil berkelamin perempuan. Di sampingnya ada Kakek Xi yang sedang menggendong bayi mungil berjenis kelamin laki-laki.
"Viona," panggil Nathan di tengah langkahnya.
Viona mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar pada Nathan. "Oppa, akhirnya kau datang juga." Ucap Viona dengan suara lembut. Dapat Viona rasakan kalau keningnya sedang di kecup lama oleh Nathan. Viona menutup matanya sampai kecupan itu berakhir.
"Oppa, mereka sudah lahir. Bayi kita sudah berada disini. Dan mereka kembar," kata Viona senang.
Viona begitu terharu sampai-sampai dia tidak sanggup menahan air matanya. Dia terlalu bahagia. Nathan tersenyum melihat bayi yang sedang di dekap oleh Viona dan Kakek Xi. "Cucu Durhaka, apa kau ingin menggendongnya juga?" tanya Kakek Xi.
"Apakah boleh?"
"Dasar bodoh!! Ya tentu saja boleh, karna kau adalah Papanya. Kemari dan lihatlah, dia mirip denganmu. Mulai dari mata, hidung sampai bibirnya. Dia benar-benar dirimu dalam versi mini." Ujar Kakek Xi.
"Tapi aku tidak berani, mereka terlalu kecil. Aku takut jika pelukkanku malah menyakiti mereka," ujar Nathan.
Nathan mengusap pipi bayi yang masih ada dalam gendongan Kakek Xi. "Jadi, ini anak-anak Papa?" Ucapnya. Nathan terus mengusap lembut pipi bayinya yang baru saja lahir dua puluh menit yang lalu itu.
Viona mengangguk. "Lihatlah Oppa, bukankah mereka sangat luar biasa?" ucap Viona sambil terus menatap bayi mungil dalam gendonganya. Nathan mengangguk. "Suster, boleh aku meminta bantuan sebentar? Tolong gendong bayiku, ne?"
Seorang suster yang sedang menjaga Viona di ruangan itu segera mengambil bayi mungil tersebut dan menggendongnya. Suster itu tersenyum.
Setelah bayinya beralih tangan pada suster, Viona tersenyum pada Nathan. Viona sedikit beringsut dari kasurnya, mencoba turun dan berdiri.
Dan apa yang Viona lakukan membuat Nathan kaget. Walaupun sudah tidak ada jarum infuse yang menempel di tangannya atau peralatan medis yang lain karna Viona dalam kondisi yang sangat baik, tapi bukankah seorang wanita yang baru saja melahirkan tidak boleh terlalu banyak berjalan?
"Apa yang mau kau lakukan, Vi?" Nathan sedang membantu Viona untuk berdiri.
Viona hanya tersenyum sebagai jawaban. Tangannya meraih mantel hitam yang sedang dikenakan oleh Nathan, dan membukanya secara perlahan. Menyisahkan kemeja warna gelap lengan terbuka.
__ADS_1
"Biarkan aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, Oppa." Ucap Viona.
Nathan menarik Viona lalu memeluknya. Tidak terlalu erat, namun cukup untuk Viona merasakan kehangatan dan cinta dari suaminya. Viona tersenyum dan balas memeluk Nathan. Wanita itu menyandarkan kepalanya pada bahu Nathan.
"Kau tau, Oppa? Aku sempat takut tadi. Aku takut tidak bisa melahirkan bayi kita dengan selamat. Aku sangat takut ditambah dengan tidak ada kau yang mendampingiku…" Lirih Viona.
Jari-jarinya meremas kemeja bagian belakang yang di pakai oleh Nathan. Mencoba membuat Nathan tau betapa ketakutannya ia saat melahirkan tadi.
Nathan menutup matanya. "Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh-sungguh minta.m maaf. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak bisa berada di sampingmu pada saat-saat yang penting. Aku tidak bisa menyaksikan saat bayi kita melihat dunia. Aku tidak bisa memberimu kekuatan saat kau dengan sekuat tenaga mempertaruhkan hidup dan matimu untuk bayi kita. Maafkan aku." lirih Nathan penuh sesal.
Sungguh betapa Nathan merasa sangat bersalah karna tidak bisa mendampingi Viona ketika sang istri memperjuangkan hidup dan matinya. Dan ketakutan masih terlihat jelas pada raut wajahnya. Tapi disisi lain dia merasa lega, tak henti-hentinya Viona bersyukur pada Tuhan karna dia masih memberinya kesempatan untuk tetap hidup lebih lama.
Mungkin dokter bisa memprediksikan, tapi Tuhan-lah yang mengatur segalanya. Termasuk hidup dan mati seseorang.
"Sekali lagi maafkan aku,"
Viona tidak menjawab. Ia hanya diam sambil terus memeluk Nathan dengan erat. Sampai akhirnya Nathan sendiri yang menarik lepas pelukan mereka. Nathan melihat mata Viona yang memerah, dan dapat Nathan simpulkan bila Viona sedang menahan sebuah tangisan. Tangan Nathan kini beralih untuk menangkup kedua pipi Viona.
Sepasang mutiara abu-abunya menakup wajah Viona. "Kau yang terhebat, Sayang. Kau yang terbaik." Bisik Nathan. Kemudian Nathan mencium kening Viona sekali lagi dengan penuh sayang. Bahkan Kakek Xi sampai menangis saking terharunya.
Kemudian Nathan menggulirkan pandangannya pada suster. "Bolehkah aku menggendongnya, suster?" tanya Nathan.
Sang suster tersenyum. "Tentu, Tuan." Suster itu berjalan pelan mendekati Nathan dan menyerahkan sang bayi mungil pada dekapan sang Ayah.
Nathan kembali tersenyum setelah bayinya berada di dekapannya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengelus pipi halusnya. Bayi itu menggeliat kecil, merasakan sentuhan sang Ayah. Matanya masih belum terbuka, dengan hidung yang mirip dengan hidung Jessica, bayi itu tampak terlihat sangat lucu.
"Selamat datang anakku. "Rasanya seperti sebuah keajaiban melihatmu hadir di dunia ini, Nak,"
Jari Nathan di gunakan untuk menyentuh telapak tangan bayinya. Sehingga Nathan bisa merasakan jarinya yang di genggam lembut oleh bayinya sendiri. Begitu luar biasa.
"Bayi kita adalah seorang pangeran dan seorang putri. Lihat putri kita ini, hidung dan bibirnya mirip denganku. Rambutnya juga sedikit berwarna coklat seperti rambutmu." Ucap Viona yang berdiri disamping Nathan.
Nathab mengangguk membenarkan. "Kau benar, Sayang. Lihatlah, kulitnya putih sepertimu. Setelah matanya bisa terbuka, aku yakin matanya indah seperti matamu. Mungkin saat ia sudah bisa tersenyum, dia akan terlihat manis seperti senyummu." Jawab Nathan. Masih dengan nyamannya menggendong sang bayi.
"Kau yang berikan nama untuknya… Karena kau adalah Papa-nya…"
Nathan menatap Viona yang sedang tersenyum yakin padanya kemudian menatap wajah sang bayi mungil yang ada di dekapannya. "Laurent… Xi Laurent. Dan untuk pangeran kita, aku akan memberinya nama Lucas, Xi Lucas.” Nathan kembali menatap Viona. Seolah bertanya, ‘Bagaimana?’.
"Nama yang bagus. Aku menyukai nama itu, Oppa,"
Nathan tersenyum tipis. "Selamat datang, Lucas, Laurent… Selamat datang, uri cheonsha…" Nathan menyentuhkan ujung hidungnya pada ujung hidung sang bayi yang kini di beri nama Laurent.
Viona hanya tersenyum melihat interaksi Nathan dengan si kembar. Hatinya menghangat. Rasanya, hidupnya semakin lengkap saja. Dan kehadiran mereka berdua telah menyempurnakan hidupnya. Nathan menyerahkan baby Laurent pada Viona kemudian beralih pada Lucas yang masih berada dalam gendongan Kakek Xi.
"Selamat datang, Anakku,"
BRAKK.
"NUNNA//BIBI!!"
Dobrakkan keras pada pintu mengejutkan empat orang di dalam ruangan tersebut. Terlihat tiga pemuda datang dengan nafas naik turun tak beraturan, seperti habis mengikuti perlombaan lari maraton.
Ketiganya segera menghampiri Viona kemudian memeluknya. Mereka begitu bahagia dan terharu melihat Viona melahirkan dengan selamat, sampai-sampai mereka bertiga menangis terseduhl-sedu. Dan sepertinya mereka masih belum menyadari keberadaan Nathan di sana. sampai akhirnya...
"Lama tidak bertemu Rio, Frans, Satya,"
Mendengar suara yang begitu familiar, sontak ketiganya pun menoleh pada asal suara. Kedua mata Rio, Satya dan Frans membelalak sempurna setelah melihat siapa yang ada dihadapan mereka.
"PAMAN//HYUNG!!"
-
Bersambung.
__ADS_1