Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 47 "Kebahagiaan Yang Singkat (Keguguran)"


__ADS_3

BRAKKK!!!


"PAMAN//HYUNG, KAMI DATANG."


"Omo??" Leo yang sedang menikmati sarapannya bersama sang ayah terlonjak kaget dan nyaris terkena serangan jantung dadakan karna teriakan serta kemunculan tiga pemuda yang akhir-akhir ini selalu membuat runyam hidupnya.


"Eo!! Ada kakek juga. Kakek, perkenalkan aku Rio dan mereka berdua adalah pamanku, namanya Satya dan Frans."


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Dan koper itu untuk apa?"


"Aaahhh!! Begini, Hyung. Kami bertiga terusir dari rumah dan karna kami tidak tau di mana kami harus tinggal jadi kami memutuskan untuk pergi ke sini dan mulai malam ini kami akan tidur dan tinggal di rumah ini bersama kalian berdua." Ujar Satya panjang lebar.


"Apa-apaan ini? Memangnya kalian fikir rumahku ini tempat penampungan umum apa? Pergi dari sini atau aku akan memanggil satpam untuk menyeret kalian." Ancam Derry tidak terima.


Rio dan Frans menghampiri Derry lalu menuntun laki-laki setengah baya itu untuk duduk kembali dikursinya. "Tenanglah, Paman. Tidak perlu marah-marah seperti itu, bagaimana jika kau sampai terkena serangan jantung kemudian mati karna kebanyakan marah-marah dan lagi pula kedua satpammu tidak mungkin berani mengusir kami karna kami sudah membuat mereka berdua tahluk." Tutur Frans tersenyum.


"Hal gila apa yang kalian lakukan pada mereka berdua?" Leo menatap ketiganya secara bergantian.


Satya, Rio dan Frans menggeleng. "Kami tidak melakukan apa-apa pada mereka, Paman. Benar deh, sueerrr," Rio mengangkat tangannya dan jarinya membentu huruf V.


"Bohong, jika tidak ada lalu kenapa mereka tidak berani berurusan dengan kalian?"


"Karna kami bertiga sangat imut." jawab ketiganya dengan kompak.


"Oya, Paman. Di kamar mana kami bertiga akan tidur? Aaahhh! Biar kami sendiri yang mencarinya dan sepertinya kamar diatas itu sangat bagus, cocok untuk kami bertiga." Ujar Rio dengan senyum palsunya.


"Paman, bagaimana kalau kita langsung melihat saja kamar itu? Kalian setuju bukan?" Rio menatap Satya dan Frans bergantian dan keduanya mengangguk kompak.


"Sepertinya bukan ide buruk, ayo." Tanpa ijin dari sang empunya rumah ketiga pemuda itu berjalan menuju lantai dua bangunan megah tersebut.


Seperti dugaan mereka bertiga, itu adalah kamar milik Leo. Mungkin aksi mereka terbilang gila, konyol dan menggelikan namun semua itu mereka lakukan demi membantu Nathan dan Viona untuk mendapatkan kembali apa yang harusnya menjadi milik mereka, karna harta yang di miliki Derry Ardinata saat ini adalah harta milik keluarga Lu dan milik Viona.


Sementara itu. Leo tidak tau mimpi buruk apa lagi yang menimpanya kali ini. Kadang Leo berfikit tentang dosa dan kesalahannya di masa lalu sampai-sampai dipertemukan dengan tiga pemuda itu yang membuat hidupnya menjadi kacau balau.


"Dasar bocah setan, keluar kalian semua dari sini." teriak Leo seperti orang kesurupan. Laki-laki itu menyusul ketiganya namun dengan segera Rio menutup pintu didepannya hingga tanpa sengaja menghantam hidung dan dahi Leo.


"DASAR BOCAH SETAN! MINGGAT KALIAN SEMUA DARI SINI."


"KAMI TIDAK MAU." Jawab ketiganya dengan kompak.


Leo meninggalkan kamarnya dan menghampiri ayahnya. Raut wajahnya menunjukkan jika dia sedang marah dan kesal setengah mati. Derry menghampiri putranya yang terlihat dalam mood yang sangat buruk. "Jelaskan pada Ayah, siapa sebenarnya tiga bocah kurang ajar itu? Dan kenapa kau bisa sampai berurusan dengan mereka bertiga?" tanya Derry meminta penjelasan.


Leo mengusap wajahnya kasar dan akhirnya dia menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada ayahnya. "Apa? Jadi mereka bertiga adalah bocah-bocah dari keluarga Lu?" Leo mengangguk.


"Mereka terus menerorku setelah aku memberikan pelajaran pada Nathan Lu, bahkan hari itu mereka mempermalukanku habis-habisan di depan umum dengan menelanjangiku. Dan sejak saat itu mereka membuat hidupku menjadi runyam, dan terkadang aku berharap menghilang saja dari dunia ini dari pada harus berurusan dengan bocah-bocah setan seperti mereka."


"Itu artinya kita harus memikirkan cara untuk menyingkirkan mereka. Kau tenang saja, Ayah akan segera mengurusnya. Sebaiknya kau segera bersiap-siap, ada pertemuan penting 1 jam lagi. Ayah duluan,"


Gyuttt...


Leo menggepalkan tangannya. Dia bersumpah akan membuat ketiga pemuda itu menerima balasannya, Leo akan menunjukkan pada mereka dengan siapa sebenarnya mereka berhadapan. Tapi satu hal yang tidak Leo sadari, jika mereka bertiga sudah mendengar semua percakapannya dan Derry.


-


Hari ini langit terlihat cukup cerah. Di bawah sinar matahari yang tidak terlalu menyenggat, terlihat seorang wanita bersurai coklat panjang berjalan bersama dua wanita lain.


Mereka bertiga terlihat begitu akrab satu sama lain, bahkan canda tawa sesekali terlihat diantara mereka bertiga.


"Vio, rasanya aku sudah tidak sabar dipanggil bibi oleh anakmu nanti. Membayangkannya saja sudah membuatku begitu bahagia." ujar wanita bersurai hitam legam yang diketahui bernama Kirana.


Viona terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu. Jangankan Kirana, dia malah lebih tidak sabar lagi. Rasanya Viona ingin cepat bertemu dengan Nathan dan memberitaunya tentang kehamilannya itu.


"Aku berharap bayimu nanti kembar. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan, dan aku memiliki rekomendasi nama yang tepat untuk calon anakmu nanti. Ken dan Kania, bukankan itu adalah nama-nama yang sangat bagus. Bagaimana menurutmu, Vi? Kau setuju dengan dua nama itu?"


Viona memikirkan dua nama yang diberikan oleh Sunny. "Ken dan Kania? Aku rasa bukan nama yang buruk, terimakasih Sunny-ya sudah memberikan dua nama yang sangat cantik untuk calon bayiku."


Sunny terkekeh dan mengangguk. "Sama-sama."


Viona menghentikan langkahnya saat mereka melewati sebuah boutique yang hanya menyediahkan pakaian dan perlengkapan bayi. Melihat pakaian-pakaian berukuran mungil yang dipajang di toko itu membuat Viona menjadi ingin sekali memborongnya. Rasanya Viona sudah tidak sabar menunggu beberapa bulan lagi. Viona ingin melihat saat bayinya lahir kedunia kemudian tumbuh menjadi anak-anak yang menggemaskan yang kemudian memanggilnya Ibu. Membayangkannya saja sudah membuat hatinya menghangat.


"Ada apa? Kau ingin masuk dan melihat-lihat?" usul Kirana saat menyadari kediaman Viona.

__ADS_1


"Aku rasa begitu, sepertinya semua perlengkapan bayi yang ada di dalam sana seperti menarikku untuk segera mendatangi mereka."


Sunny dan Kirana terkekeh. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita masuk." seru Sunny dan merangkul keduanya.


Setibanya di dalam boutique, kedua mata Viona langsung di manjakan oleh deretan pakaian dan perlengkapan bayi yang hampir memenuhi toko tersebut. Mulai dari pakaian hangat sampai gaun menggemaskan untuk bayi perempuan. Dan di saat Viona sibuk melihat-lihat, tiba-tiba dia merasakan ponsel dalam tasnya berdering dan bergetar. Wanita itu mengeluarkan ponsel tersebut dan mendapati nama Nathan tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang, dengan segera Viona menerima panggilan itu.


"Halo, Oppa."


"Sayang, kau di mana?"


"Aku sedang berada di boutique bersama Kirana dan Sunny, aku sedang melihat-lihat pakaian bayi dan berencana untuk-"


'DOOORRRR!


Suara tembakkan tiba-tiba terdengar sampai ketelinga Nathan yang disusul teriakan-teriakan panik orang-orang. Nathan mencoba memanggil Viona tapi tidak ada jawaban dan hal itu membuatnya menjadi sangat panik.


"......Aaahhhh."


"Viona, ada apa? Apa itu suara tembakkan? Vi, jawab aku!! Viona.. Viona...?"


Tutt! Tutt! Tutt!!


"Viona, ayo kita harus bersembunyi," seru Sunny seraya menarik Viona dan Kirana.


Bruggg!!


"Aaahh! Sial,"


Kirana, Sunny dan Viona segera mencari tempat untuk berlindung setelah mendengar suara mirip ledakan diikuti tembakan-tembakan membabi buta dari segerombol orang di luar sana. Dan tarikkan tiba-tiba itu membuat perut Viona tanpa sengaja berbenturan dengan sudut meja yang dilaluinya dengan cukup keras.


Semua orang berhamburan menyelamatkan diri masing-masing begitu pula dengan tiga wanita itu. Mereka bersembunyi di balik meja kasir. Tiba-tiba Kirana dan Sunny merasakan tubuh Viona yang gemetar dan berkeringat dingin, raut wajahnya menunjukkan jika dia sedang kesakitan dan hal itu membuat Kirana dan Sunny menjadi begitu panik. "Viona, ada apa?" panik Kirana ketakutan.


"Pe--pe-rut-ku, sakittt." jeritnya sambil mencengkram perutnya yang seperti diremas. Sunny dan Kirana segera memastikannya dan mata mereka terbelalak melihat cairan merah mengaliri kedua kaki Viona.


"DARAH!!"


Viona meremas perutnya semakin kencang , perutnya semakin terasa seperti dipelintir-pelintirl "AAAAHHHH!!! SAKIT." jeritnya histeris. Tanpa disuruh, Sunny mengambil ponsel Viona dan segera menghubungi Nathan.


Tutt!! Tutt!! Tutt!!


"Tuan Lu, ini aku, Lee Sunny. Datanglah kepusat kota, terjadi kekacauan di sini. Aku dan Kirana ingin segera melarikan Viona kerumah sakit tapi tidak bisa. Viona, dia mengalami pendarahan, suasana di luar benar-benar tidak memungkinkan untuk pergi. Kami berada di boutique yang hanya menyediahkan perlengkapan bayi. Kami bingung harus..."


"Aaaaahhhh!! Sakittt."


"...Bagaimana."


"Viona, kalian tetaplah di sana. Aku akan segera ke sana. Jangan pergi ke mana pun. Tolong jaga Viona sampai aku datang!!" Nathan memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.


Sunny meraih kepala Viona dan memeluk wanita itu yang terus merintih kesakitan, sementara Kirana menggenggam erat tangannya yang terus berkeringat. "Viona, aku mohon bertahanlah." lirih Kirana memohon. Mereka berdua benar-benar takut hal buruk sampai menimpa Viona.


"Nathan akan segera tiba di sini, jadi bertahanlah." Lanjut Sunny.


"Ba..bayiku, selamatkan bayiku." Pinta Viona terbata-bata.


Air matanya mengalir begitu saja, tumpah membasahi wajah cantiknya. Rasa takut memenuhi perasaannya. Viona takut kehilangan calon janinnya juga takut jika Nathan akan membencinya karna menganggap dirinya tidak berguna karna tidak bisa menjaga calon janin mereka dengan baik.


BRAKKK!!


Dobrakan keras pada pintu boutique membuat semua orang yang berada ditempat itu menjadi panik. Tidak ada yang berani bersuara dan tetap bertahan dalam persembunyiannya termasuk Viona, Sunny serta Kirana. Kirana menutup mulut Viona untuk meredam suaranya. Mereka takut jika orang-orang itu akan menemukan mereka bertiga. "Jarah semua uang yang berada ditempat ini dan jangan biarkan satu orang pun yang berada di sini selamat, aku tidak ingin ada yant menjadi saksi."


"Baik boss."


Sementara itu, Nathan yang tiba bersama Bima, Kai, Henry serta Alex tampak terkejut melihat banyaknya mayat bergelimpangan dijalan dan di beberapa titik sudut. Kemudian Nathan menggedarkan pandangannya dan melihat segerombol pria bermasker berada didalam sebuah boutique, seketika Nathan teringat pada ucapan Sunny. "Kai, segera hubungi polisi. Alex, Bima kalian berdua ikut aku. Viona dan kedua temannya berada di boutique itu." ke tiganya mengangguk.


"Hahahhaha!!! Mempermainkan nyawa manusia ternyata adalah hal yang sangat menyenangkan, melihat mereka menangis ketakutan membuatku merasa senang."


Brakkk!!!


Dooorrr!!


Tanpa ragu Nathan menendang beberapa pria itu dan melepaskan tembakan kearah mereka, hal yang sama juga dilakukan oleh Alex, Kai dan juga Henry. "Bangs**, siapa kalian eo?" amuk boss dalam kelompok itu.

__ADS_1


"Manusia menjijikkan seperti kalian sudah selayaknya mati." Ucap Nathan seraya melepaskan beberapa tembakan pada orang-orang itu.


Nathan membunuh mereka tanpa ampun bahkan dia tidak segan-segan mematahkan tulang belulang orang-orang itu meskipun mereka berteriak meminta ampun, kedua telinga Nathan seakan tuli dan mengabaikan permohonan mereka.


"Urus sisanya, aku harus menemukan Viona." Kai dan Alex mengangguk.


"Ge, siapkan mobilku." Nathan melirik Henry yang berada dibelakangnya.


"Tuan Lu, di sini." seru Kirana sambil melambaikan tangannya.


Nathan menghampiri Kirana. Dan tubuhnya seketika terpaku ketika melihat keadaan Viona saat ini, wanita itu terlihat pucat dan wajahnya menunjukkan jika dia sedang kesakitan. Nathan segera menghampiri sang istri. "Viona." seru Nathan seraya berputut disamping wanita itu.


"Op..pa, selamatkan bayi kita. Aku mohon." lirihnya memohon, antara sadar dan tidak sadar.


Nathan termanggu 'Bayi?' Itu artinya Viona benar-benar hamil. Tapi itu tidak penting sekarang, yang terpenting adalah membawa Viona ke rumah sakit sebelum dia kehabisan darah.


"Viona, aku mohon bertahanlah." Mohon Nathan dan segera mengangkat tubuh Viona yang semakin memucat. "Aku mohon tetap buka matamu," Mohon Nathan dengan suara serak seperti menatan tangis.


Keadaan Viona semakin melemah dan akhirnya wanita itu tak sadarkan diri dalam pelukkan Nathan. Sesekali Nathan menatap wajah pucat Viona, rasa takut seketika memenuhi perasaannya dan Nathan tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa istrinya.


Henry sudah menunggu Nathan. Nathan membaringkan tubuh Viona di jok belakang dan menjadikan pangkuannya sebagai bantalan kepala wanita itu. Dia merasakan suhu tubuh Viona yang semakin menurun dan tangannya terasa dingin, nyaris seperti mayat. Tak ada tanda-tanda jika Viona akan segera membuka matanya, dan hal itu membuat Nathan semakin ketakutan.


"Cepat sedikit, Ge!!" bentak Nathan pada Henry.


"Ini sudah dalam kecepatan penuh, sabar karna kita sudah hampir sampai," jawab Henry menimpali.


Sesekali Henry menoleh kebelakang. Melihat keadaan Viona membuatnya merasa takut juga. Dalam hatinya Henry tidak henti-hentinya berdoa supaya adik iparnya itu baik-baik saja. Dan Henry tidak tau apa yang akan terjadi pada Nathan jika nyawa Viona sampai tidak tertolong. Mungkin dia akan semakin menggila dengan menghabisi semua orang yang terlibat dalam insiden berdarah tersebut.


-


"Bagaimana keadaannya?"


Nathan menghampiri Senna saat melihat kakak sulungnya keluar dari ruang UGD. Senna menghela nafas berat. "Janinya tidak bisa diselamatkan dan kondisi Viona saat ini kritis, dia terlalu banyak kehilangan darah dan hanya keajaiban yang bisa membuat dia membuka kembali matanya.


Jlederr...


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, hati Nathan hancur berkeping-keping setelah mendengar apa yang Senna sampaikan. Antara percaya dan tidak percaya mendengar keadaan Viona yang ternyata lebih buruk dari dugaannya. Bukan hanya Nathan yang syok setelah mengetahui keadaan Viona saat ini, tapi juga Henry.


Senna menghampiri Nathan kemudian memeluknya. Senna mendongakkan wajahnya mencoba untuk menahan isakannya meskipun air mata menggenang dipelupuknya. "Kakak tau ini sangat berat untukmu. Tapi kau tidak boleh lemah karna Viona sangat membutuhkanmu,"


Nathan menutup matanya dan diam seribu bahasa. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Nathan terlalu syok dengan apa yang menimpa istrinya. Lalu bagaimana dia bisa menjalani hari-harinya tanpa Viona disisinya? Dan Nathan berharap Miracle datang pada Viona sehingga dia bisa membuka kembali matanya.


"Sebaiknya temui dia sekarang," pinta Senna seraya melepaskan pelukkannya. Tanpa mengatakan apapun Nathan bangkit dari duduknya dan pergi menemui Viona yang sudah dipindahkan keruang inap.


.


Nathan menghampiri Viona yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Keadaannya sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya dan suhu tubuhnya juga lebih hangat. Nathan meraih tangan Viona dan menggenggamnya. Sendu dia menatap wajah puat itu.


Nathan mendongakkan wajahnya mencoba menghalau cairan bening yang menggenang dipelupuknya. Dan Nathan tidak tau bagaimana harus mengatakan pada Viona saat dia sudah sadar, Nathan tidak sanggup jika harus menghancurkan hatinya dengan mengatakan jika janin dalam perutnya sudah tiada.


"Sayang, berapa lama lagi kau akan tidur? Viona bangun dan buka matamu, aku mohon," lirih Nathan dengan suara seraknya.


Legang, tidak ada jawaban karna yang Nathan ajak bicara sedang tak sadarkan diri. Nathan yang biasanya selalu terlihat dingin dan arogant kini tampak rapuh, bahkan dia sampai meneteskan air matanya. Dan semua itu karna dua hal.. pertama karna dia baru saja kehilangan calon anaknya dan kedua karna Viona yang tak kunjung sadar. Jika bisa, Nathan ingin menukar posisinya dengan Viona. Nathan rela asalkan Viona baik-baik saja.


Cklekk...


Suara decitan pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian Nathan. Terlihat sosok Bima dan Alex memasuki ruangan dan menghampiri Nathan. "Bagaimana keadaannya?" tanya Bima.


Nathan menggeleng. "Masih belum bisa dipastikan." Jawabnya datar.


Bima menepuk bahu Nathan. "Kau harus tegar, kawan. Jika kau lemah dihadapannya, itu hanya akan membuatnya sedih. Aku tau ini berat untukmu, tapi kau harus tegar dan segera bangkit. Jika bukan kau, lalu siapa yang akan menguatkan Viona saat dia sadar nanti," tutur Bima.


Nathan dan Alex nyaris terperangah setelah mendengar rentetan kalimat yang keluar dari bibir Bima. Nyaris saja mereka tidak percaya jika Bima yang biasanya bersikap konyol dan menggelikan tiba-tiba bisa bersikap dan berkata sebijak itu. Sungguh hal yang langkah. Tapi mereka tak ingin membahasnya apalagi meledek Bima dengan situasi saat ini.


"Kau terlihat sangat berantakkan. Sebaiknya kau pulang dulu. Di sini biar aku dan Bima yang menjaganya. Jangan sampai adik ipar pingsan lagi saat melihat keadaanmu yang sangat berantakkan ini." Nasehat Alex pada Nathan.


Nathan memperhatikan penampilannya dan mendesah berat. Memang benar apa yang Alex katakan. Dirinya benar-benar berantakkan, kemeja putihnya kotor karna darah Viona, rambutnya acak-acakkan dan wajahnya terlihat kusut seperti pakaian belum di setrika.


"Baiklah aku akan pulang sebentar, tolong jaga dia selama aku tidak ada."


"Pasti,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2