Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 16) "Permainan Trio Kadal"


__ADS_3

Luna berjalan menyusuri sebuah jalan setapak yang berbatu. Di tangannya tampak tergenggam sebuah rangakaian mawar putih yang sangat indah. Hari ini cuaca sangat cerah. Matahari bersinar dengan megahnya menerangi bumi.


Langit tampak begitu biru tanpa ada sedikit pun awan kelabu yang menyelimuti. Burung-burung berkicauan dengan merdunya diantara rindangnya pepohonan hijau yang tumbuh disekitar tempat itu.


Angin sepoi-sepoi yang berhembus semakin melengkapi kesempurnaan hari itu. Ya, semuanya memang sangat sempurna….terlalu sempurna sehingga menimbulkan rasa sakit yang mendalam di dalam hati gadis berparas ayu itu.


Luna memasuki sebuah area pemakaman yang tampak sepi dan legang. Tak ada orang lain di sana yang bisa ia temui selain paman penjaga makam dan seorang laki-laki asing yang beberapa saat lalu berpapasan dengannya di depan gerbang.


Luna membungkuk sambil mengukir senyum tipis. "Nona, kau datang untuk mengunjungi ayahmu lagi?" tanya pria itu pada Luna.


"Ya, Paman." Luna menjawab singkat.


"Beberapa saat yang lalu seseorang juga datang kemari. Dia seorang pria yang sangat tampan dan gagah, dia menangis sambil memeluk nisan dokter Leonil."


Luna memicingkan matanya. "Seorang pria?" paman penjaga makam itu mengangguk. "Apakah itu kakakku, Dean?" tanya Luna memastikan. Paman itu kemudian menggeleng.


"Sepertinya bukan. Jika tuan muda Dean, Paman sangat hapal, tapi pria itu sangat asing dan baru kali ini Paman melihatnya,"


Dan rasa penasaran pun menghinggapi hati Luna. Dia benar-benar penasaran siapa orang yang baru saja mendatangi makam mendiang ayahnya. Ia pun bergegas menuju makam sang ayah, dan setibanya di sana Luna melihat beberapa tangkai bunga Lilly di letakkan di atas pusara ayah dan ibunya.


Jika saja orang itu baru pergi. Mungkin saja belum terlalu jauh. "Mungkinkan pria yang berpapasan denganku tadi?"Luna meninggalkan area pemakaman dan berlari menuju jalan raya, tapi sosok pria itu telah menghilang. Luna benar-benar penasaran, siapa pria itu sebenarnya dan kenapa dia mengunjungi makan kedua orang tua angkatnya?


Luna berbarik dan kemudian kembali memasuki area pemakaman. Dia tidak bisa melupakan tujuan utamanya datang kemari hanya untuk mencari seorang pria asing.


Luna mengangkat wajahnya dan menatap langit biru. Ia tidak mengerti, bagaimana mungkin matahari masih dapat bersinar dengan cerah.  Bagaimana mungkin burung-burung masih dapat berkicau dengan merdu. Atau bagaimana mungkin bunga-bunga masih dapat bermekaran dengan indahnya disegala penjuru arah seperti yang tengah terjadi di sekitar area pemakaman ini.


Apakah mereka tidak tahu bahwa itu semua kini sudah tidak ada gunanya lagi. Untuk apa mereka bersusah payah menyinari bumi dan menjadikan alam sekitar indah jikalau mereka tidak mampu mengusir musim dingin yang selalu bertahta di hati dan jiwanya sejak peristiwa itu. Luna mulai menitihkan air matanya.


Luna menatap gamang dua gundukan tanah dihadapannya. Tempat dimana kedua orang tua angkatnya kini tengah beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya. Walaupun hari demi hari telah berlalu. Tapi tetap saja selalu merasakan sakit yang teramat sangat menusuk hatinya setiap kali ia datang ke tempat ini. Luna mulai merindukan mereka berdua.


Luna memejamkan matanya sesaat dan menghirup nafas sedalam yang ia mampu sebelum akhirnya ia kembali membuka kedua bola matanya yang kini tiada lagi bersinar terang seperti dulu.


Butuh segenap kekuatan dan pengendalian diri yang dimilikinya untuk menjaganya agar tidak semakin banyak mengeluarkan air di depan pusara yang dingin tersebut, pusara yang menjadi lambang kehampaan dan kekosongan jiwanya saat ini.


"Mama, Papa..." panggil Luna pelan. Luna mengulurkan tangannya untuk menyentuh kedua batu nisan di sisi kiri dan kanannya yang terasa dingin tersebut. "Aku merindukan kalian berdua," lirihnya pelan. Suaranya terdengar serak seperti sedang menahan isakan. "Papa, aku sedih kau meninggalkanku juga. Aku.. sangat-sangat merindukanmu. Bukankah kau pernah berjanji akan mendampingiku menuju altar, tapi kenapa papa malah mengingkarinya?" ucapnya dengan sebuah senyum yang dipaksakan.


Luna menundukkan wajahnya, jeritan hatinya hanya akan membawa rasa sakit dan kepedihan yang berkepanjangan. Hatinya terluka, batinya teriris, kehilangan sang ayah membuat Luna seakan kehilangan semangat dalam hidupnya.


Mataharinya telah pergi, orang yang selalu memberinya kehangatan tak ada lagi di dunia ini. Luna hancur, sehancur-hancurnya. Ia mencoba terlihat tegar meskipun pada kenyataannya dia sangat rapuh dan hancur.


Kembali Luna terdiam. Ditatapnya dua gundukan tanah di depannya lekat-lekat. Matahari bersinar semakin terik menandakan bahwa hari sudah semakin siang. Luna sudah harus segera pergi meninggalkan tempat itu dan pulang kembali ke kehidupannya. Ada banyak orang yang tengah menunggu kepulangannya, salah satunya adalah Viona, saudari kembarnya.


"Ma... Pa... Aku harus pergi, aku akan sesering mungkin datang kemari dan mengunjungi kalian,"


Dengan berat hati Luna pun berdiri dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Sebuah angin tiba-tiba bertiup lembut menerpa wajah Luna pada saat ia baru menjauh beberapa langkah meninggalkan makam itu.


Luna menutup matanya untuk merasakan kelembutan hembusan angin yang bertiup semilir di sekelilingnya. Dan entah bagaimana tiba-tiba ia dapat merasakan sebuah kehangatan seperti ada dua pasang tangan yang memeluknya dengan erat. Luna tersenyum tipis, dia tau.. Jika mereka selalu ada bersamanya, dihatinya.


-


Entah mimpi buruk apa yang Miranda alami semalam. Sampai-sampai dia harus menghadapi berbagai kesialan dalam hidupnya selama satu hari penuh secara bertubi-tubi. Belum hilang satu kesialan, malah datang kesialan baru, dan hal itu terus saja terulang hingga dia merasa sangat frustasi.


"Sebenarnya siapa kau ini? Dan tuyul dari mana yang muncul di siang bolong seperti ini?" tanya Miranda dan mulai berkeringat dingin.


Sosok bocah laki-laki itu tidak menjawab dan hanya menunjuk perut Miranda. "Dari sini?" sosok berwajah putih mirip tokoh dalam pewayangan 'Gareng' itu pun mengangguk sebagai jawaban. "Tapi bagaimana bisa? Dan kau... Mahluk aneh berwajah tepung, jangan diam saja seperti orang bisu. Bicara dan jawab semua pertanyaanku!!" teriak Miranda mulai kehilangan kesabarannya.

__ADS_1


"Aborsi," hanya satu kata yang keluar dari mulut sosok putih itu.


"Apa? Aborsi? Tinggu-tunggu, jangan bilang jika kau adalah janin yang dulu pernah aku gugurkan? Dan sekarang kau datang untuk membalas dendam?" tebak Miranda takut-takut. Sosok bocah laki-laki itu pun mengangguk. "KYYYAAA!!! SETAN!!" Miranda langsung berteriak histeris dan berlari menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Ihihihi..." tiba-tiba bocah itu pun tertawa menyeramkan dan membuat Miranda semakib ketakutan.


Miranda mencoba membuka pintu kamarnya tapi tidak bisa. Ia menggeleng melihat sosok bocah itu tiba-tiba terbang kearahnya. Miranda merunduk dan berlari menuruni tangga. Dia keluar rumah dan berusaha menyelamatkan diri. Dan saat itulah muncul seorang pria yang dandanannya mirip dengan pengusir setan.


Laki-laki itu mengibas-ngibaskan bunga yang sebelumnya di celupkan ke dalam air ke wajah Miranda. Kemudian dia berputar sambil menari-nari dengan mata tertutup rapat.


"Heng.. Milaheng... Heng... Milaheng.. Setan alas, setan rawa, setan gunung, setan laut, setan kamar mandi. Pergi... Pergi... Pergi..."


Miranda hanya menatap laki-laki itu penuh kebingungan. "Kau ini sebenarnya siapa? Dan apa yang sedang kau lakukan ini?" tanya Miranda penuh keheranan.


"Nona, aku adalah pengusir mahluk. Kau sedang di ikuti oleh tujuh mahluk, salah satunya adalah setan gunung. Dan dia sangat berbahaya,"


"A-Apa? Diikuti mahluk?" laki-laki berpenampilan aneh itu memgangguk.


"Dan jika kau mau, aku bisa membantumu mengusir semua mahluk-mahluk itu, tapi ada syaratnya dan biayanya tidak murah. Dan... BAJANG!!" tiba-tiba laki-laki itu berteriak histeris. "Oh


astaga, ada bajang juga di rumah ini. Sepertinya rumah ini benar-benar sudah menjadi sarang hantu,"


"A-apa? Sarang hantu?"


"Iya, sarang hantu. Di rumah ini penuh dengan hantu-hantu marah yang sedang mencari mangsa. Jika kau ingin terbebas dari mereka, kau harus mengikuti segala macam ritual pembersihan supaya hantu-hantu itu minggat dari sini. Ya, tapi biayanya tidak sedikit pastinya. Apalagi untuk mengusir hantu bajang hasil aborsimu itu."


"Aku-"


Klotek... Klotek..


"Aaaahhhh..." Miranda menjerit sekencang-kencangnya karna suara gaduh yang di iringi suara benda terjatuh yang berasal dari kamarnya. "Su-suara apa itu?"


"Sepertinya hantu-hantu negara lain sedang berpesta di rumah ini. Seperti kolong wewe dan nyain kunti, astaga... rumah ini benar-benar sudah tidak sehat lagi,"


"Kalau begitu lakukan sesuatu. Berapapun harganya pasti-"


"IHIHIHI... AUOWOO...OOO... IHIHIHI...AUOWOO...OOO,"


Kalimat Miranda terhenti karna kemunculan hantu wanita yang sedang bergelayutan manja di atap rumahnya. Hantu itu tertawa seram sambil berteriak seperti Tarzan.


"KYYYAAAA!!!! SETAN....!!"


Brugg...!!


Dan akhirnya Miranda pun jatuh pingsan. Satya, Frans, Rio dan Daniel berkumpul mengelilingi tubuh wanita itu. Rio tertawa terbahak-bahak, sedangkan Satya sampai ngompol ketika melihat ekspresi ketakutan wanita itu. Dan ini baru awal, dan untuk kedepannya mungkin Miranda akan lebih sering mengalami peristiwa yang lebih mengerikan dari pada hari ini.


Penjahat masuk penjara sudah sangat biasa. Tapi penjahat mengalami gangguan jiwa karna ulah seseorang baru luar biasa. Dan itulah yang sedang di lakukan oleh trio kadal.


Mereka tidak akan membiarkan Nathan dan Zian memasukkan Miranda dan Dean ke penjara, karna penjara terlalu ringan untuk penjahat seperti mereka berdua. Mereka akan menghukum Dean dan Miranda dengan caranya yang ajaib dan tidak biasa.


"Lalu bagaimana sekarang? Enaknya kita apakan ulat betina ini?" tanya Frans sambil menunjuk Miranda yang sedang terkapar tak sadarkan diri.


"Masukkan saja ke dalam peti mati," sahut Daniel menyahuti. Trio kadal saling bertular pandang dan berseru dengan sangat kompak.


"SETUJU!!!"

__ADS_1


-


Luna menghentikan langkahnya di khawasan Sungai Han. Langit yang semula terang perlahan menggelap, sang penguasa siang pun mulai kehabisan waktunya untuk mendampingi bumi, dan keberadaannya di gantikan oleh sang dewi malam yang tenggah berkuasa disinggasananya.


Gadis diam mematung menatap aliran sungai yang terlihat tenang. Permukaan air tampak berkulauan karna biasan sinar bulan yang bertahta indah di atas sana.


"Kemana saja kau seharian ini? Dan kenapa ponselmu sulit sekali dihubungi?"


Dan perhatian Luna dari ketenangan sungai sedikit teralihkan karna teguran seseorang. Sontak ia menoleh dan mendapati seorang pemuda berpenampilan serampangan berjalan menghampirinya. "Semua orang mencemaskanmu,"


"Aku hanya pergi untuk mencari ketenangan, lalu apa yang kau lakukan di sini?" tanya Luna penasaran.


"Tidak ada. Sudah malam, sebaiknya kau segera pulang. Kakakmu sangat mencemaskanmu,"


"Aku masih ingin di sini, karna tempat ini memberiku ketenangan dan rasa nyaman,"


"Dasar gadis keras kepala. Baiklah, tapi tidak lebih dari lima menit."


"Setuju, temani aku di sini sebentar dan setelah ini antarkan aku pulang, oke,"


Zian mendengus berat. "Dasar merepotkan," Luna terkekeh menanggapi ucapan Zian. Luna tidak merasa tersinggung sama sekali dengan sikap dingin pria disampingnya. Luna sudah terbiasa, karna memang begitulah dia. Dingin dan sulit di tebak.


"Kau lihat bintang di atas sana? Apa kau percaya jika orang yang sudah mati akan menjadi bintang?"


"Tidak, aku rasa itu hanya mitos saja. Bagaimana denganmu?"


"Aku percaya. Saat aku masih kecil, mama pernah berkata. Jika seseorang yang telah tiada, akan menjadi salah satu bintang-bintang di langit. Dan mulai saat itu aku percaya, setiap kali aku merindukan mama, aku selalu pergi ke tempat di mana aku bisa melihat bintang," ujar Luna panjang lebar.


Luna menengadahkan wajahnya. Kedua matanya mulai memanas dan berkaca-kaca. "Hahaha. Sepertinya angin malam ini berhembus cukup kencang, lihatlah... bahkan aku hampir saja menangis. Aku... aku..."


Tubuh Luna tertarik ke depan dan jatuh ke dalam pelukkan Zian. "Jika ingin menangis, menangislah. Jangan di tahan, karna hal itu hanya akan membuatmu merasa sesak."


Pertahanan Luna akhirnya runtuh juga. Air mata yang sedari tadi dia tahan tumbah menbasahi wajah cantiknya. Sekuat apapun dia mencoba untuk tetap terlihat tegar di depan orang lain. Tapi pertahannya selalu runtuh di hadapan Zian. Luna selalu menangis di hadapan pemuda itu, dan ini bukan pertama kalinya


"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu, jangan pernah menyimpan sendiri rasa sakitmu. Kau bisa membaginya denganku dan bahuku selalu ada di saat kau membutuhkan sandaran. Jadi, jika kau ingin menangis dan mencari tempat untuk berbagi kesedihan, jangan pernah ragu untuk datang padaku. Karna bahuku selalu ada untukmu,"


"Zian," gumam Luna dan semakin mengeratkan pelukkannya pada tubuh Zian.


Namun tanpa Luna dan Zian sadari, seorang dengan balutan pakaian serba hitam berdiri di balik pohon yang hanya berjarak sekitar 10 meter saja dari tempat mereka berada, terlihat pria misterius itu memegang pistol bergagang panjang yang di arahkan tepat pada Luna. Setelah memastikan bidikannya tepat sasaran, pria itu segera melepaskan tembakannya dan..


DUAARRR ... !!! ...


Tembakan itu meleset karna pada saat itu Luna telah melepaskan pelukannya pada tubuh Zian, namun sayangnya timah panas itu tanpa sengaja mengores pipi kanan Zian hingga sepanjang jari manis orang dewasa melintang di tulang pipinya, membuat cairan merah segar menetes dari lukannya yang kemudian turun membasahi wajah serta mengotori pakaiannya.


"Sial, bagaimana bisa meleset," Umpat pria misterius itu tajam.


Melihat ada bahaya mengancam dirinya dan juga Luna. Tak lantas membuat Zian diam begitu saja, dengan menghiraukan rasa perih dan panas di wajahnya. Zian segera beranjak dari hadapan Luna kemudian bergegas mengejar pria itu yang sudah pergi melarikan diri.


Luna yang segera tersadar beranjak dan bergegas mengejar Zian


"Zian... Tunggu!!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2