
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ETERNAL LOVE (CINTA TERLARANG PANGERAN IBLIS DAN PUTRI LANGIT) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗
-
Hari ini adalah akhir pekan. Seperti pertanyaan Zian sebelumnya. Hari ini dia benar-benar menemani Luna berbelanja. Saat ini pasangan suami-istri tersebut berada di pusat perbelanjaan. Luna akan berbelanja untuk persediaan sampai satu bulan ke depan, kecuali buah-buahan, daging dan sayur-sayuran.
Terlihat seorang pria berdiri di depan rak buah yang bersebelahan dengan rak sayur segar. Prua itu terlihat tampan meskipun hanya memakai kaus polos berlengan pendek yang melekat pas ditubuhnya dibalut vest abu-abu berkombinasi hitam dan jeans ketat berwarna hitam pula.
"Apel atau jeruk??"
Luna menunjukkan dua buah ditangannya pada pria itu yang pastinya adalah Zian. Pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Luna berdiri di depan rak yang penuh dengan buah-buahan segar dan disamping rak buah terdapat rak sayur-sayuran.
Zian melipat kedua tangannya sambil memperhatikan dua buah yang ada ditangan Luna, dan wanita itu masih setia menunggu jawaban dari suami tanpannya.
"Aku rasa keduanya tidak buruk!!" jawab Zian pada akhirnya.
Luna tersenyum lalu memasukkan kedua buah itu kedalam plastik. "Oppa, bisakah kau membantuku memilihnya??" Zian beranjak dari tempatnya dan menghampiri Luna
Kemudian pria itu berdiri disamping Luna, membantu sang istri memilih buah yang masih segar dan manis. Selain jeruk dan apel. Luna juga memasukkan anggur hijau dan anggur merah, pisang serta semangka ke dalam troli belanjanya. Tak ketinggalan sayur mayur seperti tomat, wortel, kol, buncis dan jamur.
Mereka berdua sedang berada dipusat perbelanjaan saat ini. Luna membutuhkan bahan makanan dan buah-buahan untuk mengisi kulkas yang hampir kosong. Tidak hanya sayur dan buah-buahan saja. Luna juga memasukkan telor dan daging ke dalam daftar belanjanya. Tak ketinggalan bumbu-bumbu, kecap manis, saus tomat dan saus pedas, serta minyak sayur.
Disaat Luna sedang sibuk memilih cemilan yang akan dia beli. Zian berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil beberapa kaleng soda yang kemudian ia masukkan kedalam troli belanja.
Dan setelah berkeliling hampir 3 jam, akhirnya mereka mendapatkan semua yang dibutuhkan. Dua kantong besar kini berada digenggaman Zian, awalnya Luna hendak membantu suaminya itu untuk membawa belanjaan tersebut, namun ditolak tegas oleh pria berdarah China tersebut.
Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran. Zian sengaja tidak membawa mobil sport hari ini agar lebih mudah menyimpan semua belanjaan Luna.
"Setelah ini kau ingin kemana lagi??" tanya Zian. Saat ini keduanya berada di dalam mobil. Tampak Luna berfikir, namun detik berikutnya wanita itu menggeleng.
"Entah, kemana pun asal jangan langsung pulang!!" ujarnya.
Tanpa banyak berfikir, Zian segera menyalahkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik. Mobil hitam itu melesat jauh meninggalkan area parkiran mall.
"Luna, apa yang kau lakukan?" Zian menarik lengan Luna saat wanita itu mengeluarkan setengah tubuhnya dari jendela di samping kanannya sambil merentangkan kedua tangannya. "Turun Luna, itu berbahaya!!" kata Zian sekali lagi.
Tanpa perlawanan, Luna pun menuruti permintaan Zian. Alih-alih duduk manis dijok samping tempat suaminya mengemudikan mobilnya, Luna malah merebahkan tubuhnya dan menggunakan paha Zian sebagai bantalan kepalanya. Zian mendengus geli melihat kelakuan sang istri yang semakin hari semakin manja. Namun Zian tidak merasa keberatan sedikit pun, ia justru merasa senang.. Karena itu artinya hanya padanya Luna bergantung.
__ADS_1
"Aku akan tidur sebentar, jika sudah sampai bangunkan aku," pinta Luna
Tidak sampai 10 menit Luna sudah terlelap dalam mimpinya. Wanita itu terlihat lelah, Zian menepikan mobilnya dan membetulkan posisi Luna agar istrinya itu merasa nyaman. Zian tersenyum tipis, dipandanginya wajah Luna cukup lama, mulai dari mata kemudian hidung dan terakhir bibir ranumnya. Diusapnya bibir itu, bibir yang terasa begitu manis dan menjadi candu untuknya.
Dibelainya wajah cantik istri tercintanya itu, dan betapa beruntungnya Zian karna memiliki kekasih secantik Luna. Tak ingin mengusik tidur wanitanya, Zian lekas menghidupkan kembali mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik, mobil itu melesat jauh, membelah jalanan meninggalkan keramaian kota.
.
.
Suara deburan ombak terdengar indah bersama hembusan angin yang memecah keheningan disore yang tenang. Langit begitu cerah dan matahari bersinar cukup terik membuat hawa disekitar terasa panas. Samar terlihat siluet laki-laki bersurai blonde berdiri ditepi pantai, memandang hamparan luas laut biru yang menyejukkan mata.
Angin menyapa melalui sentuhannya. Rambut blondenya berkibar karna terjangan angin nakal. Bagaikan sebuah kaleidoskop, manik abu-abunya memantulkan warna-warni menakjubkan dari sang Raja siang. Camar berterbangan diangkasa luas yang berhiaskan gumpalan-gumpalan putih yang berarak. Zian menghela nafas kala molekul-molekul oksigen dengan aroma laut yang khas memenuhi paru-parunya.
"Oppa,"
Denting suara bak sebuah lonceng yang berkaur di dalam telinganya membuat perhatian Zian seketika teralihkan. Pria itu lantas menoleh dan mendapati sosok perempuan berparas ayu berjalan menghampirinya.
Surai coklat panjangnya yang terurai tampak berkibar oleh terjangan angin pantai yang cukup kencang, begitu pula dengan dress putih tulang yang membalut tubuh rampingnya. Zian beranjak dari posisinya dan menghampiri Luna.
"Kau sudah bangun?" tanya Zian kemudian mengecup singkat bibir Luna yang tampak menggoda itu.
"Kau terlihat lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu!!" jawab Zian.
Byurrrr!!!
Deburan suara ombak yang bertabrakan dengan batu karang mengalihkan perhatiannya. Mata hazel itu pun berbinar seketika setelah menyadari dimana kini ia berada. "Kyyyyaaaa!!! Pantai!!" seru Luna kegirangan.
Mengabaikan Zian yang masih bertahan dalam posisinya, Luna berlari menuju bibir pantai. Dan Zian yang melihat tingkah kekanakan istrinya hanya mendengus geli seraya menggelengkan kepala.
Terlihat Luna tengah bermain-main dengan ombak, wanita itu berdiri dibibir pantai, namun saat ombak datang dia berlari menjauh sambil terkikik geli merasakan pasir pantai yang seolah menggelitik kaki telanjangnya. Tak ingin melewatkan moment itu, Zian mengeluarkan ponselnya dan mengabadikannya dalam sebuah video.
Pria berparas rupawan itu tersenyum puas setelah mendapatkan hasil yang sangat sempurna. Memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian dia menghampiri Luna. Dan sebuah cipratan air laut langsung menyambutnya.
"Luna apa yang kau lakukan? Hentikan!! Kau membuatku basah!!" pinta Zian. Sebagai tersangka utama, bukannya merasa bersalah dan meminta maaf pada suaminya. Luna malah tertawa keras. Tidak hanya sekali saja, Luna melakukannya sampai berkali-kali "Luna sudah, kau membuat pakaianku basah!" seru Zian sekali lagi.
"Tidak adil jika hanya aku sendiri saja yang basah!" jawab Luna lalu menjulurkan lidahnya.
"Kau harus menerima hukumannya, Nyonya Qin!!" kata Zian kemudian menarik lengan Luan hingga wanita itu jatuh kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Memangnya hukuman seperti apa yang akan kau berikanku, hm?" Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian, mata mereka saling mengunci.
"Inilah hukumanku!!!" Zian memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka.
Zian memagut bibir Luna atas dan bawah secara bergantian. Alih-alih menolak, Luna malah menikmati ciuman itu. Ciuman yang sangat manis dan berkesan, karna mereka melakukannya bersamaan dengan terbenamnya sang penguasa siang diiringi deburan ombak yang menghantam batu karang serta semilir angin yang menyambut datangnya malam.
Zian terus memagut bibir Luna, lidahnya mengobrak-abrik isi dalam mulut sang dara, mengabsen deretan gigi putihnya dan sesekali dia mengajak lidah Luna menari bersama. Ciuman itu berlangsung cukup lama, dan Zian baru saja mengakhiri ciumannya saat Luna sudah kehabisan nafasnya.
"Oppa, kenapa semakin hari bibirmu semakin manis saja rasanya. Uhh, aku jadi semakin candu untuk bisa selalu menikmatinya," tutur Luna yang kemudian dihadiahi sebuah jitakan oleh Zian.
"Kenapa semakin lama kau semakin mesum saja?" Luna terkekeh. Kemudian wanita itu berhambur kedalam pelukan suaminya.
"Memangnya tidak boleh ya? Jika bukan mesin padamu, aku harus mesum pada siapa?" ujarnya. Sudut bibir Luna tertarik keatas menciptakan lengkungan indah diwajah cantiknya. Wanita itu semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
Zian mengangkat kedua tangannya membalas pelukan Luna. "Kau adalah impian terindahku, Leonil Luna!! Aku fikir memilikimu hanyalah sebuah angan-angan saja dan sebuah mimpi yang tidak akan pernah bisa terwujud. Kau adalah anugerah yang Tuhan berikan untukku, terimakasih Sayang, karna sudah hadir dan melengkapi hidupku. Aku memang bukan pria baik-baik, aku bukan tipe pria yang romantis tapi aku akan berusaha untuk menjadi suami yang selalu bisa kau andalkan. Aku akan menjaga dan melindungimu, aku mencintaimu Nyonya Qin!!"
Zian melepaskan pelukannya, dibelainya wajah cantik Luna, sudut bibirnya tertarik ke atas. Zian menakup wajah Luna dan kemudian menyatukan bibir mereka. Zian menutup matanya begitupula dengan Luna.
Eeeungghhh!!" desahan-desahan ringan keluar sela-sela ciuman panas mereka. Saat tangan Zian kemudian bergerak liar diatas punggung Luna yang tertutup kain dressnya.
Mereka saling merotasikan kepalanya, menciptakan sensasi berbeda dalam ciuman itu "Ugghhhh!!" desahan Luna semakin tak terkendali ketika tangan Zian meremas salah satu bukit kembarnya. Meskipun tak tersentuh langsung karna terhalang pakaian yang dia kenakan, namun sentuhan itu cukup membuat wanita itu terangsa**.
Posisi mereka tidak lagi berdiri, tubuh mereka bertumpang tindih. Tubuh Luna terbaring di atas hamparan pasir pantai dengan Zian berada di atas tubuh Luna. Kaki Zian mengunci kaki Luna, sedangkan tangan kirinya berkeliaran diatas perut rata sang istri yang mulai menegang. Ciuman yang awalnya hanya sentuhan-sentuhan lembut berubah menjadi ciuman panas dan frontal.
Mereka begitu menikmati ciuman itu, melalui ciuman itu baik Zian maupun Luna sama-sama ingin menyampaikan betapa besarnya rasa cinta yang mereka miliki satu sama lain, begitu. Setelah hampir 5 menit mereka berciuman tanpa jeda, akhirnya Zian mengakhiri ciuman itu ketika ia dan Luna sudah sama-sama membutuhkan banyak asupan oksigen untuk mengisi paru-paru mereka yang telah kosong.
"Kau benar-benar gila, Oppa. Sangat-sangat gila!" kata Luna tanpa merubah posisinya. Zian tersenyum tipis.
"Setelah kita tiba di rumah, aku akan menunjukkan hal yang lebih gila dari ini!!" ujarnya.
Dan Zian kembali memagut bibir Luna, namun ciuman kali ini lebih singkat dari ciuman mereka sebelumnya. Zian kemudian memeluk Luna tanpa merubah posisinya. "Aku akan memelukmu seperti ini, karna kau adalah takdir yang aku inginkan dan aku impikan dari diriku sendiri, Luna Qin. Aku mencintaimu!" bisik Zian seraya menutup rapat-rapat kedua matanya.
"Aku juga mencintaimu, Oppa. Sangat-sangat mencintaimu!!" Zian kemudian bangkit dari posisinya lalu mengulurkan tangannya dan membantu gadis itu untuk berdiri.
"Sudah hampir malam, sebaiknya kita pulang!!" Lunq mengulum senyum tipis dan mengangguk.
"Baiklah, ayo!!"
-
__ADS_1
Bersambung.