Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2(Bab 84) "Berjanjilah"


__ADS_3


Hai riders, jangan lupa baca juga ya, novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM selalu tinggalkan like komentnya juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


"Sial!!!!"


Zian mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah. Pukulan yang dia terima semalam membuat kepalanya terus berdenyut sakit. Susah payah pria itu bangkit dari berbaringnya dan merubah posisinya menjadi duduk bersandar.


Cklekkk...


Perhatiannya sedikit teralihkan oleh decitan pada pintu. Terlihat sosok Nathan memasuki kamar dan berjalan menghampirinya. "Aku sudah mendengar semuanya dari, Luna. Bagaimana keadaanmu?" tanya Nathan kemudian duduk di kursi di samping tempat tidur Zian.


"Sedikit buruk, Hyung. Kepalaku pusing dan rasanya ingin pecah," jawabnya.


Nathan mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Zian, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu. Dan mungkin kabar ini akan sedikit menampar perasaanmu. Ini mengenai ibumu,"


Zian memicingkan matanya. "Kenapa dengan perempuan itu, Hyung? Apakah dia sudah tertangkap dan di jebloskan ke dalam penjara?" tanya Zian memastikan.


Nathan menggeleng. "Lebih buruk dari itu. Reno baru saja menghubungiku dan memberi tahuku jika Ibumu di temukan meninggal di dasar jurang. Keadaannya juga sangat mengenaskan, tubuhnya hanya tinggal tulang belulang saja. Di duga kuat jika nyonya, Dahlia menjadi korban pembunuhan. Dan sekarang polisi sedang menyelidikinya,"


Bibir Zian terkatup rapat. Pria itu kehilangan kata-katanya setelah mendengar kabar yang baru saja Nathan sampaikan padanya. Ibunya meninggal? Rasanya Zian masih begitu sulit untuk mempercayainya.


Meskipun Ibunya sudah banyak melakukan kejahatan yang mengarah pada sebuah tindak kriminal. Tapi tetap saja Dahlia adalah ibunya, dan sebagai seorang anak yang pernah Dahlia besarkan, Zian merasa kehilangan.


"Zian, yang sabar ya. Ini adalah cobaan dari Tuhan. Tuhan lebih menyayangi Ibumu. Ini pasti sangat berat untukmu, tapi kau harus bisa menerima kepergiannya,"


Zian menutup matanya dan mendesah berat. "Aku akan mencoba untuk mengikhlaskannya, Hyung. Tapi aku ingin supaya pelakunya di temukan dan di hukum seberat-beratnya." Tutur Zian.

__ADS_1


"Mengenai hal itu. Kau tidak perlu cemas, Reno dan, Theo tengah menyelidikinya. Cepat atau lambat pasti pelakunya akan segera di temukan,"


"Ya, aku harap begitu. Lalu di mana, Luna? Kenapa aku tidak mendengar suaranya sama sekali? Apa dia sedang pergi?" tanya Zian memastikan.


Nathan mengangguk. "Dia sedang pergi bersama, Viona untuk memeriksakan kandungannya. Kau tidak perlu cemas karena, Rio, Frans dan Satya ikut pergi bersamanya." Terang Nathan.


"Hyung, bisakah kau tinggalkan aku sendiri? Aku ingin sendiri untuk saat ini,"


"Baiklah, aku akan keluar dulu," Nathan menatap Zian sejenak kemudian melenggang pergi dan meninggalkannya begitu saja.


Selepas kepergian Nathan di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Zian. Zian menutup matanya dan mendesah berat. Rasanya begitu sulit untuk percaya jika ibunya telah tiada. Meskipun selama ini dia merasa kecewa dan sakit hati pada sikap Dahlia. Tapi Zian tetap tidak bisa membencinya. Dahlia adalah ibunya, orang yang merawatnya dan memberikan kasih sayang padanya sejak dia masih kecil.


Memang sangat berat rasanya ketika kita harus merelakan orang yang kita sayangi pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya. Tapi hidup terus berjalan, dan meskipun sangat berat, namun Zian akan mencoba untuk merelakan kepergiannya. Dan kepergian Dahlia tentu saja menjadi sebuah pukulan bagi Zian.


"Oppa, kau sudah bangun?" suara bak lonceng itu membuyarkan lamunan Zian dengan seketika. Zian segera turun dan kemudian menghampiri Luna lalu memeluknya. "Oppa, ada apa? Apa sesuatu terjadi" bingung Luna.


Zian menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Sebentar saja, biarkan aku memelukmu," bisiknya. Luna merasa penasaran apa yang telah terjadi pada Zian. Pasalnya dia melihat suaminya ini dalam keadaan yang begitu kacau. Tapi sepertinya Zian tak ingin membahas apapun, dan akhirnya Luna memutuskan untuk tidak bertanya lagi.


"Aku hanya merasa sedikit buruk saja. Aku akan mandi dulu, setelah ini ganti perban pada kening dan lenganku," Zian menakup sisi wajah Luna kemudian mengecup singkat keningnya.


Luna mengangguk. "Baiklah," Luna menatap kepergian Zian dengan pandangan tak terbaca. Entah kenapa dia merasa jika ada yang sedang Zian sembunyikan darinya, tapi masalahnya Luna tidak tau apa itu. Dia ingin sekali bertanya tapi ia rasa ini bukanlah waktu yang tepat. Mungkin setelah suasana hati Zian sudah membaik.


.


.


.


Zian keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar dari sebelumnya. Dia juga terlihat lebih baik, wajahnya tidak sesuram sebelumnya. Zian meletakkan handuknya kemudian menghampiri Luna yang sedang merajut di bibir jendela.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau lakukan, Lun?"


Luna mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. "Aku sedang membuatkan baju hangat untuk anak kita, Oppa." Jawabnya. Luna sedang merajut, rencananya dia akan membuat dua pakaian bayi dengan bentuk dan model berbeda. Sweater dan dress, karena Luna masih belum tau apa jenis kelamin anaknya, itulah kenapa dia membuat dua sekaligus.


"Ternyata kau berbakat juga," Zian menepuk kepala coklat Luna sambil mengulum senyum setipis kertas.


Luna meletakkan benang rajut dan jarum di tangannya kemudian bangkit dari duduknya. "Oppa, sebaiknya kenakan dulu pakaianmu. Setelah ini aku akan mengganti perban pada kening dan lenganmu," ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. "Tunggu, jangan coba-coba memakai kemeja berkengan!! Jangan sampai sembunyikan tribal itu dariku," serunya dan membuat Zian mendengus berat.


"Aku tidak tau jika orang hamil akan seribet dirimu, tapi baiklah... Demi anak kita, apa yang tidak,"


Terkadang Zian suka geli sendiri dengan permintaan-permintaan aneh Luna selama dia hamil. Bukan hanya ngidamnya saja yang suka aneh-aneh, tapi keinginannya juga. Luna selalu melarangnya memakai pakaian lengan panjang padahal suhu udara di Yunani sedang menurun, tapi Zian tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya. Toh bukan permintaan yang sulit juga.


Setelah cukup lama. Akhirnya pilihan Zian jatuh pada sebuah vest hitam berkombinasi abu-abu dan singlet hitam. Celana yang senada dengan warna singletnya. Dan setelah berpakaian lengkap, Zian menghampiri Luna yang tampak kegirangan karena dia memenuhi keinginannya.


"Apa kau merasa puas?" Luna mengangguk. "Dasar kau ini," dan sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Luna. Wanita itu terkekeh. Dia tau jika suaminya ini tidak mungkin bisa menolak permintaannya.


"Oppa, duduklah. Aku akan membuka lilitan perban di keningmu." Ucapnya seraya menarik lengan Zian dengan lembut kemudian meminta pria itu untuk duduk.


"Oya, Oppa. Apa kau tau apa yang dikatakan oleh dokter tadi? Anak kita sehat, dan aku sangat bahagia mendengarnya. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menunggu dia hadir di dunia ini. 8 bulan, kenapa rasanya begitu lama sekali? Dan jika bayi ini lahir, kau ingin anak laki-laki atau perempuan?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik abu-abu milik Zian.


"Perempuan dan laki-laki bagiku sama saja. Yang penting ibu dan bayinya lahir dengan selamat. Karena aku tidak ingin sampai kehilangan salah satu dari kalian berdua," Luna tersenyum lebar.


"Tenanglah, Oppa. Kau tidak akan kehilangan salah satu dari kami. Lagipula apa kau lupa kalau istrimu ini adalah perempuan yang sangat kuat. Aku pasti akan bertahan dan menjaga dia dengan baik,"


Zian meraih tangan Luna dan menggenggamnya. "Berjanjilah satu hal padaku, Sayang. Berjanjilah jika kau tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi. Aku sungguh-sungguh tidak ingin kehilanganmu, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sisiku. Bahkan hanya satu detik saja, aku tidak akan pernah membiarkannya!! Untuk itu tetaplah berada di sisiku, berjanjilah padaku,"


"Tentu saja, Oppa. Aku akan selalu berada di sisimu. Aku... berjanji padamu!!"


-

__ADS_1


Bersambung.""


__ADS_2