
Hawa dingin mulai menyergap, mengganggu setiap insan yang masih terlelap di alam bawah sadar. Cicit burung gereja pertanda jika malam yang dingin telah berlalu dan lagi mulai datang menjelang, mulai bersahut-sahutan membangkang kinerja alam.
Seberkas sinar terang dari di ufuk timur tampak indah, membias memasuki sebuah kamar luas melalui jendela kaca bertirai putih tipis. Luna yang sejak semalam sudah terlelap di atas ranjang empuknya pun terusik.
Gadis itu mulai membuka matanya dengan perlahan, kemudian pandangannya bergulir pada jam yang tergantung di dinding dan waktu sudah menunjuk angka 06.30 pagi.
Aroma lezat makanan yang berasal dari dapur langsung menyeruak masuk dan berkaur di dalam hidungnya. Luna menyibal selimutnya kemudian beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.
Ia merasakan sekujur tubuhnya terasa lengket semua oleh keringat, dan itu membuatnya sangat tidak nyaman. Dan mandi adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalahnya saat ini.
Setelah mandi dan berganti pakaian. Luna segera turun, gadis itu menuruni tangga sambil bersenandung kecil. Wajah ayunya di polesi make up tipis yang membuat kecantikannya semakin terlihat natural, rambut panjangnya yang sewarna tembaga dia biarkan tergerai indah.
"Luna,"
Tapp!!
Luna menghentikan langkahnya karna teguran seseorang. Wajahnya murung seketika setelah melihat kedatangan orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Dean.
"Mau apa kau datang ke sini?" tanyanya sinis.
"Luna, ikutlah pulang bersama Oppa. Papa sangat mencemaskanmu, dan Oppa di sini untuk menjemputmu. Pulang ya," bujuk Dean memohon.
"Tidak mau, aku tidak akan pulang bersamamu. Soal Papa, kau tidak perlu cemas, aku akan mengunjunginya nanti. Sebaiknya kau pulang saja, melihatmu di sini membuatku muak!!"
"Luna, Oppa mohon. Oppa tau, Oppa salah. Tidak seharusnya Oppa menamparmu, Oppa sungguh-sungguh menyesal,"
"Baguslah kalau kau menyesal. Sudah 'kan? Kalau urusanmu sudah selesai, sebaiknya sekarang kau pulang." Luna mendorong Dean, memaksa pria itu untuk pergi.
"Tidak Lun, Oppa tidak akan pulang tanpa dirimu!!" tegas Dean.
"Baiklah kalau kau tidak mau pergi, kalau begitu biar aku saja yang pergi!!" Luna beranjak dari hadapan Dean dan pergi begitu saja.
"Luna, tunggu!" seru Dean dan berusaha mengejar Luna tapi dihentikan oleh Nathan.
"Beri dia waktu, kau tau bagaimana keras kepalanya, Luna 'kan. Dia akan melunak dengan sendirinya, aku dan Viona akan coba berbicara dengannya nanti. Sebaiknya sekarang kau pulang dulu saja,"
Dean menghela nafas berat. "Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu," Dean menepuk bahu Nathan dan pergi begitu saja.
Nathan menghampiri Viona yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. "Aku akan bersiap-siap dulu, setelah ini kita sarapan sama-sama," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
"Baiklah, Oppa,"
-
Luna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Moodnya yang dia bangun dengan susah payah hancur berantakkan karna kedatangan Dean.
Luna tidak pernah benar-benar marah pada Dean apalagi sampai membencinya, dia hanya kecewa dengan sikap Dean padanya. Dan tamparan Dean tempo hari masih begitu membekas, bukan di wajahnya, melainkan di hatinya.
Luna menghentikan mobilnya di area sungai Han. Gadis itu turun dari mobilnya dan berjalan menuju tepi sungai. Suasana di sana cukup sepi karna memang masih pagi, hanya beberapa orang saja yang sepertinya baru selesai berolah raga.
"Kau terlihat buruk, Nona," tegur seseorang dari atas pohon.
Sontak Luna mendongak dan matanya membelalak. "Kyyyaaa!! Beruang kutub!!" teriaknya histeris. "Yakk!!! Zian Qin, apa yang sedang kau lakukan di atas sana? Jangan bilang jika semalam kau tidak pulang dan bermalam di atas sana? Oh, astaga. Sejak kapan kau hidup menggelandang?" ujar Luna panjang lebar.
Zian mendecih dan menatap gadis itu dengan kesal. Kemudian Zian melompat turun lalu berjalan meninggalkan Luna beberapa langkah dibelakangnya. "Aku tidak tau apa yang kau makan pagi ini, sampai-sampai kau terus saja mengoceh seperti burung, Beo," cibir Zian mengejek.
"Dasar beruang kutub. Diamlah dan jangan membuat moodku semakin hancur karna ocehanmu," ketus Luna.
Zian mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaket kulitnya. Mengeluarkan satu kemudian menyulutnya. Kepulan asap putih terlihat saat Zian menghembuskan nafasnya.
"Memangnya hal buruk apa yang kau alami sampai-sampai membuatmu merasa sangat buruk?" tanya Zian mengakhiri perdebatan.
Kepulan asap putih kembali Zian keluarkan dari mulutnya. "Kakak tiriku datang dan mengajakku untuk pulang, tapi aku menolak. Aku masih belum bisa melupakan apa yang telah dia lakukan padaku tempo hari. Dia menamparku hanya demi wanita lain, dan itu sangatlah menyakitkan,"
Zian memicingkan matanya mendengar ucapan Luna. "Apa kau mencintai kakak angkatmu? Bukan sebagai cinta seorang adik kepada kakaknya, tapi cinta seorang wanita kepada pria?" tebak Zian 100% benar.
Luna memgangguk. "Ya," jawabnya singkat.
"Sepertinya sangat rumit, lalu apakah kau sudah pernah menyatakan perasaanmu padanya?" tanya Zian,
Luna menggeleng. "Belum pernah, aku merasa takut. Dean pasti akan menolaknya karna dia sangat mencintai tunangannya," Luna tersenyum getir.
Zian bangkit dari duduknya kemudian mengulurkan tangannya pada Luna. "Aku lapar, temani aku sarapan. Pasti kau juga belum sarapan,"
__ADS_1
"Asal kau yang mentraktirku, aku lupa tidak membawa dompet," Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bukan masalah, sebaiknya tinggalkan saja mobilmu di sini. Kau naik motor saja denganku." Ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
"Baiklah, boleh juga,"
.
.
Luna mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam cafe ketika melihat dua orang yang sangat dia kenal sedang berada di dalam sana. Melihat kedekatan dan kemesraan mereka berdua membuat hati Luna seperti terbakar bara api.
Zian ikut berhenti kemudian mengikuti arah pandang Luna. "Apa dia orangnya?" tanya Zian tanpa menatap lawan bicaranya. Lantas Luna menoleh, begitu pula dengan Zian. Gadis itu mengangguk pelan. "Kita pindah cafe saja," Zian meraih pergelangan tangan Luna dan membawanya pergi dari sana.
Luna tidak mengatakan apapun, bahkan dia tak melayangkan protesnya meskipun Zian membuatnya hampir terjungkal karna tariakannya yang tiba-tiba.
Zian membawa Luna ke sebuah kedai makanan yang sering dia datangi bersama teman-temannya. Tempatnya memang teramat sangat sederhana tapi makanan di sana tidak bisa diragukan rasanya.
"Makanlah yang banyak, kau terlihat seperti tengkorak hidup," ucap Zian seraya meletakan potongan daging di atas nasi Luna.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan mendecih sebal. "Berhentilah bertingkah menyebalkan, Zian Qin dan biarkan aku makan dengan tenang. Apa kau tidak tau jika cacing-cacing dalam perutku sudah menggeliat-liat minta segera di isi," ujar Luna.
Zian medengus geli. "Baiklah, dan makan dengan pelan-pelan, kau bisa tersedak," ucap Zian menasehati.
"Diamlah, aku sudah sangat kelaparan,"
-
Di malam yang gelap dan sunyi, segerombolan anak muda berkumpul di area balap liar. Dinginnya malam, sedikit pun tidak mengusik orang-orang yang berkumpul di sana. Bahkan rintikan gerimis yang turun malam itu tidak menjadi penghalang bagi para jongki untuk melanjutkan aksinya yang sebentar lagi akan segera di mulai.
Bremm ... Bremm ... Bremm ...
Terdengar suara dentuman-dentuman suara motor sport yang siap melaju hanya tingga menunggu aba-aba.
"Zian Qin... Zian Qin... Zian Qin.."
Riuh suara penonton membuat malam yang awalnya sunyi menjadi begitu meriah saat mereka yang kebanyakan adalah para gadis secara bersama-sama meneriakan satu nama 'Zian'.
Smrik Zian terkembang di wajah tampannya, Ia menutup kaca pada helm yang di kenakannya saat seorang wanita berpakaian super mini berdiri di tengah arena Ia sambil membawa sebuah bendera di tangannya.
Setelah aba-aba dan perintah di turunkan, kedua motor sport itu melesat dengan kencangnya. Meninggalkan arena balap liar dan melaju menuju jalan raya yang padat dengan kendaraan.
Baik Zian mau pun Johan sama-sama mengendarai motor sportnya dengan kecepatan di atas rata-rata, keduanya saling menyalip dan tidak mau menyerah apalagi sampai mengaku kalah.
Johan melirik Zian menggunakan ekor matanya, pemuda itu berada cukup jauh di belakangnya.
Johan menyeringai tajam, pemuda itu menyipitkan matanya dan menambah kecepatan pada motornya saat melihat garis finis sudah ada di depan matanya. Hanya tinggal beberapa meter lagi Ia akan menjadi pemenangnya.
"Matilah kau Zian Qin, tidak lama lagi kau akan bertekuk lutut di bawah telapak kakiku. Kau dan semua teman-temanmu akan menjadi budakku. Hahaha, terimalah kekalahanmu." Ujar Johan dengan senyum yang tersungging di wajahnya.
Di saat Johan sedang membayangkan kemenangannya, tanpa Ia sadari motor Zian baru saja melewati dirinya. "Sial." Umpat Johan kesal.
Sebisa mungkin laki-laki itu menambah kecepatan pada motor yang sedang di kendarai, Ia tidak mungkin membiarkan Zian mengalahkannya dan mengambil semua miliknya.
Namun itu sangat mustahil karna Zian hampir saja mencai garis finis, hanya tinggal 1 jengkal lagi maka Zian akan memenangkan balapan ini. Tampak seringai tajam tersungging di wajah Zian yang ada dibalik helm yang di kenakan, mata Zian kembali menyipit dan...
" Yeeeeaaaaaaaahhhhhhhh. Zian Hyung, kau memang yang terbaik." Teriak Simon dan Reno begitu heboh saat motor Zian melewati garis finish.
Bukan hanya mereka berdua yang heboh atas kemenangan Zian, namun juga semua yang hadir di sana, sorak sorai penonton pecah. Mereka berhamburan menghampiri dan mengerumuni motor Zian.
"Oppa kau memang yang terbaik." Puji seorang wanita dengan dress super mini yang saat ini merangkul bahu Zian. Zian menyentak tangan wanita itu dan menatapnya tidak suka. Wanita itu mencerutkan bibirnya dan merenggut kesal. Lagi-lagi Zian menolaknya.
"Malam ini kita akan berpesta dan aku yang akan mentraktir kalian semua." Seru Zian lantang dan hal itu di sambut baik oleh semua pengunjung. Mereka bersorak senang.
Zian melepaskan helm yang Ia kenakan kemudian turun dari motor besarnya dan berjalan menghampiri Joham yang duduk lemas di atas motornya.
"Ini kunci motorku dan teman-temanku, mulai detik ini semua ini milikmu, Zian Qin. Kau boleh mengambil semuanya, termasuk wilayah kekuasaanku, seperti yang telah kita sepakati. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi." Johan menyerahkan kunci motor miliknya dan teman-temannya pada Zian. Ke 5 pria itu berjalan kaki meninggalkam arena balap liar.
"Tunggu!!" Sampai seruan keras Zian menghentikan langkah mereka. Johan dan teman-temannya berbalik badan dan mendapati Zian berjalan kearahnya.
"Ada apa?" tanya Johan dingin. Zian meraih tangan Johan dan mengembalikan semua kunci motor itu padanya.
"Aku kembalikan kunci motormu dan milik teman-temanmu, aku tidak membutuhkannya. Aku tidak akan mengambil apa pun darimu termasuk wilayah kekuasaanmu, balapan ini bukan ajang untuk taruhan. Aku hanya ingin menguji kemampuanku dan menunjukkan padamu jika Iblis jalanan tidak akan mudah terkalahkan." Ujar Zian dan berlalu begitu saja.
__ADS_1
Johan terperangah mendengar ucapan Zian. Laki-laki itu membuka genggaman tangannya dan menatap kunci-kunci motor yang ada di dalam genggamannya.
"Zian Qin, aku tidak akan melupakan malam ini, jika sewaktu-waktu kau membutuhkan bantuan. Jangan sungkan-sungkan, hubungi saja aku." Teriak Johan lantang.
Zian melambaikan tangan tanpa menghentikan langkahnya. Johan tersenyum tipis. "Kau memang sulit di tebak, Zian Qin." Ucapnya pelan.
Johan berbalik badan dan melanjutkan langkahnya. "Sudah hampir tengah malam, ayo kita pulang." Sambungnya.
"Ne Hyung."
-
Ckittttt ... !!! ...
Zian melakukam rem dadakan ketika tiba-tiba Ia melihat segerombolan orang bersenjata menghadang dan menghalangi jalannya. Zian memutar bola matanya jengah, dengan malas pemuda itu turun dari atas motor besarnya dan menghampiri orang-orang itu.
"Satu masalah selesai, masalah lain muncul." umpatnya kesal.
Zian telah berhadapan dengan orang-orang itu, semua bersenjata sementara Ia dengan tangan hampa. "Apa kau yang bernama, Zian Qin??" Tanya salah satu dari pria itu.
"Benar, siapa kalian dan ada urusan apa denganku? Bahkan mengenalku saja tidak."
"Jangan banyak bicara anak muda, maju dan habisi pemuda ini." Perintah pria yang berdiri di barisan paling depan.
Kedua mata Zian membulat, pemuda itu mundur dan mencari ruang yang lebih lapang saat melihat orang-orang itu berlari kearahnya.
Tanpa sungkan dan ragu-ragu, orang-orang itu langsung menyerang Zian secara bersamaan. Kaki dan kepala, itulah sasaran utama mereka. Zian berusaha menghindari setiap pukulan dan tembakan yang terarah padanya, sangat brutal.
Mereka memukul dan menembak dengan cara membabi buta. Namun tak satu pun ada yang berhasil menembus tubuh Zian. Zian berkilat kesana-kemari untuk menghindari peluru-peluru.
Sritt...
Salah satu peluru yang mereka lepaskan berhasil menggores pipi dan lengannya. Tapi bukan luka yang berarti.
Sungguh, perkelahian yang sangat tak seimbang. Zian yang hanya seorang diri di keroyok sedikitnya sepuluh orang dan mereka semua bersenjata.
Sejauh ini tak ada perlawanan berarti dari Zian, pemuda itu membiarkan mereka terus menyerangnya, dan tujuan Zian adalah untuk menguras habis tenaga mereka.
Bruggg .. !! ..
Satu pukulan keras mendarat mulus pada wajah Zian dan membuat sudut bibirnya robek, darah segar tampak keluar dari kulitnya terkelupas. Zian menyeka darah di sudut bibirnya dan meludahkan darah yang ada di dalam mulutnya.
Matanya menatap tajam pada orang-orang itu "Baiklah, sekarang giliranku!!" Zian melayangkan serangan balik pada mereka. Dan kurang dari sepuluh menit ia berhasil menumbangkan lima di antaranya, menyisahkan lima orang lagi.
Zian tak memberikan kesempatan pada lawannya untuk balas menyerangnya. Bahkan satu lagi berhasil dia lumpuhkan.
Dan di saat bersamaan, tiba-tiba seseorang datang dan langsung menumbangkan orang yang hendak menyerang Zian dari belakang. Dan tentu saja hal itu membuat Zian terkejut, lebih mengejutkan lagi, adalah sosok yang berdiri disampingnya tersebut.
"Luna!!"
"Olah raga malam aku rasa tidak buruk. Ayo, kita selesaikan mereka bersama-sama," ucap Luna yang segera di balas anggukan oleh Zian.
Meskipun Luna memakai hils dan dress. Tapi hal tersebut tak lantas membuatnya kesulitan, bahkan dia tetap terlihat lincah. Seperti Zian, Luna menghajar mereka tanpa ampun. Dan dalam hitungan detik saja mereka berhasil menumbangkan empat yang tersisa.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Zian memastikan, kedua tangannya mencengkram bahu Luna.
Luna menurunkan tangan Zian dari bahunya kemudian menghapus darah yang mengalir dari luka gores di pipi Zian dengan sapu tangannya. "Aku baik-baik saja, tapi kau yang tidak baik-baik saja. Kau terluka, Tuan Qin," kemudian Luna menutup luka di lengan Zian dengan sapu tangannya.
"Bagaimana bisa tiba-tiba kau muncul di sini?" tanya Zian pada gadis dihadapannya.
"Kebetulan aku lewat dan melihatmu di keroyok, jadi aku turun untuk membantumu," jawabnya.
"Ngomong-ngomong siapa mereka? Dan kenapa mereka bisa sampai menyerangmu?" tanya penasaran.
Zian menggeleng. "Aku juga tidak tau, mungkin saja orang-orang suruhan ibu tiriku. Kau mau kemana setelah ini? Mau ikut berpesta denganku?" tawar Zian pada Luna.
Luna tak lantas menjawab. "Pesta apa?" tanyanya penasaran.
"Hanya pesta kecil-kecilan di bar temanku, mau ikut?" tawarnya sekali lagi. Luna tampak ragu. "Aku tau apa yang kau fikirkan. Aku memang seorang brengsek, tapi aku tidak mungkin melakukan hal tidak-tidak, apalagi menghancurkan masa depan seorang gadis. Sudah larut malam, sebaiknya kau pulang,"
Zian meninggalkan Luna yang masih bergeming dari tempatnya berdiri. "Zian, tunggu," seru Luna menghentikan langkah Zian. Pemuda itu menoleh. "Baiklah, aku akan ikut denganmu!!" Zian tersenyum kemudian mengangguk.
"Ayo,"
__ADS_1
-
Bersambung.