Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 21) "Bukan Wanita Murahan"


__ADS_3

"Apa kau memiliki obat-obatan dan juga perban di sini?" tanya Luna pada si pemilik kapal.


"Ada, Nona. Kotak p3k ada di ruangan yang biasanya saya pakai untuk beristirahat,"


"Hm, gomawo,"


Saat ini Luna dan Zian sedang dalam perjalanan pulang menuju kota. Jarak pulau dan kota lumayan jauh, butuh setengah hari untuk bisa tiba di daratan. Dan kemungkinan malam ini mereka berdua akan bermalam di dalam kapal.


Luna menghampiri Zian yang sedang duduk di dek kapal sambil bertopang lengan di atas lututnya. Pemuda itu mengangkat wajahnya. "Kenapa belum tidur?" tanya Zian sesaat setelah Luna duduk berhadapan dengannya.


"Aku masih belum mengantuk," jawabnya.


"Kau mau apa?"


"Mengobati luka-lukamu, dan apa kau tidak sadar jika mata kananmu mengalami pembengkakan. Jujur saja aku sangat penasaran bagaimana kelopak dan pelipis mata kanamu bisa sampai terluka seperti ini? Dan kenapa juga kau tidak mengobatinya?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian penasaran.


"Aku tidak sempat melakukannya. Karna aku langsung pergi setelah mendengar jika kau berada dalam bahaya," sekali lagi Luna mengangkat wajahnya. "Reno dan Simon yang memberitauku jika kau sedang berada dalam bahaya. Dan itulah kenapa aku bisa tau jika kau di culik," jelas Zian menjawab kebingungan Luna.


"Jadi kau sengaja datang karna ingin menyelamatkanku?" tanya Luna seraya mengunci iris mata Zian. "Tapi kenapa?"


"Karna kita adalah teman, apalagi aku pernah berjanji untuk selalu melindungimu,"


"Dan akhirnya kau menepati janjimu itu, gomawo Zian. Kau memang temanku yang terbaik, tidak... tidak... tidak, tapi dewa penolongku. Dan bolehkah aku melanjutkannya sekarang?" tanya Luna yang kemudian di balas anggukan oleh Zian.


"Hm, lakukan," Luna tersenyum lebar mendengar jawaban Zian. Kemudian mengangguk.


Dengan telaten dan hati-hati, Luna mulai mengoleskan salep pada luka-lukanya. Tapi Luna ragu harus menutupnya atau tidak, apalagi itu di sekitar matanya. Pasti Zian akan merasa tidak nyaman nantinya. Dan Luna-pun membiarkan lukanya tidak tertutup apapun. Dia hanya menutup luka pada pelipisnya.


"Nah selesai, aku sangat lelah dan mengantuk. Aku akan tidur sekarang," kemudian Luna beranjak tapi genggaman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. "Ada apa?"


"Lenganmu memar, aku akan mengoleskan salep,"


Luna menggeleng. "Tidak perlu, hanya memar sedikit saja,"


"Ck, diamlah dan jangan banyak protes!!" tegas Zian seraya menatap Luna tajam. Dan akhirnya Luna pun pasrah dan membiarkan Zian melakukannya.


"Huft, baiklah. Dasar pemaksa,"


"Gadis keras kepala," Zian pun tak mau kalah. Luna mendesah berat. Sepertinya berdebat dengan Zian hanya akan memakan banyak energi saja.


.


.


.

__ADS_1


Udara malam terasa begitu sunyi, cahaya bulan terpancar dari sela-sela tirai kabut seakan melengkapi suasana malam yang begitu sepi. Terlihat seorang pemuda sedang duduk sendiri di ujung dek kapal sembari terus memandang lautan lepas. Deburan ombak dimalam itu membawa jiwanya yang hampa bersemilir dengan angin malam yang melambai-lambai di udara.


Tanpa berkedip, pria berwajah dingin itu terus menatap bulan yang tampak mengintip malu-malu di balik tirai kabut kelam. Zian bersidekap dan bersandar ke tiang kapal sembari mengamati langit malam yang sebagian tertutup awan hitam.


Zian menghisap rokok mintnya. Kepulan asap putih yang keluar dari sela-sela bibir kissablenya kemudian membumbung tinggi dan tersapu oleh angin malam.


Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan melelahkan untuknya. Dan Zian harus rela menghabiskan malamnya di tengah lautan setelah terdampar di sebuah pulau terpencil yang jauh dari pusat kota dan tak berpenghuni.


Angin malam yang berhembus kian kencang membuat mata Zian semakin lama semakin terasa berat. Pemuda itu membuang putung rokoknya yang hanya sisa setengah kemudian beranjak dari dek kapal masuk ke dalam.


Langkah kaki Zian terhenti ketika iris abu-abunya tanpa sengaja melihat Luna yang sedang meringkuk medinginan di dalam sebuah ruangan, dan satu-satunya kamar di kapal ersebut.


Kemudian Zian mendorong pintu di depannya dan melangkah masuk. Pemuda itu mendengus berat. Zian menarik selimut yang ada di bawah kaki Luna kemudian menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.


Zian berlutut di depan gadis itu berbaring dengan sebelah tangan bertumpuh pada lututnya sendiri. Sepasang mabik abu-abunya terkunci pada sosok jelita di hadapannya. Memandang wajah cantiknya dengan seksama. Sudut bibir Zian tertarik ke atas.


"Dasar gadis bodoh, kenapa berani sekali kau mencuri hatiku," jari-jari mengusap kepala Luna dengan lembut. Zian mendesah berat, kemudian ia beranjak dan pergi begitu saja.


Sang nahkoda menolehkan kepalanya saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. "Tuan, perjalanan kita masih sangat panjang. Kenapa Anda tidak tidur saja?"


"Hn, aku masih belum mengantuk. Berapa lama lagi kita bisa sampai di daratan?"


"Mungkin sekitar dua sampai tiga jam lagi,"


"Jangan coba-coba membohongi dan menjebakku jika kau tidak ingin kehilangan kepalamu," ucap Zian seraya menodongkan ujung pistolnya pada kepala pria tersebut.


Zian menyeringai tajam. "Kau fikir aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan? Putar balik kapalnya dan kembali ke jalur sebenarnya jika kau masih ingin kepalamu melekat dengan tubuhmu!!"


Keringat dingin mengucur deras dari pelipis pria berperawakan tinggi tersebut. Dia tidak tau bagaimana mungkin Zian bisa mengetahui rencananya yang sebenarnya. Dan jika dia tidak menuruti permintaan pemuda itu. Bisa-bisa nyawanya malah melayang sia-sia.


Dia akan memikirkan tentang bagaimana caranya untuk membalas Zian, tapi tidak sekarang. Yang terpenting adalah selamat dulu.


"Ba-baik, Tuan,"


Setelah hampir dua jam. Akhirnya mereka pun tiba di daratan. Zian segera membangunkan Luna dan membawanya keluar dari kapal. "Zian, ini ada di mana?" tanya Luna sedikit kebingungan.


"Kita baru saja tiba di daratan. Aku akan mencari telfon umum dan meminta bantuan, kau tetaplah di sini. Aku akan segera kembali,"


"Tidak mau!! Tempat ini sangat seram. Bagaimana kalau ada hantu yang sedang bergentayangan kemudian memakanku hidup-hidup? Zian aku tidak mau, aku ini belum.menikah apalagi merasakan malam pertama. Zian, aku ikut ya," renggek Luna sambil mengerjapkan matanya.


Zian mendengus geli, dengan gemas ia menjitak kepala Luna. "Baiklah, kau boleh ikut,"


"Yeee, kau memang yang terbaik. Ayo," Luna memeluk lengan terbuka Zian dan menariknya pergi. Sekali lagi Zian hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Luna.


.

__ADS_1


.


"EONNI!!"


Tubuh Viona terhuyung kebelakang karna pelukkan Luna. Luna dan Zian baru saja tiba di Seoul setelah di jemput oleh Reno. Dan melihat Luna baik-baik saja membuat Viona bernafas lega. "Eonni, fikir Eonni sudah kehilanganmu gadis bar-bar," ucap Viona seraya mengeratkan pelukkannya.


"Kau tidak akan pernah kehilanganku, Eonni. Karna aku akan selalu berada di sampingmu,"


"Dan Eonni tidak akan pernah memaafkanmu jika kau sampai meninggalkan, Eonni. Kau mengerti!!"


Luna melepaskan pelukkannya dan menatap Viona dengan sendu. "Aku berjanji, Eonni. Aku akan selalu berada di sisimu dan...Kruyukk..." Luna tidak melanjutkan ucapannya karna bunyi pada perutnya. "Huaaa.. Aku kelaparan, Eonni apa masih ada sisa makanan? Aku sangat-sangat lapar," renggek Luna sambil mengusap perutnya.


Viona mengangkat tangannya dan menjitak kepala Luna saking gemasnya."Dasar kau ini, semoga pria yang menjadi suamimu kelak bisa tahan dengan sikap barbarmu ini. Tinggu sebentar, Eonni akan menyiapkannya sebentar."


"Siap, Nyonya Chef,"


-


"Yak kalian, berhentilah mengikutiku. Apa kau tau kalau kau ini sudah menjadi penguntit."


Seho menghentikan langkahnya dan mengumpat kesal pada tiga pemuda yang sejak tadi mengikutinya. Pemuda-pemuda itu mengikuti Seho semenjak pria itu meninggalkan bar. Ia benar-benar merasa risih karna kelakuan ketiga pemuda bermarga Lu tersebut.


Jika saja Ia tidak terlibat perjanjian dengan Adrian, Seho pasti sudah memberi pelajaran pada ketiga pemuda itu habis-habisan dan mengatakan padanya jika Ia bukanlah wanita melainkan pria tulen. Tapi sayangnya dia tidak bisa melakukannya.


"Ayolah, Suhee Nunna. Jangan begitu, kami kan hanya ingin mengenalmu lebih dekat apa itu salah?" tanya salah satu dari ketiga pemuda itu 'Satya'


"Tentu saja salah, karna aku sudah memiliki kekasih, bukan.. bukan... Tapi calon suami." Elak Seho menyela ucapan Satya.


"Alahh, kan baru calon. Jadi itu artinya kami masih memiliki peluang untuk bisa mendapatkan cintamu, bukankah begitu?" ucap Frans tak mau kalah.


"Tapi aku tidak mau berurusanagi dengan kalian. Menyingkirlah dan janganangi jalanku!!" pinta Seho dan berlalu begitu saja.


Namun langkah Seho terhenti karna cengkraman Rio pada lengannya, sontak saja wanita jadi-jadian itu menoleh dan menatap Rio tajam. "Apa lagi?" Tanyanya.


Chu...


Kedua mata Seho membelalak seketika saat Rio menarik tengkuknya dan mendaratkan satu ciuman pada bibirnya. Merasa terancam, pria itu pun segera mendorong tubuh Rio hingga terhuyung kebelakang.


Plakkk ... !!! ...


Dan mendaratkan satu tamparan keras pada wajahnya, meninggalkan bekas merah gambaran bekas tangan Seho."Hiks,, dasar pemuda tidak memiliki sopan santun. Apa kau fikir aku ini adalah wanita murahan yang bisa kau cium seenaknya eo? Hiks,, Hikss ,, kau sudah merendahkan harga diriku sebagai seorang wanita." Ujar Seho dengan air mata buayanya.


Ia berakting seakan-akan harga dirinya telah di jatuhkan oleh Eio, tujuan utamannya adalah untuk melepaskan dirinya dari ketiga pemuda menyebalkan itu. Suleho mengusap kasar bibirnya yang telah di cium oleh Rio, dengan kesal Ia berbalik dan pergi begitu saja.


"Suhee Nona, wait!!"

__ADS_1


-


Bersambung.""


__ADS_2