Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 71) "Kanker Rahim"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


"Ugghh...."


Luna meringis sambil mencengkram perutnya yang terasa sakit. Sudah sejak lama Luna memang sering merasakan sakit pada perutnya. Tapi dia tak terlalu menghiraukannya, selama beberapa tahun rasa sakit itu tidak pernah terasa lagi, tapi akhir-akhir ini rasa sakitnya itu sering kambuh dan tak jarang membuat Luna tersiksa.


"Uugghhh... Sakit," lirih Luna sambil meremas perutnya. Peluh tampak membasahi keningnya, wajahnya terlihat pucat dan air mata mengalir lembut di sisi hidung mancungnya.


Dari tadi pagi Luna mengeluh pusing dan badannya lemas. Tubuhnya tidak menerima makanan apapun yang masuk ke dalam mulutnya. Selalu dimuntahkan. Akibatnya tubuh Luna lemas.


Selain itu, Luna juga sering mengalami kejadian-kejadian aneh, Saat ia buang air kecil air seninya bercampur darah. Dia juga sering merasakan pinggulnya kram dan berubah menjadi sakit.


Derap langkah kaki seseorang yang datang membuat Luna sedikit panik. Buru-buru wanita itu bangkit dari posisinya dan sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa sakitnya. Tepat setelah Luna berdiri, terlihat sosok Zian memasuki kamar.


"O-Oppa, kau sudah pulang? Maaf, aku tidak menyambut mu," ucap Luna penuh sesal.


Zian meletakkan tas kerja dan jasnya di atas tempat tidur kemudian menghampiri Luna yang tampak kesakitan. "Sayang, kau kenapa? Kenapa wajahmu pucat? Apa kau sakit?" Zian menatap Luna dengan cemas.


Luna menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Oppa. Mungkin efek karna datang bulan. Oya, tumben kau sudah pulang? Hari ini tidak lembur?" Luna membantu Zian membuka Vest dan dasi yang menggantung di lehernya.


"Pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak. Ibumu sangat merindukanmu, dan dia meminta supaya aku membawamu pergi menemuinya."


"Besok saja bagaimana? Aku merasa kurang enak badan. Tidak masalah bukan?" Luna menatap Zian penuh harap.


Zian mengangguk. "Kalau begitu kau istirahat saja. Aku mandi dulu." Zian mengecup singkat kening Luna dan pergi begitu saja.


Rasa sakitnya semakin lama malah semakin menjadi-jadi, dan sebisa mungkin Luna menahannya. Dia tidak ingin membuat Zian semakin mencemaskannya. Wanita itu membaringkan tubuhnya dengan posisi menyamping.


Kedua mata Luna yang sebelumnya tertutup kembali terbuka saat mendengar suara decitan pintu di buka dari luar. Terlihat sosok Zian keluar dari dalam sana hanya dengan sebuah handuk yang melingkari pinggangnya. Zian menghampiri Luna. Dia benar-benar mencemaskan keadaan wanita itu.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana kalau kita ke dokter saja? Kau sangat pucat, Luna. Aku benar-benar sangat cemas,"


"Tidak perlu, Oppa. Aku baik-baik saja, sungguh,"


"Tapi-"


"Aku hanya perlu beristirahat saja. Sungguh, aku baik-baik saja." Luna mencoba meyakinkan pada Zian jika dirinya baik-baik saja.


"Kau yakin?" Luna mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kau istirahat saja. Aku mau memeriksa beberapa Email yang masuk," sekali lagi Luna mengangguk.


Zian mengecup kening Luna dan menempelkan bibirnya lama-lama di sana. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Kemudian Zian beranjak dari hadapan Luna dan pergi begitu saja.


-


"Bagaimana, Dokter? Sebenarnya saya sakit apa? Bukan penyakit yang berbahaya bukan?" tanya Luna memastikan. Luna harap-harap cemas menunggu jawaban wanita dihadapannya.


Dokter itu mendesah panjang. "Maafkan saya harus mengatakannya pada Anda, Nona. Sebagai seorang orang wanita pasti Anda sangat menginginkan kehadiran seorang anak, tetapi mungkin hal itu tidak dapat terjadi, Nona." Ujar dokter itu sedih.


Luna memicingkan matanya. "Memangnya kenapa, Dokter? Apa yang terjadi pada saya? Katakan Dokter, jangan membuat saya bingung," balas Luna. Sungguh ia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.


"A..apa, Dokter? Kanker leher rahim?" Luna mengulangi kata-kata dokter Kang. Dokter itu mengangguk pelan.


Luna menggeleng. "Tidak mungkin! Tapi kenapa saya menunjukkan gejala-gejala seperti wanita yang sedang hamil?" tanya Luna kebingungan.


Sungguh, ia sangat panik saat ini. Bagaimana tidak, ternyata dirinya mengidap penyakit seperti ini. Dan yang Luna tahu, kanker adalah penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan. Harapan hidup pengidap penyakit kanker sangat kecil.


"Apakah Anda berfikir jika Anda sedang hamil karena lemas dan muntah-muntah? Sebenarnya itu bukan gejala, tetapi bentuk penolakan tubuh Anda terhadap sel-sel kanker yang berkembang di dalam rahim. Hal-hal seperti itu biasanya sudah terlihat pada stadium awal, tetapi mungkin selama ini Anda tidak menganggapnya serius, sehingga pada stadium ini baru terdeteksi jika Anda mengidap penyakit kanker rahim ini. Jalan satu-satunya adalah operasi pengangkatan rahim, tetapi itu beresiko tinggi, yang artinya Anda tidak akan dapat mengandung selamanya." Tutur dokter Kang panjang lebar.


Luna terpaku. Dunianya serasa runtuh, impiannya untuk menjadi seorang Ibu harus kandas karena penyakit yang sedang dia derita. Saat ini Luna tengah berada di rumah sakit untuk memeriksakan perutnya yang sering sakit, dan ia divonis menderita kanker rahim.


Kedua kaki Luna serasa lemas seperti kehilangan seluruh sel-selnya. Jangankan untuk berdiri dengan tegap, untuk menopang berat tubuhnya sendiri pun kakinya tidak mampu. Vonis yang baru saja dia terima menghancurkan hati dan batin Luna. Jika rahaminya sampai diangkat, itu artinya dia tidak akan pernah bisa hamil dan memiliki anak. Dirinya... Mandul.


Luna tidak tau bagaimana caranya harus memberi tau Zian mengenai berita duka ini. Dan yang menjadi pertanyaannya. Apakah dia mampu memberi tau Zian dan menghancurkan impiannya untuk menjadi seorang ayah? Luna menggeleng. Dia tidak sanggup, Luna tidak sanggup jika harus melihat Zian sampai hancur dan kecewa bila dia tau jika dirinya tidak mungkin bisa memberikannya seorang anak yang begitu Zian impikan.

__ADS_1


Luna sedikit terlonjak karena dering pada ponselnya. Nama Zian terlihat menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Luna mendesah berat. Alih-alih menjawabnya, Luna malah mematikan ponselnya.


Wanita itu bangkit dari posisi duduknya kemudian pergi begitu saja. Luna butuh waktu sendiri untuk saat ini, dan pergi menjauh dari hidup Zian untuk sementara waktu mungkin adalah pilihan yang paling tepat untuk saat ini


-


"Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak-"


Zian memutuskan sambungan telfonnya dan mengeram marah. Sudah kesekian kalinya dia mencoba menghubungi Luna tapi tak ada satupun panggilannya yang diangkat oleh Luna, dan sekarang ponselnya malah tidak aktif.


Zian tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Luna. Sejak semalam dia bertingkah aneh dan pagi ini juga sama. Luna seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


Memiliki firasat buruk. Zian menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja kerjanya dan bergegas meninggalkan ruangannya. Bahkan dia tak menghiraukan pertanyaan Reno ketika mereka berpapasan di depan pintu. Pikiran Zian hanya tertuju pada Luna dan Luna. Entah kenapa hati kecilnya mendorongnya untuk segera pergi mencari Luna.


Mobil sport hitam yang dikendarai oleh Zian melaju tenang pada jalanan yang tampak lengang sambil sesekali menengok ke kanan dan ke kiri. Sudah hampir satu jam Zian berkeliling kota namun sosok Luna tak juga bisa dia temukan juga, sampai akhirnya iris abu-abunya menangkap siluet seorang wanita yang sedang menangis tersedu-sedu di taman kota yang letaknya tak jauh dari Rumah Sakit Seoul.


Zian segera menepikan mobilnya kemudian ia bergegas turun dan menghampiri Luna. Isakan Luna semakin jelas terdengar di telinga Zian ketika jaraknya dan Luna sudah semakin dekat. Zian mengurungkan niatnya untuk menegur Luna ketika iris matanya tanya sengaja melihat sebuah kertas yang berada di dalam genggaman Luna.


Jantung Zian seolah berhenti berdetak detik itu juga, dan nafasnya memburu tak beraturan ketika sepasang netra nya membaca rentetan huruf yang tertera pada kertas yang di pegang oleh Luna.


Tubuh Zian sedikit terhuyung, kedua matanya meredup berkaca-kaca, hatinya remuk redam dan serasa hancur berkeping-keping mengetahui satu fakta besar yang serasa menampar perasaannya. Luna... Di vonis menderita Kanker leher rahim stadium 3.


Zian mencengkram dada kirinya yang terasa sesak ketika indera pendengarannya mendengar Isakan pilu yang keluar dari sela-sela bibir Luna. Zian tidak tau bagaimana hancurnya perasaan Luna saat ini. Impiannya untuk menjadi seorang ibu pupus sudah, padahal Luna begitu menginginkannya. Namun bukan itu yang menampar perasaan Zian. Melainkan rasa takut akan kehilangan Luna untuk selamanya, itulah yang sangat Zian takutkan."


"Luna..."


DEGG...


Luna terlonjak kaget mendengar suara yang begitu familiar masuk dan berkaur di dalam telinganya. Sontak saja Luna menoleh dan...


"OPPA!!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


...Beberapa hari ini pembaca menurun. Like komen juga sama 😭😭😭 Bantu dukung supaya karya ini tetap berjalan 🙏🙏 Jangan pelit-pelit buat kasih like dan komennya...


__ADS_2