
Duagg..
"Aaahhh,"
Viona meringis sambil memegangi lututnya yang sedikit memar karna tidak sengaja terpentik sudut kursi. Tiba-tiba pandangan Viona mengabur sehingga dia tidak bisa melihat apa yang ada didepannya dengan jelas.
Semakin hari penglihatan Viona semakin memburuk dan itu membuatnya sangat takut.
Viona duduk atas tempat tidurnya sambil memandangi bingkai foto kayu di depannya. Terpampang fotonya bersama Nathan yang tengah berpelukan dengan senyum mengembang saling memandangi satu sama lain.
Ruangan begitu gelap saat itu hanya lampu tidur yang menyala menambah kesan dark mendalam malam itu. Hati Viona senakin sesak dan tiba-tiba ia terisak sedih melihat bingkai foto yang semakin kabur dalam penglihatannya. Ia menghela nafas panjang menyandarkan punggungnya pada sandaran tenpat tidurnya.
Viona menutup matanya selama beberapa saat dan kembali membukanya lagi, penglihatannya terlihat jelas tapi beberapa detik kemudian kembali memburam seperti ditutupi embun. Viona memegangi kepalanya, meremas kesal rambutnya. Terlihat ekspresi kekesalan pada ekspresi wajahnya. Ia ketakutan, jantungnya berpacuh semakin cepat setiap memikirkan kenangannya bersama Nathan dan senyum Nathan saat menatap matanya.
Memori-memori kebahagian dalam ingatannya semakin jelas di kepalanya. Terutama memori saat ia dan Nathan mengarungi lautan bersama disebuah pesiar yang menjadi awal mulah benih-benih cinta tumbuh dihati mereka berdua. Viona terisak dalam diam.
Airmatanya semakin tak tertahankan, hatinya semakin remuk kala bayangan wajah Nathan terus berkutat di hatinya. Ia bahkan tak sadar menjatuhkan bingkai foto ditangannya. Otot tangannya begitu lemah ketika ketakutan itu hadir.
Viona mendongakkan menatap keluar jendela. Langit terlihat gelap karna tertutup gumpalan awan hitam. Air mata jelas Ia rasakan membasahi wajah cantiknya yang tengah basah pilu karena banjir airmata. Ia berteriak keras penuh penyesalan dan kebingungan.
Viona menjatuhkan tubuhnya pada ubin lantai kamarnya yang terasa dingin dan keras. Tangannya mengepal kuat, pertanda kesakitan itu semakin meliputi hatinya
Dan sementara itu. Nathan yang baru saja pulang dari bekerja tampak kebingungan melihat kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Kemudian Nathan menghidupkan penerangan di sana dan.. "Viona," Nathan berseru kemudian menghanpiri sang istri yang sedang terisak pilu dilantai.
"Oppa, huaaa..." Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karna terjangan Viona. "Hiks, aku takut Oppa. Aku benar-benar takut," lirih Viona terisak.
"Sayang, sebenarnya ada apa denganmu? Memangnya kau takut kenapa? Dan kenapa penerangan dalam kamar ini kau matikan?" tanya Nathan kebingungan.
Viona mengangkat wajahnya dan dia tidak bisa melihat wajah Nathan dengan jelas. Dan hal itu membuat Viona semakin hancur. Dan dalam hatinya Viona terus memohon pada Tuhan agar Tuhan memperjelas penglihatannya. "Ya Tuhan, aku mohon jangan hari ini aku mohon," lirih Viona membatin.
Meskipun ia sudah berfirasat jika penglihatannya akan segera hilang. Tapi setidaknya dia masih bisa melihat wajah Nathan untuk yangnterakhir kalinya secara jelas.
Wajah Nathan semakin mulai jelas dalam penglihatannya. Ia tersenyum puas karna setidaknya Tuhan mendengar permintaannya. Viona tersenyum dan kembali berhambur kedalam pelukkan Nathan. "Aku takut karna aku bermimpi buruk," dustanya. Nathan mendesah berat. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Viona.
__ADS_1
Nathan meletakkan dagunya pada kepala coklat sang istri. "Aku fikir kau menangis dan ketakutan karna apa. Ternyata hanya karna mimpi buruk. Setelah ini tidurlah lagi. Aku akan menemanimu di sini," bisik Nathan sembari mengecup kening Viona. Nathan tau alasan Viona menangis bukan karna hal itu, Nathan tau jika Viona berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.
Nathan melepaskan pelukkannya dan tersenyum tipis. Jari-jari besarnya menghapus sisa air mata dipipi Viona. "Kau terlihat jelek saat menangis. Jadi tersenyumlah," pinta Nathan yang kemudian mendapatkan hadiah tinjuan dari Viona.
"Dasar menyebalkan. Sebaiknya sekarang Oppa mandi sana, lagipula mana mungkin aku bisa tidur lagi setelah terbangun," wanita itu mencerutkan bibirnya.
"Baiklah, terserah kau saja. Kalau begitu aku akan mandi sekarang dan bisakah kau menyiapkan pakaian untukku?"
"Tentu," seru Viona bersemangat. Viona sangat merindukan tribal (Tatto) yang ada dilengan Nathan, dan sudah pasti Viona akan menyiapkan kemeja tanpa lengan untuknya. "Aku rasa singket dan long vest ini pilihan yang terbaik," dan kemudiab Viona meletakkan kemeja dan singket itu diatas tempat tidur, tak lupa jeans panjang yang senada dengan warna long vestnya, hitam.
Kemudian Viona beranjak dan pergi ke balkon kamarnya untuk menikmati angin malam. Meskipun langit malam ini tampak muram karna tertutup awan hitam, tapi setidaknya masih ada satu dua bintang yang bisa tertangkap oleh netranya.
.
.
Angin malam berhembus ke setiap penjuru bagian bumi yang telah di singgahi hitam pekatnya malam. Matahari tenggelam pada perpaduannya, Sang dewi malam pun tak menampakkan cahayanya apalagi ribuan bintang yang biasanya selalu bertaburan di sisiannya.
Viona memejamkan matanya untuk menyembunyikan netra hazel miliknya.
Viona membekap mulutnya untuk meredam isakannya. Dia tidak ingin jika suara tangisnya sampai ketelinga Nathan yang kemudian memberinya banyak pertanyaan. Sebelum Nathan selesai mandi dan mengomelinya karna berdiri balkon terlalu lama. Viona memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Sial, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing sekali," gerutu Viona sambil mencengkram kepalanya.
Viona merasakan pandangannya mulai mengabur dan berkunang-kunang, apa yang dilihatnya serasa menjadi dua. Semakin lama Viona merasakan kesadarannya semakin menipis sampai akhirnya..
Brugg...
Viona jatuh tak sadarkan diri dilantai kamarnya. Sementara itu, Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung membelakakkan mata kanannya melihat Viona terkulai tak sadarkan diri dilantai . Tanpa membuang waktu. Nathan segera mengangkat tubuh Viona yang dalam keadaan tak berdaya.
"Viona, bangun. Sayang, buka matamu. Viona, Viona," seru Nathan namun tidak ada respon. Viona tetap tak bereaksi sama sekali.
Tak ingin terjadi apa-apa pada istrinya, Nathan pun langsung menghubungi kakak tertuanya yakni Senna. Karna hanya dia Dokter yang bisa dia percaya selain Viona pastinya.
__ADS_1
-
Sunny dan Kirana mulai curiga dengan gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Jordy sejak kematian Viona. Pria itu bersikap seperti sedang menyembunyikan sesustu. Bahkan tak jarang Kirana dan Sunny melihat ia bertingkah aneh seperti di hantui rasa ketakutan yang sangat besar.
Ingin mengetahui apa yang terjadi pada namja itu, Sunny dan Kirana memutuskan untuk mengorek informasi dari Jordy. Namun harus dengan cara sedikit licik, yakni membuat pria itu mabuk terlebih dahulu. Karna Kirana dan Sunny tau jika Ia bertanya secara langsung pasti Jordy tidak akan memberikan jawaban apa pun.
Malam ini kedua dokter cantik itu sengaja mengajak Jordy pergi ke club malam yang ada dijantung kota. Dan tentu saja hal itu bukan tanpa alasan, Sunny dan Kirana ingin rencananya berjalan dengan mulus tanpa ada kegagalan sedikit pun.
Kedua wanita itu menyeringai tipis saat melihat Jordy masih menunggunya di salah satu ruangan yang ada di dalam club itu, Sunny dan Kirana mulai mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Jordy dengan dua buah gelas berisi cinder di kedua tangannya.
"Kelihatannya kau sangat stres, minumlah dulu. Ini akan membuat fikiranmu lebih tenang." Sunny menyodorkan salah satu gelas di tangannya pada Jordy. Tanpa ragu dan curiga sedikit pun, Jordy meraih gelas itu dari tangan Sunny kemudian meminumnya.
Tak sampai 1 menit obat yang Sunny campur kedalam minuman itu mulai bereaksi, Jordy mulai merasakan pusing pada kepalanya. Jordy mulai mabuk.
"Jord, kau baik-baik saja?" Selidik Kirana sambil mengguncang lengan Jordy.
Jordy menolehkan kepalanya dan tersenyum, pria itu mulai teler dan berada di luar kesadarannya akibat minuman yang di berikan Sunny padanya.
"Dia terus menghantuiku." Sunny dan Kirana mengerutkan dahinya mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Jordy, pria itu mulai mengungkapkan apa yang selama ini ingin Sunny dan Kirana ketahui.
"Dia? Siapa? Dan kenapa dia menghantuim?" Kirana mulai melemparkan pertanyaan-pertanyaan pada Jordy, jantung kedua perempuan cantik itu mulai berdebar tidak karuan menantikan setiap kata yang akan terlontar dari bibir Jordy.
"Viona, aku berdosa padanya Kiran, Sunnt. Tidak seharusnya aku termakan ucapan Shion dan terpengaruh olehnya, jika saja saat itu aku tidak menabraknya dan menolongnya saat Shion akan melemparkannya kesungai Han pasti detik ini Viona masih ada di antara kita."
Jlederrrrr...
Bagaikan tersambar petir di siang hari, Sunny dan Kirana terkejut bukan main. Rasanya mereka tidak percaya setelah mendengar pengakuan sahabat lamamya tersebut. Kini Sunny dan Kirana tau apa yang membuat pria itu begitu gelisah dan sering terlihat ketakutan. Itu semua karna rasa bersalahnya pada Viona.
Sunny dan Kirana menatap Jordy dengan mata berkilat tajam. Mereka masih benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Kenapa? Kenapa kau harus membunuhnya? Apa salah dia padamu?" Kirana menarik pakaian Jordy dan menatapnya tajam.
"Hikh, aku sakit hati padanya, dia menolakku. Hikh, dan lebih memilih si cacat itu sebagai suaminya."
Sunny yang dikuasai emosi langsung melayangkan tinjunya pada wajah Jordy hingga pria itu terhempas kelantai. Beruntung mereka berada di ruang VIV sehingga tidak ada yang melihat keributan yang wanita itu ciptakan. "Dasar pembunuh. Aku tidak akan memaafkanmu," teriak Kirana dan melayangkan tinjunya pada perut Jordy. Kedua wanita cantik itu menghajar Jordy habis-habisan, dan setelah dia tidak bersaya. Mereka meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
-
Bersambung.