
Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
Luna menghentikan langkahnya saat dia merasa jika seseorang tengah mengikutinya. Wanita itu menenggok kebelakang namun tidak mendapati siapa pun selain beberapa pejalan kaki yang berjalan satu arah dengannya. Luna tak mau ambil pusing dan mengangkat bahunya acuh.
Wanita itu melanjutkan langkahnya. Tapi baru beberapa langkah saja dia berjalan, sebuah van hitam yang di tumpangi empat orang tiba-tiba berhenti dan menghalangi jalannya. "OMO?" wanita itu memekik kaget saat tiga dari keempat pria dalam van itu tiba-tiba turun lalu menyeretnya masuk ke dalam dengan paksa.
"Yakk!!! Apa-apaan kalian ini? Lepaskan aku, bodoh!!" amuk Luna pada tiga orang tersebut. "Ahhh!!" wanita itu meringis ngilu sambil memegangi bahu kirinya yang tidak sengaja terpentok badan mobil.
"Yakk!! Apa kalian semua sudah bosan hidup ya?" Teriaknya marah.
Iris matanya menatap kedua orang di hadapannya dengan tajam. "Nona, jangan berteriak seperti itu. Kau membuat kami ketakutan, jika bukan karna terpaksa, kami juga tidak mungkin menculikmu. Karna jika kami sampai gagal membawamu pada boss, bukan hanya kami yang terkena masalah tapi bisa-bisa nyawa kami bertiga melayang di tangannya." Jelas salah satu dari ke keempat orang tersebut.
Luna memicingkan matanya dan menatap keempatnya secara bergantian. Mereka terlihat seperti pria-pria bodoh yang mudah sekali di peralat oleh orang lain, dan tampang mereka sama sekali tidak meyakinkan jika mereka adalah seorang penjahat, mereka terlalu polos untuk di sebut penjahat.
"Justru kalian-lah yang sedang dalam masalah besar karna sudah menculikku." Luna kembali menatap mereka satu persatu seraya menganggukkan kepala.
"Ma-maksudmu apa, Nona?"
Luna menarik nafas panjang dan menghelanya dengan kasar. "Rupanya kalian masih belum tau siapa aku ya. Aku memiliki seorang suami dan kakak ipar yang mirip Iblis, jika mereka berdua sedang marah.. bukan hanya barang saja yang bisa melayang tapi nyawa juga. Selain kejam dan tidak berhati, mereka juga sangat menyeramkan, dia tidak akan segan-segan menembak kepala kalian dan merajam tubuh kalian hingga menjadi potongan-potongan kecil agar lebih mudah di berikan pada singa-singa peliharaannya jika dia sampai tau kalian telah menculikku."
"No-nona, jangan menakut-nakuti kami." Ucap pria tambun berkepala plontos.
"Memangnya siapa yang menakut-nakuti kalian? Aku mengatakan yang sebenarnya dan aku memiliki buktinya."
Luna mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah video mengenai pembantaian yang Zian dan Nathan lakukan pada orang-orang yang telah membuat kerusuhan dikediamannya pada malam itu. Luna menyeringai tipis.
"Yang pakai pakaian serba hitam itu suamiku, namanya Zian Qin. Sedangkan yang satu lagi itu kakak iparku, namanya Nathan Xi, aku yakin kalian pasti sangat familiar dengan nama-nama itu terutama kakak iparku. Dia adalah pemimpin organisasi Phoenix yang tidak bisa diragukan lagi kekejamannya. Lihat saja aksi mereka berdua saat menghabisi orang-orang itu, bisa saja nasib kalian akan sama seperti mereka dan bahkan lebih parah karna berani menculik istri dan adik iparnya."
"Aaahhh." Salah satu dari ketiga pria di hadapannya itu menjerit histeris sambil memegangi kepalanya masing-masing membayangkan jika peluru dan pedang yang ada ditangan mereka sampai menembus dan menghancurkan kepala mereka.
"Kkkyyyaa!!! Kenapa suami dan kakak iparmu begitu mengerikan, Nona." Orang itu mengembalikan ponsel milik Luna karna tidak kuat melihat lebih lama lagi mengenai kesadisan Zian dan Nathan.
"A-apa yang harus kami lakukan supaya kami bisa tetap hidup? Nona, posisi kami saat ini benar-benar sulit. Kami tidak ingin mati konyol di tangan boss ataupun di tangan suamimu itu."
"Huaaa, aku masih perjaka dan belum menikah. Lalu jika aku mati sekarang bagaimana aku bisa merasakan lubang wanita. Aku juga ingin menikah dan hidup bahagia, huaaa." Baru kali ini Luna melihat seorang penjahat menangis karna ketakutan. Wanita itu terkekeh dalam hati.
"Nona, jangan diam saja, katakan kami harus bagaimana." Seru sang sopir setelah cukup lama bungkam.
Luna menyeringai misterius.
"Ikuti permainanku, maka kalian bertiga akan aman."
\=\=\=\=oOo\=\=\=\=
Drett... Drettt... Drett...
Perhatian Zian teralihkan dari tumpukan dokumen yang ada di depannya karna getaran pada ponselnya. Nama Luna tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kau-"
"Oppa, selamatkan aku. Seseorang menculik dan menyekapku."
Sontak kedua mata Zian membelalak."Apa kau bilang? Lalu di mana kau sekarang?" tanya Zian. Dari nada bicaranya terdengar jelas jika dia sedang panik.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, cepat selamatkan aku sebelum..."
DOOORRRR...!'
__ADS_1
"...Aaahhh, nyawaku melayang."
"Tenang dan jangan panik, aku akan segera menyelamatkanmu. Di mana mereka menyekapmu? Aku akan segera datang ke sana."
"Bangunan tua belakang Lotte World."
"Oke, bertahan dan jangan panik."
Zian memutuskan sambungan telfonnya. Ia kembali ke dalam ruangam dengan langkah tergesa-gesa. Zian menghampiri Reno diruangannya dan menarik pria itu untuk ikut bersamanya. Awalnya Reno ingin melayangkan protesnya. Tapi tidak jadi dia lakukan setelah Zian memberi taunya apa yang saat ini tengah menimpa Luna.
"Apa?" Mata Reno sontak membelalak."Kau serius?" Zian mengangguk.
"Tapi bagaimana ceritanya perempuan barbar seperti dia sampai di culik? Zoan, bagaimana kronologinya?" Reno yang merasa penasaran langsung bertanya pada Zian.
Zian pun segera menceritakan detailnya pada Reno mengenai apa yang menimpa Luna. "Kita tidak bisa buang-buang waktu lagi, sebaiknya kita segera bergegas. Kita gunakan mobilku saja. Hubungi, Adrian, Simon dan Seho. Kita akan membutuhkan bantuan mereka,"
"Akan ku hubungi sekarang,"
Mobil hitam milik Rsno melaju kencang di tengah jalanan kota yang lumayan legang. Kemudia di ambil alih oleh Zian karna dia tau bila Reno yang mengemudikan mobil ini makan akan banyak memakan waktu.
Zian tidak ingin hal buruk sampai menimpa Luna, ia pun tidak menghiraukan berbagai sumpah serapah yang Reno tunjukkan padanya. Tujuannya hanyalah tiba di lokasi dengan segera agar ia bisa lebih cepat menyelamatkan Shea.
Ckitttt!!!
Zian membanting setirnya ke kanan hingga terdengar gesekan ban dengan aspal yang cukup keras. Tubuh Reno pun semakin menegang karna kegilaan Zian ketika mengemudi. Membiarkan Zian mengemudikan mobilnya sepertinya bukanlah pilihan yang tepat.
"Dasar, Ai-Ken gila, tidak waras, jika kau ingin mati jangan ajak-ajak untuk mati berjamaah bersamamu. Huaaaa... Ibu.." Reno benar-benar histeris, ia ketakutan setengah mati karna cara Zian mengemudikan mobil yang sangat ugal-ugalan.
"Ck, diamlah. Kita tidak memiliki banyak waktu, aku tidak bisa membiarkan Luna terlalu lama menungguku." Zian melirik tajam pada Reno yang terlihat menelan ludah.
Sementara di dalam hatinya Reno tak henti-hentinya berkomat-kamit berdoa pada Tuhan supaya membiarkannya tetap hidup. "Ya Tuhan, aku adalah pria manis yang baik hati. Jika kau ingin mengambil nyawa kami sebaiknya jangan nyawaku tapi nyawa mereka berdua saja. Tubuhku rasanya pahit dan nyawanya juga pasti tidak enak. Lindungi aku ya Tuhan."
Sementara itu. Di dalam sebuah ruangan yang tidak bisa di katakan layak. Tubuh Jessica terikat pada sebuah kursi tua dengan beberapa pria yang menjaganya, tiga di antaranya adalah tiga pria yang tadi menculiknya.
Salah satu dari ketiga pria itu menghampiri Luna dan berbisik padanya."Nona, di mana suamimu itu? Kenapa dia belum datang juga?" Bisiknya
"Ck, tenanglah. Mereka pasti dalam perjalanan, jadi diamlah dan ikuti saja permainanku," bisik Luna, laki-laki itu mengangguk.
"Oke nonna."
"DOORRR..!!"
Suara tembakkan dan kegaduhan yang terjadi di luar ruangan membuat senyum di bibir Luna terkembang lebar. Dengan lantang dan senyum terkembang lebar, gadis itu berseru.
"HAHAHHAHA!! LIHATLAH, DIA SUDAH DATANG, SEBENTAR LAGI KALIAN SEMUA AKAN MAMPUS." Luna memberi kode pada pria botak di sampingnya agar menampar dirinya. Pria itu menggeleng
"Lakukan sekarang." Geramnya dengan nada rendah.
"Ta-tapi nona? Apa kau ingin yang lain sampai mencurigaimu?" Laki-laki itu menggeleng. Laki-laki itu menutup matanya dan menghela nafas panjang
"DI-DIAMLAH, KAU TERLALU BERISIK." serunya dan menampar pipi Luna serta pahanya sendiri supaya suara kerasnya meyakinkan yang lainnya. Laki-laki itu tentu tidak bersungguh-sungguh ketika menampar Luna.
BRAKKK!!!
Dobrakkan keras pada pintu mengalihkan perhatian semua orang di dalam ruangan itu, semua siaga melihat kedatangan seseorang. Zian berdiri di ambang pintu dengan dua pistol di tangannya.
"OPPA." Seru Luna dengan lantang.
Pandangan pria itu bergulir dan mendapati tubuh Luna yang sedang terikat pada sebuah kursi tua. Terlihat empat pria berusaha melepaskan ikatan pada tubuh Luna dan segera membawanya pergi dari sana.
"Noona, ini kesempatan untuk kita melarikan diri."
__ADS_1
"Jangan takut, kami pasti akan melindungimu."
Zian segera menghalangi mereka dan menarik Luna untuk bersembunyi di belakang punggungnya. Salah satu senjatanya ia acungkan pada ketiga pria di hadapannya secara bergantian. "Oppa, Turunkan senjatamu, kau membuat mereka ketakutan. Aku bisa menghubungimu berkat bantuan dari mereka."
Zian memicingkan matanya. "Kau yakin?" Luna mengangguk.
"Be-benar, Tuan. Jangan bunuh kami, kami memang yang sudah menculik istrimu, tapi itu bukan keinginan kami. Kami di ancam oleh boss. Jika kami berempat tidak mau melakkannya, maka sosis kami akan di potong. Huaaa, jangan membunuh kami." Mohon keempat pria itu sambil menangis histeris.
Zian menoleh pada Luna. Wanita itu mengangguk. "Apa mereka benar-benar bisa dipercaya?" Zian menatap Luna penuh selidik.
"Aku berani menjaminnya, Oppa,"
"Kalau begitu segera tinggalkan tempat ini. Untuk kalian, pergilah bersama istriku dan lindungi dia,"
"Baik ,Boss,"
"Sial, jadi mereka berempat berhianat? Kejar mereka dan jangan sampai lolos."
"Tidak semudah itu." Sahut seseorang dari arah pintu. Simon datang bersama Adrian dan Seho. Sementara Reno tetap bertahan di dalam mobil. Dia yang dasarnya memang tidak pandai berkelahi memilih untuk tidak keluar dan memantau keadaan dari dalam mobil.
Ponsel dalam saku celana Zian tiba-tiba berdering. Dan tanpa membuang waktu, dia segera menerima panggilan itu.
'Zian, aku melihat seorang pria setengah baya baru saja meninggalkan gedung ini melalui pintu samping. Sepertinya memang dia dalang di balik penculikan Luna.'
Zian memicingkan matanya. "Pria setengah baya?" Zian bergumam dalam hati. "Hn. Aku mengerti, Luna sedang berjalan kearahmu. Jangan sakiti apalagi melukai empat pria yang bersamanya. Aku akan mengejar orang itu." Zian memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
Zian melihat sebuah van hitam baru saja meninggalkan area gedung. Pria itu menyipitkan matanya lalu membidikkan pistolnya pada bagian belakang ban mobil van itu. Mobil itu pun langsung hilang kendali dan menabrak pohon. Dua orang keluar dari van itu dan salah satunya adalah pria setengah baya yang tak Zian kenal sama sekali.
Melihat keberadaan Zian membuat mata pria itu membelalak. Tak ingin mati konyol di tangan pria itu. Ia segera melarikan diri dengan taxi, sementara langsung di hadang oleh anak buahnya
"Mnyingkir dari jalanku." Geram Zian pada dua pria di hadapannya.
"Kami tidak akan membiarkanmu mengejar, Tuan."
Zian menyeringai tajam. "Jadi kalian benar-benar sudah bosan hidup, ehh? Baiklah aku kabulkan keinginan kalian." Zian menatap sinis dua pria di hadapannya. Tanpa ampun dia menembaki mereka hingga kedua orang itu meregang nyawa di tempat.
Kedua tangannya terkepal kuat. "Siapa pun dirimu, kali ini kau beruntung karna bisa lolos dariku. Tapi lihat saja, selanjutnya tidak akan ku biarkan kau lolos lagi." Ujar Zian menggumam.
"Zian, di mana bajingan itu? Sini, biar aku yang menghajarnya."
Zian mendecih dan menatap Reno sinis. Tidak pernah berubah, selalu datang setiap kali musuh telah pergi. "Kau terlambat, bajingan itu berhasil melarikan diri." Jawab Zian dan pergi begitu saja .
"APA? MELARIKAN DIRI? DASAR PENGECUT, AWAS SAJA DIA NANTI. KALAU KETEMU AKU UBAH JADI DAGING GILING." teriak Reno berapi-api.
Mengabaikan Reno yang heboh sendiri. Ketiga temannya bergegas mengejar Zian dan menghampiri Luna yang sudah ada di mobil dengan empat pria yang telah membantunya.
"Luna, kau tidak apa-apa? Apa mereka melukaimu?" Luna menggeleng, menyakinkan pada Zian jika dirinya baik-baik saja.
Lalu pandangan Zian bergulir pada empat pria yang terlihat menundukkan wajahnya. Mereka tidak berani membalas tatapan mematikan Zian.
"Mulai hari ini kalian berempat bebas. Jangan kembali lagi pada pekerjaan kalian. Kembali pada keluarga kalian dan hiduplah dengan tenang. Dan gunakan uang-uang ini untuk modal usaha. Uang-uang ini sebagai ucapan terimakasih karna sudah melindungi istriku," ujar Zian.
"Terimakasih, Tuan. Kami tidak akan melupakan hari ini," ucap mereka berempar dengan kompak.
Zian menggenggam tangan Luna. "Ayo pulang." Luna mengangguk.
Keduanya segera masuk ke dalam mobil milik Reno. Kali ini Reno tidak mengijinkan Zian untuk mengemudi lagi. Ia tidak ingin mati konyol karna ulah pria bermarga Qin tersebut.
-
Bersambung.
__ADS_1