Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 92) "Akhirnya Kau Bangun Juga"


__ADS_3

Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ETERNAL LOVE (CINTA TERLARANG IBLIS DAN PUTRI LANGIT) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗


-


Viona menatap Luna dengan sendu. Sudah satu bulan namun masih belum ada tanda-tanda jika wanita itu akan segera bangun dan kembali ke sisi mereka yang menyayanginya.


"Apa mimpimu indah? Seberapa indah sampai-sampai kau masih tidak mau bangun? Kau ada dimana, Luna? Apakah ada kedamaian di sana? Seberapa damai hingga kau tak juga kembali pada kami? Apa kau tak ingin kembali memelukku? Aku merindukanmu, adikku sayang. Sangat-sangat merindukanmu." Kata Viona sambil membelai rambut panjang Luna dengan lembut. Air mata Viona jatuh tanpa mampu dia cegah. Viona menangis tanpa suara.


Ia begitu merindukan Luna, ia ingin supaya Luna segera bangun agar ketakutannya selama satu bulan ini berhenti. Viona sangat takut kehilangan adiknya itu. Viona takut akan kehilangan adik satu-satunya yang selalu ia impikan selama ini lebih dari impiannya sendiri. Dan air mata yang mengalir menuruni pipinya menjadi saksi bisu betapa ia sangat menyayangi Luna.


Nathan yang juga berada di ruangan itu tak dapat berkata apapun. Kemudian Nathan merengkuh Viona ke dalam pelukannya, berharap agar pelukannya itu bisa membuat Vioba kuat menghadapi semua ini. Nathan begitu tau sebesar apa kasih sayang Viona pada Luna.


Viona membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya, Isakannya yang pilu membuat dada Nathan berdenyut nyeri. Kemudian dia menatap sendu kearah Luna. Nathan tersentak melihat air bening mengalir di pipi putih Luna yang tampak pucat dan masih tak membuka mata.


"Sayang." Panggil Nathan. Viona mengangkat wajahnya dan menatap Luna. Ia terbelalak kaget mendapati adiknya menangis. Segera di hapusnya air mata yang semakin deras itu dengan perlahan.


Viona tersenyum sendu. "Aku tau kau mendengar. Berjuanglah untuk kembali, kami akan menunggumu. Zian juga sedang menunggu. Aku tau kau kuat adikku, untuk itu segeralah kembali, agar aku dapat memelukmu lagi." Ucap Viona menghapus air mata Luna dan sedikit tersenyum.


-


"APA!! BAIKLAH AKU AKAN SEGERA KE SANA!!"


Zian menyambar kunci mobil dan long vestnya yang tergantung di belakang pintu yang kemudian dia pakai sebagai luaran singlet abu-abunya. Zian baru saja mendapatkan kabar mengejutkan dari Viona. Dan untuk itu dia menjadi terburu-buru.


Zian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobil Yang Zian kemudikan terlihat menyalip beberapa kendaraan di depannya, dan tak jarang mobil itu nyaris bertabrakan dengan mobil lain sehingga beberapa kali Zian mendapatkan amukan dari mengendara lain. Namun dia tidak peduli, karena yang terpenting sekarang adalah dia bisa segera tiba di rumah sakit.


"Sial!!"


Entah berapa kali umpatan tajam terlontar dari bibirnya saat tanpa sengaja Ia hampir menabrak mobil lain, fikirannya yang terlalu kacau. Membuatnya menjadi tidak fokus, dan semua ini karna kabar yang baru saja dia terima. Tangan besarnya mencengkram kuat pada setir mobilnya, hati dan perasaannya kacau.


Kedua mata Zian membelalak melihat ada seorang pejalan kaki yang hendak menyeberang ke sisi jalan.


Ckitttt...

__ADS_1


Brakkk...


Demi menghindari hal yang tidak diinginkan, dengan cepat Zian membanting setirnya ke kanan. Membuat mobilnya menabrak pohon yang berada di sisi jalan, seketika asap mengepul dari bagian depan mobil.


Dengan cepat pria itu keluar dari dalam mobilnya, dan dengan langkah sedikit sempoyongan dan tangan kanannya memegangi keningnya yang terluka akibat terbentur setir mobilnya. Darah tampak mengalir melalui sela-sela jarinya dan membasahi tangan kanannya. Zian segera menghentikan Taxi. Bagaimana pun juga dia harus segera tiba di rumah sakit.


.


.


BRAKK...!!


"LUNA!!"


Dobrakan keras pada pintu dan pekikan itu langsung menyita perhatian semua orang di dalam ruangan yang di dominasi warna putih tersebut. Terlihat sosok Luna yang sudah sadar dari komanya tengah duduk dan dan menatap ke arah Zian dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


Tanpa mengatakan apapun Zian langsung menarik Luna ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan sangat erat. "Aku lega karena akhirnya kau bangun juga, Sayang. Apa kau tau bagaimana cemas dan takutnya aku selama satu bulan ini? Aku pikir aku akan kehilanganmu, Luna Qin,"


"Tidak, itu bukan salahmu dan berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kau sudah berusaha dengan keras, Sayang. Kau sudah menjaganya dengan baik, tapi Tuhan lebih menyayanginya daripada kita. Itulah kenapa Tuhan mengambilnya kembali,"


Luna melepaskan pelukkan Zian, matanya membelalak melihat perban melingkari kening suaminya dengan darah segar tepat di atas alis kanannya. "O-Oppa... Kau terluka?"


"Hn, aku mengalami sebuah insiden ketika dalam perjalanan kemari. Tapi aku baik-baik saja," kata Zian meyakinkan.


Zian menakup wajah Luna dan sebuah ciuman ia daratkan pada keningnya. "Kau adalah Ibu yang hebat, Luna Qin. Kau sudah mempertaruhkan segalanya demi mempertahankan dia, meskipun pada akhirnya dia tidak bisa bertahan. Tapi setidaknya kalian sudah pernah bersama meskipun hanya singkat. Setidaknya dia tau betapa Ibunya begitu menyayangi dirinya," tutur Zian. Sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Kau tidak marah padaku? Kau tidak kecewa padaku?" Zian menggeleng.


"Untuk apa kecewa, bukankah kita masih bisa membuatnya kagi? Kau normal, aku normal, kita masih memiliki banyak kesempatan untuk memilikinya lagi,"


"Oppa,"


"Benar apa yang suamimu katakan, Luna. Dulu Eonni malah lebih buruk darimu, dua kali Eonni mengalami keguguran. Tapi akhirnya Tuhan memberikan dua sekaligus pada Eonni, jangan menyerah adikku. Tuhan akan segera mengganti dukamu ini dengan kebahagiaan yang jumlahnya berlipat ganda. Jadi relakan dia pergi. Kau tidak boleh menyalahkan dirimu lagi apalagi terlalu lama larut dalam kesedihan,"

__ADS_1


Luna menyeka air matanya dan berhambur memeluk Viona. "Gomawo, Eonni. Tanpa kalian semua pasti aku sudah hancur."


Viona melepaskan pelukannya dan tersenyum tipis."Eonni rasa kalian berdua butuh waktu lebih banyak untuk berbincang. Eonni dan Nathan Oppa akan keluar sekarang," ucap Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Selepas kepergian Viona dan Nathan. Di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Zian dan Luna. Zian kembali merengkuh Luna ke dalam pelukannya, memeluknya dengan sangat erat. Dagunya bersandar pada kepala coklatnya. Tampak air bening mengalir dari pelupuk matanya yang kemudian jatuh membasahi pipinya yang segera dihapus olehnya.


"Melihatmu membuka mata dan baik-baik saja membuat rasa takutku hilang begitu saja. Aku pikir kau tidak akan bangun lagi dan meninggalkan diriku sendiri. Aku benar-benar takut, Sayang. Sangat-sangat takut. Jangan coba-coba untuk pergi dan meninggalkanku lagi,"


Luna menggeleng. "Tidak, Oppa. Tidak akan pernah," jawabnya.


Luna menutup matanya merasakan pelukan Zian yang terasa begitu hangat. Hatinya terasa lega, dia pikir Zian akan marah dan kemudian membencinya karena dia tidak bisa menjaga buah cinta mereka dengan baik dan malah membiarkannya pergi.


Zian melepaskan pelukannya dan tersenyum tipis. Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata dari wajah Luna. "Tersenyumlah, Sayang. Aku sangat merindukan senyummu itu," pinta Zian.


"Apakah hanya senyumku saja yang kau rindukan? Apakah kau tidak merindukan yang lain? Ekhem... Miss contohnya." Ucap Luna yang langsung di hadiahi sebuah jitakan oleh Zian.


"Astaga, baru juga bangun tapi kau malah memikirkan yang tidak-tidak. Sembuh dulu baru kita mencetak lagi," Jawab Zian.


"Huft, baiklah. Aku bosan... Oppa, bisakah kau membawaku keluar? Ke taman mungkin,"


"Pakai dulu mantelmu," Zian mengambil mantel milik Luna lalu membantu wanita itu memakainya.


Pandangan Luna bergulir pada lengan Zian yang terbuka. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Luna menarik lengan Zian dan mencium tribalnya beberapa kali. "Aku merindukan mereka. Bisakah kau jangan sembunyikan tribal-tribal ini dariku?" Luna menatap Zian penuh harap.


Zian mengangguk. "Baiklah,"


Luna tersenyum dan berhambur memeluk Zian. Dia sangat gembira. "Kau memang yang terbaik, Oppa. Aku semakin mencintaimu," ucapnya.


Zian mencium kepala Luna dan balas memeluknya. "Aku juga mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu Luna Qin,"


-


Bersambung.-

__ADS_1


__ADS_2