
...Riders, maaf kalau novel yang Author buat kurang menarik dan kurang enak di baca sampai-sampai pembacanya tidak sebanyak Author lainnya. Author sudah mencoba memberikan yang terbaik . Author minta maaf karna masih banyak kekurangan pada novel ini 🙏🙏🙏🙏. Semoga para pembaca tetap setia dan mau memberikan like serta koment terbaiknya sesuai alur cerita....
-
"Hayo, melamun saja,"
"OMO!!"
Viona terlonjak kaget karna kemunculan Albert yang sangat tiba-tiba. Alih-alih merasa bersalah Albert malah terkekeh, pria itu merasa geli sendiri melihat ekspresi Viona yang begitu menggemasakan dimatanya. "Kau... sedang apa kau di sini?" Viona menunjuk Albert tepat di depan wajahnya. Alih-alih menjawab, Albert malah cenggenggesan tidak jelas. "Dasar pria sinting," Viona beranjak dan pergi begitu saja. Albert yang tidak ingin ditinggalkan sendirian bergegas menyusulnya.
"Cuaca hari ini sangat cerah, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku tau tempat yang sangat indah di sini," tawar Albert dengan mata berbinar-binar.
"Aku tidak berminat," jawab Viona ketus.
Albert mendengus berat. "Ayolah Nona, apa salahnya sih? Hanya jalan-jalan saja. Dan tenang saja, aku tidak mungkin memakanmu kok. Paling-paling hanya sedikit mencicipi bibir ranum menggodamu itu." Ujarnya.
Tapp...
Viona menghentikan langkahnya. Wanita itu berbalik lalu menghampiri Albert sambil tersenyum, membuat pria itu ikut tersenyum juga. Albert merasa jika Viona akan menyetujui ajakannya. "Ayo," Albert mengulurkan tangannya yang kemudian di sambut oleh Viona. Viona menarik tangan Albert lalu membanting tubuh laki-laki itu ke tanah.
"Aahh, pinggangku,"
Rintih kesakitan keluar dari sela-sela bibir Albert. Alber tidak menduga jika Viona akan membanting tubuhnya, yang tidak terduga lagi jika wanita yang selalu terlihat anggun dan menawan itu ternyata memiliki tenaga yang sangat kuta. "Itu adalah balasan yang setimpal untuk pria mesum sepertimu. Jadi nikmati saja sakit pinggangmu itu, bye," Viona melambaikan tangannya dan meninggalkan Albert begitu saja. Bahkan dia tidak menghiraukan teriakkan Albert yang memintanya untuk berhenti.
Viona menuruni bukit dengan langkah tenang. Meskipun moodnya sempat berantakkan karna kemunculan Albert yang seperti hantu. Tapi dia sudah tampak baik-baik saja. Senyum di bibir Viona mengembang lebar saat iris hazelnya menangkap kedatangan Nathan. Pria itu berjalan menghampirinya.
Viona menghentikan langkahnya hanya untuk menatap penampilan Nathan yang luar biasa panas pagi ini. Dia memakai vest putih yang senada dengan warna celana bahannya tanpa kemeja atau pun t-shirt sebagai dalaman vestnya, hingga terlihat sebagian dada bidangnya dan lengannya yang berotot.
Dan untuk sejenak Viona melupakan bagaimana caranya bernafas. Dia tidak mengerti, apalah Nathan memang sengaja melalukannya untuk menggoda dirinya. Apakah Nathan tidak tau jika penampilannya yang seperti itu bisa membunuhnya dengan perlahan. Ya meskipun Viona akui jika dirinya sangat menyukainya. Dan Viona merasakan wajahnya semakin memanas ketika Nathan memeluknya dan mencium singkat bibirnya.
"Oppa, apa kau sengaja ingin membuatku mati berdiri di sini?"
Nathan memicingkan matanya setelah mendengar pernyataan aneh Viona. "Maksudmu?"
Viona mendengus berat. "Kenapa kau harus berpakaian seperti ini lagi? Berhentilah menyiksaku secara terus menerus, kau membuatku basah hanya dengan melihat penampilan panasmu ini saja," gerutu Viona sambil mencerutkan bibirnya.
Nathan menyeringai. Laki-laki itu menarik lengan Viona hingga dia jatuh dalam dekapannya. Kedua tangan Viona bertumpuh pada dada bidangnya yang hanya tertutup kain vestnya. Wanita itu gugup setengah mati di tatap sedalam itu oleh suaminya sendiri. Rona merah pada pipinya semakin terlihat jelas dan nyata. "Hn, jadi kau menyukai penampilanku ini?" goda Nathan lalu mencium singkat bibir Viona.
"Memangnya kapan aku mengatakan jika aku menyukainya." Wanita itu menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Nathan terkekeh melihat sikap Viona. Ternyata menggoda Viona memang sangat menyenangkan.
"Sarapan sudah siap, sebaiknya kita turun sekarang,"
"Kebetulan sekali aku juga sudah sangat kelaparan," ucapnya. Viona teringat sesuatu. "Oya, aku bertemu mahluk menyebalkan itu lagi di bukit, dan aku baru saja memberikan sedikit pelajaran padanya. Mungkin sekarang dia sedang mengalami encok,"
Nathan memicingkan matanya. "Maksudmu Albert?" Viona mengangguk. "Memangnya apa yang dia lakukan padamu? Apa dia menyusahkanmu?" lagi-lagi Viona mengangguk.
"Ya, sangat. Sampai-sampai aku berfikir bagaimana mungkin di dunia ini ada mahluk yang begitu menyebalkan seperti dia." tandas Viona.
Albert sendiri adalah orang yang sangat Nathan kenal. Dia berani menggoda dan mengganggu Viona karna Albert belum tau siapa wanita itu sebenarnya. Sifat playboynya memang tidak pernah berubah. Albert selalu mengandalkan dolar-dolarnya untuk memikat wanita yang dia sukai yang semuanya adalah para wanita cantik dan matre pastinya. Bagi Albert itu bukanlah masalah, karna menyenangkan gadis pujaannya akan memberikan kebahagiaan tersendiri untuknya. Lagi pula dolar-dolarnya juga tidak akan habis meskipun di makan sampai 7 turunan.
"Sepertinya aku harus bicara sendiri dengannya dan memberikan peringatan padanya." Ucap Nathan yang langsung di setujui oleh Viona.
"Ya, aku rasa itu pilihan yang terbaik,"
__ADS_1
-
Bukan Rio, Satya dan Frans namanya jika tidak membuat hidup Leo bagaikan di neraka. Ketiga pemuda itu kembali menyusun rencana untuk merecoki hidup pria bermarga Ardinata tersebut. Kali ini Satya akan berpura-pura menjadi wanita hamil yang dicampakkan oleh Leo. Sedangkan Frans menjadi OB dan Rio menjadi bocah yang tersesat.
Satya keluar dari mobilnya dengan style wanitanya. Tak lupa dia memakai dada dan perut palsu agar semua orang meyakini jika dirinya benar-benar wanita. Satya meliukkan tubuhnya memasuki bangunan yang memiliki puluhan lantai tersebut. Tak ada yang menyadari jika dirinya adalah seorang pria mengingat betapa cantiknya dia.
"Maaf, Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita yang berdiri dibalik meja Resepsionis saat melihat kedatangan Sania alias Satya.
"Aku ingin bertemu dengan tuan Leo Ardinata,"
"Apakah Anda sudah membuat janji?" tanya wanita itu memastikan.
"Sudah," jawabnya singkat.
"Anda bisa menunggu, beliau sedang melakukan pertemuan penting dengan beberapa client dari Dubai."
"Baiklah, aku akan menunggu diruangannya saja." Ucap Satya dan berlalu.
.
Cklekkk...
Decitan pintu yang di buka dari luar mengalihkan perhatian beberapa orang di dalam ruangan tersebut. Seorang pemuda kira-kira berusia 18 tahun berpenampilan cupu yang entah dari mana datangnya tiba-tiba memasukki ruangan. Raut wajahnya menunjukkan jika dia seperti sedang kebingungan.
Seorang pria berkebangsaan asing bangkit dari duduknya dan menghampiri bocah berkaca mata dan bertompel besar tersebut. "Hei, Nak. Siapa kau dan apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tersesat?" tanya pria asing tersebut.
Pemuda itu mengangguk. "Ayah,"
"Ayah? Jadi kau kesini karna kau mencari ayahmu?" pemuda itu lagi-lagi mengangguk. "Apa kau menemukannya di sini?" sekali lagi pemuda itu mengangguk. "Memangnya Ayahmu siapa dan yang mana?"
"Hah," membuat semua orang di dalam ruangan itu tercenggang.
"Maksudku, Ibuku sudah lama sakit dan dia meninggal. Salah satu penyakitnya adalah panu," jelas bocah itu.
"Ohh," semua menjawab kompak.
"Ayahhh!!" Rio merentangkan kedua tangannya dan berlari menghampiri Leo lalu memeluknya dengan erat. "Hiks, akhinya aku bisa bertemu lagi dengan Ayah. Huaa, aku sangat bahagia, srotttt," Rio menumpahkan ingusnya pada jas Leo. Leo yang dalam situasi yang tidak menguntungkan tidak bisa berbuat apa-apa. Karna jika dirinya sampai berteriak apalagi marah-marah pasti imagenya akan langsung buruk di depan para koleganya.
"Ohhh, sangat manis."
"Bocah sialan, lepaskan!! Aku bukan Ayahmu, jangan mengada-ada. Cepat lepaskan sekarang," pinta Leo menuntut. Suaranya sangat rendah nyaris seperti bisikan.
"Huhuhu!! Aku juga sangat merindukan Ayah, Srottt. Ayah jangan pergi lagi ya, hiks, kasiakan aku anakmu ini. Makanya jangan suka main tancap-tancap pisang saat masih di bawah umur kalau tidak ingin menuai benih di saat usiamu masih muda. Ayah jangan membenciku, aku ini anakmu. Kasiahani aku, Ibuku meninggal karna sakit panu,"
"Oh Tuan Ardinata, Anda sangat lembut. Melihat bagaimana Anda memeluknya membuat kami terharu."
"Ya, hahahah!!"
"LEO ARDINATA!!! KELUAR KAU!! LEO ARDINATA, KELUAR KAU!!"
Semua orang di dalam ruangan itu terlonjak kaget karna teriakkan dan kemunculan seorang wanita. "Oh di sini kai rupanya." wanita jadi-jadian itu memasuki ruangan dan langsung melabrak Leo. Beberapa tamparan wanita itu daratkan pada kedua pipi Leo sambil memakinya habis-habisan. "Dasar pria tidak bertanggung jawab. Seenaknya saja mengambik keuntungan dariku. Setelah mendapatkan sarinya aku malah di buang begitu saja!!"
"Tunggu-tunggu, siapa kau dan apa yang kau bicarakan? Hei, Nona, sebaiknya kau jangan mengada-ada. Aku ini tidak mengenalmu apalagi pernah berhubungan denganmu!! Jadi jangan seenaknya mengaku jika aku menghamilimu!!"
__ADS_1
"Dasar pria tidak bertanggung jawab. Kau tidak mengingatnya karna pada saat itu kau sedang mabuk berat. Kau memaksaku lalu kau... hiks, kau melakukannya padaku. Kau terus memanggilku dengan sebutan Viona padahal namanya Sania. Hiks, kau sungguh-sungguh pria yang kejam. Tuan, tolong aku. Pria ini tidak mau bertanggung jawab," adu Satya pada salah satu dari keempat pria asing itu.
"Tuan Aedinata. Ada baiknya Anda bertanggung jawab, pikirkan bayi yang ada dalam kandungan Nona ini,"
"Benar apa yang Tuan Alonsso katakan, Tuan. Apa Anda ingin menjadi penghuni neraka karna dosa-dosa Anda??"
"Aarrrkkhhh!! Sial, kenapa semua jadi serumit ini. Dan kalian, kenapa kalian malah membela wanita ini?"
"Tuan jangan marah-marah terus, Anda bisa kena darah tinggi. Silahkan minum dulu," seorang OB yang entah dari mama datangnya tiba-tiba sudah ada disamping Leo sambil membawa segelas minuman.
Leo menyanbar minuman itu lalu meneguknya sampi habis. Kedua mata Leo membelalak, tiba-tiba dia merasakan ada yang salah pada perutnya. Tak berselang lama suara aneh terdengar dari bagian belakang Leo di susul dengan aroma tidak enak yang menguar di udara. "Ma-Maaf, saya tidak sengaja kentut. Sa-saya akan segera mengatasi hal ini. Tapi sebelum itu, ijinkan Saya ketoilet dulu." Ujar Leo.
Satya, Rio dan Frans tersenyum penuh kemenangan. Mereka cukup puas dengan apa yang mereka lakukan pada Leo hari ini. Mungkin tidak seberapa, tapi cukup untuk membuat buruk harinya. Satya memberi kode pada Frans dan Rio. Ketiganya diam-diam meninggalkan ruangan. Apa yang mereka lakukan semata-mata hanya untuk membantu kedua pamannya. Nathan terutama, yang selama ini selalu berusaha keras untuk membalas dendam keluarganya.
-
Sejak beberapa waktu yang lalu Nathan terlihat sibuk dengan laptopnya. Raut wajahnya terlihat begitu serius, dan tak ada ekspresi sama sekali pada wajah tampannya. Masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dan Nathan tidak bisa menundanya lagi. Kesepuluh jarinya menari dengan lincah diatas keyboard laptopnya, matanya tidak lolos sedikit pun dari monitor yang menyala terang dihadapannya.
Sesekali tangan kanannya berpindah pada mouse yang ada disebelah keyboardnya. Kali ini yang Nathan serang bukanlah perusahaan milik Derry melainkan perusahaan milik Leo yang merupakan cabang dari perusahaan induk. Nathan akan membiarkan virus ciptaannya kembali bekerja untuknya.
Tiba-tiba jari-jarinya berhenti menekan tombol-tombol pada keyboard "Finaly." gumamnya menyeringai. Detik berikutnya, jarinya menekan tombol 'Enter' dengan kuat. Sembari menunggu loading yang membutuhkan sedikit waktu. Nathan mengambil satu batang rokok dari kotaknya kemudian menyulutnya. Dan setelah menunggu loading yang cukup lama, monitor laptop itu memperlihatkan dua kata berwarna merah terang.
Hacking Success....
Bibirnya pun menyeringai puas. "Leo Ardianata, ini barulah langkah awal dari kehancuranmu." gumamnya tanpa melunturkan seringai itu dari bibirnya. Nathan mengalihkan pandangannya pada jam yang menggantung didinding dan waktu menunjuk angka 18.30, masih setengah jam lagi sebelum waktu makan malam tiba. Nathan mematikan kembali laptopnya dan beranjak dari posisinya. Setelah menanggalkan kemeja berlengan dari tubuhnya yang hanya menyisahkan singlet putih sebagai dalaman kemejanya, Nathan berniat untuk tidur selama beberapa saat tapi tiba-tiba....
"KKKYYYYAAAAAA!!! OPPA, HELP ME."
Taaapp!!!
Natha menghentikan langkahnya setelah mendengar teriakan dari arah dapur. "Viona," gumamnya, tiba-tiba saja Nathan memiliki firasat buruk. Tanpa membuang waktu lagi, Nathan pun bergegas menghampiri Viona dan memastikan jika istrinya itu baik-baik saja, ia takut jika hal buruk sampai menimpanya. Tak lupa, Nathan menyertakan pistol kesayangannya. Laki-laki itu sedikit mempercepat langkahnya dan dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Viona.
"Vio," panggil Nathan membuat wanita itu menoleh seketika.
Bukannya seorang penyusup, Nathan malah disuguhi pemandangan yang cukup menggelikan. Viona naik keatas meja sambil berusaha mengusir seekor Kecoa dengan menggunakan sapu. "Huaaaa!!! Oppa, usir kecoa itu dari sana. Hiks, aku.... takut." serunya histeris. Nathan mendengus geli, dengan langkah tenang Nathan manghampiri Viona setelah membuang serangga kecil tersebut.
Nathan mengulurkan tangannya dan membantu sang istri untuk turun dari atas meja. "Kau tau, bagaimana paniknya aku saat mendengar teriakanmu." ujar Nathan dengan nada sedikit datar. Alih-alih merasa bersalah dan segera meminta maaf pada Nathan, Viona malah terkekeh membuat laki-laki itu kebingungan
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Nathan dengan nada yang sama, datar.
Buru-buru Viona menggeleng. "Bukan apa-apa," jawabnya. Ia sedikit merinding melihat tatapan dingin suaminya. Tanpa sepatah kata pun, Nathan melenggang meninggalkan Viona yang masih bergeming dari posisinya. Wanita itu mendengus panjang. Mengabaikan Nathan yang sepertinya kesal padanya, Viona memutuskan untuk melanjutkan memasaknya yang sempat tertunda karna kemunculan serangga kecil itu.
Namun tidak lama berselang, Nathan kembali dengan pakaian berbeda. Celana jeans panjang, kemeja hitam serta long vest putih sebagai luaran kemejanya. Nathan menghampiri Viona sambil menggulung lengan kemejanya. "Oppa, kau mau pergi?" tanyanya penasaran.
"Ganti pakaianmu, kita makan malam diluar saja." Ucapnya dayar. Wanita itu tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah, tunggu sebentar."
-
Bersambung.
__ADS_1
Suho Visual Albert Xion....
Anggap saja dia punya tahi lalat di dagu sebelah kirinya. Otor gak sempat ngasih tahi lalat buat dia 😂😂