Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 52) "Berlin"


__ADS_3


Riders tersayang, baca juga novel terbaru Author yang judulnya TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM jangan lupa untuk meninggalkan like koment juga ya riders.


-


Sebuah Bugatti Centodieci warna putih melesat kencang di jalanan yang legang, mobil mewah dengan harga selangit itu terus melaju kencang di sepanjang jalan raya kota Berlin, kota yang terkenal dengan Gerbang Brandenburgnya, yang menjadi salah satu tempat wisata terbaik di Berlin karena merupakan salah satu simbol utama Berlin.


Mbrumm...mbrummmm..!


Raungan mesin terus menderu di sepanjang jalan protokol. Jalanan kota tidak terlalu padat kendaraan dan terlihat sedikit legang.


Didalam kabin Bugatti Centodieci yang didominasi warna putih yang membuat interiornya terlihat sangat mewah itu. Seorang pria tampan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Mobil itu berhenti di sebuah halte bus yang letaknya tak jauh dari hotel tempatnya bermalam selama beberapa hari ini. Seorang wanita berparas cantik berambut panjang terlihat menghampirinya.


"Maaf, aku sedikit terlambat," ucap pria itu menyesal.


Si wanita menggeleng. "Hanya satu menit saja. Aku rasa itu tidak jadi masalah. Dan ngomong-ngomong ini mobil siapa? Apa kau meminjam dari teman bisnismu?" kemudian wanita itu masuk ke dalam dan duduk disamping si pengemudi.


Pria itu 'Zian' menggeleng. "Bukan, tapi aku baru membelinya. Karna aku rasa kita membutuhkan kendaraan selama kita di sini, apalagi kita tidak akan pulang dalam waktu dekat. Pekerjaanku di sini masih belum selesai dan masih banyak hal yang harus aku urus dan aku selesaikan di sini," ujar Zian panjang lebar.


"Benarkah?" kedua mata Luna langsung berninar-binar mendengarnya. Zian mengangguk. "Lalu bagaiamana dengan tempat tinggal kita? Jika masih agak lama tidak mungkin seterusnya kita menginap di hotel bukan?"


"Untuk itu kita pergi hari ini, karna aku ingin membawamu melihat-lihat rumah dan aku ingin kau memilihnya sendiri,"


"Wow, amazing. Kau benar-benar luar biasa dan penuh kejutan, Oppa. Dan aku harap kota bisa menemukan ketenangan di sini, karna aku sudah lelah dengan banyaknya masalah yang selalu datang sillih berganti seperti siang dan malam."


Zian meraih tangan kanan kiri Luna lalu menggenggamnya. "Kita akan menetap di sini untuk sementara waktu. Aku sudah membicarakannya dengan, Nathan hyung dan, Viona nunna, dan mereka setuju. Mungkin lusa trio gila itu akan tiba di sini, aku rasa kau sangat kesepian tanpa mereka," tutur Zian.


"Kau memang yang terbaik, Oppa. Dan hanya kau satu-satunya orang yang paling memahami dan mengerti diriku. Aku mencintaimu, suamiku,"


Nado,"

__ADS_1


.


.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Siang yang terik telah berlalu dan tergantikan oleh senja yang menawan. Matahari hampir tenggelam di ujung barat.


Sesuai dengan permintaan Luna, mereka berdua akan menghabiskan sore hari kami melihat matahari terbenam di monumen Holocaust. Dan Zian benar-benar menepati janjinya untuk membawa Luna ke sina.


Jaraknya tidak jauh dari tempat yang mereka datangi tadi, jadi Zian menawarkan untuk berjalan kaki agar bisa melihat keindahan kota Berlin secara perlahan.


Berjalan-jalan sore bersama orang yang dicintai melewati Berliner Dom dan taman kecil di seberangnya Lustgarten, Berlin Brandenburger Tor di daerah kedutaan dan masih banyak lagi tempat-tempat bersejarah yang sebenarnya sangat ingin mereka kunjungi.


Karna terlalu asik sampai-sampai mereka tidak sadar jika ternyata mereka sudah berjalan cukup jauh dan melihat ada Grober Tiergarten di depan mata kami, tepat di seberangnya, ada tempat yang memiliki arsitektur unik bernama Monumen Holocaust.


Luna terlihat begitu antusias. Kedua matanya tatanya tampak berbinar-binar melihat bagaimana indahnya kota Berlin ketika menjelang malam. Lampu-lampu kota telah dinyalakan membuat kota Berlin terlihat lebih hidup dan lebih indah.


"Oppa, bagaimana kalau setelah ini kita ke Gerbang Brandenburg? Aku sangat ingin pergi ke sana," renggek Luna sambil terus menggerakkan lengan Zian dengan manja.


"Ck, kau bukan lagi bocah, Luna Qin!! Jadi berhentilah beraeyo seperti itu," sinis Zian sambil menjitak gemas kepala coklat Luna. Alih-alih merasa kesal. Luna malah terkekeh geli. "Baiklah, ayo kita ke sana,"


Gerbang Brandenburg sendiri menjadi salah satu tempat wisata terbaik di Berlin karena merupakan salah satu simbol utama kota tersebut.


Gerbang ini terletak antara Pariser Platz dan Platz des 18. Gerbang Brandenburg ini terdiri dari dua belas kolom Doric, dengan enam di setiap sisi sehingga membentuk lima pintu masuk menuju jalan raya.


"Oppa, aku ingin menciptakan banyak moment indah di kota cantik ini. Ini adalah moment langkah, jadi jangan coba-coba untuk melayangkan protes saat aku mengusulkan untuk berfoto bersama," ujar Luna. Luna tau betul jika suaminya ini paling susah untuk diajak berfoto bersama.


"Aku tidak janji," jawab Zian acuh tak acuh.


"Oppa," renggek Luna. Wanita itu melepaskan pelukannya pada lengan Zian dan melenggang pergi. Meninggalkan Zian begitu saja.


Zian mendengus berat. Sepertinya penyakit merajuk istri cantiknya itu sedang kambuh. Zian hendak menyusul Luna. Kedua mata Zian membelalak melihat ada sebuah mobil yang kehilangan kendali melaju kencang kearah Luna. Berkali-kali mobil itu membunyikan klakson peringatan agar orang-orang menyingkir. Tapi sepertinya Luna tidak menyadarinya.


"LUNA, AWAS!!"

__ADS_1


Dan tak ingin hal buruk sampai menimpa istrinya, Zian berlari menghampiri Luna secepat yang dia bisa. Zian menyambar tubuh Luna yang terpaku karna terlalu syok dan keduanya berguling di tepi jalan.


Duaghh..


Kepala Zian terbentur trotoar jalan, membuat pelipisnya robek dan mengeluarkan darah segar. Sedangkan Luna tidak terluka sama sekali. Zian memeluknya dengan erat, dan menggunakan tubuhnya sebagai perisai untuk melindunginya. Orang-orang seketika berkerumun guna memastikan keadaan mereka berdua.


"Are You Okay?" tegur seorang pria memastikan.


Zian mengangguk. "Yes, I'm okay. just a small wound," jawabnya.


Mengetahui mereka baik-baik saja. Orang-orang itu pun beranjak pergi.


BRUGG...!!


Dengan kasar Zian mendorong tubuh Luna dan menatapnya tajam. "DIMANA MATA DAN TELINGAMU SAAT BERJALAN, LUNA QIN? APA KAU SADAR KARNA KECEROBOHANMU ITU, KAU NYARIS SAJA CELAKA!!" bentaknya penuh emosi.


Luna terkejut, kedua matanya membulat berkaca-kaca. Sepanjang dia menjadi istri Zian, ini pertama kalinya pria itu membentaknya. Tubuh Luna sampai gemetaran saking kagetnya, dia sedikit ketakutan. Air mata merembes turun membasahi wajah cantiknya.


"Maaf," lirih Luna sambil menundukkan wajahnya.


Zian tersentak melihat lelehan-lelehan bening mengalir dari pelupuk mata Luna. Suaranya serak seperti menahan tangis. Zian mendesah berat. Meraih bahu Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk membentakmu apalagi membuatmu ketakutan. Aku benar-benar hilang akal saat melihatmu nyaris celaka didepanku," ujar Zian sambil mengusap punggung Luna naik-turun.


Zian melepaskan pelukannya. Jari-jarinya menghapus lelehan bening yang mengalir dipipi putihnya. "Oppa, kau terluka. Sebaiknya kita ke rumah sakit. Lukamu perlu di jahit." Ucap Luna melihat darah segar yang terus keluar dari luka dipelipis Zian.


Luna mengeluarkan sapu tangannya kemudian melipatnya lalu mengikatkan pada dahi Zian, darah segar menyembul keluar dari pelipis sisi kanannya. "Tidak perlu, kita langsung pulang saja. Sebaiknya kau sendiri saja yang mengobatinya. Aku terlalu benci rumah sakit," ujar Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna..


"Baiklah,"


Tersirat penyesalan pada raut wajah dan sorot mata Luna ketika melihat luka dipelipis Zian. Jika bukan karna kecerobohannya, pasti suaminya tidak akan terluka.


-

__ADS_1


Bersambung.


...Selalu tinggalkan like dan komentnya ya riders 🙏🙏🙏. Bantu Author biar makin semangat ngetiknya 🙏🙏...


__ADS_2