
-
Riders, baca juga novel terbaru Author ya, yang judulnya TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM jangan lupa untuk meninggalkan like koment juga ya riders.
-
"Kalau begitu,menikahlah denganku, Leonil Luna,"
Luna terkejut mendengar sebuah permintaan yang baru saja terlontar dari bibir Zian. Luna mencoba menemukan kebohongan dari setiap kata yang Zian katakan, tapi tidak ada. Luna hanya melihat kekujuran dalam setiap katanya. Dan kesungguhan terpancar jelas dari sorot matanya yang teduh.
"Zian," lirih Luna dengan mata berkaca-kaca.
"Katakan, Leonil Luna. Katakan jika kau mau menikah denganku,"
"Aku mau, Zian. Aku sangat-sangat mau menikah denganmu. Tapi-"
"Tapi apa?" tanya Zian menyela ucapan Luna. Iris kanannya mengunci sepasang mutiara coklat Luna. "Apa kau meragukan ketulusan dan kesungguhanku?" Luna mengnggeleng. "Lantas?"
"Bagaimana dengan mamamu, Zian? Sejak awal dia sudah tidak setuju kau dekat denganku, bahkan dia berusaha menjauhkanku darimu. Lalu bagaimana jika dia sampai tau jika aku ini adalah putri dari madunya? Wanita yang telah merebut papamu darinya!!"
"Apa katamu?" sahut seseorang dari arah belakang. Sontak Luna menoleh dan mendapati Dahlia berjalan menghampirinya. "Katakan sekali lagi," pinta Dahlia dengan nada mengintimidasi. Sorot matanya tajam dan sarat akan kebencian. "KATAKAN SEKALI LAGI!!" pintanya menuntut.
"Bukankah Bibi sudah mendengarnya sendiri,"
"KURANG AJAR..!!"
PLAKK...!!
"MAMA...!!" kaget Zian membentak.
Wajah Luna menoleh kesamping karna tamparan keras Dahlia pada pipinya. Sensasi panas dan perih seketika menjalar pada pipi Luna yang baru saja ditampar oleh Dahlia.
Dan sementara itu, Zian yang melihat apa yang dilakukan oleh Ibunya pada Luna menjadi sangat murka. "Apa Mama sudah tidak waras? Kenapa Mama menamparnya?" teriak Zian dengan penuh emosi.
"Zian, sebaiknya kau diam dan jangan ikut campur!! Ini urusan Mama dengan dia, jadi jangan coba-coba untuk ikut campur!!" teriak Dahlia tak kalah kencang dari Zian.
"Sayangnya aku tidak bisa dian saja ketika aku melihat calon istriku disakiti oleh orang lain, meskipun lagi orang itu adalah ibu kandungku sendiri!!"
Zian melepas infusnya dengan paksa kemudian turun dari ranjang inapnya."Zian!! Apa yang kau lakukan?" bentak Luna melihat kenekatan Zian.
Zian menarik Luna untuk berdiri dibelakangnya. Ia dan Dahlia kini berdiri saling berhadapan. "Aku tidak akan ikut campur jika orang itu bukan, Luna, Ma!! Tapi aku tidak akan tinggal diam jika orang yang coba kau sakiti adalah dia!!" tegas Zian tajam.
"ZIAN!! BERANI SEKALI KAU BICARA SETAJAM ITU PADA IBUMU SENDIRI HANYA DEMI PEREMPUAN MURAHAN INI? APA KAU SUDAH TIDAK WARAS? DIMANA AKAL SEHATMU, ZIAN QIN!!"
"CUKUP MA!!" bentak Zian menyela ucapan ibunya. "Sekali lagi kau menyebutnya murahan, kau akan menanggung akibatnya. Aku tidak akan segan dan ragu meskipun kau adalah ibuku!!"
"Kau benar-benar sudah keterlaluan, Zian!! Seharusnya kau merasa prihatin karna sampai detik ini Amanda belum juga ditemukan. Seharunya yang kau pedulikan adalah dia, bukan gadis ini!!"
__ADS_1
"Itu bukan urusanku!! Bahkan aku berharap supaya dia tak pernah kembali. Karna parasit seperti dia sudah selayaknya disingkirkan!"
"Zian!!"
"Luna, kita pergi,"
Zian menarik pergelangan tangan Luna dan membawanya pergi dari sana. Bahkan Zian tak menghiraukan teriakan Dahlia yang memintanya untuk berhenti dan kembali.
Bahkan Zian tidak peduli jika saat ini dia masih dalam perawatan, mata kirinya yang baru selesai dioperasi juga membutuhkan perawatan yang intensif.
.
.
Zian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Mobil sport hitam metalic yang dia kemudikan melaju kencang pada jalanan yang lumayan legang. Saat ini Zian sedang diliputi emosi, amarah terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam dan berbahaya.
Pertengkarannya dengan nyonya Dahlia membuat pikiran Zian menjadi sangat kacau sehingga dia tidak bisa berfikir dengan jernih. Zian marah dan tidak terima ketika ibunya mencoba menyakiti Luna.
"SIAL," berbagai umpatan tajam berkali-kali terlontar dari bibirnya.
Pemuda itu tiba-tiba meringis saat merasakan ngilu yang luar biasa pada mata kirinya. Seharusnya Zian masih harus dirawat di rumah sakit karna luka jahit bekas operasi bisa sewaktu-waktu terbuka. Tapi Zian tak perduli.
Tubuh Luna menegang ketika Zian menambah kecepatan pada mobilnya. Mobil yang Zian kemudikan menyalip beberapa kendaraan yang melaju didepannya, tak jarang hampir bertabrakan dengan kendaraan lain yang berjalan berlawanan arah.
"Zian, jangan gila!! Kurangi kecepatannya. Aku tidak ingin mati konyol karna kegilaanmu ini!!"
"Diamlah!! Aku tidak mungkin membawamu ke neraka," jawabnya sinis.
Lagipula siapa yang tidak merasa takut ketika dirinya berada diantara hidup dan mati. Seperti yang Luna alami saat ini. Ia merasa jika nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Hilang kendali sedikit saja maka akan sangat fatal akibatnya.
"ZIAN!! KURANGI KECEPATANNYA ATAU AKU AKAN MELOMPAT!!" ancam Luna bersungguh-sungguh.
Kedua matanya tampak berkaca-kaca dan ketakutan terlihat jelas pada sorot matanya. Zian mendesah berat, dengan terpaksa Zian pun mengurangi kecepatan pada mobilnya.
"Maaf, Luna. Aku tadi sedang terbawa emosi," ucapnya penuh sesal.
.
.
Luna mengerutkan dahinya ketika Zian menghentikan mobilnya di depan sebuah Boutique yang hanya menyediakan gaun dan setelan jas pengantin. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Zian segera turun dari mobilnya yang kemudian diikuti oleh Luna.
Zian menarik pergelangan tangan Luna dan membawanya masuk ke dalam boutique. Zian berjalan menuju deretan gaun pengantin yang terpajang di sana, mengambil satu lalu menyerahkan pada Luna.
"Pakai gaun ini," pinta Zian sambil menyerahkan sebuah gaun pengantin berwarna putih pada Luna.
Alih-alih menerimanya, Luna hanya diam menatap Zian penasaran. "Tapi untuk apa, Zian?" tanya Luna.
"Aku akan menikahimu malam ini juga!!"
__ADS_1
"Apa?"
.
.
Rasanya Luna masih tidak percaya jika dirinya dan Zian sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Meskipun pernikahan mereka dilangsungkan teramat sangat sederhana, tapi pernikahan mereka telah sah di mata hukum dan agama.
Dalam pernikahan itu. Tidak ada pesta yang meriah, kedatangan para tamu undangan, jamuan makan. Hanya orang-orang terdekat mereka dan itupun tak lebih dari sepuluh orang.
Meskipun sangat disayangkan, tapi setidaknya sudah tidak ada lagi orang yang menghalangi mereka untuk bersama. Termasuk Dahlia.
Luna menoleh saat merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang serta seseorang yang menyandarkan dagunya di atas bahu kanannya. Tanpa melihat pun, tentu Luna sudah tau siapa yang memeluknya ini.
"Kenapa belum tidur?" tanya Luna sambil melirik Zian dari ekor matanya.
"Bagaimana aku bisa tidur jika pengantinku tiba-tiba saja menghilang,"
"Aku tidak menghilang, hanya berdiri di sini menikmati bintang." Ucapnya.
Kemudian Luna melepaskan pelukan Zian lalu dia berbalik, ia dan Zian berdiri saling berhadapan. Luna mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Zian.
"Rasanya aku masih belum bisa percaya jika kita berdua telah resmi menjadi suami-istri, Zian," ucapnya. "Cubit lenganku dan yakinkan aku jika ini bukanlah mimpi," pinta Luna memohon.
"Ini bukan mimpi, Sayang. Ini nyata dan sekarang kita berdua adalah suami-istri," jawab Zian sambil menakup wajah Luna.
"Bagaimana mungkin aku tidak menganggap semua ini sebagai mimpi, karna semua terjadi begitu cepat. Baru beberapa jam yang lalu kita masih menjadi pasangan tanpa status, Zian. Tapi dalam hitungan menit kita malah menjadi sepasang suami-istri. Bukankah ini sangat luar biasa?" Ujar Luna sembari menatap mata Zian.
Tiba-tiba sorot mata Zian berubah sendu."Maaf, Luna. Karna aku tidak bisa memberikan sebuah pernikahan yang mewah untukmu." Ucap Zian penuh sesal.
Luna menggeleng. "Tidak, Zian. Kau tidak perlu minta maaf. Lagipula semua itu tidaklah penting. Pernikahan megah. Gaun pengantin yang mewah. Tamu undangan, perjamuan. Semua itu hanyalah simbol. Karna yang terpenting, sekarang kita berdua telah sah menjadi suami-istri," ujar Luna panjang lebar.
Zian menarik bahu Luna dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Aku hanya merasa takut, Luna. Aku takut kau akan menyesal dan kecewa karna pernikahanmu terlalu sederhana, setia setiap gadis pasti memimpikan sebuah pernikahan yang mewah," Zian menutup mata kanannya.
Jika saja ibunya tidak bertindak terlalu jauh, pasti Zian masih bisa melakukan banyak persiapan untuk pernikahannya dengan Luna. Tapi saat itu pikiran Zian benar-benar dalam keadaan kacau. Sehingga dia langsung mengambil sebuah keputusan yang sangat besar. Di mana dia menikahi Luna secara mendadak. Dan semua itu Zian lakukan demi melindungi Luna dari orang-orang yang ingin berbuat buruk padanya.
Luna menggeleng. "Hentikan, Zian. Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Dan katakan saja jika aku ini adalah gadis yang aneh. Karna sejak awal aku memang tidak menginginkan sebuah pernikahan yang mewah. Dan impianku sejak kecil adalah bisa berdiri berdampingan dengan laki-laki yang aku cintai di atas altar,"
Zian melonggarlan pelukannya dan mengunci manik coklat milik Luna. "Apa kau merasa bahagia?" tanya Zian. Jari-jarinya membelai wajah cantik Luna tanpa mengakhiri kontak matanya.
Luna mengangguk. "Tentu saja aku bahagia, suamiku." Jawab Luna tersenyum.
"Begitukah,"
"Aahh," gadis itu memekik kaget saat Zian tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Zian mendekatkan bibirnya pada telinga Luna dan berbisik lirih. "Dan mulai malam ini, semua yang ada di dalam dirimu adalah milikku, istri kecilku!!"
-
__ADS_1
Bersambung.