Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 112 "Aku...Hamil"


__ADS_3

Malam sudah semakin larut. Namun Nathan masih terjaga. Ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan dan beberapa Email yang harus dia periksa.


Sudah lebih dari satu bulan Nathan kembali keperusahaannya yang selama beberapa waktu ini dikelola oleh Henry. Posisi CEO kembali ditempati olehnya.


Nathan menutup file terakhirnya kemudian menggulirkan pandangannya pada jam yang mengganting didinding dan waktu sudah menunjuk angka 11 malam. Nathan mendesah berat. Pria itu mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya kemudian menyulutnya. Nathan beranjak dari kursinya lalu melangkah menuju dinding kaca di belakang meja kerjanya.


Malam ini langit terlihat sangat cerah. Bintang-bintang bertaburan menghiasi hamparan hitam di atas sana dan Bulan berpendar indah disinggasananya.


Nathan menutup mata kanannya sejenak. Helaan nafas panjang kembali ia henbuskan dari bibir kissablenya bersamaan dengan gumpalan asap putih yang berasal dari rokok yang dihisapnya. Asapnya yang tipis membumbung keatas sebelum akhirnya menghilang tersapu angin malam.


Sudah satu bulan Nathan menjalani hidupnya secara normal. Tanpa ada ketakutan, kecemasan apalagi pertumpahan darah dan berbagai terror-terror dari musuh-musuhnya. Tapi bukan berarti ia bisa berleha-leha apalagi mengabaikan segala hal yang ada disekelilingnya.


Disadari atau tidak, sebagai seorang pembisnis muda yang sukses dan boss besar dalam organisasi Phoenix. Tentu Nathan memiliki banyak musuh yang tersebar dimana-mana dan dia tidak tau sampai kapan kedamaian hidup yang dia jalani saat ini akan bertahan? Nathan terdiam, jika bisa... dia ingin kedamaian itu bisa berlangsung selamanya meskipun kenyataannya sangatlah mustahil.


"Apa yang sedang kau fikirkan, Nak?" teguran seseorang dan tepukan pada bahunya mengalihkan perhatian Nathan dari langit malam. "Kau terlihat risau. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya orang itu yang pastinya adalah Hans.


Nathan menggeleng. "Tidak ada, kenapa kau belum tidur?"


"Aku terbangun karna haus dan melihat lampu ruang kerjamu masih menyala, jadi aku fikir kau ada disini, dan ternyata dugaanku benar. Jika ada masalah, kau bisa cerita padaku. Sebagai seorang Paman, aku pasti akan menjadi pendengar yang baik untukmu," ujar Hans tersenyum.


"Ada hal lain yang ingin aku tanyakan padamu dan hal ini mengenai Viona,"


"Mengenai Viona?" Nathan mengangguk.


"Apakah Viona adalah putri kandungmu?" Nathan berbalik dan menatap Hans dengan serius.Dan keterkejutan terlihat jelas pada mimik wajah Hans setelah mendengar pertanyaan Nathan. "Pasti kau bertanya-tanya kenapa aku bisa tau? Aku tidak tidak akan memberikan jawaban apapun padamu, tapi aku menginginkan jawaban untuk pertanyaanku. Apakah Viona adalah putrimu?"


"Sepertinya tidak ada alasan lagi untuk memyembunyikan kebenaran itu darimu. Ya.. Viona adalah putri kandungku, darah dagingku!!"


Nathan menyeringai tajam. "Sudah kuduga, dari awal gelagat dan sikapmu padanya menunjukkan jika ada ikatan istimewa diantara kalian berdua, yang lebih kental daripada hubungan paman dan keponakkan! Lalu kenapa kau merahasiakan kebenaran itu darinya dan tidak memberitaunya jika sebenarnya kau adalah Ayah kandungnya?"


"Karna aku merasa tidak layak," Hans mendongakkan wajahnya dan menatap langit bertabur bintang. "Viona adalah anak yang terlahir dari sebuah kesalahan. Saat itu aku masih sangat muda dan belum memiliki pekerjaan yang tetap. Saat masih muda, aku bukanlah pria baik-baik. Aku adalah seorang gangster dan penjajah cinta. Aku sering tidur dengan banyak wanita malam dan salah satunya adalah Ibu kandung Viona.


Beberapa kali aku tidur dengannya hingga akhirnya wanita itu hamil dan bayi itu adalah Viona. Dia berniat menggugurkan janin itu tapi aku mencegahnya dan meminta dia supaya tetap mempertahankan kandungannya, awalnya dia menolak. Tapi aku memberikan iming-iming uang yang banyak dan akhirnya pun dia setuju.


Setelah Viona lahir, dia menyerahkannya padaku dan dia langsung pergi. Aku yang bingung harus bagaimana, akhirnya aku menyerahkan Viona pada kakak dan kakak iparku. Mereka mengadopsi Viona sebagai putri mereka dan memberikan nama yang cantik itu padanya,"


"Lalu kenapa kau meninggalkannya setelah kepergian orang tua angkatnya?"


"Karna aku dikejar hutang. Bisnisku hancur dan aku mengalami kebangkrutan. Hutangku ada dimana-mana dan aku terus-terusan dikejar rentenir dan dekoleptor. Karna aku tidak ingin membahayakan hidup Viona, akhirnya aku memutuskan untuk pergi dan menjauh darinya selama bertahun-tahun. Dan semua itu aku lakukan semata-mata karna peduli padanya."


Nathan mendesah berat. Tidak disangka bila Hans memiliki kisah masalalu yang begitu rumit. Dan sebuah fakta baru, baru saja terungkap. Sangat mengejutkan memang, tapi Nathan tau jika semua yang terjadi adalah permainan takdir.


"Aku sangat lelah, aku akan istirahat sekarang. Sebaiknya kau juga," ucap Nathan dan pergi begitu saja. Hans pun segera mengikuti jejak Nathan dan pergi kekamarnya.

__ADS_1


.


.


Nathan kembali kekamarnya dan mendapati Viona tengah tertidur pulas. Nathan menutup kembali pintu dibelakangnya kemudian menghampiri sang istri. Nathan tersenyum tipis melihat wajah polos Viona ketika sedang tertidur. Dia terlihat begitu damai seperti tidak memiliki beban apapun yang dia pikul dibahunya.


Gerakkan lembut jari-jari Nathan pada pipinya sedikit mengusik tidur Viona. Wanita itu membuka matanya dan mendapati Nathan tengah tersenyum padanya.


"Oppa, kenapa kau belum tidur?" tanya Jessica dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku dan sekarang aku mau tidur. Sebaiknya kau tidur lagi, ini masih larut malam," Nathan mengecup kening Viona kemudian berbaring disampingnya.


Nathan membiarkan Viona menggunakan lengannya sebagai bantalan kepalanya dan ciuman lembut serta sentuhan Nathan pada punggungnya kembali menghantarkan Viona pergi kealam mimpinya.


-


Decitan suara burung dan juga terpaan sinar mentari pagi membuat Senna harus terbangun dari tidurnya. Saat matanya melirik ke arah jam yang terpasang di dinding kamarnya, waktu telah menunjukkan pukul enam kurang lima menit.


Senna menguap lebar. Ia merasa begitu segar pagi ini. Udara pagi yang begitu nyaman untuk dihirup, cicitan burung yang terdengar merdu, dan juga matahari pagi yang bersinar cerah.


Setelah mencuci muka dan menggosok giginya. Senna segera meninggalkan kamarnya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Meskipun dirumahnya banyak pelayan, tapi urusan sarapan Senna memilih memasaknya sendiri.


"IBU!! AWAS!!"


Suara teriakkan dari arah belakang mengekutkan Senna. Sontak ia menoleh dan mendapati Rio meluncur dengan sebuah papan kayu yang dipasangi roda dan juga tuas pegangan. "Ya Tuhan, apa yang sedang kalian lakukan?"


Senna hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka bertiga. Mereka sudah remaja tapi tingkah dan kelakuannya sangat mirip dengan bocah TK. "PAMAN!! DORONG LAGI! AKU INGIN MELUNCUR!!" seru Rio sambil mengarahkan kedua lengannya kedepan dan kebelakang.


"Woke, siappp..."


"Kkkyyyaaa...!! Hahaha. Ini sangat menyenangkan Paman. Hahaha, lebih cepat lagi mendorongnya..."


"Ini juga sudah cepat bocah," ucap Frans menyahuti.


"HUAAA!! PAMAN HENRY...! MENYINGKIR DARI SANA!!" teriak Rio memperingatkan. Kedua mata Henry membelalak sempurna. Dan ponsel dalam genggamannya pun terlepasm


"Huaaa..." Henry berteriak sekencang-kencangnya. Dan tubuhnya jatuh dipangkuan Rio yang sedang meluncur bersama papan kayunya. Kedua mata mereka berdua membelalak dan... "KYA!!"


Brakkk...


Mereka pun terjatuh dalam posisi yang tidak elit. Kepala Henry dibawah sementara kakinya di atas, sedangkan Rio nyangsang pada tanaman semak yang berada dihalaman belakang. Satya dan Frans segera menolongnya.


Senna yang menyaksikan hal itu menggeleng-gelenggakan kepala seraya mendengus berat. Tak ingin ambil pusing dengan mereka. Senna lekas kedapur dan menyiapkan sarapan untuk pagi ini.

__ADS_1


"Eonni, apa yang terjadi dengan mereka? Omo!! Oppa," seru Tiffanya dan bergegas menghampiri suaminya. "Ya Tuhan Oppa, kenapa kau bisa berakhir tragis begini?" heran Tiffany sambil membantu suaminya berdiri.


"Ini semua karna... arrkkhh pinggangku.. trio kadal itu,"


"Kau juga sih. Sebaiknya kita kekamar saja. Aku akan mengomores pinggangmu,"


"Baiklah Sayang."


-


BAGAIMANA JIKA ORANG YANG SELAMA INI KAU ANGGAP MATI TERNYATA MASIH HIDUP DAN MENJADI PENYEBAB KEMATIAN ORANG TUAMU??


Nathan merebas selembar surat kaleng yang dia temukan diteras mansionnya. Nathan tidak tau siapa yang mengirimkan surat kaleng tersebut karna tidak ada nama apalagi orang yang mengirimkannya.


Viona yang merasa penasaran mengambul surat tersebut dari tangan Nathan kemudian membacanya. "Oppa, apa maksudnya ini?" tanya Viona penasaran.


Nathan menggeleng. "Aku juga tidak tau karna tidak ada nama dan aku juga tidak melihat pengirimnya." Jawab Nathan datar.


Viona membaca tulisan itu sekali lagi. Isi dalam surat kaleng tersebut begitu penuh misteri dan teka-teki. Mungkinkah orang yang dimaksud dalam surat kaleng tersebut adalah Derry Ardinata? Rasanya bukan, karna Nathan sendiri yang membunuhnya dan didepan matanya pria itu meregeng nyawa.


"Aku akan memeriksa CCTV, mungkin ada sedikit petunjuk untuk surat misterius ini"


"Tidak perlu," Nathan menahan pergelangan tangan Viona ketika wanita itu hendak pergi dari hadapannya. "Tidak akan ada gunanya. Tidak ada apapun yang aku temukan dalam rekaman CCTV, karna aku sudah memastikannya pagi ini,"


"Kau yakin?" Nathan mengangguk.


Nathan mengangkat wajahnya dan menatap lurus mata hazel Viona. Nathan menarik lengan wanita itu kemudian menempatkan Viona di atas pangkuannya. "Kau terlihat pucat, apa kau sakit?" tanya Nathan memastikan. Kecemasan terlihat dari sorot matanya yag dingin.


Viona menggeleng, meyakinkan pada Nathan jika dirinya baik-baik saja. "Aku baik-baik saja Oppa, sungguh. Jadi kau tidak perlu cemas," katanya meyakinkan.


"Kau yakin?" Viona mengangguk.


"Aku hanya-" Viona tidak melanjutkan ucapannya saat perutnya tiba-tiba terasa mual seperti diaduk-aduk.


Tanpa mengatakan apapun Viona beranjak dari pangkuan Nathan dan berlari menuju toilet yang bersebelahan dengan dapur. Kedua tangannya membekap mulutnya. Dan Nathan yang merasa cemas segera menyusul Viona dan memastikan bila istrinya baik-baik saja.


Nathan menggedor pintu toilet yang dikunci dari dalam oleh Viona. Di dalam sana Viona terus saja muntah-muntah dan hal itulah yang membuat Nathan menjadi sangat panik.


Nathan terus menggedor pintu didepannya sambil terus berteriak memanggil nama Viona tapi wanita itu tetap tak merespon. Baru saja Nathan hendak mendobrak pintu didepannya, tapi pintu tersebut sudah di buka dari dalam.


"Sayang, kau baik-baik saja bukan? Kau tidak apa-apa bukan?" tanya Nathan memastikan.


Viona menggeleng seraya mengulum senyum manis. "Oppa, aku... Hamil!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2