
"Tuan muda, Anda memanggil saya?"
Seorang pria setengah baya terlihat memasuki sebuah ruangan yang hanya di dominasi warna putih. Pria yang sedang sibuk dengan tumpukan komen di atas meja kerjanya lantas mengangkat wajahnya.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu? Apa kau sudah menemukan siapa pembunuh dokter berhati malaikat itu?" tanya pria itu pada sosok paruh baya di depannya.
"Belum, Tuan Muda. Tapi dari hasil penyelidikkan saya, terindikasi jika pelakunya adalah orang dalam," jelas pria paruh baya itu.
Pria itu mendesah berat. Lantas dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dinding kaca di samping meja kerjanya. Menatap kota Seoul yang tampak lebih hidup dengan jutaan lampu-lampu yang menerangi setiap inci di penjuru kota.
"Lalu bagaimana dengan kedua anak dokter Leonil? Apakah kau bisa mempertemukanku dengan salah satu dari mereka?" lantas pria itu menoleh.
"Saya tidak yakin, Tuan. Tapi sepertinya bisa. Ada sesuatu yang mengganjal tentang Leonil Dean, dari sebuah sumber terpercaya, saya mendengar jika Dean pernah mencoba membunuh adiknya karna hasutan kekasihnya. Dean bertindak gila akhir-akhir ini,"
"Terus pantau dia, entah kenapa aku memiliki feeling yang begitu kuat jika, Dean Leonil bukan orang baik."
"Baik, Tuan!! Tuan, sudah waktunya bertemu dengan tuan Xi. Sepertinya tuan Nathan sedang menunggu kedatangan Anda,"
"Baiklah,"
-
Kalina tak kuasa membendung air matanya ketika menatap foto putrinya. Foto itu diambil ketika Luna berusia tujug tahun. Gadis kecil itu terlihat begitu cantik dengan senyum yang terlukis dibibirnya.
Jari-jarinya mengusap foto itu dengan sedikit gemetar. Kalina sangat merindukannya, dia ingin segera menemukan Luna supaya ia bisa memeluknya dan melindunginya dari Zian yang ingin menggunakan dia sebagai alat untuk menghancurkan dirinya. Kalina tak mingkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika itu sampai terjadi.
"Apakah ini adalah putrimu? Dia sangat cantik, setelah dewasa dia pasti semakin cantik. Dan rasanya pasti juga sangat nikmat, aku jadi tidak sabar untuk bisa mencicipinya," Zian menyeringai tajam.
Kalina mendongak kemudian bangkit dari duduknya. "Zian, apa yang kau lakukan? Kembalikan foto itu padaku!!" pinta Kalina menuntut. "Cepat kembalikan padaku!!"
"Kau ingin foto ini? Baiklah ambil," Zian melemparkan foto itu pada Kalina. Kalina mundur beberapa langkah kebelakang melihat Zian yang semakin mendekat."Ingat, Kalina Shin. Cepat atau lambat aku akan menemukan putrimu ini, dan aku tidak sabar menunggu saat-saat kehancuranmu tiba," Zian menyeringai dan pergi begitu saja. Meninggakkan Kalina yang diam terpaku di tempatnya.
Kedua tangan Kalina terkepal kuat. Wanita itu menyambar vas bunga yang ada di atas meja. "Zian Qin!!" teriak Kalina seraya menghampiri Zian. Sontak, Zian menoleh dan....
Duaagghh...
__ADS_1
"Aaahhh," tubuh Zian terhuyung kebelakang setelah terhantan vas bunga dari tangan Kalina. Darah segar tampak mengalir keluar dari sela-sela jarinya yang dia gunakan untuk menutupi mata kanannya. "Sialan, apa kau ingin membuatku buta, eo?" terian Zian penuh amarah.
"Aku tidak hanya ingin membutakan matamu, tapi juga membunuhmu!!" teriak Kalina tak kalah kencang dari Zian."Aahh," Kalina meringis setelah punggungnya berbenturan dengan tembok dengan cukup keras.
Wajah Kalina mendongak dan matanya menyipit karna cengkraman Zian pada rahangnya. "Kau baru saja mengibarkan bendera perang denganku, tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan menghancurkanmu!!" Zian mendorong Kalina dan pergi begitu saja.
Zian menyabar beberapa lembar tisu yang kemudian dia gunakan untuk membersihkan darah segar yang berasal dari kelopak dan pelipis matanya. Bagus vas itu hanya melukai bagian kelopak dan pelipisnya saja.
Zian menghentikan langkahnya saat merasakan ponsel dalam saku celananya tiba-tiba berdering yang menandakan ada panggilan masuk. "Ada apa, Mon?"
"Hyung, gawat. Aku dan Reno hyung baru saja melihat seseorang membius Luna nunna dan memasukkannya ke dalam mobil. Saat ini kami sedang dalam perjalanan untuk mengikuti kemana mobil itu akan membawanya pergi,"
Sontak kedua mata Zian membelalak saking kagetnya. "Apa? Ikuti terus mobil itu dan kirimkan lokasinya padaku," Zian memutuskan sambungan telfonnya dan bergegas pergi.
Bahkan dia tak menghiraukan rasa perih yang luar biasa pada pelipis dan kelopak matanya yang terus mengeluarkan darah. Karna yang ada dibenaknya saat ini adalah keselamatan Luna.
Zian menghubungi Nathan, bagaimana pun juga dia harus tau karna bagaimana pun juga Nathan adalah kakak ipar Luna.
-
"Di mana ini?"
Jrazzz...
Namun deburan ombak di luar sana, sangat tidak asing bagi Luna. Dan jika di lihat dari pemandangannya, Luna paham betul di mana saat ini Ia berada. Terlihat beberapa pria berdiri di depan pintu, juga beberapa pria yang sedang berbincang di dalam ruangan itu. Dan Luna baru saja sadar bila Ia sedang di culik.
"Sial, pasti ini adalah ulah Dean dan wanita licik itu." Umpatnya marah.
Luna berusaha melepaskan ikatan itu dari tubuhnya namun sulit. Ikatan itu terlalu kencang di tambah tidak ada alat yang bisa Ia gunakan untuk memotong tali tersebut. Dalam hatinya, Luna terus mengumpat tidak jelas, sumpah serapah Ia ucapkan untuk mengutuk kakak angkat serta kekasihnya yang telah menculiknya.
Tap.. Tap.. Tap...
Samar-samar Luna mendengar derap langkah kaki seseorang berjalan memasuki ruanga. Gadis itu menoleh dan menatap pada sosok pria dan wanita yang saat ini berjalan menghampirinya. Mereka berjalan menghampirinya dengan smrik angkuh andalannya.
"Dean, Miranda. Jadi benar kalian? Aku sudah menduganya." ucap Luna pada mereka berdua yang memang mereka berdua.
"Apa kabar Leonil Luna, lama tidak berjumpa. Kau semakin cantik saja, apa kau tau jika aku sangat merindukanmu?" ujar Dean menyeringai.
__ADS_1
"Tidak usah bertele-tele, katakan saja apa yang kau inginkan?" pinta Luna dengan ketus.
"Bersabarlah dan bersantailah, karna permainan baru akan di mulai." Kata Miranda dengan seringai iblisnya. Miranda dan Dean memudian beranjak dari hadapan Luna dan pergi begitu saja.
"Sialan kalian berdua. Dasar pengecut, bajingan kau Dean!! Jika kalian berani jangan dengan cara licik seperti ini." Teriak Luna namun di hiraukan oleh Dean dan Miranda. "AAARRRKKKHHH...!!"
Luna menggeram keras dan menendang-nendangkan kakinya ke depan. Kedua tangannya yang berada dalam ikatan terkepal kuat, matanya menatap tajam pada sosok Dean dan Miranda yang semakin menjauh dan tidak lagi terjangkau oleh matanya.
"Dean, Miranda, tunggu saja. Jika aku lepas dari sini, aku pasti akan membunuh kalian berdua!!"
-
Selain Nathan dan Theo.
Zian juga membawa beberapa lamanya lamanya untuk bergabung bersamanya saat menyelamatkan Luna. Melalui pengintaian Simon dan Reno, dengan mudahnya ia bisa mengetahui di mana mereka menyekap Luna.
Sebuah bangunan tua sedikit usang yang sudah tidak terpakai lagi. Zian dan Nathan menyakini bila Luna di sekap di sana, dan Zian menggerahkan seluruh teman-temannya untuk menggepung tempat tersebut.
Nathan sangat mengenali beberapa pria yang sedang berjaga di luar gedung, mereka adalah orang-orang yang pernah terlibat masalah dengannya. Dan mereka adalah bagiab dari Yakuza, maka artinya Dean dan Miranda bekerjasama dengan mereka.
Karna hampir tengah malam, mereka harus menggunakan alat khusus yang mampu membantu untuk melihat dalam kegelapan. Zian dan Nathan telah menyusun strategi penyerangan yang di pastikan tidak akan gagal. Dan Nathan harus bisa membawa Luna pulang dalam keadaan selamat, karna jika tidak pasti Viona akan sangat terluka.
Bersama Nathan dan Theo, Zian berjalan mengendap-endap memasuki gedung tersebut.
Reno, Simin, Adrian serta teman-teman lamanya menyerang dari depan. Adrian bertugas sebagai sniper. Sedangkan Nathan, Zian dan Theo akan masuk melalui atap untuk menggempur serta mengacak-acak pertahanan dari dalam.
Zian telah menyiapkan teropong Infra Merah dengan kemampuan sedemikian rupa untuk melindungi tubuh Luna ketika melakukan penyerbuan.
Duarrr ... !!! ...
Duarrr ... !!! ...
Baku tembak mulai terdengar, desiran peluru memecah di tengah kesunyian malam. Membuat beberapa orang tersentak ketika mendengarnya termasuk Luna, Ia merasa ada yang tidak beres di luar sana. Namun sayangnya Luna tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi karna tubuhnya masih terikat kuat pada kursi.
Belasan orang bersenjara menerobos masuk kedalam ruangan di mana Luna di sekap, dan dua di antaranya menghampiri gadis itu. Berniat untuk memindahkan Luna dari sana, karna kedatangan Zian, Nathan dan anak buahnya telah di ketahui oleh Dean dan Miranda.
Mereka berdua tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan Luna lolos karna keberadaan gadis itu masih sangat mereka butuhkan demi mencapai tujuannya. Dean tidak bisa mengambil alih kekayaan mendiang ayahnya karna semua masih atas nama Luna.
__ADS_1
-
Bersambung.