Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 77 "Kelegaan Hati Viona"


__ADS_3

Nathan menghentikan mobilnya dihalaman luas sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Besar dan megahnya bagunan itu membuat Daniel dan kakeknya terperangah dibuatnya. Nathan bergegas turun begitu pula dengan Daniel dan si kakek.



Mereka berdua tak berkedip sedikit pun, dalam hidup mereka ini pertama kalinya melihat sebuah tempat tinggal sebagus dan semewah itu. "Apa yang kalian tunggu, ayo masuk. Tidak perlu sungkan dan ragu," ucap Nathan dengan nada bicara seperti biasanya, datar.


"Tapi Tuan, apakah orang rendahan dan miskin seperti kami layak menginjakkan kaki di rumah sebagus dan semewah ini?" si kakek tampak ragu. Wajahnya menunduk menatap sepasang kaki rentanya yang terbalut sendal jepit.


"Benar Paman, kata orang-orang desa, orang miskin seperti kami adalah kotoran. Dan kotoran tidak layak berada ditempat semewah ini,"


"Apa yang kalian bicarakan? Orang berhati malaikat seperti kalian tentu sangat layak untuk tinggal disini. Aku sendiri yang membawa kalian ke rumah ini. Lagi pula aku tidak menilai seseorang dari status sosialnya. Dan selama itu orang baik, pintu rumahku selalu terbuka lebar. Jadi tidak perlu ragu. Ayo masuk," ajak Nathan membujuk.


Meskipun tampak ragu-ragu. Tapi akhirnya Daniel dan kakek Lee ikut masuk bersama Nathan. Saat menginjakkan kakinya di teras, Nathan dibuat terkejut dengan keberadaan sosok wanita yang tertidur sambil menyender pada tiang penyangga. Mata kanannya membelalak, dengan segera Nathan menghampiri wanita itu yang pastinya adalah Viona. Bukan hanya Viona, tapi Hans juga tertidur di teras. Pria itu tidak mau masuk dan memilih bertahan di sana untuk menemaninya.


"Viona, bangun Sayang," Nathan menepuk pipi Viona. Tubuhnya terasa dingin dan bibirnya sedikit membiru karna kedinginan. Nathan tampak begitu cemas, dan Viona berada di luar pasti untuk menunggu kepulangannya.


Kelopak mata itu akhirnya terbuka. Sepasang hazel yang tampak sayu itu terlihat berkaca-kaca. "Oppa," Viona berseru dan berhambur ke dalam pelukkan Nathan. Air matanya tumpah begitu saja dan membasahi wajah cantiknya. Rasa takut yang sebelumnya menghimpit dadanya kini hilang sudah tergantikan dengan rasa lega.


"Nathan, kau sudah pulang Nak?" tampak Hans membuka matanya kemudian bangkit dari duduknya. "Kau kemana saja seharian ini? Kenapa ponselmu juga tidak bisa dihubungi, apa kau tau bagaimana cemasnya kami? Viona terutama, dia menolak untuk masuk dan memilih tetap di sini untuk menunggumu,"


Viona menakupkan kedua tangannya yang terasa dingin pada wajah Nathan yang terhiasi lebam dan luka. "Oppa, sebenarnya kau dari mana saja seharian ini? Dan kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Wajahmu, tubuhmu penuh luka dan pakaianmu juga penuh darah. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Aku akan menceritakannya padamu, tapi sebaiknya kita masuk dulu." Nathan mengangkat tubuh Viona bridal style dan membawanya masuk ke dalam. Di ikuti Hans, Daniel dan kakek Lee yang berjalan mengekor di belakang mereka berdua.


"Kakek, Nak, kenapa sendal kalian harus dilepas?" bingung Hans melihat Daniel dan kakek Lee menjinjing sendalnya.


"Sendal kami kotor, dan kami tidak ingin membuat lantai sebagus ini ikut kotor juga, Tuan," jawab Daniel.


Hans menggeleng. "Tidak... tidak.. Itu tidak benar. Dan lagi pula lantai ini di pasang untuk diinjak-injak. Jika kotor itu sudah biasa. Dan ada pelayan yang selalu siap untuk membersihkannya. Jadi tetap di pakai saja," pinta Hans.


Suara nyaring yang berasal dari perut Daniel dan kakek Lee membuat perhatian Hans teralihkan. Pandangannya tertuju sepenuhnya pada kakek dan cucu yang sedang menundukkan wajah sambil memegangi perutnya. Hans merasa iba.


"Oya, hari ini Viona masak banyak sekali dan belum tersentuh. Dia menolak untuk makan karna ingin menunggu Nathan pulang. Aku sangat lapar, ayo temani aku makan sekarang,"

__ADS_1


"Tapi, Tuan,"


"Aishh...! Tidak ada tapi-tapian. Ayo kita makan," dan akhirnya mereka pun mengikuti Hans. "Tolong hangatkan kembali makanan-makanan ini," perinta Hans pada beberapa pelayan.


"Baik Tuan,"


.


.


"Jadi Oppa pergi untuk mengejar dan mencari para pelaku yang meledakkan rumah sakit milik Senna eonni dan membunuh orang-orang di sana?" Nathan mengangguk.


Nathan beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah jendela disamping kanan tempat tidurnya. "Mereka adalah bagian dari organisasi Black Devil, sebuah kelompok mafia yang di kenal bringas dan kejam. Terhitung sudah ada 7 rumah sakit termasuk milik Senna nunna yang menjadi korban kejahatan mereka. Aku tidak tau apa motifnya, tapi kemungkinan besar itu adalah sebuah bentuk protes pada pemerintah dengan mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah,"


"Apapun alasannya, tindakkan mereka bukanlah sesuatu yang bisa dianggap benar. Menghilangkan banyak nyawa dan merusak fasilitas umum, itu adalah sebuah kejahatan besar yang perlu ditindak lanjuti," Viona bangkit dari duduknya dan menghampiri Nathan. "Lalu siapa cucu dan kakek itu?"


"Mereka adalah orang yang menolongku. Aku sempat mengalami kecelakaan. Mobilku menabrak pohon karna hilang kendali. Saat aku keluar untuk mencari bantuan, aku malah tidak sadarkan diri di tepi jalan. Beruntung ada mereka yang menolongku. Jika tidak, mungkin aku sudah menjadi santapan bintang buas di sana. Dan aku berencana untuk mengajak mereka tinggal bersama kita. Kau tidak keberatan bukan?"


Viona menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku merasa senang malahan, karna rumah menjadi lebih hidup. Kalau begitu aku akan menyiapkan kamar untuk mereka. Oppa, segera ganti bajumu. Setelah ini temani aku makan malam, aku kelaparan karna dirimu," protes Viona sambil mencerutkan bibirnya.


.


.


"Nah, ini kamar kalian berdua. Mulai malam ini dan seterusnya. Kakek Lee dan Daniel akan tidur di sini,"



Daniel dan kakek Lee tidak bisa berkata apa-apa saat melihat bagaimana mewah dan bagusnya kamar yang akan mereka tempati itu. Air mata menetes dari pelupuk mata keduanya. Kakek Lee menggeleng.


"Kami sangat tidak layak, Nona. Orang miskin seperti kami tidak layak menempati kamar sebagus dan semewah ini. Di sini saya akan bekerja sebagai tukang kebun, jadi berikan kamar yang sederhana saja pada kami,"


"Tidak, kamar ini akan menjadi kamar kalian mulai malam ini." Sahut seseorang dari arah belakang.

__ADS_1


Nathan menghampiri mereka bertiga. "Aku tidak sungguh-sungguh saat mengatakan akan menjadikanmu sebagai tukang kebun di rumah ini. Aku berkata seperti itu supaya kalian mau ikut bersamaku. Kakek Lee, Daniel, kalian berdua sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Apa yang sudah kalian lakukan padaku itu tidak sebanding dengan apa yang aku berikan ini. Jadi jangan menolaknya atau aku akan sangat tersinggung,"


"Tuan Nathan, kami tidak tau bagaimana harus membalas kebaikkan Tuan ini," ucap kakek Lee dengan penuh rasa haru.


"Sudah-sudah. Kakek, Daniel, sebaiknya sekarang kalian beristirahat. Kalian pasti sangat lelah, selamat malam dan selamat mimpi indah,"


Viona mengajak kakek Lee dan Daniel masuk ke dalam kamar itu. Wajah bocah itu tampak begitu sumringah, dia melompat-lompat kecil dalam posisi duduknya. Melihat wajah bahagianya membuat Viona dan Nathan sama-sama menarik sudut bibirnya. Dan di balik semua keburukannya, ternyata masih tersimpan kebaikkan di hati Nathan.


-


"Kkyyyaaaa, hentikan jangan menggelitikiku lagi. Ampun, aku akan mengaku dan mengatakan pada kalian siapa yang menyuruhku,"


Dan setelah hampir 30 menit berada dalam kendali Rio dan kedua paman kecilnya. Akhirnya penyusup itu menyerah dan mau mengaku siapa yang sudah menyuruhnya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan penyiksaan bertubi-tubi yang mereka berikan. Bukan secara fisik, tapi secara mental.


Setelah mengaraknya berkeliling kota dengan hanya menakai CD saja dengan sebuah tulisan besar yang menggantung dilehernya "AKU SEORANG PENYUSUP" mereka bertiga memajang pria itu ditengah keramaian kota. Dan dia tetap tidak mau membuka mulutnya apalagi mengaku. Sampai akhirnya mereka mengeluarkan jurus andalannya yakni menggelitik sampai terkencing dan menangis. Dan cara yang ketiga berhasil. Akhirnya pria itu mau mengaku juga.


"Seorang wanita bernama Sandora, dia yang menyuruhku. Dia ingin supaya aku membunuh pria bernama Nathan Lu dan mengambil semua dokument-dokument penting miliknya, tapi tolong jangan menyiksaku lagi. Aku menyerah, aku menyerah," pria itu menangis dengan keras. Memohon supaya jiwa dan batinnya tidak disiksa lagi.


"Seharuanya dari tadi, membuang-buang waktu saja," Bima memukul kepala pria itu dengan majalah dewasa ditangannya.


"Jadi ini kerjaan wanita itu lagi. Wahh, dia benar-benar cari mati mati rupanya," geram Rio setelah mengetahui jika itu adalah perbuatan Dora. "Sepertinya dia memang perlu di beri pelajaran lagi, lanjutnya.


"Bocah, kau mau kemana?" seru Frans dan Satya melihat kepergian Rio.


"Membuat perhitungan dengan wanita itu, Paman," jawab Rio tanpa menghentikan langkahnya.


"Yakk!! Bocah, tunggu kami. Kami ikut," seru keduanya dengan kompak.


Sedangkan Bima dan Kai hanya bisa mendengus geli. Dan mereka tidak tau bagaimana basib Dora setelah ini jika mereka berdua sudah beraksi.


-


Bersambung.

__ADS_1


Bab ini agak pendek dari sebelumnya. Semoga gak kecewa ya para pembaca. Dan rencananya Author mau up tiga bab hari ini. Tapi gak janji juga karna terpentok dengan kesibukkan di dunia real. Selalu tinggalkan koment yang menambah semangat Author dan like juga. Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2