
Viona mendengus berat ketika terbangun dan mendengar suara air hujan yang beradu dengan atap balkon Villa. Dengan enggan wanita itu beranjak dari posisi berbaringnya.
Viona benci hujan di pagi hari. Viona benci suara air yang beradu keras dengan atap balkon. Viona benci udara yang menjadi lembab. Viona benci pemandangan di luar yang menjadi samar. Viona benci jalanan yang menjadi becek.
Lebatnya air hujan yang mengguyur di luar Villa memaksanya meringkuk di atas tempat tidur sampai hujan berakhir, membuatnya tak bisa menikmati pemandangan di sekitar Villa, dan memaksanya untuk melewatkan banyak moment berharga di pagi ini. Dan hal itu membuat Viona kesal setengah mati.
Perhatian Viona sedikit teralihkan oleh decitan pintu kamar mandi. Terlihat Nathan keluar dari sana dalam keadaan bertelanjang dada. Aroma maskulin yang begitu khas langsung berkaur di dalam hidung Viona ketika Nathan menghampirinya. Aroma yang sering kali membuatnya mabuk kepayang.
Sebelah tangan Nathan meraih tengkuk Viona dan mengecup singkat bibir tipisnya. Dahi Nathan menyernyit heran melihat wajah murung Viona. "Ada apa, hm?" tanya Nathan sambil membelai wajah cantik istri kecilnya itu.
Viona mengangkat wajahnya. "Hujan," dan merenggek sambil menunjuk keluar.
"Lalu?"
"Aku benci hujan," Viona berkata kemudian beranjak lalu berdiri di depan jendela. "Harusnya hujan tidak turun di musim semi, apakah bumi kita ini benar-benar sudah tua sehingga hujan turun jelas-jelas ini bukan musimnya," Viona mengeluh tidak suka.
Nathan mendengus geli terlebih lagi saat melihat ekspresi Viona yang begitu menggemaskan dimatanya. "Bukankah hujan adalah salah satu dari bentuk kuasa Tuhan? Kenapa kau malah membencinya?" tanya Nathan terheran-heran.
"Karna hujan di pagi hari itu sangat menyebalkan, dan sepertinya hujan akan turun seharian, bukankah itu sangat merepotkan," ucap Viona sambil mengunci mata kanan milik Nathan.
"Tidak juga, bukankah kau ingin segera hamil lagi? Dan aku rasa saat seperti inilah waktu yang tepat untuk mencetak lagi. Ingin melakukannya?" tawar Nathan yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Viona.
"Aku sedang tidak mood," Viona masih menekuk wajahnya.
"Dan aku akan mengembalikan kembali moodmu," jawab Nathan kemudian mencium sekitar telinga Viona. Salah satu titik sensitive wanitanya.
"Oppa, ahhh... Hentikan, i-ini sangat geli," rancau Viona diiringi desahannya.
"Bukankah ini sangat nikmat, Sayang? Dan sepertinya kau menikmatinya juga,"
Kedua tangannya memeluk tubuh Viona dari belakang. Sambil sesekali mengecup leher jenjangnya.
Hembusan nafas hangat Nathan yang menyapu kulit lehernya membuat bulu-bulu halusnya di sekitaran leher Viona berdiri. Kecupan-kecupan basah bibir Nathan yang menyusuri leher jenjang dan sekitar wajahnya membuat Viona tidak bisa untuk menahan desahanannya. Desahan berkali-kali lolos dari bibir tipisnya. Jari-jarinya meremas lengan Nathan yang memeluk tubuhnya.
Tubuhnya memberikan respon yang luar biasa terhadap sentuhan-sentuhan bibir Nathan yang terus bermain-main dileher dan bahunya.
"O-Oppa, ahh,"
"Apa kau benar-benar menikmatinya, Sayang?" bisik Nathan kemudian memberikan jejak merah tanda kepemilikkan di leher Viona.
"Aku-" Viona menggantung ucapannya karna kemunculan Danila yang begitu tiba-tiba. Wanita itu tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Melihat apa yang dilakukan pasangan suami-istri tersebut membuat tangan Danila terkepal kuat. Amarah dan cemburu tersirat jelas dari sorot matanya yang tajam, dan tengah menatap Viona penuh kebencian. Viona memicingkan matanya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan wanita itu.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk," ucap Nathan sembari menatap Danila tajam.
Tangan Danila semakin terkepal mendengar nada tajam Nathan. "Maaf Tuan Muda, saya datang untuk memberitau Anda jika sarapan sudah siap,"
"Keluarlah, dan jangan sembarangan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu," usir Nathan pada wanita yang dia ketahui sebagai putri sulung penjaga Villa-nya.
"Baik Tuan Muda,"
"Oppa, sebaiknya segera kenakan pakaianmu. Aku akan menunggumu di luar," Viona mengecup singkat bibir Nathan dan pergi begitu saja. Viona hendak memastikan sesuatu.
Danila menutup kembali pintu kamar Nathan. Dan setibanya di luar Danila meluapkan emosinya dengan menonjok tembok disamping kanannya. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Nathan yang sedang mencumbu Viona dengan begitu mesranya. Hatinya terbakar melihat pemandangan yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
"Aarrkkhh...!! Sialan, kenapa aku harus melihat mereka yang sedang bercumbu. Dasar jalang sialan, awas saja kau.. aku pasti akan melenyapkanmu!!"
"Memangnya siapa yang ingin kau lenyapkan?" seru seseorang dari arah belakang.
Danila terlonjak kaget ketika melihat kemunculan Viona yang begitu tiba-tiba. Viona menyeringai sinis melihat wajah terkejut Danila. "Nyonya Muda, sejak kapan Anda berdiri di sana?" panik Danila takut Viona mendengar ucapannya.
"Memangnya kenapa? Dan kenapa kau terlihat panik melihatku berdiri di sini? Jangan bilang jika kau sedang menyusun rencana busuk untuk menghabisiku?" tanya Viona dengan seringai yang sama.
"Kau!!" geram Danila. "Ya, aku memang ingin membunuhmu!! Kau adalah jalang yang sudah berani merebut Tuan Nathan yang seharusnya menjadi milikku!" amarah Danila pun membuncah.
"Akhirnya kau tunjukkan wujudmu yang sebenarnya Rubah kecil, kau tidak akan mendapatkan keuntungan apapun jika berani mencari masalah denganku," ujar Viona menegaskan.
"Kau, aku pasti akan membunuhmu!!"
"Lakukan saja jika memang kau merasa mampu," Viona mencengkram rahang Danila kemudian memasukkan sebutir obat yang kemudian ditelan olehnya tanpa sadar.
Derap langkah kaki seseorang yang datang menyita perhatian keduanya. Mereka sama-sama menoleh. Raut wajah Danila langsung berubah 180 derajat saat melihat kedatangan orang itu yanf pastinya adalah Nathan.
"Ahhh.. Nyonya, kenapa Anda mendorong saya?" Danila langsung pura-pura tejatuh saat melihat Nathan mulai mendekat hanya demi mendapatkan simpatik darinya. "Dan maksud Anda apa? Kenapa tiba-tiba Anda menuduh saya yang tidak-tidak?"
Viona melirik kebelakang dari sudut matanya dan sekarang dia mengerti alasan kenapa Danila langsung berakting dan pura-pura terjatuh.
"Ups, maaf. Aku tidak bermaksud untuk mendorongmu tapi kau sendiri yang tiba-tiba menjatuhkan diri. Aku tidak ingin di cap sebagai Nyonya yang suka menindas bawahan. Ayo aku bantu kau berdiri," Viona mengulurkan tangannya pada Danila kemudian berbisik ditelinga kanannya.
"Berfikirlah dua kali sebelum mencari masalah denganku, karna aku bukan hanya bisa memecatmu. Tapi aku juga bisa membuatmu kehilangan nyawa dalam beberapa detik saja. Jadi jangan macam-macam denganku. Sebutir racun baru saja masuk ke dalam tubuhmu, dan penawarnya ada padaku. Racun itu memang tidak akan membuatmu mati, tapi bisa membuatmu gila secara perlahan-lahan. Dan jika kau menginginkan penawarnya, jangan pernah macam-macam," Viona menyeringai tajam melihat wajah terkejut Danila.
"Ada apa ini?" tegur Nathan yang memang tidak tau apa-apa. Dia hanya melihat Danila yang duduk dilantai sambil berseru seperti menyalahkan Viona.
"Dia tidak sengaja terjatuh dan aku membantunya berdiri," jawab Viona mendahului Danila. Bahkan wanita itu tak memberi kesempatan pada Danila untuk berkata apa-apa.
"Dia terlihat baik-baik saja. Sebaiknya kita sarapan sekarang," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
Viona menoleh kebelakang sambil melambai dan tersenyum meremehkan pada Danila. Viona benar-benar puas melihat wajah Danila yang merah padam karna marah.
Langit muram baru saja menghentikan tangisnya. Halaman Villa masih dipenuhi tetes-tetes air hujan. Sementara tanah kecokelatan di bawah hijau rumput yang basah menguarkan aroma petrichor yang terlalu pekat hingga membumbung ke udara, menciptakan kabut putih samar yang nyaris tak tertangkap netra manusia.
Warna di antara hitam dan putih masih menyelubungi beberapa sudut langit, membiaskan muram hingga ke bumi yang baru saja ditinggalkan hujan.
Gorden tipis berwarna putih itu menyempurnakan halangan sepasang biner di balik jendela untuk melihat apa yang hujan sisakan di halaman.
Hujan hari ini memang tak menyisakan apa-apa kecuali aroma petrichor yang terbawa angin dan menyapa terbawa angin, sebelum akhirnya terhirup oleh organ respirasi.
Di saat kebanyakan orang akan menyatakan bahwa mereka menyukai hujan dan aroma petrichor yang hujan tinggalkan. Tapi, tidak dengan Viona.
Bukan lagi rahasia jika seorang Viona Anggella sangat membenci aroma tanah basah dan udara setelah hujan. Dan membencinya dengan sepenuh hati. Membencinya dengan satu alasan yang ia sendiri tak mengerti sama halnya dengan ia yang tak mengerti kenapa orang-orang memuja aroma aneh bahkan memberi nama untuk kabut samar yang mencemari udara dan organ respirasinya itu.
"Sayang..." Suara baritone yang terbawa udara mendadak menggetarkan organ auditorinya, memaksanya dengan rela untuk melepas atensinya dari pemandangan setelah hujan di luar jendela.
Viona kemudian menoleh dan membiarkan hazelnya menyusur dan berhenti di sepasang netra dingin nan tajam milik seorang pria.
"Ada yang menarik?" Sosok itu kembali mengurai tanya.
Nathan melipat tangannya di depan dada. Punggungnya bersandar pada bingkai pintu kamar. Permata berbeda warna itu bertemu. Coklat tajam dan hazel teduh saling menjebak. Terdiam dalam dimensi waktu yang melambat dan malas untuk maju.
Untuk sesaat waktu seolah berhenti dan kembali menyeretnya setelah si pemilik netra coklat tajam itu mengurai seringai di sudut bibirnya, membuat rahang tegas miliknya terlihat jelas, sementara Viona memilih untuk tetap diam.
__ADS_1
"Masih sebal karna hujan?" ucap Nathan seraya beranjak, meminimalisasi jarak dengan berdiri di samping Viona. Mengikuti jejak Viona untuk menatap pemandangan muram di luar sana, di mana matahari memilih bersembunyi sepanjang hari ini.
Viona mengangguk. "Hujan benar-benar membawa petaka dan aku semakin benci pada hujan di pagi hari,"
Nathan menatap Viona dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Dan sampai detik ini Nathan masih tidak mengerti apa yang menjadi alasan terbesar Viona sampai dia begitu membenci hujan.
Nathan tersenyum tipis. "Oppa, tidakkah kau merasa kedinginan?" tanya Viona sambil melirik Nathan sekilas. Pria itu hanya memakai jeans panjang hitam dan vest abu-abu gelap berkombinasi hitam tanpa dalaman apapun yang memamerkan otot lengannya yang terbentuk sempurna.
Viona masih tenggelam dengan muram di luar sana. "Bukankah kita selalu menemukan cara untuk saling menghangatkan diri?" Tangan Nathan bergerak. Jatuh tepat di pinggang Viona, melingkari pinggang milik wanita itu sebelum menariknya mendekat.
Pergerakan itu memangkas eksistensi jarak seperkian senti di antara mereka. Viona menoleh. Nathan menatapnya.
Begitu sudah terlalu terbiasa dan seolah memiliki telepati saat dua bibir itu bertemu. Menggoda hujan yang kembali turun di luar sana. Menghangatkan dingin yang menusuk.
Dan sekarang Viona tak peduli lagi dengan hujan yang kembali mengguyur bumi untuk yang kesekian kalinya. Persatuan dua bibir yang saling memagut menjadi pengalihan Viona.
"Aku mencintaimu." Bisik Nathan dan kembali memagut bibir Viona.
Desau angin yang tak henti-hentinya berhembus menggoyangkan gorden jendela di belakang mereka. Nathan mengangkat tubuh Viona bridal style kemudian membaringkan pada tempat tidur.
Dan selanjutnya yang terdengar hanyalah suara desahan dan derit ranjang yang menggema memenuhi di penjuru ruangan, mereka berdua akan saling menghangatkan ditengah udara dingin yang serasa membekukan.
-
Dora memicingkan matanya melihat keadaan Shion yang begitu berantakkan. Dora menghampiri putri sambungnya itu dan bertanya. "Kau terlihat buruk akhir-akhir ini. Apa semua baik-baik saja?" tanya Dora memastikan.
"Buruk, sangat-sangat buruk," jawabnya datar.
"Kenapa? Kau sedang dalam masalah?" Dora menatap putri sambungnya itu dengan penuh selidik.
"Jika kau tau kenapa masih bertanya. Keluarlah, kedatangan Ibu di sini hanya membuat moodku semakin memburuk,"
"Anak tak tau diri. Berani sekali kau mengusirku? Jika saja aku tidak memandang mendiang ayahmu sebagai suamiku. Pasti aku sudah melemparkanmu kejalanan!!"
"Terserah," Shion mendorong dan memaksa Dora supaya meninggalkan kamarnya. Kehadiran Ibu tirinya itu hanya membuat moodnya semakin buruk.
Shion menggeram dan mengacak rambutnya dengan kasar. Rasanya Shion ingin mengutuk hantu Viona yang selalu menghantui dirinya. Dan Shion tidak akan melepaskan tiga dukun gadungan itu yang sudah menipunya dengan mentah-mentah dan membawa kabur uang-uangnya.
Bukannya berhasil membebaskannya dari arwah Viona yang menuntut balas padanya. Semalam Shion malah digiring kekantor polisi karna mengelilingi Sungai Han dalam keadaan tak berbusana, dia hanya memakai bra dan CD saja.
Beruntung mereka mau melepaskan saat pagi harinya meskipun harga yang harus Shion bayar tidaklah murah karna dia harus rela berhubungan badan dengan beberapa penjaga sel secara bergantian supaya bila keluar dan Shion tidak menyesalinya.
Perhatian Shion teralihkan oleh dering pada ponselnya. Wanita itu memicingkan matanya melihat nomor asing tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Penasaran siapa yang menghubunginya. Shion segera menerima panggilan tersebut.
"Siapa ini?" tanya Shion *to teh poin
"Apa kau melupakanku, Sayang? Bukankah baru semalam kau melayaniku. Malam datanglah ke lapas, aku merindukanmu*,"
"Aku tidak mau dan aku tidak sudi melayani bandot tua, bau tanah dan tidak ber-uang sepertimu!!" tegas Shion menolak permintaan si penelfon.
"Tidak masalah. Tapi ingatlah, kartu AS mu ada padaku. Jika kau mau koperatif, aku akan mempertimbangkannya lagi untuk tidak membuatmu membusuk di penjara. Tapi jika tidak maka aku akan-"
"Oke, aku akan datang malam ini dan menemuimu!!" kemudian Shion memutuskan sambungan telfonnya begitu saja dan melemparkan ponsel miliknya ke sembarang tempat. "ARKHH!" Shion berteriak dan menggeram marah.
Wanita itu menghancurkan apapun yang ada dikamarnya. Shion tidak tau mimpi buruk apa yang sudah dia alami sampai-sampai harus mengalami nasib buruk seperti ini. Dan Shion bersumpah akan memghabisi pria itu dan memotong juniornya supaya tidak ada seorang pun yang akan membahayakan hidupnya. Dan Shion akan menghabisi siapa pun yang berani membuat masalah dengannya.
__ADS_1
-
Bersambung.