Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 87) "Keresahan Hati Luna"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ETERNAL LOVE (CINTA TERLARANG IBLIS DAN PUTRI LANGIT) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Detik demi detik berlalu begitu cepat. Waktu terus melaju dan tak mau berhenti walau sejenak. Takdir tak dapat dicegah lagi. Waktu dan takdir seolah menentukan segalanya. Nasib seseorang semakin mendekat karena waktu yang cepat berputar.


Waktu terus berjalan. Hari demi hari terlewati, bulan pun berganti. Dan hari ini tepat sepuluh hari usia kandungan Luna memasuki bulan ke-6. Tidak lama lagi seorang malaikat mungil yang begitu dia nantikan akan lahir.


Tak hanya Luna dan Zian saja yang merasa bahagia dan tidak sabar menunggu kelahirannya, semua anggota keluarga dan orang-orang terdekat mereka pun ikut bahagia. Viona terutama, dia akan segera menjadi Bibi.


Tapi di tengah rasa bahagia yang melingkupi dirinya dan Zian, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam Luna benar-benar merasakan kecemasan dan ketakutan yang ia simpan sendiri sejak usia kandungannya memasuki bulan ke-3 yang tidak dia bagi pada siapa pun termasuk Zian.


Semua itu berawal saat Luna melakukan checkup rutin yang pada saat itu tanpa ditemani oleh siapapun, termasuk Zian yang biasanya menemaninya. Luna mendapatkan kenyataan yang membuat perasaannya tertampar. Terlebih lagi Luna sudah merasakan ada yang aneh dengan keadaannya dan juga bayi dalam kandungannya sejak pertengahan bulan ke-3


Dokter mengatakan bahwa kandungan Luna sangat lemah. Dan resikonya sangat besar jika dia memaksakan diri untuk mempertahankan kandungannya. Dokter menyarankan supaya Luna menggugurkan saja janinnya demi menghindari kemungkinan buruk yang terjadi. Tapi Luna menolak dengan keras dan tetap pada pendiriannya untuk tetap mempertahankan janin dalam kandungannya apapun resikonya.


Lagipula Dokter bukanlah Tuhan. Dia memang bisa memprediksikan tapi segalanya Tuhan yang menentukan. Luna yakin dan dia percaya jika keajaiban Tuhan itu ada dan dia mempercayainya.


Luna diminta untuk tidak melakukan aktivitas yang berat, stress, ataupun tertekan agar perkembangan bayinya tetap baik. Dan juga menambah asupan nutrisi yang baik dengan banyak memakan buah, sayur, daging, dan ikan serta susu yang biasa di konsumsi oleh ibu hamil.


Sepulang dari rumah sakit, Luna benar-benar mematuhi semua perkataan dokter. Dia yang tidak menyukai sayuran, membeli banyak sekali sayuran berbagai jenis setelah mencari tahu sayuran apa yang baik untuk orang yang sedang mengandung sepertinya. Buah-buahan, berkotak-kotak susu hamil, ikan, dan entah berapa kilogram daging yang di belinya. Dan semua itu Luna lakukan demi perkembangan dan kesehatan janin dalam kandungannya.


"Apa yang sedang kau lamunkan?" tegur Zian yang kemudian duduk di sebelah Luna.


Wanita itu mengangkat wajahnya kemudian menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya berfikir apakah aku bisa melahirkan anak ini dengan selamat atau tidak. Terus terang saja, Oppa. Aku merasa sangat takut dan cemas, aku takut jika aku tidak bisa bertahan ketika menghantarkan dia untuk melihat dunia ini," ujar Luna. Tatapannya berubah sendu dengan sorot mata yang sarat akan kesedihan dan rasa putus asa.


"Apa yang kau katakan? Berhentilah berbicara sembarangan, Luna Qin!! Semua akan baik-baik saja, jadi jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku sungguh tidak suka mendengarnya!!"


"Maaf, aku hanya berasumsi saja," elaknya.


Sejujurnya Luna merasa sangat takut. Dia benar-benar takut. Dan rasa takut itu serasa menghimpit dadanya hingga membuatnya merasa sesak. Rasanya ada dua bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya.

__ADS_1


Luna tersenyum dan kembali menatap pada Zian. Dia tidak ingin jika suaminya itu sampai melihat ada kecemasan di matanya. "Oppa, aku ingin mangga muda. Bagaimana kalau kita keluar untuk membelinya?" usul Luna sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian.


Zian menggulirkan pandangannya pada jam yang menggantung di dinding dan waktu menunjuk pukul 10 malam. "Tapi ini sudah malam, Lun. Dan di mana kita bisa mendapatkannya? Aku tidak yakin jika masih ada kedai buah yang masih buka," ujarnya.


Luna mencerutkan bibirnya. "Kalau memang tidak mau bilang saja tidak kau, tidak usah banyak beralasan," Luna menekuk wajahnya. Kemudian dia bangkit dari posisinya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Zian sendiri di ruang keluarga.


Zian mendesah berat. "Merajuk lagi," gumamnya.


Zian segera bangkit dari duduknya kemudian mengejar Luna. Setibanya Zian di kamar, dia melihat Luna yang sedang duduk bersila di atas tempat tidur sambil menangis tersedu-sedu. Wanita itu terus berceloteh tidak jelas sambil mengusap perutnya yang membuncit.


Zian mendesah berat. Dia tau, jika keinginannya itu tidak dipenuhi, Luna tidak akan berhenti dan tetap seperti itu sampai besok pagi. "Baiklah, ayo kita pergi keluar untuk membeli mangga muda. Tapi dengan satu syarat, jika kita tidak mendapatkannya kau tidak boleh sampai merajuk lagi," Luna menyusut air matanya kemudian mengangguk patuh. "Ambil mantelmu, aku tidak ingin kau sampai sakit karena kedinginan.


"Tunggu sebentar,"


.


.


Sudah hampir dua jam mereka berkeliling kota mencari mangga muda yang Luna inginkan. Namun mereka tak juga mendapatkannya. Semua kedai buah-buahan sudah tutup mengingat jika waktu hampir menunjuk pukul 12 tengah malam.


Setibanya di Villa, Luna langsung pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Wanita itu membaringkan tubuhnya dalam posisi terlentang. Dan tidak sampai lima menit Luna sudah terlelap dalam tidurnya.


Zian menghampiri wanita itu dan mendengus geli. Merasa lelah dan mengantuk juga. Kemudian Zian ikut membaringkan tubuhnya di samping Luna. Dan tidak sampai satu menit Zian sudah terlelap dalam tidurnya.


-


Cicit burung yang bertengger di atas pohon riuh bersahut-sahutan. Suara angin pagi yang terasa menyegarkan mambuat kalbu siapapun terasa tenang. Tak lupa suara angin yang menggoyangkan setiap daun pepohonan menambah elok suasana sekitar danau yang berada di belakang Villa.


Luna masih meringkuk di atas tempat tidurnya sambil memeluk guling kesayangannya. Ia masih menikmati berpetualang di alam mimpi. Sementara itu sosok tampan yang sebelumnya tidur disampingnya sudah tak terlihat disana. Hanya tinggal Luna saja yang masih belum terbangun. Makanan semalam yang Zian sengaja tinggalkan masih untuh pada ditempatnya. Tampaknya Luna tak menyentuhnya sedikitpun.


Sang mentari mulai menampakkan sosoknya yang begitu gagah. Sinarnya yang hangat mampu mengusir hawa dingin di sekitar danau. Air danau yang berkilau terkena bias cahaya sang mentari menambah kesan keeksotisan pemandangan danau tersebut.


Sesosok pria tampan dengan kaus putih lengan terbuka dan juga celana jeans panjang muncul dari balik pepohonan. Rambut blondenya berkilau dan tergerai bebas diterpa anngin pagi yang hangat. Ia berjalan dan kembali ke Villa.

__ADS_1


Setibanya di sana, Zian melihat Luna yang masih terlelap dalam tidurnya. Melihat wajah lelah sang dara membuat Zian tidak tega untuk membangunkannya. Akhirnya Zian membiarkan Luna melanjutkan mimpinya. Dan yang perlu dia lakukan sekarang adalah pergi ke dapur kemudian menyiapkan sarapan dan susu untuk Luna.


Tepat setelah Zian menyelesaikan pekerjaannya. Terlihat sosok Luna menuruni tangga dan menghampiri sang suami yang sedang berdiri di depan kulkas yang terbuka. Luna memeluk Zian dari belakang sambil menyandarkan sisi wajahnya pada punggung lebar suaminya.


Zian menoleh. Menatap wanita yang tengah memeluknya itu. "Kau sudah bangun? Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Sebaiknya kita sarapan sekarang," ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. Kebetulan sekali dia memang sangat lapar dan ingin cepat makan.


Dan selanjutnya sarapan mereka berdua lewatkan dengan tenang. Tanpa obrolan dan tanpa kebisingan yang mengikat. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan, baik Luna maupun Zian sama-sama tidak ada yang bicara dan berusaha mencairkan suasana. Mereka terlalu menikmati sarapannya pagi ini.


"Aaahhh,,"


Trang...!!


Sendok dalam genggaman Luna terlepas begitu saja saat tiba-tiba dia merasakan sakit yang luas biasa pada perutnya. Dan hal itu tentu mengejutkan Zian. Zian meletakkan sendoknya kemudian menghampiri Luna dan memastikan keadaannya.


"Luna, kau kenapa?" tanya Zian yang terdengar begitu panik.


"Tidak apa--apa, Oppa. Hanya saja perutku tiba-tiba terasa kram." Jawabnya. Meyakinkan pada Zian jika dia memang baik-baik saja.


"Kau yakin?" Luna mengangguk. "Sebaiknya sekarang kita ke kamar. Kau istirahat saja, jangan banyak bergerak,"


Luna menyingkirkan tangan Zian dari lengannya kemudian menggeleng. "Tidak perlu berlebihan, Oppa. Sungguh, aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu sepanik itu."


"Bagaimana mungkin aku tidak panik ketika melihatmu kesakitan!!" Bentak Zian dengan suara sedikit meninggi.


Bibir Luna tiba-tiba bergerak naik-turun. "Ke-Kenapa kau malah memarahiku?" dan terlihat cairan-cairan Cristal bening berjatuhan dari pelupuk matanya yang kemudian jatuh dan membasahi wajah cantiknya. "Hiks, Oppa.. Kenapa kau malah memarahiku? Hiks .. Aku kan jadi sedih,"


Zian mendengus berat. "Ck, siapa yang memarahmu? Baiklah, aku minta maaf dan tidak akan memarahiku lagi. Tapi jangan nangis lagi, kau terlihat jelek,"


"Hiks... Hiks... Huaaa .." Dan tangis Luna semakin pecah ketika Zian menyebutnya jelek. Dan hal itu tentu saja membuat Zian geli sendiri. "Hiks, kau jahat Oppa. Kenapa kau malah menyebutku jelek? Hiks, kau sungguh-sungguh keterlaluan,"


"Baiklah, kau tidak jelek tapi cantik. Hapus air matamu dan ayo kita pergi jalan-jalan. Sepertinya cuaca hari ini sangat mendukung untuk jalan-jalan di luar,"


Kedua mata Luna berbinar seketika. Dengan cepat wanita itu mengangguk. "Aku mau!! Ayo kita pergi sekarang," ucapnya begitu antusias. Dan emosi Luna yang berubah-ubah setiap detiknya membuat Zian geli sendiri. Tapi dia lega melihat Luna kembali tersenyum seperti sebelumnya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2