
Perhatian Nathan yang sedang berbaring disofa teralihkan oleh getaran pada ponselnya. Pria itu lantas bangkit dari posisi berbaringnya dan mendapati satu nama tertera dilayar ponselnya yang menyala terang.
^Oppa. Kau jahat, bagaimana mungkin kau berlibur tanpa diriku?^ Nathan segera menjauhkan ponsel dari telinganya karna terikan seseorang diseberang sana. Nathan mendengus , berdecak kesal dan kembali menempelkan ponsel itu pada telinganya.
"Tenanglah Cherly aku tidak pernah merencanakan liburan ini. Dan liburan ini kedua kakakku yang merencanakannya, aku tidak memiliki kesempatan untuk memberi taumu."
^Jahat jahat jahat , kau sangat jahat padaku Oppa. Aku kan juga ingin naik kapal pesiarmu yang super mewah itu. Aku ini calon istrimu, ingat itu.^
"Ini masih terlalu awal untuk kita membahas pernikahan. Lagi pula aku tidak memiliki niat untuk menikahimu dalam waktu cepat." Tandas Nathan menegaskan.
^Apa? Kenapa begitu? Aku sudah mengatakan pada semua orang jika kita akan menikah akhir bulan ini. Aku juga sudah memesan gaun pengantin dan membuat undangan, kenapa kau malah bersikap seperti ini padaku? Kau jahat Oppa, kau jahat.^
"Tetap saja seperti dulu, merepotkan. Memangnya siapa yang mengatakan jika aku akan menikahimu akhir bulan ini? Kenapa kau mengambil keputusan tanpa membicarakan dulu denganku , eo? Apa kau fikir pernikahan adalah sebuah permainan? Kau benar-benar bodoh! Urus saja sendiri, lama-lama kau membuatku muak." Nathan memutuskan sambungan telfonnya dan melemparkan ponsel itu keatas meja.
Sejak awal Nathan memang tidak ada kinginan untuk menikahi gadis itu. Dia tidak pernah mencintainya. Dimatanya, Cherly tidak ada istimewanya sama sekali. Baginya Cherly hanyalah sebuah boneka yang bisa dia mainkan saat masih suka kemudian bisa dia buang ketika dia sudah.
Sebenarnya Cherly tidak hanya mencintai Nathan saja, namun juga mencintai harta yang dia miliki. Cherly selalu meminta ini dan itu padanya, dan semua itu adalah barang branded dengan harga selangit. Dan apa yang Senna katakan mengenai gadis itu bukanlah sebuah omong kosong melainkan fakta. Dan Nathan masih menunggu waktu yang tepat untuk mendepak gadis itu dari hidupnya.
Tokk tokk tokkk!!
"Paman, boleh aku masuk." seru seseorang dari luar kamar Luhan.
"Masuk saja, pintunya tidak dikunci." jawab Nathan menyahuti.
Cklekk!
Pintu berpelitur elegan itu dibuka dari luar. Nathan mengulum senyum lembut melihat kedatangan Rio. Rio menutup kembali pintu itu sebelum menghampiri Nathan. "Paman, apa kau mengganggumu?"
Nathan menggeleng dan beranjak dari posisi berbaringnya . "Tidak, duduklah. Ada apa kau menemuiku? Apa ada sesuatu yang penting?" tanyanya penasaran. Alih-alih menjawab, Rio malah menundukkan wajahnya dan raut wajahnya berubah menjadi sendu.
"Mengenai ayahku, memangnya ayahku itu orang seperti apa? Dan kenapa mama selalu marah saat aku mencoba mengungkit tentang dia? Dan apakah benar jika aku ini adalah anak haram?"
Degg!!
Nathan terkejut saat Rio tiba-tiba saja membahas mengenai ayahnya, sudah Nathan duga jika Rio pasti akan bertanya pada dirinya maupun Henry mengenai ayahnya. Dan Nathan bingung harus menceritakan yang sebenarnya atau tidak. Tapi tidak ada alasan juga Nathan menyembunyikan fakta itu dari Rio. Rio sudah dewasa dan dia berhak untuk mengetahui yang sebenarnya antara ayah dan ibunya.
"Baiklah. Paman akan menceritakannya padamu, siapa ayahmu dan bagaimana kedua orang tuamu bisa berpisah."
Akhirnya Nathan pun menceritakan semuanya pada Rio. Mulai awal hingga akhir, bagaimana kedua orang tuanya bisa bertemu, kemudian menikah dan akhirnya berpisah. Meskipun kenyataan itu pahit, tapi Nathan tetap menceritakan yang sebenarnya pada Rio tentang siapa ayahnya dan penghianatan seperti apa yang dia lakukan pada ibunya sampai-sampai Senna begitu membencinya.
Raut wajah dan ekspresi Rio selalu berubah-ubah saat mendengar cerita Nathan. Kadang tersenyum, kadang kesal, kadang merasa geli dan marah. Nathan menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan, sesuai fakta dan kebenaran yang dia ketahui.
"Diawal pernikahan mereka ayahmu selalu bersikap baik dan memperlakukan Ibumu dengan sangat manis. Seolah-olah Ibumu adalah wanita yang paling beruntung didunia ini dan Ibumu terlihat sangat bahagia pada saat itu. Sifat asli ayahmu baru terlihat saat pernikahan mereka menginjak usia 1 tahun, dan pada saat itu Ibumu sedang mengandung dirimumu tiga bulan.
Ayahmu sangat murka saat mengetahui tentang kehamilan Ibumu dan meminta dia untuk menggugurkan kandungannya, tapi Ibumu menolaknya dan ayahmu langsung menghajarnya. Dan sejak saat itulah berbagai masalah muncul dalam rumah tangga mereka.
Paman juga tidak tau kenapa ayahmu tidak ingin memiliki anak, kemudian satu fakta baru terungkap jika sebenarnya ayahmu sudah menikah dan alasan menikahi Ibumu karna hartanya. Dia tidak hanya menyiksa Ibumu secara fisik namun juga mental dan batinnya. Ibumusempat mengalami depresi dan berkali-kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
Selama empat bulan Ibumu berada dirumah sakit karna hal itu. Tidak ingin hal buruk menimpamu yang masih dalam kandungan, akhirnya Henry memasukkannya kedalam rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan dan penanganan yang tepat. Dalam kondisinya saat itu, ibumu tetap berusaha melindungimu saat dia menyadari betapa besar arti dirimu untuknya.
__ADS_1
Dan tidak mudah untuk mempertahankanmu di dalam kandungannya, bahkan sampai kau dilahirkan kedunia. Ayahmu tetap berusaha untuk membunuhmu, dan Ibumu melakukan segala cara untuk melindungimu. Termasuk menitipkanmu dipanti asuhan selama beberapa tahun.
Pada saat itu usia Paman masih terlalu muda dan tidak tau bagaimana caranya untuk bisa melindungimu. Dan sekarang Paman akan menebus semua yang terjadi dimasa lalu. Paman akan melindungimu dan membalas rasa sakit yang dirasakan oleh mamamu. Ketahuilah jika Ibumu sangatpah menyayangimu."
Gyuttt!!
Kedua tangan Rio terkepal kuat mendengar bagaimana kejamnya laki-laki itu menghianati Ibunya hingga Senna mengalami depresi karna rasa sakit yang dia dapatkan dari suaminya sendiri yang tak lain adalah ayah kandung Rio. Dan yang membuat Rio tak kuasa membendung air matanya adalah saat Senna mempertahankan dirinya yang saat itu masih berada didalam kandungan. Begitu besar pengorbanan sang Ibu untuknya.
"Begitulah ceritanya, ayahmu bukankah orang baik-baik. Dia menghianati ibumu dan menyiksanya secara lahir dan batin. Itulah kenapa dia tidak pernah sudi membahas apa pun tentang dirinya. Dan jika bukan karna dirimu yang masih berada didalam kandungannya, pasti saat itu ibumu sudah mengakhiri hidupnya.
Kau sangat beruntung memiliki ibu sehebat dia, Jae. Ibumu sangat menyayangimu. Dan satu hal yang harus kau ingat jika kau bukanlah anak haram, jangan pernah membencinya lagi. Dia tidak bersalah dan bukan keinginannya untuk menelantarkanmu. Dan alasan kenapa dia menitipkanmu di panti asuhan karna dia tidak ingin kehilanganmu. Dia sangat menyayangimu." tutur Nathan panjang lebar.
Rio tidak kuasa membendung air matanya. Pemuda itu menangis sejadi-jadinya. Rio menyesal karna telah salah paham pada ibunya selama ini, dan dia ingin segera pulang kemudian meminta maaf padanya.
"Hiks.. Paman, aku sudah sangat jahat pada Mama. Aku anak yang durhaka, Paman aku ingin minta maaf dan mencium kaki mama. Rio ingin memeluk mama dan mengatakan betapa Rio sangat menyayanginya." Nathan tidak kuasa menahan air matanya lalu membawa Rio kedalam pelukannya, mengusap punggung keponakannya itu dengan gerakan naik turun.
"Ya, kau memang harus melakukannya." Nathan melonggarkan pelukannya dan tersenyum lembut. "Bersiaplah, bukankah ada pesta dansa malam ini? Paman juga akan segera bersiap." Paman tersenyum dan mengangguk.
"Oke, Paman."
.
oOo
.
Tubuh rampingnya terbalut lace dress panjang berwarna putih gading berlengan panjang namun terbuka dibagian punggung dan bahunya. Wajahnya diberi polesan make up tipis, tidak mencolok namun terlihat natural. Rambut panjangnya digulung keatas hingga terlihat leher jenjangnya. Tidak ketinggalan kalung dan anting berlian yang sesuai dengan gaunnya yang akan menyempurnakan penampilannya.
Perlahan, Viona segera berdiri dan meraih tas kecil yang ia siapkan diatas tempat tidur yang didalamnya hanya berisi ponsel dan dompet miliknya.
Ditengah langkahnya, Viona melihat banyak pasangan yang sudah bersiap untuk pergi menuju dek tempat pesta dansa diadakan. Dan hanya dirinya yang tidak berpasangan. Viona berjalan kearah yang berbeda, lebih tepatnya ke tempat di mana dirinya dan Nathan pertama kali bertemu, karna dengan dialah Viona akan pergi kepesta dansa.
Dalam langkahnya, mata hazelnya melihat pria itu berdiri di sana. Sudut bibirnya Viona tertarik keatas, dengan satu tarikan nafas panjang Viona menghampiri Nathan. "Maaf sudah membuatmu menunggu lama." Ucapnya penuh sesal
Suara lembut dan familiar itu mengintrupsi Nathan untuk menoleh. Untuk sesaat Viona melupakan bagaimana caranya bernafas melihat bagaimana tampannya Nathan malam ini. Kemeja putih lengan panjang yang dipadukan dengan vest dan jas hitam serta celana bahan berwarna hitam juga. Rambut coklatnya ditata rapi. Tak ketinggalan anting dan eyeliner yang kian mempertajam tatapannya.
"Tidak apa-apa, aku juga baru sampai disini. Kau terlihat sangat cantik malam ini."
Blussshhh!!
Rona merah kembali menghiasi pipi Viona mendengar pujian Nathan, dan lagi-lagi jantungnya berdebar kencang. "Ayo." ragu-ragu Viona melingkarkan tangannya pada lengan Nathan. Keduanya berjalan beriringan menuju lokasi dimana pesta dansa diadakan. Mereka terlihat seperti pasangan sungguhan, dan pasti akan sangat sempurna jika mereka benar-benar menjadi pasangan.
Kehadiran mereka berdua begitu mencuri perhatian para pasangan yang ada dipesta itu. Cantik dan tampan, sungguh perpaduan yang sempurna.
Mata hazel Viona membulat saat melihat pemandangan di dek kapal yang sudah ditata sedemikian rupa dan di hiasi lampu-lampu terang. Beberapa pelayan berkeliling menawarkan minuman juga panggung tempat pertunjukan music yang terlihat seperti pertunjukan opera.
Begitu ramai dan kesan romantis begitu terasa. Dan memang paling pas menaiki pesiar ini dengan pasangan. Bukan seorang gadis yang hanya ingin menikmati waktu liburnya , beruntung dia bertemu dengan seseorang yang membuat perjalanannya menjadi begitu berbeda. Hingga Viona tidak perlu merasa kesepian karna hanya sendiri tanpa berpasangan.
Perlahan Viona dan Nathan memasuki dek kapal dan bergabung dengan hiruk piruknya suasana . Lalu pandangan mereka bergulir pada lantai dansa yang sudah di isi oleh beberapa pasangan yang berdansa dengan sangat indah. Viona mengamati dansa itu dan dia mengenalinya, itu adalah dansa waltz yang dikenal sangat romantis.
__ADS_1
"Mau berdansa juga?" tanya Nathan memberikan penawaran.
Viona meringis getir. "Aku tidak pandai berdansa. Tidak, tapi tidak bisa sama sekali." Ucapnya
"Aku akan mengajarimu." Sela Nathan
"Tapi-"
"Ayo."
Dengan ragu Viona menerima uluran tangan Nathan setelah melihat betapa romantisnya para pasangan yang sedang berdansa. Nathan menarik tangannya dan menyatukan tubuh mereka berdua. Mata coklat Nathan menatap lembut hazel milik Viona yang terlihat gugup karna diperhatikan seperti itu oleh Nathan.
Tangan kiri Nathan memeluk pinggang ramping Viona sementara tangan kanannya menggenggam jemari lentik gadis itu. Nathan membawa Viona untuk berdansa bersamanya.
"Tidak perlu merasa ragu, ikuti langkahku."
Alunan music romantis yang mengalun membuat mereka berdua sama-sama melupakan status yang mereka sandang saat ini. Seolah-olah pancaran mata mereka yang saling memandang saling berbicara dan tubuh merekalah yang melakukannya. Tubuh mereka bergerak seirama , hingga Viona meletakkan kepalanya pada bahu tegap Nathan tanpa sadar. Mereka berpelukan sambil berdansa seperti pasangan lain lakukan.
"Kau tau, ini adalah liburanku dengan pesiar yang paling berkesan."
"Kenapa?"
"Karna keberadaanmu disini."
"Bukankah ini perjalanan yang sangat romantis? Dan kisah kita seperti kisah para putri dinegeri dongeng." Ujar Viona tersenyum.
"Cinderella story, huh?"
Viona mengangkat bahunya. "Entahlah, mungkin saja."
Tidak ada lagi yang membuka suara setelahnya. Sama-sama meresapi kebersamaan yang mungkin tidak akan bertahan selamanya. Karna setelah liburan ini berakhir, belum tentu kisah mereka akan tetap sama. Alunan music membimbing mereka untuk tetap menggerakkan tubuhnya. Andaikan waktu bisa berhenti saat ini, Viona rela.
.
.
Bersambung.
Visual Rio anak Senna....
Visual Frans adik angkat Nathan...
Visual Satya adik angkat Nathan...
__ADS_1