Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 57 "Kegaduhan Tiga Curut"


__ADS_3

Suasana pagi di kediaman keluarga Lu bukanlah hal yang bisa ditemukan pada kediaman keluarga lain. Teriakkan keras, panggilan-panggilan konyol, ejekkan hampir mengawali pagi hari keluarga ini. Henry yang berperan sebagai kepala keluarga selalu menggunakan penutup telinga saat menikmati sarapan paginya sementara Senna selalu membawa spatula sebagai alat untuk berjaga-jaga.


"HUAAAAA!!! RIO KAU NGOMPOL LAGI?"


Teriakan nyaring dari salah satu kamar yang berada di lantai dua membuat Henry dan Senna mendongak seketika. Keduanya sama-sama mendengus kemudian kembali sibuk pada kegiatan masing-masing seperti Senna yang sibuk menyiapkan sarapan untuk semua keluarganya. Sementara Henry kembali pada koran paginya. Mereka tidak mau peduki dan ambil pusing dengan keributan yang Rio, Satya dan Frans ciptakan.


Gludukkk!!


Gludukk!!


Gubrakkk!!


"Kkkyyyaaa!!! Pinggangku, yakk! Paman muka bayi, apa kalian ingin membuatku kena encok eo?" amuk Rio sambil memegangi pinggangnya yang rasanya seperti ingin patah karna tertindih tubuh Frans.


"Siapa suruh kau ngompol dikasurku."


"Aku tidak ngompol tapi terkencing." jawab Rio membela diri.


"Itu sama saja bocah,"


Henry dan Senna lagi-lagi hanya bisa mendengus berat. Tidak cukup sampai disitu kegaduhan yang mereka ciptakan. "RIO, KAU KEMANAKAN SEMUA VIDEO ENAENAKU?" Hampir saja Henry dan Senna terkena serangan jantung dadakan teriakan keras Satya yang menggema kesegala penjuru rumah. Buru-buru Rio dan Frans menutup telinganya.


Satya marah besar dan tidak terima karna Rio menghilangkan semua video mesum yang tersimpan diponselnya. Ria selaku tersangka utama hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Maaf, Paman. Aku tidak sengaja, bukan cuma aku tapi Paman Frans juga." Ujar Frans membela diri. "Malahan dia yang hampir semalam penuh melihat video-video itu," imbuhnya menambahkan.


"Yakk!! Kenapa kau malah melemparkan semua kesalahanmu padaku, bocah tengik? Jelas-jelas kau yang memegang ponsel itu karna aku juga memiliki banyak video bagus diponselku. Kau sendiri yang bilang tidak sengaja menghapus folder 21+ 'kan."


ujar Feans menjelaskan. "Sat, aku tidak tau apa-apa. Jika ingin menyalahkan, salahkan saja bocah ini,"


"Aku tidak mau tau, pokoknya kalian berdua harus mengganti dan menggembalikan semua video itu tanpa terkecuali,"


"Enak saja, aku tidak mau." Ucap Frans dan pergi begitu saja.


"Yakk!! Jangan kabur kau Frans Lu." teriak Satya dan bergegas menyusuk Frans.


Mata Fran lantas terbelalak, buru-buru ia mempercepat langkahnya. "KYYYYAAA!! HYUNG, NUNNA! HELP ME, BOCAH CANTIK INI MENGEJARKU!!"


Nathan, Viona dan Tiffany yang baru saja tiba langsung disambut pertengkaran konyol antara Satya dan Frans yang saling mengejar. Kedua pemuda itu saling berteriak dan melemparkan umpatan-umpatan yang cukup untuk menggelitik perut. "Nunna, selamatkan aku dari bocah itu," adu Frans sambil bersembunyi dibalik punggung Viona.

__ADS_1


"Yakk!! Jangan sembunyi kau wajah bayi,"


"Yakk!! Berhenti memanggilku wajah bayi, butiran upil." seru Frans tidak terima. Frans berpindah dan bersembunyi dibalik punggung Tiffany.


Seakan tuli mereka berdua mengabaikan peringatan Henry dan Senna, mereka hanya menganggap jika ucapan mereka sebagai angin lalu. "Kemari kau, Frans Lu!!"


"Yeyeyey!! Ayo kejar aku." Frans mengejek Satya sambil menepuk-nepuk pantatnya sendiri, pemuda berwajah imut itu menjulurkan lidahnya membuat Satya semakin marah.


Nathan mendesah berat. Mata coklatnya menatap tajam pada Satya dan Frans yang saling mengejek, menutup mata kanannya seraya menghela nafas panjang. "Berhenti kalian berdua." Serunya dengan nada rendah namun penuh penekanan.


Sorot matanya yang tajam penuh intimidasi membuat Satya dan Frans bungkam seketika, membuat mereka dengan susah payah menelan saliva melihat aura mengerikan yang terpancar dari mata kanan Nathan. Buru-buru mereka berdua bersembunyi dibalik punggung tegap Henry.


"Hyung, kami takut. Nathan Hyung menakutkan," ucap keduanya.


Henry mendengus geli. Kadang-kadang kedua adik angkatnya itu bersikap menyebakan, kadang-kadang mereka terlihat begitu menggemaskan dan kadang-kadang menggelikan. Namun tanpa adanya mereka rumah tidak akan hidup, karna Rio, Satya dan Frans adalah pencair suasana. Dan satu-satunya yang bisa mengatasi kenakalan mereka bertiga hanya Nathan. Mereka tidak akan bisa berkutik jika Nathan sudah bersuara. "Makanya berhentilah berulah," sindir Rio yang begitu puas melihat ketakutan kedua paman kecilnya.


"Diamlah kau bocah!!" pekik keduanya nyaris bersamaan.


Rio terkikik geli. Meninggalkan lantai dua dan berjalan menuruni tangga menghampiri semua orang. Tapi tiba-tiba....


"KYYYAAAA!!!"


Gluduk!!


Gluduk!!


"Aaaahhh! Pinggangku."


Perhatian semua teralihkan. Mata mereka membelalak melihat Rio terjatuh dalam posisi yang sangat tidak elit. Buru-buru Satya dan Frans menghampiri keponakan kesayangan mereka lalu membantunya, meskipun terkadang Rio bersikap menyebalkan dan menjengkelkan namun tetap saja dia adalah kesayangan semua orang dalam keluarga Lu. "Apa-apaan kau ini, Rio?" tanya Frans dan Satya seraya membantu Rio berdiri.


"Aku tergelincir saat akan turun, Paman. Dan endingnya aku terguling-guling kemudian berakhir mengenaskan. Aaahhh, pinggangku."


"Dasar konyol."


Mengabaikan ketiga pemuda itu. Nathan berjalan keruang tamu di ikuti Henry, sementara Viona dan Tiffany membantu Senna di dapur. Henry tidak merasa terkejut meskipun ada kasa yang menutup mata kiri Nathan yang tertutup sebagian poni rambutnya karna Senna sudah memberi taunya semalam.


.


.

__ADS_1


"Aku dengar dari Kai kau membuta salah satu kaki Derry lumpuh, kenapa tidak langsung kau habisi saja?"


Nathan menerima rokok yang Henry sodorkan padanya. "Aku memiliki banyak pertimbangan, Ge. Karna aku fikir membunuh Derry juga tidak akan merubah apapun. Kita tidak akan mendapatkan keutungan apa pun. Lagi pula tidak adil jika aku langsung mengirim bajing** tua itu ke neraka. Aku ingin membunuhnya secara perlahan-lahan, dengan menyiksa batinya. Bukankah itu akan sangat menyengkan?" ujar Nathan dengan seringai Iblis andalannya.


Henry merinding sendiri melihat seringai Nathan. "Kau memang tidak pernah berubah, Nathan Lu. Cerdik, licik dan tidak memiliki hati,"


Nathan menyeringai tipisl "Aku anggap itu sebagai pujian." Nathan mengalihkan pandangannya mendengar gelak tawa yang berasal dari arah dapur.


Pria dalam balutan kemeja hitam lengan terbuka dan jeans dengan warna senada itu mengulum senyum setipis kertas. Pasca mengalami keguguran, ini pertama kalinya Nathan melihat Viona bisa tertawa selepas itu. Melihat Viona kembali seperti sedia kala membuat hati Nathan menghangat, tidak ada yang lebih membahagiakan lagi di dunia ini selain melihat senyum di bibir Viona. 'Teruslah tersenyum seperti itu, Viona Lu. Karna senyummu adalah sumber kekuatanku." ujar Nathan membatin.


"Tuan ada masalah,"


Perhatian Nathan dan Henry sedikit teralihkan karna kedatangan Kai. Nathan memicingkan mata kanannya melihat wajah tegang Kai "Ada apa, Kai?" tanya Nathan to the poin. "Katakan, tidak perlu takut."


Kai menundukkan wajahnya. "Maaf Tuan, Derry Ardinata berhasil melarikan diri dari pengawasanku. Dia dibantu putranya berhasil kabur dari rumah sakit." jelas Kai.


Nathan mendesah berat, laki-laki itu menyenderkan punggungnya pada sofa. "Aku sudah menduganya, bajing** tua itu pasti akan melakukan hal semacam ini. Tapi kau tidak perlu merasa cemas Kai, keberadaannya tidak akan sulit terlacak. Aku sudah memasukkan alat penyadap kedalam ponselnya." ujar Nathan. "Gunakan ini," Nathan melemparkan sebuah ponsel pada Kai. "Ponsel itu sudah terhubung dengan dengan alat yang aku simpan di ponsel Derry Ardinata, kau bisa melacak keberadaan mereka melalui ponsel itu."


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu."


"Hyung/Paman, tunggu kami. Kami ikut," seru Rio, Satya dan Frans nyaris bersamaan.


Kai memicingkan matanya dan menatap mereka penasaran. "Untuk apa?" alih-alih menjawab, ketiga pemuda itu malah mengulum senyum misterius.


Kai mendesah berat. "Tidak masalah, asal kalian tidak melakukan hal yang aneh-aneh." Mereka saling bertukar pandang dan mengangguk dengan kompak.


"Tentu, tunggu apa lagi? Kita lest go." Seru ketiganya dan meluncur pergi, meninggalkan Kai yang masih berjalan mengekor dibelakang.


"Mereka bertiga memiliki dendam kesumat pada Leo Ardinata setelah laki-laki itu melukaimu diawal pernikahanmu dengan Viona. Mereka bertiga juga berperan penting dalam membuat perusahaan yang dikelola Leo mengalami kebangkrutan dan kemarin mereka menguras sebagian besar uang Leo. Kadang aku berfikir, mereka itu terlalu cerdik atau terlalu konyol. Tapi yang jelas mereka sangatlah menyayangimu, Adik." ujar Henry panjang lebar.


Nathan tersenyum tipis. Ia benar-benar beruntung karna memiliki keluarga yang begitu menyayangi dan peduli padanya, ditambah dengan kehadiran Viona yang semakin menyempurnakan hidupnya, dan hidupnya pasti akan lebih berwarba lagi setelah Tuhan mempercayai dirinya dan Viona untuk menjaga titipannya.


"Apa yang kau fikirkan, hm?" tanya Henry yang segera dibalas gelengan oleh Nathan.


"Tidak ada, dan bisakah kita mulai saja sekarang sarapannya? Cacing dalam perutnya sudah meronta-ronta sejak tadi." ujarnya seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja makan. Diam-diam Henry mengulum senyum setipis kertas, bangkit dari duduknya dan bergegas menyusul Nathan.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2