Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 55 "Marga Asli Viona"


__ADS_3

Dua bulan pasca keguguran. Viona belum sepenuhnya bisa mengambil alih kembali hidupnya.


Terkadang Viona merasa iri dengan cerita-cerita fiksi dalam novel yang sering dibacanya ketika dalam waktu senggang. Bukan karna ending bahagianya, tapi karena si penulis bisa menuliskan 'beberapa tahun kemudian' dengan mudahnya setelah kejadian menyedihkan yang menimpa si tokoh utama maupun tokoh pendamping.


Dalam hatinya kadang Viona bertanya-tanya bagaimana sang tokoh melewati waktu-waktu tersebut. Apa mereka juga tersiksa sepeti halnya dirinya? Apa tubuh dan pikiran mereka seakan lumpuh seperti yang dialami olehnya? Bagaimana mereka bisa melanjutkan hidup mereka dengan separuh jiwa mereka yang hilang -atau seluruh jiwanya dalam kasus Viona.


Sangat sulit bagi Viona untuk bisa berfikir jernih, seluruh instingnya seakan-akan mati, tapi nuraninya menolak karena tidak ingin membuat Nathan semakin sedih.


Viona mencoba memulai kembali hidupnya dari awal. Dia tidak bisa terus-terusan terpuruk dalam duka dan penyesalan. Dia harus bangkit, bukan hanya sekedar kata-kata saja tapi benar-benar bangkit. Meskipun itu tidaklah mudah, tapi dia harus tetap mencobanya. Bukan hanya demi dirinya, tapi demi Nathan dan semua orang yang peduli dan sangat menyayanginya.


Jam dinding sudah menunjuk angka 12, yang artinya sudah memasuki jam makan siang. Di sebuah cafe yang berada di pusat perbelanjaan. Terlihat dua orang wanita sedang menikmati makan siangnya dengan tenang dengan diiringi obrolan-obrolan ringan namun menghanyutkan.


Keberadaan mereka di sana tentu menarik perhatian banyak pasang mata. Paras mereka yang cantiklah yang menjadi alasan utamanya. Baik itu yang masih sendiri maupun yang sudah berpasangan. Tapi keduanya tak mau terlalu ambil pusing dan mengabaikannya.


"Oya, Vi. Akhir ini kau dan suamimu ada acara tidak?" tanya Tiffany di tengah kesibukkannya menyantap makan siangnya.


Viona menggeleng. "Aku masih belum tau. Tapi aku rasa tidak, memangnya ada apa?"


"Rencananya akhir pekan ini aku akan mengajak Henry Oppa untuk pergi jalan-jalan ke Busan dan bermalam di sana. Bagaimana kalau kau dan Nathan ikut juga jadi kita bisa pergi sama-sama. Bagaimana?"


"Aku akan membicarakannya lebih dulu dengan Nathan Oppa. Aku bilang iya tapi takutnya malah tidak bisa di hari H. Kau tau sendiri bukan jika suamiku itu adalah orang yang super sibuk. Jadi aku tidak bisa berjanji,"


"Tidak masalah. Lagi pula aku tidak akan memaksa, tapi aku sangat berharap kalian berdua bisa ikut pergi juga."


"Akan aku usahakan."


"Baiklah, akan ku tunggu kabar baiknya darimu." Jawab Tiffany tersenyum.


Sebenarnya Viona juga ingin ikut pergi bersama Tiffany dan Henry. Tapi yang menjadi masalahnya adalah Nathan, akhir-akhir ini suaminya itu menjadi sangat sibuk dengan pekerjaan kantornya di tambah beberapa masalah yang terjadi belakangan ini. Bisa saja Viona memaksanya tapi mungkinkah Nathan akan setuju untuk ikut pergi? Entahlah, Viona tidak merasa yakin.


Di saat Viona tengah sibuk berkutat dengan pikirannya. Tiba-tiba ponsel dalam genggamannya berdering dan membuat wanita itu terlonjak kaget. 'Suamiku' tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.


"Dari siapa Vi?" tanya Tiffany penasaran. Viona mengangkat ponselnya dan menunjukkan layarnya yang menyala pada Tiffany. "Nathan?" Viona mengangguk. "Lalu kenapa tidak kau angkat?"


"Bagaimana aku mau mengangkatnya, kau terus saja bertanya." Sinis Viona menyahuti dan Tiffany hanya terkekeh tanpa dosa.


"Oke, oke maaf. Ya sudah angkat gih,"


"Hallo Oppa, ada apa?"


"Kau di mana?"


"Aku sedang di luar bersama Tiffany, memangnya kenapa?"


"Malam ini aku akan pulang sedikit terlambat karna ada urusan. Kau tidak perlu menungguku untuk makan malam. Kau makan duluan saja,"


"Hm, aku tidak janji. Lagi pula mana bisa aku makan malam lebih dulu tanpa dirimu. Baiklah, tidak masalah mengemudi dengan hati-hati dan jangan mengebut. *Miss you,"


"Miss you to, Baby*,"


Tiffany menakupkan kedua tangannya di atas meja menatap sahabatnya itu sambil senyum-senyum sendiri membuat Viona ngeri. "Kau sehat?" Viona meletakkan telapak tangannya pada kening Tiffany yang kemudian di tepis olehnya.


"Ck, apa menurutmu aku gila?"


"Salah sendiri senyum-senyum sendiri seperti orang sakit jiwa," ucap Viona tanpa dosa.

__ADS_1


"Enak saja, cantik-cantik begini di sumpahin sakit jiwa. Amit-amit tujuh turunan. Lagi pula aku senyum-senyum manja karna kau dan Nathan. Rasanya aku tidak percaya jika patung es super arogan dan menyebalkan seperti Nathan yang masa bodoh dengan cinta tiba-tiba mencintai wanita sampai seperti itu. Bukankah itu sangat mengerikan, apa jangan-jangan suamimu itu sedang kerasukkan setan bucin?"


"Sembarangan, jangan asal bicara. Sudah siang, aku mau pulang. Masih ingin di sini atau-"


"Tentu saja pulang," Tiffany menyahut cepat.


Dan keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan cafe. Viona ingin segera tiba dirumahnya kemudian beristirahat. Tubuhnya terasa lelah, sebenarnya bukan hanya tubuhnya saja yang lelah, tapi juga batinnya.


Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Viona. Wanita itu menghentikan langkahnya. Alisnya saling bertautan melihat isi dari pesan tersebut.


"Fanny-ya, kau duluan saja. Aku ada urusan, tidak apa-apakan jika kau pulang sendiri?" ucap Viona sedikit tidak enak pada sahabat yang merangkap sebagai calon kakak iparnya tersebut. Tiffany mengangguk. "Baiklah aku pergi dulu,"


.


.


Hampir tiga puluh menit berkendara Viona tiba di lokasi. Wanita itu segera turun dari mobilnya dan menghampiri seseorang yang sudah menunggunya di dalam. 4 pria yang berada di ruangan itu langsung berdiri saat melihat kedatangan Viona.


"Paman, hal penting apa sampai-sampai kau memintaku untuk segera datang?" tanya Viona penasaran.


"Ini mengenai Bram Wiranata,"


"Bram Wiranata?" Alex mengangguk. "Siapa dia? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu,"


"Dia adalah salah satu musuh Tuan Besar. Ketika beliau masih hidup, mereka bermusuhan dan Bram Wiranata adalah salah satu orang yang menginginkan kehancuran Tuan William. Dan kemungkinan besar dia kembali karna ingin menyingkirkan satu-satunya keturunan Tuan William, dan orang itu adalah Anda Nona,"


"Temukan semua informasi tentang pria itu dan segera laporkan padaku. Satu lagi, sebaiknya jangan beri tau tentang masalah ini pada Nathan Oppa. Dia sudah memiliki banyak beban, dan aku tidak ingin menambahnya lagi."


"Baik Nona, kami mengerti."


Viona sadar jika tidak mudah menjalani hidup di dunia yang keras ini. Dan Viona juga tau jika mendiang Ayahnya memiliki banyak musuh di mana-mana, Viona sendiri sudah memprediksikan jika hal semacam ini pasti akan terjadi. Setidaknya dirinya telah siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun.


-


"Aaarrrkkkhhhh....!!!"


Leo berteriak sekencang-kencangnya. Amarah dalam dirinya memuncah. Hari ini adalah hari paling buruk dalam hidupnya. Bertemu dengan tiga pemuda ajaib itu adalah musibah baginya. Bagaimana tidak, hidupnya yang semula baik-baik saja menjadi berantakkan karna ulah mereka bertiga. Dan Leo tidak mungkin bisa melupakan apa yang terjadi hari ini sepanjang hidupnya.


Untuk pertama kalinya dirinya dilecehkan dan parahnya lagi yang melecehkannya bukan wanita ataupun pria melainkan mahluk dua alam(wanita jadi-jadian) hampir di sekujur tubuhnya di penuhi bercak merah dan bagian ujung sosisnya terasa nyeri karna kebringasan ketiga waria tersebut.


Leo merasa seperti ditelanjan** di depan ribuan pasang mata. Dan karna kejadian itu pula kini dirinya tidak berani pergi kemana-mana. Leo merasa sangat malu untuk menghadapi dunia. Jika biasanya dirinyalah yang sering melecehkan kaum wanita, tapi sekarang justru dirinyalah yang dilecehkan dan parahnya lagi orang itu adalah seorang waria. Memprihatinkan tapi juga menggelikan.


"Paman, kami tau kau di dalam. Ayolah jangan seperti ini, cepat buka pintunya dan biarkan kami masuk." Bujuk Rio sambil mengedor pintu rumah Leo berkali-kali.


"Pergi kalian dari sini!!! Aku tidak sudi melihat muka kalian lagi. Pergi sebelum aku hilang kesabaran dan memanggang kalian kalian hidup-hidup!!" teriak Leo dari dalam.


"Kau tidak seru lagi, Hyung. Sudahlah kami pergi saja,"


"Iya, pergi saja kalian!! Dan sebaiknya enyah sekalian dari dunia ini!! AARRRKKKHHHHH!! BRENGS**!!"


-


BRAKKK!!!


Dobrakan keras pada pintu mengalihkan perhatian Viona yang tengah sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Viona mematikan kompornya dan bergegas menuju ruang tamu, tak lupa Viona menyertakan spatula untuk berjaga-jaga bila yang datang adalah penjahat atau mungkin perampok. Karna tidak mungkin Nathan, karna suaminya mengatakan akan pulang terlambat malam ini.

__ADS_1


Dari jarak lima sampai enam meter. Viona melihat Nathan berjalan menuju sofa sambil memegangi mata kirinya. Wanita itu memicingkan matanya melihat benda putih menyembul dari sela-sela tangan suaminya. "Oppa," panggilnya dan menghampiri Nathan "Omo? Apa yang terjadi pada mata kirimu?" panik Viona sambil memekik keras saat melihat sebuah kasa yang menyatu dengan plaster merekat kuat menutupi mata kiri Nathan.


"Tidak perlu panik dan cemas, mata kiriku tidak apa-apa. Aku baru saja menemui kak Senna dan meminta dia untuk melakukan pembedahan kecil pada mata kiriku yang bermasalah. Dan dia bilang dalam waktu dua minggu mata kiriku sudah kembali normal." Terang Nathan menjelaskan.


"Benarkah?" anggukan dari Nathan membuat Viona bernafas lega. "Kau tau, aku sangat panik dan cemas, aku fikir mata kirimu mengalami cidera lagi. Sebaiknya selama dua minggu jangan biarkan terkena cahaya lampu apalagi matahari." Ujar Viona panjang lebar. "Lalu, apa yang terjadi pada pipi kananmu itu?" tunjuk Viona pada plaster yang menutup tulang pipi kanan Nathan.


"Tergores amunisi yang bajing** tua itu lepaskan."


Viona memicingkan matanya. "Bajing** tua? Maksudmu Derry Ardinata?" Nathan mengangguk. Viona mendesah berat. "Oppa, sebaiknya kau mandi saja dulu. Aku akan segera menyelesaikan masakanku, setelah ini kita makan malam sama-sama." ujarnya dan berlalu.


"Tidak semudah itu kau bisa pergi, Sayang,"


Tapi sepertinya Nathan tidak membiarkan Viona pergi begitu saja. Laki-laki itu menarik lengan Viona dan menempatkan wanita itu diatas pangkuannya. "Bagaimana jika aku menikmati makan malamku lebih awal?" ucapnya sambil mengecup singkat bibir ranum Viina.


"Aaaahhh!! O-oppa, jangan seperti ini... kau membuatku basah." Rancau Viona karna remasan Nathan pada bukit kembarnya. "O-Oppa, hentikan.. biarkan aku menyelesaikan masakanku du... emmmppphh!" Nathan segera membungkam bibir Viona dengan bibirnya sebelum wanita itu semakin banyak bicara.


Nathan melum** bibir Viona dengan penuh gairah, meskipun awalnya sempat menolak. Tapi akhirnya Viona menerima ciuman itu sepenuhnya.


Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan, laki-laki itu menekan tengkuk Viona untuk semakin memperdalam ciumannya. Mata kanan Nathan tertutup rapat, namun tidak dengan Viona... mata wanita itu terbuka dan menatap wajah Nathan yang tengah menciumnya dengan ganas.


Sadar Viona membalas ciumannya, Nathan merubah posisi mereka dengan menempatkan Viona di bawah kungkungan tubuh kekarnya. Salah satu tangan Nathan mengunci kedua tangan Viona diatas kepalanya sedangkan tangan lain meremas bukit kembarnya tanpa melepaskan ciuman mereka.


Suasana di dalam ruang tamu menjadi begitu panas. Nathan terus melum** bibir Viona, menghisap Viona dengan keras. Dan setelah puas bermain-main dengan bibir ranum istrinya, ciuman Nathan kemudia turun menuju leher jenjangnya, mengecupnya dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikkan di sana.


"Aaahhh! O-oppa." Lirih Viona saat Nathan memasukkan jarinya pada area terdalamnya. "Aaahhh!! Oppa," Viona terus mendesah menikmati permainan Nathan yang semakin menggila.


Erangan yang lolos dari bibir Viona membuat Nathan semakin terbakar. Laki-laki itu semakin mempercepat permainan jarinya membuat semakin banyak cairan Viona yang keluar.


"Come on, baby. Lepaskan semuanya." bisik Nathan seduktif.


Tubuh Viona merespon dengan baik setiap sentuhan jari dan bibir Nathan. Reaksi dari tubuhnya mengirimkan gelenjar panas menuju pita suaranya hingga mulutnya berkali-kali meloloskan suara yang membuat Nathan semakin terbakar. Viona kembali menggerang saat lidah Nathan membawa lidahnya untuk menari bersama.


Sebelah tangannya menarik pinggang Viona untuk semakin mendekat. Nathan menarik dirinya sesaat untuk menatap wajah Viona yang merona. Mata kanannya memancarkan gairah seperti kobaran api ditengah kegelapan malam. Dengan cepat api itu menyambar hingga kupu-kupu dalam perut Viona yang kemudian menari-nari dengan lincah mengirimkan gelenyar panas keseluruh sel-sel tubuhnya ketika sekali lagi Nathan mencum**nya dengan lebih bergairah.


"Kau memerah, baby. Sepertinya kau sudah siap sebentar lagi." ucap Nathan sesaat setelah mengakhiri ciumannya.


"Apa kita akan melakukannya di sini? Di ruang tamu ini? Bagaimana jika sampai ada orang yang tiba-tiba datang?" panik Viona setelah menyadari posisi mereka saat ini.


"Why? Kau takut? Lihatlah, sayang." Nathan mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan sebuah kunci pada Viona.


Awalnya Natha tidak berniat melakukan hal ini. Alasan Nathan mengunci pagar rumahnya lebih awal agar tidak ada yang asal nyelonong masuk. Ia tidak ingin menerima satu pun tamu apalagi itu dari pihak keluarganya, Rio dan kedua adik tirinya terutama yang selalu berisik dan tidak bisa membiarkan orang lain tenang barang sebentar saja. Namun fungsi kunci itu berubah total ketika Viona datang menghampirinya. "Tidak akan ada yang mengganggu kita tentunya."


"Soo, tunggu apa lagi? Kau sudah membuatku tidak tahan lagi, Oppa."


"Segera, Sayang." sekali lagi Nathan mencium dan melum** bibir Viona, dan ciuman kali ini tidaklah sepanjang dan sepanas sebelumnya.


Namun tetap tidak mengurangi sedikit pun kenikmatan dalam permainan panas mereka. Nathan bangkit untuk melepas vest dan kemeja lengan panjangnya menyisahkan singlet putih yang mengikuti lekuk tubuh kekarnya.


Kembali Nathan mencumbu Viona seperti tadi. Desahan dan kecapan bagaikan sebuah melody yang mengalun indah ditelinga masing-masing.


Dan yang terjadi selanjutnya bukan hanya bibir mereka yang menyatu namun juga diri mereka berdua.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2