Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 7) "Aneh Bin Ajaib"


__ADS_3

"KYYYAAA!! SIAPA PUN TOLONG AKU, LEPASKAN AKU DARI TIGA BOCAH SETAN INI!!"


Hal buruk tengah menimpa salah seorang dari suruhan Miranda, siapa lagi jika bukan trio kadal yang menjadi tersangka utamanya. Trio Frans, Rio dan Satya melucuti pakaian salah seorang dari kelima pria bertubuh kekar itu dan menyisahkan CD-Nya saja.


Tidak hanya melucuti pakaiannya saja. Mereka juga menggunduli kepala dan mencoret-coret wajah dan kepala botaknya dengan menggunakan tinta warna-warni yang membuatnya mirip seperti dakocan.


Sementara itu. Nasib keempat rekannya juga tak jauh lebih mengenaskan darinya. Sekujur tubuh keempat pria itu babak belur setelah di hajar oleh Zian.


"YAKKK!! HENTIKAN, BERHENTI MELAKUKAN HAL MEMALUKAN ITU PADAKU. HUAAA... JANGAN MENGGANTUNG KOLORKU DI SANA!!" histeris pria itu memohon.


"Hahahha! Tubuh dan wajah macho tapi pake kolor pink. Wajah sangar tapi hati hello kitty,"


"DIAMLAH KAU BOCAH!!"


"Hahahha. Mana ada mafia tapi tattonya malah induk sama anak-anak bebek. Hahahha, dan apa ini? Mama, mama, Shinchan lapar. Bwahahaha," tawa Rio pun pecah.


Pria itu tidak tau mimpi buruk apa yang dia alami semalam, sampai-sampai bisa berurusan dengan tiga bocah setan tersebut.


Jika boleh memilih, ia lebih memilih di hajar sampai babak belur daripada harus dipermalukan seperti ini. Yang membuat harga dirinya sebagai seorang pria hilang, dan semua itu karna ulah trio kadal. Bahkan teman-teman Zian pun di buat terperangah oleh tingkah mereka yang super ajaib.


"IBU!!! AKU TIDAK SANGGUP HIDUP LAGI!!"


"Hahaha. Itulah akibatnya jika berani mengganggu Luna Nunna," seru Satya tertawa.


"Paman, bagaimana kalau kita keluarkan jurus andalan kita?" usul Rio sambil menatap kedua paman kecilnya secara bergantian.


Keduanya saling pandang dan.. "SETUJU!" keduanya menjawab dengan kompak.


Luna menutup mukanya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar merasa malu dengan kelakuan mereka bertiga yang super ajaib itu. Dan Luna tidak tau apa yang akan mereka lakukan lagi kali ini.


Dan sementara itu. Reno dan Simon merasa penasaran jurus yang akan mereka keluarkan sampai-sampai memasang pose yang begitu menggelikan. Ketiganya saling bertukar pandang dan sama-sama mengangguk.


"JURUS.... SEMUT MENIMPA GAJAHHH!!!"


Gubrakk...


Reno dan Simon jatuh tersungkur setelah mendengar jurus yang mereka teriakkan dengan lantang. Rasanya Simon dan Reno ingin memukul pantat mereka saking gemasnya.


Dan secara bersama-sana mereka menimpa tubuh pria tersebut.


Miranda yang merasa tersudut karna orang-orangnya berhasil ditumbangkan pun memutuskan untuk pergi dari sana. Dia tidak ingin berurusan dengan mereka lagi terutama trio kadal yang begitu menyusahkan.


Tapi sepertinya Luna tidak membiarkannya begitu saja. "Mau kabur ke mana kau?" sinis Luna sembari menarik lengan Miranda. Tubuh Miranda menghantan dinding karna sentakan Luna. "Sekarang katakan padaku apa tujuanmu mendekati kakakku dan membuat dia mau menikahimu?"


Miranda menyentak tangan Luna kemudian membalikkan keadaan dan mendorongnya hingga punggung Luna menubruk dinding. "Itu bukan urusanmu," jawab Miranda sambil mencekik leher Luna.


Luna yang merasa terancam pun tak lantas tinggal diam. Gadis itu mengangkat kaki kanannya dan menghantamkannya pada bahu Miranda. Membuat cekikkan Miranda pada leher Luna terlepas.


"Tentu saja itu jadi urusanku!! Karna Dean adalah kakaku, dan aku tidak rela jika kakakku memiliki hubungan dengan rubah betina sepertimu!!"


Miranda tertawa mengejek. "Apa aku tidak salah dengar? Dengar ya gadis kecil. Aku tidak akan melepaskan kakakmu, karna dia sangat berarti bagiku. Karna tanpanya, siapa yang akan menjadi ayah dari janin yang aku kandung ini. Tidak mungkin bukan, jika aku membiarkan anakmu terlahir tanpa ayah, jadi aku tidak mungkin meninggalkannya!!" Miranda menyeringai, menepuk pipi Luna dan pergi begitu saja.


"Jangan pergi kau!!"


"Tidak perlu di kejar," seru Zian sambil menahan lengan Luna yang hendak mengejar Miranda. "Tidak ada gunanya kau mengejarnya, sebaiknya aku antar kau pulang,"


"Tapi Zian-"


"Aku tidak suka mendengar penolakkan, Nona!!" jawab Zian menegaskan. Luna mendesah pasrah, sepertinya tidak ada gunanya berdebat dengan pria keras kepala seperti Zian.


"Huft, baiklah,"


"Paman, tunggu," seru Rio menghentikan langkah Zian dan Luna. "Ya Tuhan! Apakah ini mimpi? Paman, bisakah kalian berdua mencubit lenganku? Aku hanya ingin memastikan ini mimpi atau bukan?" ujar Rio. "Aaahhh...!! Sakit!! Yakk!! Kenapa kalian mencubitnya kencang sekali?" teriak Rio marah.


"Bukankah kau sendiri yang memintanya?" jawab Satya.


"Iya, tapi jangan terlalu keras juga. Sangat sakitt tau," lalu pandangan Rio bergulir pada Zian. Lagi-lagi dia merasa tak percaya dengan apa yang tengah di lihat oleh matanya. "Ya Tuhan, bagaimana bisa dua orang tanpa ada ikatan darah bisa semirip ini? Sepertinya dunia ini benar-benar sudah tua,"

__ADS_1


Zian memicingkan matanya. "Apa maksudmu?" ucapnya kebingungan.


"Reaksi mereka sangat berlebihan karna kau sangat mirip dengan kakak iparku. Tidak, tapi seperti pinang di belah dua," jawab Luna.


"Benarkah?" Luna mengangguk.


"Aku akan menunjukkan buktinya padamu." Luna mengutak-atik ponselnya selama beberapa saat kemudian menunjukkan sebuah foto pada Zian. "Ini adalah kakak iparku, suami saudari kembarku. Namanya Xi Nathan, bukankah kalian terlihat seperti sepasang saudara kembar?"


Zian mengambil ponsel itu dari tangan Luna dan menatapnya dengan seksama. Dan rasanya Zian tak percaya melihat ada orang yang sangat-sangat mirip dengannya. "Bagaimana bisa seperti ini?" ucapnya penuh keheranan.


"Makanya ketika berjalan denganmu, orang pasti berfikir jika aku sedang selingkuh dengan kakak iparku,"


"Gila, ini benar-benar gila. Bukankah aku dan dia terlihat seperti sepasang kembar yang terpisah?" Zian menatap Luna dengan tatapan takjubnya..Luna mengangguk.


"Anggap saja sebagai rencana takdir. Dan bisakah kita pulang sekarang? Bisa-bisa Vio eonni menggantungku hidup-hidup jika aku sampai pulang terlalu malam,"


"Baiklah, kaja,"


.


.


Luna menyandarkan tubuhnya pada pohon besar yang ada di belakangnya. Saat ini ia dan Zian sedang berada di tepi Sungai Han. Matanya menatap lurus pada air yang mengalir di depannya, senyum pahit terlukis di wajah cantiknya.


Tangannya mengambil kerikil-kerikil kecil di tanah kemudian melemparkan kedalam sungai dengan malas. Ia baru saja mengalami hari yang sangat buruk. Yang sukses membuat moodnya hancur berantakkan.


"Sampai kapan kau akan memasang muka jelekmu itu, Lun?" tegur Zian yang mulai muak dengan kediaman Luna.


"Diamlah kau beruang kutub!! Apa kau tidak tau jika aku sedang dalam mood yang sangat buruk?" gadis itu menekuk wajahnya.


"Karna wanita bernama Miranda itu?" tebak Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Dia benar-benar keterlaluan, bukan.. tapi sangat-sangat keterlaluan, dan wajah sok polosnya itu membuatku sangat muak. Aku tidak tau kenapa Dean begitu bodoh, cinta sudah membuatnya buta sehingga tidak bisa melihatnya mana yang benar dan mana yang salah. Rasanya aku ingin sekali merebusnya hidup-hidup di dalam air mendidih supaya bisa sadar dari kebodohannya!!"


Zian mendengus geli. Detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas, Zian mengangkat sebelah tangannya dan mengancak rambut coklatnya. "Berhenti mengoceh lagi, sebaiknya aku antar kau pulang sekarang. Bukanlah kau tidak ingin di gantung hidup-hidup oleh kakakmu,"


-


Seho tidak dapat menyembunyikan kekesalannya karna ulah Adrian dan kedua pemuda itu. Ia terus merutuki kebodohannya karna taruhan yang menyesatkan itu. Setelah menengkan diri cukup lama, akhirnya Ia memutuskan untuk kembali pada teman-temannya dan menerima nasibnya sebagai seorang perempuan.


Brukkk .. !!! ...


Namun tanpa sengaja Ia bertabrakan dengan seseorang hingga membuat Seho terhempas, terjatuh dalam posisi duduk.


"Aduh sakit." Rintih Seho sambil memegangi pantatnya yang terasa nyeri.


"Omo-na!! Ya Tuhan, cantik sekali gadis ini."


Laki-laki itu mendongakkan wajahnya dan menatap sebal pada orang yang tak sengaja bertabrakan dengannya, orang itu tampak terperangah setelah melihat wajah Seho yang begitu mempesona dalam wujud wanita.


"Nona, mari saya bantu," laki-laki itu mengulurkan tangannya dan mencoba untuk membantu Seho berdiri. Alih-alih menerimanya, Seho malah menepis tangan orang itu dengan kasar.


"Aku tidak butuh bantuanmu!!"


"Jangan begitu, Nona. Tidak baik loh menolak niat baik seseorang,"


Seho menelan salivannya dengan sedikit bersusah payah saat melihat laki-laki itu mengerlingkan matanya, membuat bulu kuduknya berdiri seketika. "Suhee Nunna kenapa kau diam saja? Hyung itu berniat baik untuk membantumu." Seru Simon sambil menahan mati-matian tawanya.


Sontak saja Seho menolehkan kepalanya dan memberikan tatapan mematikan pada pemida itu. "Hyung tolong aku, Suhee Nunna ingin menelanku." Dan Simon segera bersembunyi di balik punggung Reno sambil pura-pura ketakutan.


"Yakkkk bocahhh!!"


"Aigoo, Nunna, kau itu seorang gadis. Bersikaplah sedikit lebih lembut, jangan seperti ini." Sahut Reno, dan membuat Seho semakin terbakar emosi.


Sedangkan Adrian hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua pemuda itu dalam mengerjai Seho dan membuatnya kesal.


"Sudah-sudah, berhenti mengganggu dan menggoda Suhee Nuna. Lihatlah, wajahnya memerah seperti tomat busuk. Kan kasihan dia."

__ADS_1


" Yak, Adrian Lee. Kau tidak perlu berlagak seolah kau itu peduli padaku, karna bagaimana pun juga aku menjadi seperti ini itu karna dirimu." ujar Seho dan pergi begitu saja.


"BWAHAHAHA!!"


Membuat tawa Reno dan Simon meledak seketika. Si tuan dolar kini menjelma menjadi seorang wanita jadi-jadian karna kalah taruhan.


"Hyung, kau mau kemana?" seru Simon melihat Adrian bangkit dari tempatnya.


"Pulang,"


"Yakk!! Hyung, tunggu kami!!"


-


Drettt ,, Drett ,, Drett ,,


Zian menolehkan kepalanya dengan malas saat mendengar dering ponselnya yang menandakan ada 1 panggilan masuk. Ia mengambil ponsel miliknya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Namun Zian segera meletakkannya kembali setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Boleh aku masuk?" Seru Adrian dari ambang pintu.


"Masuklah." Balas Zian mengijinkan.


Setelah mendapat persetujuan dari sang empunya kamar. Adrian melenggang masuk. Laki-laki itu menarik sudut bibirnya dan mengambil tempat di samping Zian. "Apa yang sedang kau lamunkan?" Tanya Adrian sesaat setelah Ia berhadapan dengan Zian.


"Tidak ada." Jawabnya datar.


"Tapi matamu yang mengatakannya, apa ini ada hubungannya dengan gadis cantik itu? Jangan bilang kalau kau sedang memikirkannya." Sahut Adrian penuh keyakinan.


Sontak Zian menolehkan kepalanya dan menatap Adiran dengan tatapan datarnya. "Atau justru kau teringat pada masa lalumu yang telah menghianatimu?" Lanjut Adrian tanpa mengakhiri kontak matanya dengan Zian.


"Jangan sok tau kau!!"


Zian beranjak dari samping Adrian kemudian berjalan menuju jendela besar yang ada di kamarnya dan berdiri di sana. Wajahnya mendongak, menatap langit bertabur bintang. Dan tidak bisa Zian pungkiri jika hatinya teringat pada gadis cantik itu.


Melihat sikap Zian membuat Adrian menggeleng pelan, laki-laki itu beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Zian kemudian berdiri di sampingnya.


"Kau boleh membohongi semua orang, Zian Qin, tapi kau tidak akan bisa membohongiku. Bukan satu atau dua hari aku mengenalmu, bahkan sebelum kau lahir aku sudah ada di antara keluargamu sehingga aku tau dan mengenalmu dengan sangat baik." Tutur Adrian panjang.


Adrian adalah kakak sepupu Zian dari pihak ibu. Adrian sangat mengenal Zian secara mendalam, bahkan tak jarang dia bisa menebak apa yang Zian fikirkan.


"Jadi benar apa yang aku katakan?"


Zian hanya diam tak memberikan tanggapan apa pun, Ia menatap keluar jendela yang saat itu sedang hujan lebat. Sejenak Ia memejamkan matanya dan membukanya dengan perlahan, kepulan asap putih keluar dari mulut Zian seiring helaan nafas panjang yang Ia hembuskan.


Meskipun Zian masih belum mengatakan apa pun, namun Adriam bisa dengan mudah menebak apa yang ada di dalam kepalanya dan ia sangat yakin jika kebimbangan Zian saat ini ada hubungannya dengan gadis cantik bernama Leonil Luna, dan juga mengenai masa lalunya yang telah menghianatinya. Terlihat jelas ada kebimbangan di hati Zian, dan Adrian dapat melihat itu dari sorot matanya.


"Masa lalu adalah kenangan, meskipun itu sangat pahit namun itu akan tetap menjadi bagian dari dirimu. Sedangkan masa depan adalah harapan yang penuh misteri dan teka-teki. Tidak mudah untuk kita bisa menebak apa yang akan terjadi dalam hidup kita, apakah seperti yang kita harapkan atau justru sebaliknya.


Dan masa yang kini kita jalani adalah kenyataan. Biarkan hidup berjalan seperti semestinya, mengalir seperti air, berhembus seperti angin. Hadapi masa lalumu dan kuburlah dalam-dalam di dalam hatimu, jangan pernah takut untuk melangkah kedepan.


Jalan kita masih sangat panjang Zian, dan tidak baik jika kau berlama-lama terpuruk dalam kenangan masa lalu yang pahit. Jika aku boleh menyarankan, sebaiknya buka kembali hatimu dan biarkan cinta menghapus luka lama yang selama ini kau pendam di dalam hatimu!!" Tutur Adrian panjang lebar.


Zian berfikir dan mencoba mencerna setiap kalimat yang terucap dari bibir Adrian.


Memang benar apa yang pria itu katakan, tidak seharusnya Ia terus-terusan hidup dalam keterpurukan dan bayang-bayang luka di masa lalu.


Pernghianatan yang dulu pernah Zia terima di masa lalu itulah alasannya kenapa Ia selalu ragu untuk bisa membuka kembali hatinya kemudian mengenal lagi yang namanya cinta.


Ia juga butuh waktu untuk bisa menyembuhkan luka itu dengan sepenuhnya. Meskipun tak dapat Ia pungkiri bila pertemuannya dengan Luna telah menghangatkan kembali hatinya yang telah lama membeku.


" Fikirkan baik-baik apa yang aku ucapkan." Adrian menepuk bahu Zian dan berlalu begitu saja.


Zian melirik Adrian menggunakan ekor matanya sampai sosoknya tak lagi terjangkau oleh matanya. "Mungkin kau benar Hyung, dan hanya kau satu-satunya orang yang bisa mengerti diriku,"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2