
Luna tidak bisa lagi melukiskan kebahagiaannya dengan kata-kata. Zian telah kembali kesisinya meskipun dia sekarang tanpa ingatan masa lalunya. Bagi Luna hal tersebut tidaklah penting, karna dirinya bisa membantu Zian mengingat semuanya kembali secara perlahan-lahan.
Gadis itu baru saja tiba di kediaman milik Zian. Luna berencana untuk menyiapkan sarapan untuk pemuda itu dan gadis cantik tersebut sengaja datang lebih awal supaya pekerjaannya bisa selesai dengan tepat waktu.
Dengan begitu percaya diri Luna menyiapkan semua bahan-bahan yang dia beli saat dalam perjalanan tadi. Tapi setelah bahan-bahan itu tersusun rapi diatas neja, Luna bingung harus memasak apa. Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatak, bagaimana caranya dirinya bisa menyiapkan sarapan untuk Zian sedangkan masak saja Luna tidak bisa sama sekali.
"Aahh, masa bodoh lah. Yang penting membuat sarapan," geram Luna pasrah.
Luna mulai mencuci dan memotong bahan-bahan yang akan dia masak sebagai sarapan. Tapi Luna sendiri tidak tau apa yang akan dia masak sebagai sarapan untuk Zian dan dirinya sendiri. Luna hanya asal memasak yang penting rasanya tidak buruk dan bisa di makan.
"KYYYAAA...!!!"
Luna berteriak sekencang-kencangnya saat minyak yang ada di dalam.l penggorengan tiba-tiba meletuk-letuk dan menciprat kemana-mana. Dan teriakkan Luna mengejutkan sosok pemuda yang baru saja selesai mandi dan sedang berpakaian.
Pemuda itu yang pastinya adalah Zian mengurungkan niatnya untuk memakai kemeja dan bergegas turun. Dan setibanya di sana, dia melihat seorang gadis yang tengah melompat panik karna minyak panas yang terus meletup-letup. Zian mendengus, pemuda itu menghampiri Luna kemudian mematikan kompornya.
"Gadis bodoh, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di dapurku? Dan kenapa sepagi ini kau sudah ada di sini?" tanya Zian sambil mengoleskan pasta gigi pada lengan Luna yang terkena cipratan minyak panas. "Dan lihatlah karna mecerobohanmilu, kau jadi terluka seperti ini," Zian mengangkat wajahnya dan mata abu-abunya langsung bersiborok dengan mata coklat Luna.
Gadis itu mencerutkan bibirnya. "Dasar rusa kutub menyebalkan, jika bukan karna aku peduli padamu, tidak mungkin aku bisa ada di sini. Awalnya aku ingin membuatkan sarapan untukmu, tapi semua tidak berjalan seperti harapanku. Dan beginilah endingnya," Luna mendesah kecewa.
Zian menyentil kening Luna. "Dasar kau ini, sudah tidak tau bagaimana caranya memasak tapi masih memaksakan diri. Tapi terimakasih usahanya, Luna. Dan aku mengharagi niat baikmu. Baiklah, karna kau sudah ada di sini, setelah ini temani aku sarapan. Aku akan membereskan kekacauan yang kau ciptakan ini. Kau duduk saja dan tunggu sebentar," Luna menggeleng.
Gadis itu tak mau pergi. "Aku ingin tetap di sini dan menemanimu memasak, bagaimana?"
Zian mendengus berat. "Dasar keras kepala. Baiklah kalau begitu, dasar keras kepala," sinis Zian dan sekali lagi menjitak gemas kepala coklat Luna.
"Baiklah, terserah kau saja,"
.
.
Usai sarapan. Mereka pergi ke taman belakang untuk berbincang. Banyak sekali hal yang ingin Zian tanyakan dan bicarakan dengan Luna. Zian ingin mengetahui banyak hal tentang gadis itu supaya dia bisa segera mendapatkan kembali ingatannya yang hilang.
"Luna, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Zian menoleh, mata kanannya mengunci sepasang manik coklat milik Luna.
Gadis itu mengangguk. "Tentang apa?" tanya Luna penasaran.
"Ini tentang hubungan kita di masa lalu. Di masa lalu, hubungan kita sedekat apa? Apakah kita adalah sepasang kekasih atau bukan? Kenapa aku merasa jika kita memiliki sebuah ikatan yang sangat special di masa lalu? Setiap menatap matamu atau ketika berada didekatmu, aku merasakan jantungku berdebar berdetak kencang." Ujar Zian panjang lebar.
"Kita bukan sepasang kekasih, dan tidak ada ikatan istimewah diantara kita di masa lalu. Namun kita begitu dekat, bahkan hubungan kita jauh lebih special dan istimewa dari sepasang kekasih. Kita berdua selalu memiliki banyak waktu bersama, banyak sekali hal yang telah kita lakukan. Kita memiliki banyak memory indah, namun tak sedikit pula kenangan sedih yang kita miliki." Kedua mata Luna tampak berkaca-kaca.
Luna menakup wajah Zian. "Apa kau tau bagaimana hancurnya aku saat aku tau kau mengalami amnesia? Aku berfikir setelah kau kehilangan semua ingatanmu kau menjadi mudah di kendalikan oleh ibumu serta wanita itu dan kemudian kau membenciku. Aku sangat takut, Zian. Aku benar-benar takut. Aku sudah pernah kehilanganmu dan aku tidak ingin hal serupa kembali terulang untuk yang kedua kalinya. Aku... aku... eemmpphh,,,"
Luna tidak melanjutkan ucapannya karna Zian lebih dulu membekap bibirnya. Kedua tangan Zian membiangkai wajah Luna dan mata kanannya rertutup rapat. Meskipun awalnya terkejut, beberapa detik kemudian Luna berhasil mengimbangi ciuman Zian, bahkan Luna tak ragu untuk membalasnya.
Sadar Luna membalas ciumannya. Zian segera merubah posisi mereka dengan menempatkan Luna di atas pangkuannya. Sebelah tangan Zian menekan kepala belakang Luna agar ciumannya tidak mudah terlepas, sedangkan tangan satu lagi memeluk pinggang ramping Luna dengan posesif.
"ZIAN QIN!! APA-APAAN INI?"
__ADS_1
Namun ciuman mereka harus berakhir karna teriakkan seseorang. Luna mendengus berat. "Cih, dasar wanita pengganggu, apa kau tidak bisa membiarkan orang lain senang tanpa harus merusak suasana? Aish... Dasar ular betina," sinis Luna sambil menatap wanita itu tidak suka.
"Zian, sebaiknya aku pergi saja. Kedatangan wanita ini membuat aku merasa buruk."
Luna bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi, sampai genggaman Zian pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. "Aku akan pergi bersamamu," ucapnya dan membuat mata Luna langsung berbinar-binar.
"Sungguh?" Zian mengangguk. "Baiklah, tunggu apa lagi? Ayo kita pergi," Luna memeluk lengan Zian meninggalkan Amanda begitu saja.
"Yakk!! Awas saja kalian berdua, aku pasti akan membalas kalian nanti!!" teriak Amanda yang benar-benar marah pada Zian dan Luna.
Luna menoleh dan melambaikan tangannya pada Amanda dengan senyum meremehkan. Gadis itu terkekeh geli melihat bagaimana ekspresi Amanda ketika sedang kesal. Sedangkan Zian hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah gadis disampingnya.
-
Hamparan bunga Canola berwarna kuning ikut menghiasi indahnya musim semi di Pulau Jeju. Di pulau Jeju, musim semi datang lebih awal dibanding dengan wilayah Korea lainnya.
Dan karna alasan itulah yang membuat Luna memutuskan untuk pergi ke Pulau Jeju saat penghabisan musim dingin, agar ia bisa lebih cepat melihat datangnya musim semi.
Luna berjalan menyusuri hamparan bunga Canola sambil merentangkan tangan kanannya. Dan senyum hangat tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya. Karna Bunga Canola dan musim semi punya arti tersendiri untuk seorang Leonil Luna. Luna tersenyum lebar.
Angin semilir berhembus. Bunga-bunga bergoyang mesra dalam musim semi yang indah. Musim semi. Demi kata yang bermakna. Sungguh Luna merasakan kegundahan dalam malam-malam dingin yang seakan menyelimuti roh dan jiwanya. Seakan menjalani kehampaan yang menjalar di setiap detik hembusan nafas. Gadis itu mendesah lelah.
Sudah empat bulan berjalan, namun belum juga ada tanda-tanda jika Zian akan segera mengingat dirinya dan mendapatkan kembali semua ingatannya.
Memang sangat menyenangkan hidup berdampingan dengan Zian yang sekarang, karna dia lebih hangat dan lebih lembut padanya. Tapi tetap saja rasanya begitu berbeda dan Luna merindukan Zian yang dulu, yang dingin dan bermulut tajam. Namun di lain sisi dia juga merasa senang, karna setidaknya Zian telah kembali kesisinya.
"Apa yang sedang kau lamunkan, hm?"
"Tidak ada, hanya menikmati keindahan bunga Canola. Bukankah musim semi sangat istimewa?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian dengan senyum tipis dibibir ranumnya.
Zian menakup sisi wajah Luna kemudian mencium singkat bibir tipis yang tampak menggoda tersebut. "Sudah hampir petang, sebaiknya kita pulang,"
Luna melepaskan pelukkan Zian kemudian dia berbalik badan, posisinya dan Zian kini saling berhadapan. Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian dan mengunci mata kanannya. Raut wajahnya berubah sendu.
"Ini semua karna diriku, Zian. Jika saja pada saat itu kau tidak menyelamatkanku, pasti kau tidak akan mengalami nasib buruk seperti ini. Kau tidak akan amnesia dan cacat," ujar Luna dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang kau katakan. Pasti aku memiliki alasan yang kuat kenapa aku harus menyelamatkanmu pada saat itu. Lagipula pria mana yang akan diam saja ketika melihat gadis yang dekat dengannya berada dalam bahaya, dan jika pada saat itu aku membiarkanmu terluka, itu artinya akulah yang sangat bodoh," tutur Zian panjang lebar.
"Zian,"
"Kita pulang, sudah hampir petang. Kita bisa kemalaman tiba di Seoul jika tidak kembali sekarang. Aku berjanji padamu, aku pasti akan membawamu kembali ke tempat ini,"
"Iya iya, ya sudah ayo kita pulang,"
-
"ZIAN, DARI MANA SAJA KAU?"
Zian yang baru saja pulang langsung di sambut oleh amarah sang ibu yang tengah menatap tajam kearahnya. Ibu tiga anak itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Zian. Nyonya Dahlia mengangkat tangannya dan...
__ADS_1
PLAKK...
Tangan nyonya Dahlia berhasil di tahan oleh Zian sebelum menampar wajahnya dengan keras. "Jika kedatanganmu di sini hanya untuk membuat keributan. Sebaiknya kau pergi sekarang. Aku sangat lelah, Ma!! Dan aku sedang tidak ingin berdebat denganmu,"
"Dasar anak durhaka!! Berani sekali kau berbicara seperti itu pada ibumu sendiri? Ini semua pasti karna perempuan itu!!Sebaiknya jauhi dia karna dia hanya membawa pengaruh buruk padamu!!"
"MAMA CUKUP!!" bentak Zian menyela ucapan sang ibu. "Berhenti menyakahkan Luna, aku tidak tau masalah apa yang kau miliki dengan gadis itu sehingga kau terus-terusan menyalahkannya!! Sebaiknya kau berhenti, dan sudah cukup kau terlalu ikut campur dalam hidupku!!" Zian beranjak dari hadapan Dahlia dan pergi begitu saja.
"Zian Qin!! Dasar anak kurang ajar!! Berani sekali kau berbicara seperti itu pada Ibu kandungmu sendiri!! Lihat saja nanti, Mama pasti akan membuatmu menyesal seumur hidup!!"
"Terserah!!"
-
Penyesalan selalu datang di akhir cerita. Itu bukanlah sebuah kiasan semata. Karna hal itulah yang kini dialami oleh Dean setelah dia kehilangan segalanya karna kebodohannya sendiri. Jika saja dulu ia tidak terlalu mempercayai Miranda, pasti semuanya masih baik-baik saja dan hidupnya tidak akan berakhir seperti ini.
Dean hidup dalam kesendirian selama bertahun-tahun. Karna semenjak masuk penjara tak ada lagi orang yang peduli pada dirinya terutama Luna. Gadis itu tidak datang sama sekali untuk menjengguknya. Sedangkan Miranda, wanita itu entah pergi ke mana karna dia menghilang bak di telan bumi. Karna jejaknya tidak ada.
"Melamun lagi, Dean?" tegur seorang narapidana yang satu sel dengannya."Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Keluargamu?"
Dean menggeleng. "Tidak, Paman. Aku sedang merenunggi semua kesalahanku dan kebodohanku di masa lalu. Jika saja aku tidak membiarkan diriku terpedaya, mungkin hingga detik ini hidupku masih baik-baik saja. Aku sugguh-sungguh menyesal Paman, dan karna kebodohanku itu kini aku kehilangan satu-satunya keluargaku," tutur Dean panjang lebar.
Pria itu mendesah berat. "Beginilah hidup itu, Dean. Kadang ada suka, dan terkadang ada duka. Kita tidak pernah tau dengan semua misteri kehidupan yang ada di dunia ini. Kita juga tidak tau nasib apa yang menanti kita pada esok hari, entah apakah itu basib baik atau mungkin nasib buruk. Karna masa lalu adalah kenangan, masa kini adalah kenyataan dan masa depan adalah harapan yang penuh dengan misteri dan teka-teki. Kita sebagai manusia biasa hanya bisa mengikuti jalan takdir yang memang telah di tentukan untuk kita,"
Dean menutup matanya dan mendesah berat."Jika aku masih memiliki kesempatan satu kali saja. Aku ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua kesalahan yang aku lakukan karna kebodohan dan kemunafikanku."
Pria itu menepuk bahu Dean. "Jangan pernah menyerah pada keadaan, anak muda. Karna tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf dan memperbaiki semua kesalahan yang pernah kau lakukan di masa lalu. Jika ada kesempatan, bebicaralah dengan adikmu. Tuhan saja maha pemaaf masa dia tidak,"
"Tapi masalahnya tidaklah sesederhana itu, Paman. Bagaimana aku bisa meminta maaf padanya. Jika mengunjungiku saja dia tidak pernah!!"
"Paman, tidak bisa membantu apa-apa untukmu, Dean. Sudah larut malam sebaiknya kita tidur sekarang,"
"Iya, Paman,"
-
Malam sudah semakin larut. Namun Luna masih tetap terjaga. Gadis itu berdiri dibalkon kamarnya yang terbuka. Wajahnya mendongak, sepasang mutiara coklatnya menatap jutaan bintang yang bertaburan menghiasi langit malam.
"Papa, aku merindukanmu," lirih gadis itu bergumam.
Dan beginilah yang selalu Luna lakukan ketika dia merindukan sang ayah. Berdiri dibalkon kamarnya hingga larut malam hanya untuk melihat bintang. Karna dia percaya jika orang yang telah tiada akan menjadi salah satu bintang di langit, meskipun Luna sendiri tidak tau apakah mitos itu benar atau tidak. Karna faktanya dia selalu menemukan kedamaian dan ketenangan setiap kali memandang bintang.
TING...!!
Denting bunyi pada ponselnya mengalihkan perhatian Luna. Luna beranjak dari balkon dan masuk kembali kekamarnya. Sebuah pesan masuk yang langsung membuat sudut bibirnya terangkat ke atas.
Luna meletakkan kembali ponselnya di tempat semula tanpa berniat untuk membalas pesan tersebut. Kemudian Luna membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur super nyaman miliknya. Dan hanya dalam hitungan detik saja, gadis itu sudah terlelap dalam mimpinya.
-
__ADS_1
Bersambung.
...Wahai para pembaca yang baik hati. Ayolah jangan pelit-pelit buat kasih like komentnya di novel ini. Tiap hari pembaca jumlahnya ribuan tapi like-nya yang nyasar kesini dikit buanget 😭😭 Biar otornya makin semangat buat ngetik novelnya. Karna satu like dan koment kalian sangat berarti buat author 🙏🙏🙏...