Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 110) Kematian Dean


__ADS_3

Ranting dedaunan menari seirama gejolak angin di musim ini. Musim yang membius seluruh raga dan bahkan mampu membekukan aliran darah dalam sekejap.


Titik-titik embun di atas rerumputan masih menyisakan jejaknya. Kaki ini tetap melangkah meskipun mulai terlihat segumpal awan hitam menelan langit kota Seoul secara perlahan. Tak ada alasan untuk berhenti karena sebentar lagi akan tiba.


Awan di langit semakin menggelap. Semakin pekat. Mulai terdengar suara saling bersahutan di atas sana. Semakin menandakan bahwa waktunya sebentar lagi tiba. Perlahan setetes demi setetes air jatuh menyirami bumi di pagi ini.


"Huft, akhirnya tiba juga." Luna mendesah berat. Dia memang benci hujan di pagi hari.


Luna melepaskan pelukkan Zian, kemudian bangkit dari berbaringnya dan berjalan menuju dinding kaca di samping kanan tempat tidurnya.


Cuaca hari ini benar-benar tidak mendukung, hujan sudah mengguyur kota Seoul sejak beberapa saat yang lalu, membuat Luna harus berdecak kesal. Sedari tadi dia terus menghentakan kakinya ke lantai.


Luna berbalik dan menghampiri Zian yang masih terlelap. Sepertinya suami tampannya itu tidak terganggu sedikit pun oleh hujan yang sedang mengguyur kota. Apalagi ini adalah akhir pekan.


"Oppa, bangun." Rengek Luna sambil mengguncang lengan terbuka Zian. Zian membuka matanya sedikit malas. "Oppa, cepat bangun." Sekali lagi Luna mengguncang lengan Luna.


"Hn, ada apa Sayang? Tidurlah lagi, ini masih terlalu pagi."


"Hujan,"


"Lantas?"


Luna mendengus berat. Mengabaikan suaminya yang masih terlihat malas itu, Luna berjalan keluar meninggalkan kamar. Dia merasa lapar tapi bingung harus makan apa. Tidak ada apapun di rumah selain ramen dan sayuran mentah serta buah-buahan.


"Huh, untung masih ada sisa roti." Luna bernapas lega ketika melihat beberapa lembar roti tawar yang dia simpan di dalam lemari pendingin. "Tidak enak, kenapa rasanya aneh begini." Gerutu Luna seraya melemparkan roti tawar tersebut ke atas meja.


Zian yang sedang menuruni tangga hanya bisa mendengus geli melihat tingkah menggemaskan istrinya. "Sebenarnya kau ini kenapa? Dari pagi ngomel-ngomel terus?" tegur Zian yang entah sejak kapan sudah ada di depan Luna.


"Aku lapar dan tidak ada yang bisa aku makan. Bukan aku, tapi anak ini yang kesal." Luna mengusap perutnya yang membuncit.


"Berhenti menggunakan dia sebagai alasan, Luna Qin." Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Luna. Wanita itu merenggut sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Zian. "Duduklah. Biar aku membuatkan sarapan untukmu."


Wajah Luna langsung ceria lagi. "Benarkah?" suami tampannya itu mengangguk. "Kyya!! Kau memang yang terbaik, Oppa. Aku semakin mencintaimu," Luna memeluk Zian dan mencium pipinya berkali-kali serta perban yang menutup luka di pelipisnya. Dan Zian hanya bisa mendengus melihat tingkah istrinya.


"Dasar kau ini,".


Dan setelah hampir tiga puluh menit. Sedikitnya ada dua menu berbeda yang ada di atas meja. Luna bersorak kegirangan melihat makanan yang dibuatkan oleh Zian untuknya.


Tak ingin membuang banyak waktu. Luna segera menyantap makanan yang telah Zian siapkan untuknya. "Pelan-pelan saja, Luna. Kau bisa tersedak." Nasehat Zian melihat Luna yang makan dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Ini sangat lezat, Oppa. Dan sayang jika tidak di nikmati."


"Ya, sudah kau makan saja dulu. Aku mau mandi." Ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Luna kembali melanjutkan makanannya. Nafsu makan Luna memang semakin bertambah sejak kehamilannya memasuki Minggu ke 13.


.


.


Ponsel milik Zian yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering yang menandakan ada panggilan masuk. Pria itu beranjak dan melihat siapa yang menghubunginya.


Penasaran kenapa Reno menghubunginya. Zian segera mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa, Ren?" tanya Zian to the poin.


"Aku baru saja mendapatkan telfon dari kantor polisi. Polisi mengabarkan jika, Leonil Dean meninggal karena overdosis obat-obatan terlarang. Ponselmu dan Luna tidak ada yang bisa dihubunginya makanya mereka menghububgiku. Pihak lapas menjelaskan jika dia telah mengkonsumi obat-obatan itu secara diam-diam."


Brakk....


Ponsel dalam genggaman Zian terlepas begitu saja setelah mendengar apa yang Reno sampaikan. Dean meninggal? Lalu bagaimana dia harus memberi tau Luna? Luna pasti akan sangat hancur jika mengetahui jika kakak angkatnya itu sudah tiadam


Zian mengambil kembali ponselnya. Telfon itu masih tersambung. "Rahasiakan ini dari Luna, jangan sampai kematian Dean sampai ke telinganya. Aku tidak ingin itu membuatnya sampai tertekan dan mempengaruhi kehamilannya."


"Baiklah, aku mengerti."


Zian menutup panggilan telfonnya dan mengirimkan pesan singkat pada Nathan. Kemudian dia segera melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Zian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang terasa lengket semua.


-


Setetes demi setetes air menetes dari langit, yang semakin lama semakin tak tak terhitung jumlahnya, terjatuh terbawa gravitasi. Hujan di pagi hari mengaburkan pandang, menurunkan derajat atmosfir kota itu.


Suasana rumah sakit di pagi hari tidaklah begitu ramai, hanya beberapa perawat dan dokter yang masih bertahan dalam shift mereka.


Seorang Wanita cantik berambut coklat panjang terlihat berjalan menyusururi koridor yang masih lengang oleh pengunjung.


Manik hazelnya menerawang menembus suasana berkabut yang menciptakan halusinasi horor. Jika ada suara pun, itu ungkapan kekesalan terlontar dari mulutnya, suasana pagi ini benar-benar sunyi.


Di sampingnya terlihat sosok tampan yang berjalan beriringan dengannya. Mereka adalah Nathan dan Viona. Pihak rumah sakit menghubunginya jika rumah sakit kedatangan pasien dari penjara utama Seoul. Tapi nyawanya tidak tertolong karena terlambatnya penanganan.

__ADS_1


Keduanya berjalan menuju ruang mayat. Meskipun sedikit merinding. Viona tetap melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang paling dia benci tersebut. Lebih dari 10 tahun bekerja di rumah sakit, ini pertama kalinya dia mendatangi kamar mayat.


Tanpa ragu Nathan membuka kain yang menutup bagian kepala mayat tersebut. Itu benar-benar Dean.


"Oppa, sebaiknya segera selesaikan prosesnya. Aku benar-benar tidak nyaman di sini."


"Iya, iya kau ini tidak sabaran sekali. Kau kembalilah bekerja. Urusan Dean biar aku yang menyelesaikan." Nathan mengecup kening


Viona dan membiarkan wanita itu untuk pergi.


Nathan tau jika Viona memang seorang penakut. Jadi wajar jika Viona menolak jika di ajak ke ruang mayat. Pagi ini Zian mengirim pesan singkat padanya dan memintanya untuk mengurus kematian Dean, karena Zian tidak bisa melakukannya.


-


Hujan masih mengguyur kota Seoul hari ini. Suasana terlihat sangat redup di siang yang biasanya cerah. Luna berdiri memandangi dari jendela kaca di kamarnya yang tampak basah karena cipratan air hujan.


Hujan sudah mengguyur kota sejak dua jam yang lalu. Dan belum ada tanda-tanda jika hujan akan segera reda. Dan itu membuat Luna merasa frustasi. Bagaimana tidak, karena hujan menghambat semua aktifitasnya.


Luna mendesah berat. Dia paling benci pada hujan, karena baginya hujan itu merepotkan. Zian menghampiri wanita itu kemudian memeluknya dari belakang. "Kenapa? Apa kau kesal karena hujan?" Luna mengangguk.


"Hujan sangat menyebalkan," wanita itu mencerutkan bibirnya. Zian terkekeh. Ternyata kebencian istrinya pada hujan belum hilang juga. Dan Zian tau pasti apa alasannya.


"Oppa,"


"Hm,"


"Aku ingin makan sesuatu yang pedas dan segar. Tapi hujan malah mengacaukan segalanya. Aku benar-benar kesal!!" Ellena mendesah.


"Apa perlu aku akan memesankannya dari luar." Tawar Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. "Tunggu sebentar," lagi-lagi Luna mengangguk.


Sejak hamil, Luna memang sering ngidam yang aneh-aneh dan Zian tidak pernah merasa keberatan untuk menurutinya. Karena yang terpenting bagi Zian adalah Luna senang.


"Aku sudah memesankannya dan mungkin sebentar lagi akan diantar. Jadi kau tunggu saja," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Luna sudah tidak sabar menunggu makanan itu datang. Air liurnya rasanya ingin menetes membayangkan bagaimana segar dan enaknya makanan tersebut.


"Uhhh, aku sudah tidak sabar..."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2