Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 60) "Penyerangan Di Restoran"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Reno menghentikan mobil mewahnya di sebuah restoran Eropa yang cukup terkenal di kota Berlin. Restoran bergaya clasik-modern yang menjadi tempat favorite bagi mereka yang berdompet tebal, tempat ini merupakan salah satu restoran terbaik dan termahal di kota tersebut.


Reno sengaja memilih restoran tersebut karna dia sangat yakin bila Zian tidak akan merasa keberatan, dia memiliki banyak sekali uang dan makan di restoran itu tentu saja bukan masalah untuknya.


"Sayang, apa kau tidak salah memilih restoran ini? Kau tau sendiri 'kan makanan di sini itu sangatlah mahal." ujar seorang wanita berdarah Jerman-Korea setengah berbisik.


"Kenapa,Baby? Apa kau tidak merasa senang? Dan lagi pula di mana ada harga di situ ada kwalitas, dan kau tenang saja. Bukan aku yang membayar semua makanan dan minuman yang akan kita pesan, tapi tuan muda Qin. Dia itu sangat kaya raya dan memiliki banyak sekali uang, jadi makan di sini tentu saja bukan masalah untuknya. Bukankah begitu, Boss?"


Zian memutar matanya jengah, ia sudah sangat hapal pada tabiat Reno. Dan ini bukan pertama kalinya Reno melakukan hal semacam itu, bahkan Zian tak bisa menghitung dengan jarinya sudah berapa kali Reno memanfaatkan dirinya.


Hanya saja dia bersikap tak peduli dan tak ambil pusing dengan kebiasaan buruk sahabat yang merapat sebagai asisten pribadinya tersebut.


"Tentu saja masalah," Luna menyahut cepat. Wanita itu menyeringai. "Bukankah kau yang mengajak kami sarapan bersama dan memilih tempat ini, jadi kenapa harus melibatkan suamiku? Kali ini aku tidak akan membiarkanmu mengambil keuntungan dari, Zian Oppa. Kau harus membayarnya sendiri dan kau juga yang harus mentraktir kami," ujar Luna dengan senyum terkutuknya.


"Ke-kenapa jadi aku yang mentraktir kalian?" Reno mulai berkeringat dingin.


"Lalu siapa?" ucap Luna masih dengan seringai yang sama.


"Tentu saja, Zian. Diakan yang banyak uang,"


Luna menggeleng. "Tidak bisa, kenapa harus selalu Zian Oppa? Aku tidak setuju, lagipula bukan dia yang mengajak sarapan bersama tapi kau!!"


Reno menggacak rambutnya frustasi. Jika Zian tak mau membayarnya, maka dia harus siap-siap bangkrut karna harga makanan direstoran ini yang teramat sangat mahal. Karna satu porsi makanan setara dengan harga kamar di hotel berbintang lima.


"Tidak apa-apa, Sayang. Biar aku saja yang membayarnya," ucap Zian menengahi perdebatan Luna dan Reno. Sontak kedua mata Luna membelalak.


"Tapi, Oppa-"


"Sudah tidak apa-apa,"

__ADS_1


"Huaa....!! Kau memang yang terbaik Boss. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini. Aku akan melakukan apapun untuk membalas kebaikanmu yang luar biasa ini. Hahaha... Lagipula mana mungkin kau bisa membiarkan sahabatmu ini berada dalam masalah. Hahaha," Tutur Reno. Reno terlihat menjulurkan lidah pada Luna yang sedang mendelik tajam padanya.


Luna mendecih dan memutar matanya jengah. "Cih, dasar penjilat,"


Duarrr!!


Suara tembakan yang dilepaskan secara tiba-tiba mengejutkan semua orang yang berada di dalam restoran. Suasana restoran yang semula tenang berubah mencekam karna kemunculan beberapa pria bersenjata. Mereka menggunakan penutup kepala yang menyamarkan wajah mereka.


Orang-orang itu melepaskan beberapa kali tembakan peringatan ke udara sambil berteriak mencari nama 'Kim Namjin. Sepertinya mereka adalah para pembunuh bayaran yang di sewa oleh seseorang untuk membunuh pria bernama Kim Namjin.


Zian segera menarik Luna untuk merunduk dan bersembunyi di bawah kolong meja, hal serupa juga di lakukan Reno pada Veronica.


"Bagaimana ini, Zian? Apa kau memiliki rencana untuk menghentikan mereka?" Tanya Reno setengah berbisik.


Zian mengintip keluar untuk memperhatikan keadaan sekitar, sedikitnya ada dua nyawa tidak bersalah melayang sia-sia di tangan mereka.


"Jangan diam saja. Kau tidak tau kalau aku ini sedang panik apa?" Zian mendengus seraya memutar matanya jengah.


"Diamlah, kau terlalu berisik."


"Ada baiknya kalian bertiga tetap di sini. Aku akan keluar untuk menghadapi mereka." Tidak mungkin Zian melibatkan Reno dan Luna dalam perkelahian mengingat bila dia tidak menguasai tekhnik bela diri apapun, sedangkan Luna masih belum sembuh total.


Doorrr!!


Satu timah panas melesat dengan cepat kearah Zian. Zian pun segera menghindar hingga tembakan tersebut meleset. Dan dalam usahanya menghindar tersebut di manfaatkan oleh Zian untuk melepaskan tembakkannya pada beberapa orang yang tak berada jauh darinya.


Tubuh mereka pun tumbang seketika setelah terkena terjangan timah panas milik Zian. Jumlah mereka yang semula tidak seimbang karna Zian yang hanya sendiri harus menghadapi sedikitnya tujuh orang, namun dalam waktu yang relatif singkat, Zian dapat mengatasi mereka dengan menumbangkan lima di antaranya. Dan kini hanya tersisa dua orang lagi.


Orang itu membuang senjatanya dan membuka jasnya begitu saja, dengan serempak mereka melayangkan serangan pada Zian. Memukulnya secara bertubi-tubi yang dengan mudah dapat di tangkis oleh Zian dengan menggunakan lengannya.


Sejauh ini Zian tidak memberikan serangan balasan apapun, dia membiarkan mereka tetap menyerangnya hingga tenaga mereka terkuras habis. Melihat lawannya mulai terengah, segera Zian menumbangkan mereka berdua.


Tak lupa dia memberikan sebuah hadiah istimewa yakni tembakan pada paha dan lututnya. Pemilik restoran segera menghubungi polisi dan melaporkan yang telah terjadi, tak lupa pria itu berterimakasih pada Zian berkat bantuannya dia tidak sampai mengalami kerugian yang fatal.


"Oppa, kau terluka." Seru Luna melihat luka gores pada wajah dan lengan kiri atas Zian.

__ADS_1


"Hanya luka kecil saja, tidak perlu di permasalahkan." Jawabnya dingin.


"Tapi tetap saja,lukanya harus di obati. Bagaimana kalau sampai infeksi,"


"Tidak perlu berlebihan, Sayang. Sungguh, aku baik-baik saja," Zian menggenggam jari-jari lentik Luna dan meyakinkan padanya jika dirinya baik-baik saja.


"Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu mencarikanmu seorang dokter specialis untuk mengoprasi plastik wajahmu supaya mulus lagi." Seru Reno. Zian berdecak lidah seraya memutar mata jengah.


"Konyol." Sahutnya menimpali.


"Makanya berhenti bermain-main dengan senjata api, Zian Qin. Agar kau tidak selalu terluka, dan lagi pula apa untungnya juga kau memiliki senjata itu sementara kau memiliki ilmu bela diri yang sangat sempurna." Ujar Reno.


Zian sedikit tertohok mendengar ucapan Reno, dia mengucapakan kalimat tersebut dengan mudahnya seperti tidak ada beban sama sekali. "Kau tidak akan pernah mengerti. Bahkan seekor semut saja membutuhkan senjata untuk melindungi dirinya dari musuh apalagi manusia. Bahkan ketika aku menggunakan senjata sekalipun aku masih tidak bisa melindungi seseorang yang ingin sekali aku lindungi, lalu bagaimana jika aku sampai tidak bersenjata? Bagaimana aku bisa melindungi mereka, apakah aku harus kehilangan lagi?"


Tanpa Reno sadari, ucapan itu telah membuka luka lama di hati Zian. Rasa bersalah kembali menyeruak memenuhi batinnya, jika bukan karna demi melindungi dirinya, pasti Kakeknya tidak akan terbunuh. Mengingat hal itu membuat Zian merasa terluka dan semakin bersalah.


Sorot mata tajamnya menyiratkan kesedihan, kepiluan dan penyesalan yang mendalam. Dan meskipun satu bukan telah berlalu, namun Zian tetap tidak bisa mengenyahkan apalagi membuang kenangan buruk itu dari fikirannya, berbagai macam cara Zian lakukan supaya dia bisa sedikit melupakan insiden yang menimpa Kakeknya hari itu.


"Zian, maaf. Aku sungguh-sungguh bermaksud untuk-""


"Tidak perlu di bahas lagi." Sela Zian cepat. "Kalian lanjutkan saja, aku harus pergi sekarang." Zian bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


"Aku tidak tau apa yang membuat, Zian Oppa menjadi sesedih itu. Tapi apa kau sadar jika ucapanmu sudah menyinggung perasaannya," sinis Luna dengan tatapan tajamnya. "Oppa, tunggu," seru Luna dan bergegas mengejar Zian.


Rasa bersalah menghinggapi perasaan Reno, tidak seharusnya dia berbicara yang dapat menyinggung perasaan Zian. Reno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dan kedua matanya membelalak saat dia teringat sesuatu.


"Omo? Yakk!! Rusa kutub, kenapa malah pergi begitu saja? Lalu siapa yang akan membayar makanan-makanan ini." Seru Reno dengan lantang namun tak di indahkan oleh Zian.


Tiba-tiba Luna menghentikan langkahnya. Kemudian dia menoleh. "Tentu saja kau, memang siapa lagi," jawabnya menyeringai.


Sontak kedua mata Reno membelalak.


"APA? AKU...!! TIDAKKK!!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2