
Jangan lupa tinggalkan like koment setelah membaca. Di novel ini jarang ada koment yang mampir, semoga para pembaca setia IKMA mau berbaik hati buat meninggalkan jejak like komentnya๐๐๐๐๐๐
-
Langit perlahan menggelap. Secercah cahaya oranye terbersit lemah menerobos keremangan cakrawala yang semakin meredup. Kaki langit perlahan-lahan menggelap, menandakan kehadiran sang malam.
Suasana terasa sedikit mencekam diarea Sungai Han, ditambah dengan suasana angin yang berhembus kencang. Lampu-lampu yang berjejer di sepanjang jalan setapak perlahan mati dan hidup dengan sendirinya.
Suasana jalan setapak yang mencekam kemudian disusul oleh suara burung hantu hingga membuat nyali Shion dan Jordy semakin ciut untuk melanjutkan langkahnya. Kakinya seakan kaku tidak dapat digerakkan.
"Hihihi," suara tawa seorang wanita yang terdengar begitu menyeramkan sampai ketelinga Shion dan Jordy.
Hingga Shion dan Jordy merasa bahwa bulu-bulu halus ditengkuknya berdiri, seakan bahaya tengah mengancam dan tak lama suara-suara aneh terdengar terdengar dari sebuah pohon besar di dekat sungai Han.
"Shion, Jordy, aku kesepian di sana. Datanglah dan temani aku. Hihihi,"
"Kyyyaaa!! Keduanya berteriak histeris saat melihat sosok yang menyerupai Viona berdiri di bawah pohon oak sambil mengulurkan tangannya.
"Kemarilah, temani aku. Aku sangat kesepian di sana. Aku tidak memiliki teman. Jadi ikutlah denganku, hihihi..."
Suara itu perlahan semakin lama semakin mendekat, sebisa mungkin Shion dan Jordy membawa kaki mereka untuk berlari, tapi langkahnya terasa berat.
Shion tiba-tiba terjatuh saat dia merasakan sesuatu menyandung salah satu kakinya. Air matanya mulai mengalir deras, ketakutan yang berlebihan melanda, suara suara aneh, tawa mengerikan dan sosok wanita berbaju putih berlumur darah bergerak semakin mendekat. Sosok hantu itu tidak menapak tanah tapi berjalan seperti mengambang.
"Jangan mendekat. Jangan ganggu kami. Hahaha, huaaaa..." Jordy menangis dan memohon.
Dan yang dapat mereka tangkap selanjutnya adalah suara teriakkan, jeritan nan memilukan, serta suara tangis. Namun, perkataan yang terdengar jelas dipendengarannya adalahโฆ
"Kalian harus menemaniku,"
Dan sementara itu...
Rio, Satya dan Frans harus bekerja keras demi keberhasilan rencana mereka.
Mereka tidak hanya menciptakan angin kencang buatan tapi juga menghidup-matikan lampu di sepanjang jalan. Membuat suara-suara menyeramkan yang mirip dengan suara Viona.
Satya dan Frans sampai naik keatas pohon untuk menarik tali yang mereka ikatkan pada tubuh Cherly supaya wanita itu bisa mengambang. Tugas Rio membuat suara-suara menyeramkan dan berlari kesana-kemari untuk menghidup-matikan lampu.
"Shion, kenapa kau harus membunuhku? Dendam apa yang sebenarnya kau miliki padaku?"
Shion menggeleng. Sosok hantu itu terbang kearahnya. "Ja-jangan mendekat. Jangan mengangguku, Kyyyaaa..."
"Temani aku, aku kesepian dan kedinginan. Kau harus ikut aku,"
"TIDAK!!"Shion berlari dengan tunggang langgang, bahkan dia tidak menghiraukan teriakkan Jordy yang memintanya untuk menunggunya.
"SHION CHOI, JANGAN TINGGALKAN AKU!! AKU TIDAK INGIN DITELAN HIDUP-HIDUP OLEH HANTU MENYERAMKAN ITU!! SHION TUNGGU!!!"
-
BRAKKK...
__ADS_1
Ketiga dukun itu terkejut bukan main karna dobrakkan keras pada pintu ruangan. Terlihat sepasang pria dan wanita memasuki ruangan dengan nafas tersenggal-sengal.
"Tuan dukun, tolong kami. Selamatkan kami berdua dari arwah penasaran," mohon Shion sambil berlutut di depan ketiga dukun tersebut. "Kami berdua akan membayar berapa pun jika kalian berhasil mengusir arwah penasaran itu dari hidup kami,"
"Hm,"
"Tuan Dukun. Jebal, kami mohon," Jordy ikut berlutut bahkan dia sampai mencium kaki ketiga dukun itu secara bergantian.
"Mengusir hantu adalah keahlianku dan kedua saudaraku. Tapi itu tidak mudah dan membutuhkan banyak ritual-ritual fan syarat-syarat. Apakah kalian-"
"Kami bersedia. Kami rela melakukan apapun asalkan bisa terbebas dari arwah penasaran itu."
"Ada beberapa syarat dan ritual yang harus kalian lakukan. Pertama, kalian harus mandi dan berendam di dalam tujuh mata air di tengah malam. Kalian juga harus berendam di dalam air dingin yang sudah di campur dengan bunga tujuh warna. Karna kalian juga sudah tertiban sial, kalian juga harus mau berendam di dalam tujuh kotoran ayam. Berlari menggelilingi Sungai Han sebanyak tujuh kali dalam keadaan telanjang. Bagaimana? Apa kalian sanggup?"
"Apa tidak ada cara lain?"
"YA SUDAH KALAU KALIAN TIDAK MAU!"
"Kami mau!!" keduanya menjawab dengan kompak.
"Kalau begitu tandatangan di sini dan kalian juga harus membayar di muka sebanyak 100 juta won."
"Apa itu tidak terlalu mahal?"
"KALAU TIDAK MAU YA SUDAH!!"
"Kami mau!!"
"Ba-baik Tuan Dukun. Kami pergi dulu dan ini uang mukanya."
Setelah memastikan mereka berdua benar-benar sudah pergi. Ketiganya langsung melepaskan penyamarannya. Dan mereka bertiga tentu saja adalah Rio, Satya dan Frans.
Mereka menghitung jumlah uang yang baru saja mereka dapatkan."Ye... Pesta lagi," Ketiganya saling bertos ria dan menari-nari dengan bahagia. Rasanya mereka sangat puas karna berhasil mengerjai Shion dan Jordy.
-
"Oppa, sebenarnya kita mau kemana?" bingung Viona ketika mobil yang Nathan kemudikan mulai memasuki khawasan sepi. Tak ada satu bangunan pun yang bisa dia lihat disepanjang jalan selain ratusan bahkan pohon cemara.
"Berlibur. Aku merasa penat dan ingin menjernihkan pikiran,"
"Apa kita akan mengingap?"
"Hm, dan anggap saja ini perjalanan bulan madu ketiga kita. Sebaiknya kau tidur karna perjalanan kita masih lumayan panjang, aku akan membangunkanmu ketika sampai nanti." Ucap Nathan. Viona menatap pria itu sejebak kemudian mengngguk.
"Baiklah,"
.
.
.
__ADS_1
Matahari menyinari pulau Jeju cukup terik. Meskipun begitu teriknya sinar matahari sekalipun tidak mampu melelehkan salju-salju tipis yang masih menutupi daun dan jalanan di Pulau yang kerap dijadikan destinasi bulan madu itu.
Bagaimana tidak, Pulau Jeju merupakan pulau yang sangat terkenal keindahannya sehingga dianggap mampu semakin menguatkan rasa cinta sepasang sejoli. Tidak lupa mulai mekarnya Bunga Canola khas pulau Jeju menandakan bahwa musim semi sudah datang. Mekarnya Bunga Canola seakan menyambut pasangan suami-istri yang akan menghabiskan awal musim semi bersama di Pulau cantik tersebut.
"Sayang, bangun, kita sudah sampai." Nathan menepuk pipi Viona dan berseru lembut.
Kelopak mata itu terbuka perlahan dan memperlihatkan sepasang hazel yang sangat menawan. "Oppa, kita ada di mana? Kenapa udara di sini sangat sejuk dan segar," tanya Viona sedikit kebigungan.
"Buka matamu lebar-lebar dan perhatikan apa yang ada disekelilingmu," pinta Nathan masih dengan senyum terbaik yang tercetak dibibirnya.
Viona kemudian menyapukan pandangannya kesegala penjuru arah. Dan hanya warna kuning yang tertangkap sejauh matanya memandang. Kedua mata Viona berbinar-binar ketika dia menyadari dimana dirinya berada saat ini.
"Kkyyyaaa...!! Bunga Canola. Oppa, apakah kita sekarang berada di pulau Jeju?" tanya Viona dengan begitu antusias.
"Lalu menurutmu. Ayo turun, kita bisa singgah sejenak di sini," ucap Nathan dan turun dari mobilnya diikiti Viona yang kemudian berdiri disampingnya. "Ayo," Nathan menggenggam tangan Viona dan keduanya berjalan beriringan menuju hamparan bunga cantik itu.
Nathan menghentikan langkahnya ditengah-tengah hamparan Canola yang membentang bak samudera. Angin berhembus sepoi-sepoi. Semilir angin menghembuskan menggoyangkan pohon-pohon Canola. Udara sore hari yang begitu menyejukan. Matahari mulai masuk keperaduannya
Viona menatap ke arah langit senja dengan pandangan takjub. Matahari terasa lebih hangat dari biasanya, pertanda musim semi telah dimulai. Salah satu musim yang paling Viona sukai, karna saat musim semi tiba. Bunga-bunga akan bermekaran dan aromanya yang semerbak membawa aroma harum yang menenangkan. Dan di musim semi Viona bisa melihat salah satu bunga kesukaannya, Canola.
Semilir angin musim semi di sore hari berhembus sepoi-sepoi, menggelitik sekumpulan dandelion yang tumbuh di tengah hamparan ilalang, memaksa jenis bunga ajaib tersebut menari-nari lucu.
Viona sibuk mengamati mereka dengan tatapan takjub, apalagi ketika sang angin dengan nakalnya berhembus semakin kencang, menerbangkan serpih-serpih dandelion ke angkasa, melayang-layang jauh hingga tak lagi terlihat oleh mata hazel di balik kaca mata itu. Dan bisa jadi dandelion itu terbang ke puncak gunung atau bahkan ke samudra, tidak ada yang tahu kecuali Tuhan.
Viona terlalu sibuk mengamati keindahan dandelion sampai-sampai ia tidak mendengar suara langkah kaki yang berderap ke arahnya, mengarungi padang ilalang dengan langkah-langkah panjang.
"Apa kau menikmati pemandangannya?"
Viona mendongakkan wajah.
Seulas senyum lekas terpatri di wajah cantiknya ketika ia mendapati sosok tampan yang berdiri tepat di hadapannya. Siapa lagi jika bukan Nathan, suaminya.
"Ya, aku sangat menyukainya dan aku menikmati keindahan pemandangan di tempat ini." Ujar Viona dengan senyum yang sama.
Melihat senyum Viona yang secerah mentari pagi membuat Nathan ikut menarik sudut bibirnya juga. Hatinya menghangat kala melihat senyum indah di bibir Viona. Nathan meraih tengkuk Viona lalu mencium bibirnya dengan intens namun penuh kelembutan. Kedua tangan Nathan membingkai bibir Viona dan terus mencium bibirnya.
Kedua mata Viona tertutup perlahan. Kedua tangannya dia angkat kemudian Viona kalungkan pada leher Nathan. Sebelah tangan Nathan kemudian berpindah menuju tengkuk Viona. Menekannya lebih dalam.agar ciuman mereka tidak mudah terlepas.
Ciuman manis yang penuh makna karna mereka berciuman dengan berpayung gurat jingga pada langit senja, desah bayu mulai menampar raga dengan hawa dinginnya. Perlahan Nathan melepaskan tautan bibirnya. Bibirnya kembali mengurai senyum tipis di sudut bibirnya.
"Sudah hampir petang, sebaiknya kita pergi sekarang. Kita harus tiba di Villa sebelum hari semakin malam," ucap Nathan sambil mengusap sisa liur dibibir Viona.
Wanita itu mengangguk tipis. "Tapi bisakah besok kau membawaku kemari lagi?" tanya Viona sambil menatap Nathan dengan penuh harap.
"Tentu, apapun untukmu Sayang,"
Viona berhambur ke dalam pelukkan Nathan. Senyum kembali terpecah dari bibir Viona. Sungguh betapa dirinya sangat beruntung memiliki suami seperti Nathan. Dibalik sifat Arogannya dan tempramentnya yang sangat buruk. Tapi terlepas dari semua itu, Nathan adalah sosok suami yang hangat dan penuh kasih sayang.
-
Bersambung.
__ADS_1