Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 40) "Musibah Membawa Berkah"


__ADS_3

Bukan Rio, Satya dan Frans namanya, jika tidak membuat keributan dan membuat orang lain frustasi karna ulahnya.


Kali ini yang menjadi korban kejahilan ketiga pemuda itu adalah Miranda, si ulat betina yang menjadi dalang utama di balik hancurnya keluarga angkat Luna. Karna kelicikan wanita itu tuan Leonil harus meregang nyawa dan Dean di penjara seumur hidupnya. Berbulan-bulan Luna selalu larut dalam kesedihan karna kehilangan papa tercintanya.


Rio berhasil menemukan tempat persembunyian Miranda dan kekasihnya secara tidak sengaja. Ternyata mereka bersembunyi di sebuah khawasan kumuh di barat daya kota Seoul.


Bekerja sama dengan Cherly dan Daniel. Ketiga pemuda super ajaib itu mulai menjalankan aksinya. Tugas Cherly menjadi arwah gentayangan, mereka mendapatkan sebuah informasi dari sumber terpercaya jika Miranda dan kekasihnya pernah menghilangkan nyawa seorang wanita dan anak kecil.


Seolah dewi fortuna tengah berpihak pada mereka, wajah wanita yang mereka bunuh hampir-hampir mirip dengan Cherly. Sedangkan tugas trio kadal adalah menyebar terror tentang kemunculan hantu perempuan dan anak kecil yang ingin membalas dendam.


"Nunna, kau sudah siap?" tegur Satya ketika melihat kedatangan Cherly. "Rio dan Frans sudah menunggu kita di lokasi," imbuhnya.


"Lalu di mana, Daniel? Apa dia masih belum siap?"


"Aku di sini, Bibi," seru Daniel dari dalam mobil. Bocah itu terlihat melambaikan tangannya pada Cherly sambil tersenyum lebar.


Bocah laki-laki telah di sulap menjadi tuyul oleh Satya. Entah kenapa peran Daniel selalu menjadi tuyul setiap kali mereka akan beraksi kembali. Bukannya melayangkan protesnya karna selalu mendapatkan peran yang sama. Daniel justru menikmatinya.


Setelah berkendara selama dua puluh menit. Mereka bertiga pun sudah tiba di lokasi. Dari dalam mobil Satya, Cherly dan Daniel melihat Rio dan Frans yang sedang berbincang dengan warga.


Turun dari pintu samping, mereka bertiga bergegas pergi ke lokasi. Dan tempat yang mereka tuju adalah sebuah pohon besar yang letaknya bersebelahan dengan tempat tinggal Miranda dan kelasihnya.


"Nunna, cepat. Punggungku sudah tidak kuat lagi,"


"Diamlah bocah!! Dan jangan terlalu banyak bergerak, kau fikir ini mudah,"


"Iya, tapi tidak bisakah kau lebih cepat sedikit?"


"Ck, berisik sekali kau ini!!"


Dan setelah bersusah payah. Akhirnya Cherly berhasil naik ke atas pohon dan duduk di salah satu dahannya. Sedangkan Daniel berlari-lari di sekitar pohon sambil tertawa. Sekarang Rio tinggal mengambil bagiannya, yakni membuat kehebohan yang akan menggemparkan warga.


"KKYYYAAA!!! HANTU!!!"


Pemuda itu berlari tunggang-langgang. Demi meyakinkan jika dia benar-benar ketakutan, Satya sampai berguling-guling dan pura-pura terjatuh. Pemuda itu menghampiri para warga yang sedang berkumpul dan berbincang dengan Rio dan Frans.


"Satya, ada apa?" tanya Frans pura-pura kebingungan


"A-aku melihat hantu wanita dan hantu tuyul dipohon besar samping rumah pasangan kebo itu,"


"A-apa? Hantu?"


"Benar, Paman. Hantu itu adalah hantu jahat, hantu-hantu itu ingin balas dendam pada wanita bernama Miranda dan kekasihnya. Paman, Bibi, kalian harus mengusir mereka berdua. Jika pasangan penjahat itu masih ada di sini, bisa-bisa desa ini terkena karmanya," ujar Rio.


"Jadi wanita itu dan kekasihnya yang menjadi dalang utamanya. Kampung kita memang selalu tertimpa sial sejak kedatangan mereka."


"TUNGGU APA LAGI? AYO KITA USIR MEREKA!!"


-


"KKYYYAAA!!"


Baru saja hendak menutup mata. Tapi jeritan Luna membuat Zian terlonjak kaget. Zian beranjak dari berbaringnya dan bergegas menghampiri Luna di kamar tamu. Zian cemas ada hal buruk yang menimpa gadis itu.


Namun setibanya di sana. Bukannya sebuah bahaya yang Zian temukan melainkan hal yang sangat menggelikan. Entah bagaimana ceritanya Luna bisa berada di atas lemari pakaian.


"Leonil Luna, apa yang sedang kau lakukan di atas sana?" tanya Zian penasaran.


"Huaaa...!! Zian Qin, cepat jauhkan cicak itu dan buang jauh-jauh. Aku sangat takut..!!" Luna menjerit histeris.


Zian mendengus geli. Pemuda itu memukul cicak tersebut lalu membuangnya keluar jendela. "Sudah, cepat turun," pinta Zian.


Luna meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tapi, Zian. Aku tidak tau caranya untuk turun," ujar Luna, dan lagi-lagi Zian hanya bisa mendengus berat.


"Dasar merepotkan," Zian mendesah kesal."Melompatlah, aku akan menangkapmu," pintanya.


"Tapi bagaimana kalau tangkapanmu sampai meleset dan kemudian aku jatuh? Bisa-bisa aku terkena encok,"


"Ck, kau ini cerewet sekali sih! Sudah melompat saja, aku akan menangkapmu dengan tepat,"


"Iya iya, dasar cerewet," Luna mencerutkan bibirnya. "Bersiaplah, aku akan melompat sekarang,"


"Hn,"

__ADS_1


"OMO!!"


Kedua mata Luna membelalak, baru saja dia hendak melompat tapi sialnya dia malah terpeleset dan terjun bebas ke bawah. Zian pun tak kalah kagetnya, mata kanannya membelalak.


Tubuh keduanya sama-sama berakhir di lantai dan sama-sama tak sadarkan diri. Luna pingsan karna terlalu syok, sedangkan Zian pingsan karna kepala belakangnya berbenturan dengan cukup keras.


.


.


"Aaahhh,"


Mata kanan Zian terbuka perlahan, salah satu tangannya mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah. Baru saja Zian hendak beranjak dari posisinya, tapi sesuatu seperti menahanya.


Kemudian Zian menggulirkan pandangannya kebawah dan mendapati Luna tengah tak sadarkan diri diatas tubuhnya, kepala gadis itu terkulai lemas di atas dada bidangnya.


"Luna," seru Zian.


Zian mengangkat tubuh Luna kemudian membaringkannya di atas tempat tidur."Luna, bangun. Hei, cepat buka matamu. Luna, jebal... Jangan membuatku takut," Zian menepuk pipi Luna sambil terus menggosok telapak tangan dan ruas-ruas jarinya.


"Aduh.. Kepalaku," akhirnya Luna sadar juga. Melihat Luna baik-baik saja membuat Zian mendesah lega. "Zian, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bida pingsan?" tanya Luna kebingungan.


"Kau terjun bebas dari atas lemari dan mendarat tepat diatas tubuhku. Kau pingsan begitu pula dengan aku. Dan berkat musibah itu, akhirnya aku bisa mendapatkan kembali ingatanku," ujar Zian panjang lebar.


Mata Luna membelalak tak percaya."Benarkah? Zian, kau sungguh-sungguh sudah ingat semuanya? Jadi kau sudah mengingat diriku?" Luna menatap Zian tak percaya.


"Tentu saja," kemudian Zian menarik Luna dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Dagu Zian bersandar pada kepala coklat Luna. "Aku bersyukur karna pada akhirnya bisa mengingatmu lagi. Maafkan aku, Luna, karna pernah melupakanmu," bisik Zian penuh sesal. Zian menutup matanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Luna.


Luna menggeleng. "Semua sudah berlalu. Tidak perlu dibahas lagi, yang terpenting sekarang kau sudah bisa mengingatku lagi. Itu yang paling penting. Dan bukankah ini adalah sebuah musibah yang membawah berkah?" Luna mengangkat wajahnya dari dekapan Zian. Matanya mengunci manik kanan pemuda itu. "Bukankah begitu, Zian,"


"Ya,"


-


"USIR MEREKA...!!"


"USIR...!!"


"USIR MEREKA...!!"


"USIR...!!"


Dan setibanya mereka di sana. Miranda dan pria itu tengah berada dalam masalah besar karna terus mendapatkan gangguan dari mahluk astrak jadi-jadian yang pastinya adalah Cherly dan Daniel.


Wajah dan tubuh mereka babak belur setelah menabrak tembok, terjungkal ke lantai sampai terpentok meja saat berusaha menghindari kedua hantu tersebut.


"Kalian harus mati, hihihi."


Miranda menggeleng. "Jangan, jangan mendekat. Jangan menggangguku lagi. Pergi kalian semua dari sini, PERGI!!" teriak Miranda sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Hihihi... Hihihi... Hihihi... Kalian harus mati, kalian harus membayar semua kejahatan kalian,"


"Betul.. betul.." dan Daniel hanya berkata betul-betul sambil berlari kesana-kemari.


"Kalian tidak akan bisa kabur dariku. Kalian berdua harus mati...!!"


"Betul...betul..."


"USIR MEREKA...!!"


"USIR...!!"


"USIR MEREKA...!!"


"USIR...!!"


Kedua mata Miranda membelalak saat indera pendengarannya mendengar suara para warga yang semakin lama semakin dekat. Miranda menggeleng. "Kita harus cepat pergi dari sini, aku tidak ingin mati konyol ditangan mereka,"


"Kau benar, ayo kita pergi," pria itu menarik pergelangan tangan Miranda dan membawanya pergi lewat pintu belakang. Mereka tidak ingin tertangkap dan mati konyol di tangan para warga.


"Itu mereka!! Mereka mencoba untuk kabur,"


"Tunggu apa lagi. KEJAR...!!"

__ADS_1


"Aaahh," Miranda terus berteriak di sepanjang jalan.


Berkali-kali punggung dan kepalanya terhantam batu yang di lemparkan oleh warga. Pria itu berusaha melindungi Miranda dengan jaketnya. Bukan hanya Miranda. Tapi pria itu juga berkali-kali terkena timpukan batu yang dilemparkan oleh warga yang murka.


"BERHENTI..!! JANGAN KABUR KALIAN..!!"


Miranda dan kekasihnya sampai di jalan raya setelah cukup jauh berlari. Warna sudah tidak terlihat mengejar mereka lagi. Miranda dan kekasihnya bisa menghela nafas lega. Miranda segera menghentikan mobil yang lewat dan mencari tumpangan dari mobil pengangkut sayur tersebut.


Awalnya mobil itu melaju normal. Tapi tiba-tiba kehilangan keseimbangan setelah sebelah bannya neletus hingga menimbulkan suara yang begitu keras. Mobil itu melaju dengan tak terkendali, tubuh Miranda dan kekasihnya berkali-kali terpanting ke sana-kemari. Dan mengerikannya lagi di sisi kanan dan kiri jalan adalah jurang yang curam.


BRAKK...!!


Mobil itu akhirnya menabrak pohon yang ada di tepi jurang dengan keras. Saking kerasnya kecelakaan tunggal itu, hingga membuat tubuh Miranda dan kekasihnya terlempar ke depan.


"KYYYAAA...!!"


Keduanya terjun bebas ke dalam jurang yang memiliki kedalaman 200 meter. Dan membuat keduanya meregang nyawa di bawah sana. Sedangkan si sopir mobil langsung meninggal di tempat setelah mobinya bertabrakan dengan pohon yang berdiri kokoh di tepi jurang.


-


Desiran angin dan lambaian dahan-dahan pepohonan membuat cuaca pagi itu semakin ceria.


Semilir angin musim panas di pagi hari terasa begitu sejuk yang diserta tetesan-tetesan embun di dedaunan masih sangat bening menggantung mengilaukan cahaya mentari pagi.


Tampak cahaya keemasan menyembul dari sebuah Bukit di ufuk timur menandakan kicauan burung hantu sudah beganti dengan burung gereja yang hinggap di atas dahan-dahan sambil berkicau riang menyambut datangnya pagi ini.


Luna membuka matanya yang masih terasa berat. Aroma lezat makanan langsung berkaur di dalam hidungnya ketika mata itu telah terbuka sepenuhnya. Luna menyibak selimutnya kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya.


Luna menghampiri Zian yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Tubuh kekarnya hanya terbalut singlet abu-abu press body dan celana panjang hitam. Luna menghampiri pemuda itu dan langsung memeluknya dari belakang.


"Pagi," sapa Luna.


Zian menoleh kebelakang dan menatap Luna dari ujung mata kanannya. Jari-jari besarnya menggenggam ruas-ruas jari lentik Luna yang terasa dingin. "Kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu semalam?"


"Sangat nyenyak,"


Kemudian Zian melepaskan pelukan Luna dan menempatkan gadis itu di depannya. Sebelah tangan Zian memeluk pinggang gadis itu sedangkan tangan satu lagi menggenggam jari-jari lentiknya. "Aku akan mengajarimu memasak. Karna setelah kita menikah nanti, kau harus terbiasa menyiapkan sarapan dan makan malam untukku. Apalagi kau sangat payah dalam hal memasak, Sayang," ujar Zian panjang lebar.


Luna mengangkat wajahnya. "Jadi kau benar-benar akan menikahiku?" Tanya Luna tak percaya.


"Menurutmu?"


Luna menundukkan wajahnya. "Lalu bagaimana dengan mamamu? Sepertinya dia sangat-sangat tidak menyukaiku. Apakah kita akan tetap menikah meskipun tanpa restu darinya?"


"Ya. Aku tidak peduli dia memberikan restunya atau tidak. Dengan atau tanpa restunya, aku akan tetap menikahimu!!"


"Zian," gumam Luna. Dia begitu terharu mendengar apa yang Zian katakan.


Zian memutar tubuh Luna kemudian merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya."Kau adalah kebahagiaanku, Luna. Jadi bagaimana aku bisa melepasmu begitu saja hanya karna satu orang? Dia memang ibuku, tapi dia tidak bisa mengaturku dengan sesuka hatinya, karna aku bukanlah boneka."


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu ternasuk ibuku. Aku akan selalu melindungimu, tak akan aku biarkan siapapun menyentuhmu. Dan aku akan menghabisi siapa pun yang berani membahayakanmu!!" Ujar Zian sambil menutup mata kanannya.


"Kau memang yang terbaik, Zian. Tak sia-sia aku melupakan Dean dan berhaluan padamu," Luna mengangkat wajahnya dan mengunci manik abu-abu milik Zian.


Zian menggeleng. "Kau belum sepenuhnya melupakannya, Luna. Masih ada sedikit cinta di matamu untuknya. Aku dapat memahaminya, karna melupakan seseorang yang kita cintai memang bukanlah sebuah perkara yang mudah. Mungkin mencintai seseorang hanya perlu waktu satu detik, tapi untuk bisa melupakanya, membutuhkan waktu yang sangat panjang."


"Aku akan tetap menunggumu, dalam satu tahun aku akan membuatmu benar-benar melupakannya dan hanya mencintaiku. Karna kau memang layak untuk diperjuangkan," tutur Zian panjang lebar.


"Zian," lagi-lagi dia terharu oleh kata-kata Zian.


Luna tak menemukan sedikit pun kebohongan yang tersirat dari mata itu, hanya kejujuran dan ketulusan yang dia lihat di sana.


Luna sedikit berjinjit supaya bisa mencapai bibir Zian, kedua tangannya menakup wajah pemuda itu. Kedua matanya tertutup rapat, bibirnya memagut bibir Zian dengan penuh kelembutan, namun ciuman itu tidak berlangsung lama. Luna mengakhirinya.


"Aku juga akan berjuang untuk melupakannya. Mari kita tutup buku lama dan kita buka lembaran baru. Aku akan melupakan semua kejadian menyakitkan di masa lalu, karna bersamamu aku yakin mampu melewati semuanya," tutur Luna, bibirnya mengurai senyum setipis kertas.


Luna kembali membenamkan wajahnya pada dada bidang Zian yang tersembunyi di balik singlet abu-abunya, matanya tertutup rapat. Luna semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang adonis.


"Kau tunggu saja di meja makan, aku akan menyelesaikan ini dengan segera," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Baiklah,"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2