Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 85) "Saling Melengkapi"


__ADS_3


Hai riders, jangan lupa baca juga ya, novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM selalu tinggalkan like komentnya juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Manik abu-abu Zian menatap sebuah potret kecil di tangannya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, bibirnya tersungging lembut. Tangan pria itu menyentuh perlahan perut Luna yang terlihat masih datar. Sungguh hal itu membuat dirinya tidak bisa berhenti tersenyum.


"Ini sangat luar biasa, Sayang. Tapi sayangnya kita masih belum bisa mengetahui jenis kelamin calon anak kita," ucapnya


"Itu karena kondisi kehamilan Luna baru memasuki Minggu ke empat. Jadi belum memperlihatkan tanda-tanda yang spesifik." Ucap Viona memberikan penjelasan perihal cetak foto di tangan Zian.


"Aku tau, Nunna-ua. Ya biarpun kita belum bisa melihatnya dengan jelas, aku yakin sekali kalau anak kami pasti sehat!" seru Zian, kedua matanya tampak berbinar-binar. Dan sepanjang Luna mengenal Zian, tak pernah dia melihat suaminya itu sebahagia ini.


Sedangkan Luna mengangguk setuju. "Um, dan aku berharap anak kita tidak dingin sepertimu, Oppa." ujarnya terkekeh.


Mendengar perkataan istrinya membuatnya mendengus, tidak ingatkah wanita cantik ini kalau bayi dalam kandungan itu akan menjadi anaknya juga kelak? Zian menjitak gemas kepala coklat Luna dan membuat wanita itu kembali terkekeh. Sedangkan Nathan dan Viona hanya bisa mendengus melihat sikap pasangan suami-istri di depan mereka tersebut.


"Aku hanya bercanda, Oppa. Tidak perlu diambil hati. Lagipula jika dia tidak seperti papanya lalu akan seperti siapa," Luna menakup sisi wajah Zian dan tersenyum lembut.


Zian mengusap lembut puncak kepala istri cantiknya itu, serta mengecup keningnya."Jangan lupa kalau dia perempuan, pasti akan secantik dan semanis dirimu, Luna"


"E..eh?" tak ayal semburat merah muncul di kedua pipi Luna, wanita itu tertunduk malu. Sampai akhirya mengangguk pelan. Menatap manik abu-abu suaminya yang saat ini tampak begitu hidup.


"Ya, dan kalau laki-laki, pasti akan tampan sepertimu, Oppa," ucapnya kembali.


Perlahan tapi pasti, tangan Zian perlahan turun, mengelus perut Luna yang masih rata dengan lembut. Dan segera menempelkan telinganya tepat di sana.


"Hai, putri atau pun putra papa yang cantik dan tampan, Kau tahu seberapa senangnya Papa saat tahu kalau mama sedang mengandung? Senang sekali, sampai-sampai papa tidak tahu harus berkata apa, biarpun saat ini kau masih belum mendengar perkataan yang papa katakan. Tapi tenang saja, nak.  Pasti kami akan menunggu sampai saat kau datang ke dunia ini dan menjadi keluarga kami. Jadi sehat-sehatlah di sana, jangan merepotkan ibumu," bisiknya. Perkataan Zian membuat Luna tersentuh, dan tak ayal setetes air mata jatuh di maniknya.


Wanita itu berusaha keras untuk menghapus air matanya tapi tidak bisa, lambat laun saat Zian dan kembali mengadah menatap Luna, tentu saja ia melihat jelas pipi Luna yang basah.


"Hei,kenapa kau menangis?Apa kata-kataku ada yang melukai perasaanmu?" tanya Zian memastikan. Luna menggeleng.

__ADS_1


"Tidak Oppa, aku hanya terharu saja. Tahu-tahu air mataku sampai turun dan aku tidak bisa mencegahnya," ujarnya cepat.


Viona yang melihat sikap panik Zian hanya tertawa geli, pasalnya ini pertama kalinya dia melihat Zian bersikap demikian dan hal itu mengingatkan Viona pada sikap Nathan ketika dirinya mengandung si kembar dulu. Dan terlihat sekali kalau sikap laki-laki blonde ini overprotektif pada istrinya. Wajar saja, dengan pelan ia menepuk pundak Zian, berusaha menenangkannya.


"Tenanglah, Zian. Kondisi emosi, Luna memang tidak stabil saat dia tengah mengandung. Jadi kau harus lebih mempersiapkan diri dan lebih sabar lagi kalau-kalau nanti Luna marah, senang, ataupun sedih tiba-tiba. Usahakan agar kau juga bisa menuruti apapun permintaan istri cantikmu ini, jangan biarkan dia terlalu lelah ataupun stress karena memikirkan banyak hal." Jelas Viona panjang lebar.


Mendengar perkataan kakak iparnya membuat Zian ingat kembali pada permintaan dan keinginan Luna yang suka aneh-aneh. Meskipun terkadang dia merasa lelah namun sebisa mungkin dia mengabulkan apapun permintaan Luna, Zian tidak ingin membuat istri cantiknya ini sampai sedih.


-


"AAHHH...!!!"


Jordan berteriak keras ketika belati di tangan Erika mulai menggores kulit wajahnya. Bukan hanya Erika saja yang selalu memberikan siksaan fisik padanya, tapi anggota Black Lady yang lainnya juga. Tak jarang pula Jordan menjadi pemuas nafsu teman-teman Luna.


"Ke-kenapa kalian tidak langsung membunuhku saja, eo? Kenapa kalian harus menyiksaku seperti ini!!"


"Kami tidak memiliki kuasa untuk menghabisimu. Karena semua keputusan ketua yang menentukan. Tanpa persetujuan dan perintah darinya. Kami juga tidak bisa melepaskan ataupun menghabisimu! Soo, nikmati saja kesempatan hidup yang kau miliki di sini,"


"Sudah-sudah, sudah cukup kau menyiksanya. Sekarang giliran ku. Dia harus memuaskan ku malam ini!!" seru Delia kemudian menarik panksa Erika dan membawanya menjauh dari Jordan.


Dan Jordan tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan gila wanita bernama Delia tersebut. Jordan tidak ingin nasibnya berakhir dengan buruk jika dia menolaknya


"Baiklah, sesuai dengan permintaanmu, Nona,"


Delia tersenyum. "Bagus sekali kelinci tampanku. Memang sudah seharusnya kau patuh pada majikanmu," Delia menepuk kepala Jordan dan menyeringai.


Black Lady membuat kedua kaki dan tangan Jordan patah sehingga tidak mungkin baginya untuk melawan apalagi samai melarikan diri. Meskipun mereka adalah para wanita yang tampak lemah di luar, tapi siapa yang menyangka jika dalam diri mereka bersemayam sesosok iblis yang sangat mengerikan.


-


Tiga hari telah berlalu namun luka pada pelipis Zian masih tampak basah dan sedikit mengeluarkan darah. Saat ini Zian dan Luna sedang berada di kamar mereka, Luna membantu Zian mengganti perban pada luka itu dan menggantinya dengan perban yang baru.


Luna mendesah berat. "Jika saja aku memiliki ruang untuk bergerak bebas pasti aku sudah membuat preman-preman itu berakhir mengenaskan," sayangnya Luna sedang hamil muda dan dia tidak ingin mengambil resiko besar dengan ikut berkelahi yang nantinya akan membahayakan janin dalam perutnya.

__ADS_1


"Kenapa kau semakin mengerikan saja nyonya Qin," cibir Zian kemudian menyentil gemas kening Luna.


Wanita itu berdecak sebal. "Apa kau lupa, Oppa. Jika istrimu yang cantik ini adalah ketua dari Black Lady. Dan berhentilah mencibirku seperti.. Aaahhh, perutku," tiba-tiba Luna menggeram sambil memegangi perutnya.


Seketika Zian menjadi panik melihat wajah kesakitan Luna di tambah lagi dia terus memegangi perutnya. "Luna, kenapa? Apa perutmu sakit?" Luna menggeleng. "Lantas?"


"Hanya sedikit kram saja, tapi selebihnya oke," jawabnya.


"Sungguh?" Luna mengangguk, meyakinkan pada Zian jika dirinya memang baik-baik saja. Kemudian Zian menarik Luna ke dalam pelukannya. Zian menutup matanya. "Jangan membuatku panik dan cemas," ucapnya berbisik.


Luna mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Zian. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. "Tidak perlu sepanik itu, Oppa. Aku baik-baik saja, sungguh." Luna melonggarkan pelukannya kemudian menatap Zian dengan senyum mengembang. "Aku akan melanjutkannya. Lukamu tidak bisa di biarkan terbuka terlalu lama, setelah ini aku akan membantu Vio eonni menyiapkan makan malam. Terlalu banyak diam membuatku merasa bosan." ujarnya panjang lebar.


"Hn, terserah kau saja. Asal kau jangan sampai kelelahan saja," Luna tersenyum kemudian mengangguk.


Kedua tangannya menakup wajah Zian kemudian megecup singkat bibir kemerahan suaminya. "Aku mengerti, Sayangku. Tidak perlu di ingatkan lagi, lagipula istrimu yang cantik ini adalah wanita yang patuh," Luna menggerlingkan matanya dan terkekeh.


Kemudian Luna berhambur ke dalam pelukkan Zian. "Aku sangat bahagia memiliki suami sepertimu, aku pikir diriku akan berakhir mengenaskan karena cinta butaku pada, Dean. Tapi ternyata Tuhan memiliki sebuah rencana yang sangat indah untukku dengan mengirimu dan menjadikan dirimu sebagai jodohku,"


Zian melingkarkan tangan kanannya untuk memeluk Luna. Dagu Zian bersandar pada kepala coklat Luna. "Kau tau, Sayang. Kau adalah anugerah terindah yang Tuhan kirimkan padaku. Dan terimakasih telah menerimaku apa adanya dan mencintaiku dengan tulus," Luna melonggarkan pelukannya. Kedua tangannya menakup wajah Zian kemudian mencium singkat bibirnya.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu, Oppa,"


Zian menarik tengkuk Luna dan balik menciumnya. Ciuman Zian lebih dalam dan lebih panjang daripada ciuman Luna sebelumnya. Sebelah tangan Zian memeluk pinggang Luna dengan protektif.


Luna mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Zian. Dan melalui ciuman itu, baik Luna maupun Zian sama-sama ingin mengungkapkan seberapa besar mereka saling mencintai. Luna adalah kebahagiaan terbesar untuk Zian dan begitulah sebaliknya, karena mereka terlahir untuk saling melengkapi.


Zian melepaskan ciumannya beberapa saat kemudian. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. Melihat senyuman lebar Zian membuat Luna ikut tersenyum juga.


Sungguh sebuah keajaiban bagi Luna karena bisa melihat senyum yang begitu indah suaminya, sepanjang Luna mengenal Zian, tak sekalipun dia melihat senyum Zian yang selebar dan sehangat itu. Zian terkadang bersikap dingin padanya, namun Luna tak pernah merasa keberatan. Dan dia membiarkan Zian mencintainya dengan caranya sendiri.


"Bisa lanjutkan?" tanya Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Tentu,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2