
Riders tersayang, baca juga novel terbaru Author yang judulnya TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM jangan lupa untuk meninggalkan like koment juga ya riders.
-
"Uhhh... Ahhh... Uhhh... Aaahhh .."
Tap...
Viona menghentikan langkahnya ketika melewati kamar Rio, Satya dan Frans. Bulu kuduk Viona langsung berdiri ketika mendengar suara-suara yang teramat mengerikan yang berasal dari kamar si trio.
"Uhhh... Aaahhh... Paman, ini sangat nikmat... Uhh.. Lagi paman, lagi. Ya ya di situ, di situ. Ahhh... Sangat nyaman paman, aaahh.. sungguh nikmat,"
Viona terlonjak kaget setelah mendengar kalimat-kalimat ambigu yang keluar dari bibir Rio. Dan nyaris saja dia menjerit saking kagetnya.
Sementara itu. Luna yang baru saja tiba bersama Zian tampak kebingungan melihat sang kakak berdiri di depan kamar si trio kadal. "Eonni apa yang sedang kau, emmpphhh-" buru-buru Viona membekab mulut Luna sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
"Stt. Kecilkan suaramu dan sebaiknya kalian dengarkan sendiri," ucap Viona setengah berbisik.
"Paman... Ahhh.. Itu terlalu lembut.. Lebih keras lagi supaya lebih terasa.. Ahhh.. Itu terlalu kasar, Paman!! Sakitt... Aahhh... Tapi nikmat,"
"Diamlah bocah. Kau terlalu berisik, nikmati saja bagaimana kita berdua memanjakanmu!!" kata Satya.
"Omo!!" Luna membekab mulutnya dan nyaris saja menjerit saking kagetnya."Eonni, sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana?" tanya Luna penasaran.
Viona menggeleng. "Eonni juga tidak tau,"
"Sebaiknya kita dobrak saja," usul Zian dan langsung mengalihkan perhatian kedua perempuan itu. "Minggirlah, biar aku yang mendobrak pintunya," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna dan Viona.
Zian mundur dua langkah kebelakang untuk mengambil ancang-ancang. Zian mendobrak pintu itu dan...
"JADI KALIAN BERDUA SEDANG MEMIJIT RIO?" Luna dan Viona langsung memekik dan menatap mereka bertiga tidak percaya.
"Memang, memangnya Nunna fikir kami sedang apa?" Frans menatap Luna dan Viona menasaran.
"Astaga, rasanya aku ingin sekali menggantung kalian bertiga hidup-hidup." Geram Luna seraya menatap tajam mereka bertiga.
"Sudah biarkan saja. Sebaiknya sekarang kau bantu Eonni mencuci dan memotong sayuran. Eonni mau menyiapkan makan malam," ucap Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
"Oya, Nunna... Di mana, Nathan hyung? Apa dia belum pulang?"
Viona melihat jam yang menggantung di dinding."Mungkin sebentar lagi. Dia bilang akan pulang lebih awal hari ini,"
"Begitu ya,"
"Kyyyaaa..!! Paman tampan datang. Paman, Laurent merindukan Paman." seorang bocah perempuan berusia empat tahun tiba-tiba menghampiri Zian dan berteriak histeris ketika melihat kedatangan pemuda yang memiliki wajah bak pinang di belah dua dengan ayahnya tersebut. "Ayo, Paman. Laurent akan menunjukkan sesuatu yang luar biasa padamu."
Zian memicingkan matanya dan menatap Laurent penasaran. "Menunjukkan apa?"
"Kemarin aku dan mama membelikan kotak make up dan banyak aksesoris untuk bibi Luna. Dan itu adalah kado pernikahan dari Laurent untuk, bibi. Laurent juga punya kado untuk, Paman tampan,"
"Benarkah?" Laurent mengangguk.
__ADS_1
Sementara itu, Lucas yang melihat tingkah saudari kembarnya itu hanya bisa mendengus berat. Laurent memang cukup dekat dengan Zian, dan gadis kecil itu selalu nempel pada Zian ketika dia datang berkunjung.
"Paman, bagaimana kalau kita lanjutkan lagi? Paman Satya, sekarang giliranmu," seru Rio.
"Oke!!"
Luna bergidik sendiri. Tak ingin gila karna mereka bertiga. Buru-buru Luna menyusul Viona ke dapur. "Dasar trio sinting," gerutu Luna di tengah langkahnya. Luna benar-benar tidak habis fikir dengan mereka bertiga. Selalu saja ada tingkahnya yang membuat orang lain geleng kepala.
.
.
Waktu telah menunjuk angka 11 malam. Tapi mereka berempat masih terlarut dalam obrolan. Mereka adalah Luna, Viona, Zian dan Nathan. Saat ini keempatnya sedang berkumpul di ruang keluarga kediaman Nathan. Si kembar sudah tidur begitu puka dengan si trio.
Trakk...
Nathan meletakkan cangkir kopinya."Jadi karna hal itu kau menikahi Luna dengan terburu-buru karna kau tidak ingin ibumu sampai mengsiknya lagi?" Zian mengangguk.
"Sejak awal mama sangat menentang kedekatan kami, Hyung. Dia menghalalkan segala cara untuk menjauhkan Luna dariku. Dan tindakannya hari itu sudah sangat kererlaluan. Yang membuatku murka adalah ketika dia menyebut Luna sebagai gadis murahan. Itu yang tidak bisa aku terima," ujar Zian panjang lebar.
"Ternyata bukan cuma wajah dan sifat kalian yang 11-12. Bahkan cara kalian menikahi wanita yang kalian cintai juga sama. Kalian tau, Nathan Oppa menikahiku hanya selang beberapa jam setelah aku mengatakan setuju untuk menikah dengannya," tutur Viona.
"Benarkah? Wow, daebak!!" Luna mengacungkan jempolnya.
"Oya, Zian. Lalu bagaimana dengan kelanjutan operasi pada mata kirimu? Bukankah seharusnya kau menjalani operasi kedua setelah kegagalan pada operasi yang pertama?"
"Bagus, Oppa!! Karna kau mengungkit tentang operasi itu dengan sangat tepat waktu. Jadi, tolong nasehati manusia keras kepala ini supaya dia mau menjalani operasi keduanya!!" ujar Luna seraya melirik Zian dari ekor matanya.
Zian mendesah berat. Lagi-lagi Luna mengungkit tentang operasi pada mata kirinya.Operasi pertamanya dinyatakan gagal karna keputusan Zian yang meninggalkan rumah sakit beberapa jam pasca operasi.
"Cukup Luna!! Berhenti memaksaku untuk menjalani operasi itu. Memangnya kenapa kalau mata kiriku tidak bisa sembuh? Aaahh,,, Apa kau merasa malu karna memiliki suami yang cacat sepertiku?"
"Bu-bukan begitu," Luna menundukan wajahnya.
"LALU APA?" Luna dan Viona sama-sama terlonjak kaget mendengar suara Zian yang tiba-tiba meninggi, tubuh Luna tampak gemeteran dan air mata menggenang dipelupuk matanya. "Hampir setiap hari kau memaksaku untuk melakukan operasi itu. Kau mengancam untuk mogok makan sampai mau kabur dari rumah, jika bukan karna malu LALU KARNA APA?"
"Zi-Zian, kau salah paham. Bu-bukan begitu maksudku. Aku... Aku.. Aku..-" Luna tak melanjutkan ucapannya saat ia merasakan dekapan hangat seseorang yang kini memeluknya.
"Aku tidak pernah malu, Zian. Aku hanya ingin kau sembuh, hanya itu yang aku inginkan, apakah itu salah?" Luna mencengkram kemeja bagian depan yang Zian kenakan sambil menggigit bibir bawahnya. Zian benar-benar salah paham padanya.
Zian mendesah berat. Pemuda itu menutup mata kirinya. Dia sangat-sangat menyesal karna sudah membentak Luna yang seharusnya hal itu tidak perlu sampai dia lakukan. Zian terbawa emosi dan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"Maaf, Sayang. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Tidak seharusnya aku membentakmu tadi. Baiklah, demi dirimu... Aku akan melakukan operasi itu,"
Luna melonggarkan pelukkan Zian dan menatapnya dengan mata berbinar-binar."Sungguh?" Zian menggangguk."Tapi sebentar. Jika dilihat-lihat kau keren juga dengan eyepacht hitam itu. Kau sangat keren dan terlihat seperti para aktor pemeran mafia dalam film yang sering aku tonton. Tidak usah kalau begitu, kau tidak perlu melakukan operasi keduamu. Karna kau lebih keren seperti ini," ujar Luna panjang lebar. Yang endingnya sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklatnya. "Aaauuu... Sakit bodoh!!"
"Siapa suruh kau terlalu labil jadi orang," sinis Zian menyahuti. Luna mencerutkan bibirnya. Dia benar-benar kesal oleh jawaban Zian.
"Dasar manusia kutub super menyebalkan." Luna bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. "Eonni, Oppa, aku pergi dulu," pamit Luna di tengah langkahnya.
"YAKK!! LUNA QIN, TUNGGU AKU!!"
Viona dan Nathan saling bertukar pandang kemudian sama-sama mengangkat bahunya acuh. Mereka berdua merasa geli sendiri melihat kelakuan Zian dan Luna yang seperti bocah..
__ADS_1
"Oppa, kaja tidur. Aku sangat-sangat lelah."
"Baiklah,"
-
"Aaahhh...!! Zian, apa yang kau lakukan?" kaget Luna. Perempuan itu memekik kencang ketika Zian mendorongnya hingga tubuhnya jatuh di atas tempat tidur.
Alih-alih menjawab. Zian malah mencium bibir Luna dengan sangat brutal. Tangan kanannya membelai wajah cantik Luna sedangkan tangan kirinya meremas salah satu bukit kembar milik Luna dan memainkan ujungnya, membuat erangan dan desahan berkali-kali lolos dari bibir merah mudanya.
"Zi...Zian.. Aaahhh,," rancau Luna ditengah desahannya.
Meskipun awalnya Luna merasa terancam dengan apa yang akan di lakukan oleh Zian. Tapi beberapa detik berikutnya justru kenikmatan yang Luna rasakan. Dia begitu menikmati setiap sentuhan tangan dan bibir Zian disekujur tubuhnya. Zian benar-benar memanjakannya
Jari-jari lentik Luna melepas satu persatu kancing pada kemeja Zian dan menanggalkannya begitu saja. Menyisahkan tank top putih yang melekat pas di tubuh kekarnya. Dan malam yang terasa dingin bagi sebagian orang justru terasa panas bagi Zian dan Luna. Dan di malam yang dingin ini akan mereka lewatkan untuk saling menghangatkan.
.
.
Luna meringis saat merasakan ngilu dan perih pada paha dalamnya. Rasanya Luna ingin mengutuk Zian yang semalam sudah bermain dengan sangat kasar. Perempuan itu menggulirkan pandangannya pada sosok tampan yang berdiri disamping kanannya.
Luna menarik tangannya kemudian mengarahkan pada wajah Zian. Merabahnya mulai dari mata, hidung dan terakhir bibirnya. Mata kirinya tak tertutup apapun, Zian memang selalu melepaskan eyepacth itu ketika sedang tidur.
Sebenarnya tidak ada yang salah pada mata kiri Zian. Mata kiri Zian masih utuh hanya saja tidak bisa berfungsi dengan baik. Pandangan pada mata kirinya kabur dan apa yang dilihatnya selalu pecah menjadi dua. Dan hal itu terjadi pasca kecelakaan yang menimpanya pada saat itu. Dan itulah kenapa Zian memilih menutupnya karna menurutnya melihat dengan satu mata saja lebih baik.
"Hentikan, Nyonya Qin!! Jika kau tidak ingin aku makan sekali lagi," suara berat dan sedikit serak itu membuat Luna terkejut.
Jari-jari besar Zian menggenggam tangan Luna pada wajahnya. Kedua matanya terbuka perlahan dan bersiborok dengan sepasang mutiara coklat milik Luna. Luna sedikit menelan ludah melihat seringai yang terpatri pada bibir Zian. Wanita itu gugup setengah mati.
Buru-buru Luna menyibak selimutnya dan melompat turun dari tempat tidur. Dia tidak ingin jika Zian sampai menyerangnya sekali lagi. Yang semalam saja ngilunya masih belum hilang dan Zian malah ingin menambahnya lagi.
Zian terkekeh geli melihat tingkah istri kecilnya tersebut. Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. Ternyata menggoda Luna memang sangat menyenangkan.
-
Dahlia memijit pelipisnya yang terasa pening. Ini sudah lebih dari satu minggu, tapi dia belum juga mendapatkan kabar tentang keberadaan Amanda padahal dirinya sudah mencarinya kemana-mana. Amanda seperti menghilang tanpa jejak, dan Dahlia sendiri tidak tau apakah gadis itu masih hidup atau sudah mati.
Dahlia terus saja mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia sudah mengeluarkan uang yang sangat banyak tapi hasilnya tetap saja nihil. Dan itu membuatnya sangat frustasi.
"Amanda, di mana sebenarnya kau, Nak? Ibu tidak mungkin bisa memaafkan diri Ibu jika hal buruk sampai menimpa dirimu,"
Suara derap langkah kali yang menggema membuat perhatian Dahlia teralihkan. Terdengar suara derap langkah kaki seseorang yang sedang menaiki tangga menuju lantai dua rumahnya. Kedua mata Dahlia lantas membelalak.
"Amanda..."
Ia pun segera keluar untuk memastikan orang itu Amanda atau bukan. Dan setibanya di luar kamarnya. Dahlia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang sangat tidak asing baginya
"Apa kabar ibu mertua?"
"Lee Soojin!!"
-
__ADS_1
Bersambung.-