Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB46 "Telat Dua Minggu"


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Viona berada di Villa milik keluarga Lu. Dan untuk itu dia tidak akan menyia-nyiakan hari terakhirnya di sana. Bersama Satya, Frans dan Rio. Viona memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Villa, tapi sayangnya sosok Nathan tidak terlihat diantara mereka berempat. Nathan memang tidak ikut, pria itu sudah pergi dari pagi-pagi sekali. Dan Viona sendiri tidak kenapa Nathan pergi sepagi itu karna dia tidak mengatakan apapun padanya.


Semalam hujan turun dengan derasnya, membuat pagi ini terasa lebih segar dengan bau tanah basah yang khas dan embun pagi yang menetes jatuh dari dedaunan. Sang surya mulai menampakkan diri dari balik gumpalan kapas di langit, membuat


dedaunan yang dihiasi oleh embun pagi tersebut menjadi berkilau bak kristal bening.


Kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran. Viona menghentikan langkahnya, kedua mata hazelnya tampak terpejam. Menikmati harum bunga-bunga yang mulai bermekaran.


Sepasang mutiara hazelnya dimanjakan oleh hamparan bunga warna-warni yang tumbuh di kaki bukit di belakang Villa. Sungguh betapa Viona sangat menyesal karna baru mengetahui jika ada tempat seindah itu, dan berterimakasihlah pada Rio, Satya dan Frans. Karna merekalah yang menunjukkan tempat itu pada Viona.


"Nunna, bagaimana kalau kita mengambil foto?" seru Satya memberi penawaran.


"Aku rasa bukan ide buruk, kebetulan sudah lama aku tidak mengirim apapun di Medsos pribariku," jawab Viona antusias.


Viona mengabadikan banyak moment bersama ketuga pemuda itu. Dia tidak akan menyia-nyiakannya kesempatan langkah tersebut karna belum tentu Nathan akan membawanya datang kembali ke Villa dalam waktu dekat. Jabatannya sebagai CEO membuat Nathan tidak bisa bertindak sesuka hatinya, dia harus bertanggung jawab pada pekerjaannya.


"Wow... Nunna, lihatlah. Postingamu langsung banyak yang memberi like dan koment. Bahkan beberapa diantara mereka sampai merasa iri dan ingin pergi ke sini juga," cerocos Frans tanpa jeda.


"Itu artinya aku lebih beruntung dari mereka. Tapi sayangnya Nathan oppa tidak ada di antara kita, pasti akan lebih menyenangkan jika dia bisa ikut dan bergabung bersama kita di sini," raut wajahnya berubah sendu. Viona menginginkan kehadiran Nathan saat ini, tapi dia juga tidak bisa terus-terusan memaksakan kehendaknya.


"Kau benar Bibi, jadi kurang lengkap." Sahut Rio menimpali.


"Omo!!"


Nyaris saja Viona, Rio, Satya dan Frans terkena serangan jantung dadakan karna kemunculan beberapa pria yang sangat tiba-tiba. Baik Viona maupun Rio dan kedua paman kecilnya tidak ada yang menyadari dari mana para pria datang, karna tiba-tiba sudah ada di sana.


"Tidak di sangka jika ada bidadari secantik ini di sini. Kau datang di saat yang tepat Nona, karna kebetulan sekali jika aku dan kelima anak buahku ini merindukan dan mendambakan sentuhan wanita."


Plakkk!!


Viona menepis tangan pria itu dengan kasar. "Tolong sopan sedikit bung, dan asal kalian tau saja jika aku di sini bukan untuk menyerahkan diri pada kalian berenam. Jadi jangan banyak berharap apalagi bermimpi terlalu tinggi. Minggirlah kalian memghalangi jalanku. Rio, Satya, Frans, sebaiknya kita kembali sekarang." Viona melirik ketiganya dari ekor matanya. Dan mereka bertiga mengangguk dengan kompak.


"Baik Nunna//Bibi,"


Dua pria menghalangi langkah mereka dan tidak mengijinkan mereka berempat untuk pergi. "Kau mau kabur kemana Nona? Apa kau fikir bisa kabur dari kami?" salah satu dari mereka berdua berkata dengan nada meremehkan pada Viona.


Viona menyeringai sinis. "Kalian fikir kalian bisa menyentuhku. Saran kecil dariku, sebaiknya kalian pergi sebelum kalian semua menyesal," peringat Viona.


"Nunna, mundurlah. Biar kami beri pelajaran mereka semua. Sebaiknya kau cari tempat yang aman dan bersembunyi." Pinta Satya.


"Sembunyi? Kau fikir aku wanita yang lemah. Sebaiknya kalian saja yang mundur. Lagi pula jika hanya menghadapi curut-curut seperti mereka bukanlah hal yang sulit," tandasnya.


"Tapi Bi-"


"Tidak perlu cemas,"


"Sombong kau betina. Apa yang kalian tunggu, cepat maju dan habisi wanita sombong ini!!"


Perkelahian antara Viona dan para preman itu pun tak dapat terelakkan lagi. Viona yang hanya sendiri di keroyok oleh lima orang. Namun tak ada rasa gentar sedikit pun dari raut wajah dan sorot matanya. Wanita itu tetap bertindak dengan tenang.


Sejauh ini tidak ada satu pun pukulan lawan yang berhasil mengenai tubuhnya, Viona dapat menghindari pulukan mereka semua dengan sempurna. Sedangkan pihak lawan sudah dua orang yang berhasil Viona tumbangkan. Frans, Satya dan Rio hanya mampu terdiam, terperangan. Mereka sungguh tidak menduga jika Viona yang begitu lembut dan anggun ternyata memiliki kemampuan bela diri yang sempurna, sungguh hal semacam itu tidak pernah terduga.


Krakk...

__ADS_1


"Aarrkkhhh!!" lolong kesakitan terdengar pada salah satu dari ketiga pria itu setelah tangannya dipatahkan oleh Viona. Dua yang tersisa mulai ketakutan dan ragu lagi untuk melawan. Sedangkan pria yang sedari tadi sesumbar sudah melarikan diri sejak beberapa menit yang lalu.


"Nona, ampun. Kami tidak ingin melawan lagi!!!"


Viona menghentikan gerakkannya. Kepalan tangannya hanya berjarak dua inci dari wajah salah satu dari kedua preman itu. Tiba-tiba mereka menjatuhkan diri dan memohon supaya diampuni. Viona mendengus geli, padahal tadi mereka begitu percaya diri tapi setelah Viona bersikap serius mereka malah ketakutan.


"Pergilah dan bawa teman kalian yang tidak berguna itu juga,"


"Ba-baik Nona."


"Bibi//Nunna," seru ketiga pemuda yang pastinya adalah Frans, Rio dan Satya.


"Bibi, itu tadi sangat luar biasa. Sungguh sangat sulit dipercaya jika kau memiliki kemampuan bela diri yang begitu sempuna. Aku akan memberimu 10 jempol, tapi yang 6 pinjam punya Paman Satya dan Paman Frans," celoteh Rio menunjukkan rasa kagumnya.


Viona terkekeh geli mendengar ucapan Rio. "Dasar kau ini ada-ada saja. Sebaiknya kita kembali dan bersiap-siap, mungkin saja Paman kalian juga sudah kembali."


"Oke Bibi//Nunna,"


-


"Dua Minggu Kemudian"


"Sayang, apa yang sedang kau lakukan?"


Nathan yang baru saja pulang bekerja dan masuk kedalam kamarnya tampak terheran-heran melihat Viona yang berputar-putar di depan cermin sambil memegangi perutnya yang masih terlihat rata. "Oppa." renggek Viona dan segera menghampiri suaminya. Wanita itu mencerutkan bibirnya membuat Nathan semakin terheran-heran. "Kenapa masih belum ada tanda-tanda jika aku akan segera hamil? Sepertinya perjalanan kita di Nami dan Jeju selama dua minggu tidak membuahkan hasil apa pun." ujarnya panjang lebar.


Nathan mendengus geli, ini bukan pertama kalinya dia mendengar keluhan Viona. Hampir setiap hari wanita itu selalu menggeluh padanya karna belum juga hamil. "Berhentilah menggeluh, Viona Lu. Mungkin saja Tuhan masih belum mempercayai kita untuk menjaga titipannya, jika kita sudah diberi kepercayaan pasti kau juga akan hamil." ujar Nathan.


Dia sedikit geram mendengar keluahan Viona yang hampir setiap hari itu, meskipun begitu... tapi tetap saja Nathan tidak bisa kesal apalagi marah pada Viona. "Dan berhentilah mempoutkan bibirmu jika kau tidak ingin aku melahapmu sampai habis detik ini juga."


Nathan menutup matanya sejenak saat ketika merasakan ******* lembut pada bibirnya. Viona menarik dirinya dan memandang Nathan dengan seringai yang sama. Dan Nathan yang merasa tertantang tanpa aba-aba langsung mencim bibir Viona, Nathan menekan tengkuknya dan meraup bibir tipis itu dengan rakus.


Darah dalam tubuh Viona berdesir kencang, bermuara pada wajahnya yang mulai memanas. Viona mencengkram kemeja Nathan saat ciuman itu semakin dalam.


Nathan menarik pinggang Viona dan membunuh jarak diantara mereka, bibirnya terus menginvasi bibir Viona. Alih-alih marah, Viona justru begitu menikmatinya. Nathan menarik dirinya sesaat untuk melihat wajah cantik Viona , jari-jarinya membelai membut pipi sehalus porselen itu. "Kenapa kau begitu cantik, Sayang?" Viona merasa jika semua darah yang mengalir dalam tubuhnya telah berkumpul di wajahnya ketika mendengar ucapan Nathan.


Tidak ada percakapan antara mereka berdua, hanya desah kenikmatan yang keluar dari pasangan suami-istri itu memecah dalam heningnya suasana malam. Malam yang terasa dingin tidak lagi terasa, terlahap oleh gelenjar panas yang membakar Nathan dan Viona.


Gerakan Nathan semakin liar, suara merdu yang keluar dari bibir Viona seolah memberinya sebuah semangat untuk melakukan lebih dan lebih.


-SkipTime-


Viona sedikit meringis saat Nathan menarik dirinya yang lain, menimbulkan sensasi yang begitu luar biasa. Nathan menakup wajah Viona kemudian mengecup lembut bibir tipisnya. "Aku akan mandi dulu, kau tidurlah lebih awal." katanya dan segera dibalas anggukan oleh Viona.


Setelah berpakaian dan membereskan tempat tidurnya yang begitu berantakan karna pergulatan panas mereka beberapa saat yang lalu, Viona berjalan lurus menuju balkon kamarnya tanpa alas kaki kemudian berdiri di sana. Hawa sejuk yang cukup membekukan langsung menyambutnya, namun hal itu tidak mengurangi sedikit pun keinginan Viona untuk berdiri di sana.


Viona mengangkat wajahnya untuk menikmati langit malam bertabur bintang di tambah dengan sinar bulan yang benderang di atas sana, begitu indah dan cantik. Wanita itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis, ia memliki sebuah fantasy yang berhubungan dengan bintang.


"Kenapa tidak tidur dan malah berdiri di sana." tegur seseorang dari arah belakang. Sontak saja Viona menoleh dan mendapati Nathan berdiri diambang pintu yang menjadi penghubung antara balkon dan kamar mereka. Sudut bibir Viona tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya.


"Ini masih terlalu awal untuk tidur. Oppa, kemarilah dan temani aku melihat bintang."


"Tumben sekali malam ini langit tampak cerah?"

__ADS_1


Viona mengangkat wajahnya untuk menatap wajah tampan di sampingnya, senyum lembut kembali tersungging di wajah cantiknya. "Bukankah sangat indah?" Nathan mengangguk tipis


"Seandainya saja aku bisa menggapai salah satu dari bintang-bintang itu, aku ingin memilikinya satu saja, tapi sepertinya itu sangatlah mustahil." ujarnya, Viona mendesah berat dan menunduk sedih.


"Benarkah? Bagaimana jika aku bisa mengabulkannya?" Viona mengangat wajahnya dan menatap Nathan dengan penuh tanda tanya. "Tutup matamu,"


"Untuk apa?" tanya Viona polos.


"Ck, cerewet sekali kau ini. Sudah tutup saja matamu." Viona mencerutkan bibirnya seraya memutar matanya jengah.


Ia tidak tau kenapa suaminya ini kadang bersikap begitu menyebalkan apalagi kalau sikap dinginnya itu kambuh. Meskipun begitu Viona tetap menutup matanya seperti perintah Nathan. Terlihat Nathan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


"Buka matamu." Pintanya datar.


"O..omo?" Viona terkejut bukan main saat melihat sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk bintang menggantung di depan wajahnya. Liontin itu dipenuhi berlian dan rubby beruluran sebesar biji jagung pada tengah liontin itu. "I-ini untukku?"


Nathan berpindah kebelakang Viona dan memasangkan kalung itu pada leher jenjangnya. "Tentu saja, Sayang." bisiknya lalu mengecup leher Viona membuat wanita melengkuh pelan,


Viona menutup matanya saat merasakan kecupan-kecuapan ringan pada lehernya. "O..oppa, hentikan." rancau Viona di tengah desahannya.


Kedua tangan Viona menggalung pada leher Nathan dan matanya tertutup rapat, sesekali Viona membalas ciuman Nathan dan mencoba untuk mengambil alih namun tidak bertahan lama. Jika saja posisi mereka saat ini berdiri pasti Viona sudah jatuh dari posisinya karna kedua kakinya yang bertrasformasi menjadi jelly.


Setelah puas, Nathan mengakhiri ciuman itu lalu menarik dirinya untuk menatap wajah Viona yang memerah mirip kepiting rebus. Laki-laki itu menyeringai tipis. "Kau menikmatinya, hm?"


"Aku.... hoek." Viona tidak melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba merasakan mual yang luar biasa pada perutnya. "Hoek." buru-buru Viona beranjak dan berlari kedalam kamarnya sambil memegangi perutnya yang terasa mual.


Nathan yang merasa cemas segera menyusul Viona yang sudah melesat masuk kedalam kamar mandi. "Hoek.. hoekk... hoek." Dari luar Nathan mendengar suara Viona yang sedang mengeluarkan isi dalam perutnya.


Brookk!! Brookk!! Brookk!!


Nathan menggedor pintu di depannya saat tau jika pintu itu dikunci dari dalam. "Viona, buka pintunya." Nathan terus berteriak dan menggedor pintu itu sambil berusaha membukanya "Sayang, jangan membuatku cemas. Vio, buka pintunya."


Cklek!!


Pintu terbuka dan memperlihatkan Viona yang sedikit pucat dan hal itu membuat pria itu semakin cemas. "Oppa, tenanglah. Tidak perlu panik begitu, aku baik-baik saja." Viona menyeka air dibibirnya lalu melewati Nathan begitu saja, wanita itu mengambil kalender kecil yang ada diatas meja dan matanya membulat saking kagetnya "OMO!!"


Nathan yang penasaran menghampiri Viona dan berdiri disamping wanitanya itu. "Ada apa?" Tanyanya bingung,


Viona menunjukkan kalender itu pada Nathan dan ada lingkaran merah pada salah satu angka pada kalender tersebut. "Oppa, aku sudah telat hampir dua minggu. Mungkinkah ini adalah pertanda jika aku akan segera hamil?" Viona menatap Nathan dengan penuh rasa haru, terlihat raut wajah Nathan yang lebih berseri dari sebelumnya.


"Ya Tuhan, Viona." Nathan membawa wanita itu kedalam pelukkannya dan mendekapnya dengan erat. "Tapi kita masih harus memastikannya ke dokter, kita akan menemui kak Senna besok." Viona menyeka air matanya kemudian mengangguk.


"Ini sudah larut malam, sebaiknya segera tidur. Aku sangat lelah."


"Ne, oppa."


Setelah memastikan wanita itu benar-benar tidur. Nathan bangkit dari posisinya dan berjalan keluar kamarnya, laki-laki itu duduk pada sofa ruang keluarga dengan ditemani satu botol wine yang isinya hanya tinggal setengah dan disampingnya ada satu bungkus rokok beraroma mint. Nathan menyenderkan punggungnya pada bantalan sofa sambil menghisap rokok ditangannya dengan tenang.


Otaknya berfikir keras bagaimana caranya ia bisa segera menyelesaikan masalahnya kemudian menjalani hidupnya bersama Viona dan putra-putri mereka dengan tenang. Dan Nathan pasti akan melakukan apapun untuk melindungi keluarga kecilnya juga membuat hidup Viona selalu bahagia seperti janjinya sebelum menikahi wanita itu.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2