Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 57) "Malam Yang Panjang"


__ADS_3


-


Riders, jangan lupa buat baca juga new Novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM ya. Like komentnya di tunggu 🙏🙏🤗🤗🤗


"Luna,,,"


Zian berseru kencang saat tiba diruangan Luna dan mendapati wanita itu tengah berbincang dengan Viona.


Melihat Luna yang tampak baik-baik saja membuat Zian menghela nafas lega, rasa takut yang sebelumnya menghimpit dadanya perlahan menguar bersama hembusan angin.


Zian menghampiri Luna dan langsung meneluknya. "Senang melihatmu baik-baik saja, Sayang. Apa kau tau bagaimana takutnya aku tadi. Aku fikir kau akan meninggalkanku, aku sungguh-sungguh takut, Luna." Zian memejamkan matanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Luna, yang tanpa Zian sadari apa yang dia lakukan itu membuat luka tembak di dada kiri Luna kembali terasa nyeri.


"Aahhh,"


Sontak saja Zian melepaskan pelukannya dan mendapati wajah Luna yang sepertinya sedang menahan sakit. "Kau terlalu erat memeluknya. Luka tembak di dada kiri Luna masih basah, dan apa yang kau lakukan itu membuat lukanya menjadi sakit," jelas Viona menjawab kebingungan Zian.


"Benarkah?" Luna mengangguk. "Maaf, Sayang. Sungguh aku tidak bermaksud apalagi berusaha menyakitimu. Aku hanya terlalu bahagia melihatmu baik-baik saja," ujar Zian.


Luna menakup wajah Zian. Bibir pucatnya menyungging senyum tipis. "Tidak apa-apa, Oppa. Karna jika aku berada diposisimu, pasti aku juga akan bersikap sama. Sepertinya luka jahit pada pelipismu terbuka lagi, dan ruas-ruas jarimu... Kenapa bisa sampai terluka begini?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian cemas.


"Aku-"


"Itu karna suamimu gila," sahut seseorang dari arah pintu. Membuat perhatian ketiga orang di dalam ruangan itu teralihkan.


Terlihat Nathan memasuki ruangan bersama trio kadal. Rio menyusut air matanya dan berhambur memeluk Luna.


"Huaa... Bibi, aku senang melihatmu baik-baik saja. Apa kau tau bagaimana takutnya kami saat melihatmu tak berlumur darah? Hiks, kami pikir, kami pikir kau tidak akan selamat. Huaa... Nunna,"


Luna tersenyum tipis. "Gomawo karna sudah mencemaskanku. Oya, Eonni. Sebaiknya kau dan, Nathan Oppa pulang saja. Kalian pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Lagipula di sini ada, Zian Oppa dan Reno yang bisa menemaniku. Kalian bertiga sebaiknya ikut pulang saja,"


Zian menghampiri Nathan dan memberikan sebuah kunci dan alamat rumah padanya. "Ini alamat rumah yang baru saja kubeli beberapa hari yang lalu. Ini kunci rumahnya dan kalian bisa beristirahat di sana." Ujar Zian.


"Hyung, kau bisa memakai mobilku," Reno memberikan kunci mobilnya pada Nathan.


Dan selepas kepergian Nathan, Viona dan si trio. Di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Luna, Zian dan Reno. Tak ingin mengganggu pasangan sumi istri tersebut. Reno pun memutuskan untuk keluar mencari angin.


Zian menghampiri Luna kemudian duduk disampingnya. "Sebaiknya temui dokter. Luna jahitnya terbuka lagi. Aku akan baik-baik saja meskipun ditinggal sendirian,"


Zian menggeleng. "Aku rasa itu tidak perlu. Bukankah kau selalu membawa kotak obat kemanapun kau pergi. Aku akan melakukannya sendiri, jika hanya menutup luka dengan perban aku bisa,"


"Biar aku saja yang melakukannya. Kotak obatnya ada di dalam tasku."


"Aku ambil dulu," Luna mengangguk.


Luna mulai membersihkan darah dari wajah Zian dengan alkohol dengan perlahan dan hati-hati. Dan setelah memastikan darahnya benar-benar bersih. Kemudian Luna mengoleskan salep luka pada sekita jahitannya sebelum akhirnya menutupnya kembali dengan perban dengan plaster coklat muda yang menjadi perekatnya.


Luna teranyum lebar. "Nah, selesai."


"Sebaiknya sekarang kau tidur. Dan aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Aku akan menemanimu dan memelukmu sepanjang malam,"

__ADS_1


"Jangan pergi kemanapun walaupun hanya satu detik saja, Oppa," pinta Luna memohon.


Zian menggeleng. "Tidak akan, aku akan tetap di sini bersamamu,"


-


Viona merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasur king size di kamar tamu rumah baru Zian dan Luna.


Mereka baru saja tiba di sana beberapa menit yang lalu. Baik Nathan maupun Viona sama-sama tidak menduga bila Zian akan membeli rumah dan mobil di kota ini.


Viona menggulirkan pandangannya saat mendengar decitan suara pintu yang di buka dari luar. Terlihat sosok Nathan memasuki kamar. Pria itu melepaskan jasnya lalu menghampiri Viona kemudian duduk disamping wanita itu berbaring.


"Kau lelah?"


"Lumayan. Bagaimana dengan, Oppa?"


"Aku juga lelah. Sebaiknya hubungi ayahmu dan beritau dia jika kita sudah sampai. Jangan katakan apapun tentang keadaan Luna. Dan tanyakan juga tentang anak-anak,"


"Aku sudah melakukannya sedari tadi, Oppa. Ayah lega kita susah tiba dengan selamat di sini dan anak-anak juga tidak ada yang rewel." Tutur Viona.


Viona beranjak dari berbaringnya. Posisinya dan Nathan saling berhadapan."Oppa, udara di sini sangat dingin, bagaimana kalau malam ini kita-!!"


"Tidak," Nathan menyela cepat. "Aku sangat lelah dan ingin segera tidur. Jadi besok malam saja,"


Viona mencerutkan bibirnya. Wajahnya merenggut kesal. Viona menyambar bantal disampingnya lalu melemparkannya pada Nathan. "Dasar menyebalkan," Viona meninggalkan Nathan sambil terus menggerutu. Sedangkan Nathan hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan istrinya.


"Ahhh,,," Viona memekik tertahan saat tiba-tiba Nathan menyambar tubuhnya dan menggendongnya bridal style. "Oppa," Viona berseru manja.


Dan detik berikutnya bibir Viona sudah berada dalam pagutan bibir Nathan. Wajah murung Viona kembali berseri-seri karna pada akhirnya Nathan mengabulkan permintaannya. Viona tau jika Nathan tidak mungkin bisa menolak perminataannya.


"Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi kita, Sayang." Bisik Nathan dan kembali memagut bibir ranum Viona.


Dan malam yang dingin ini akan mereka berdua habiskan untuk saling menghangatkan.


-


Jam dinding sudah menunjuk angka 02.00. Namun Luna masih tetap terjaga dan enggan untuk menutup matanya. Berkali-kali dia mencoba untuk tidur namun hasilnya tetap nihil.


Luna mengangkat wajahnya dan menatap wajah damai seseorang yang tengah tertidur pulas disampingnya. Luna ingin sekali membangunkannya, tapi rasanya dia tidak tega terlebih lagi saat melihat wajah lelah Zian. Dan akhirnya Luna pun memilih untuk membiarkannya.


Sudah hampir dua puluh menit Luna terus memandang wajah Zian yang sedang tertidur pulas. Wajahnya terlihat begitu polos seperti anak kecil. Luna memperhatikan wajah suaminya itu dengan seksama, mulai dari mata, hidung sampai bibirnya. Luna tidak bisa memungkirinya jika Zian benar-benar tampan.


Kedua mata itu perlahan terbuka setelah terusik oleh gerakkan jari-jari lentik Luna disekitar wajahnya.


"Ups, maaf. Oppa, aku jadi membangunkanmu," gumam Luna penuh sesal.


"Kenapa tidak tidur, hn?" tanya Zian seraya mengecup singkat bibir Luna.


"Aku tidak bisa tidur,"


"Lalu, kenapa kau tidak membangunkanku?"

__ADS_1


"Kau terlihat sangat lelah, jadi aku tidak tega," jawabnya.


Kemudian Zian beranjak dari posisi berbaringnya begitu pula dengan Luna meskipun harus sedikit memaksakan. Dia merasa lelah karna terlalu lama berbaring.


"Kau ingin makan sesuatu?" Luna menggeleng.


"Oppa," panggil Luna, membuat Zian mau tidak mau menoleh padanya."Kau setuju tidak jika setelah aku sembuh dan keluar dari rumah sakit kita kembali saja ke Korea? Di sini memang nyaman dan sangat luar biasa, tapi tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan kenyamanan negeri sendiri,"


"Itu juga yang aku fikirkan. Karna kau sudah membahasnya, jadi kita tidak perlu membicarakannya lagi,"


Selanjutnya kebersamaan mereka diwarnai keheningan. Tak ada sepata-kata pun yang keluar dari bibir keduanya. Baik Luna maupun Zian sama-sama diam tak bersuara.


Zian menggulirkan pandangannya dan mendapati Luna yang tampak termenung dengan pandangan lurus ke depan. "Apa yang sedang kau lamunkan?" tegur Zian melihat kediaman Luna. Wanita itu mengangkat wajahnya kemudian menggeleng.


"Tidak ada, hanya memikirkan hal menyenangkan apa saja yang kira-kira ingin aku lakukan setelah keluar dari sini." Luna tersenyum.


"Memangnya kau ingin melakukan apa?" jari-jari besar Zian membelai helaian panjang Luna yang terurai kemudian menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya.


"Membuat anak sesering mungkin,"


Zian mendengus geli. "Apa tidak ada hal lain yang ingin kau lakukan selain membuat anak? Dan kenapa kau malah jadi semesum ini? Oh astaga, Luna.. Siapa yang sudah meracuni otakmu itu istri kecilku?" Zian menggeram frustasi. Jari-jarinya mengusap kasar wajahnya.


Dan Luna malah terkekeh geli melihat wajah frustasi suaminya. Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian, sepasang iris coklatnya mengunci iris abu-abu suaminya.


"Aku mempelajarinya darimu. Dan satu lagi, berhentilah memanggikku dengan sebutan 'Istri Kecilku' karna aku sudah tidak semudah itu," Luna melayangkan protesnya karna panggilan Zian padanya.


"Tapi aku menyukainya. Istri kecilku," bisik Zian.


Dan selanjutnya bibir Luna sudah berada dalam pagutan bibir Zian. Kedua tangannya membingkai wajah cantik Luna. Mata mereka sama-sama tertutup rapat. Luna merapatkan tubuhnya pada tubuh Zian, dan posisi mereka telah berubah dengan Luna berada di atas pangkuan pria bermarga Qin tersebut.


Bukan lagi ciuman lembut yang penuh perasaan melainkan ciuman panas yang mengairahkan. Sebelah tangan Zian masuk ke dalam piama rumah sakit Luna dan meremas salah satu bukit kembarnya, membuat desahan keluar dari sela-sela ciuman mereka.


Tak ingin kalah dari suaminya. Luna memasukkan tangan kirinya ke dalam celana yang Zian pakai dan mencari letak di mana sosis beruratnya berada. Sedangkan tangan kanannya merayap pada lengan terbuka Zian karna pakaian tanpan lengan yang dia pakai.


Luna menarik sudut bibirnya, tampak sebuah seringai di bibir tipis ranumnya. Zian begitu menikmatinya.


"Apa kau kuat untuk melakukannya?" sepasang manik abu-abu milik Zian yang dibakar gairah menatap Luna dengan penuh tanya.


"Asalkan kau melakukannya dengan lembut seharusnya sih tidak ada masalah, lagipula yang terluka dada kiriku Miss-ku,"


"Kalau begitu aku akan melakukannya dengan perlahan. Kalau kau merasa kesakitan jangan di tahan dan katakan saja. Maka aku akan berhenti,"


"Arraseo(Aku mengerti)," Luna mengangguk.


Zian berjalan menuju pintu kemudian menguncinya. Ia tidak ingin jika tiba-tiba ada orang yang nyelonong masuk ketika ia dan Luna sedang melakukannya.


Zian tidak peduli meskipun dirinya di sebut egois karna melakukannya di saat Luna sedang sakit. Toh dia bisa melakukannya dengan lembut jadi Zian rasa juga tidak ada masalah, disamping semua itu Luna juga tidak mempermasalahkannya. Dan malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi keduanya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2