Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 63) "Merindukan Papa"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Pria itu menghampiri Dean yang sedang diam termenung di sudut sel. Dia tak langsung menyapa dan hanya diam sambil terus memandang Dean selama beberapa detik.


Dia melihat kesedihan, penyesalan dan keputusasaan tersirat dari sorot matanya yang teduh.


"Apa yang sedang kau lamunkan, Nak?" tegur pria itu kemudian mengambil tempat disamping Dean.


Merasa ada yang berbicara padanya. Dean mengangkat wajah dan menatap datar pria setengah baya yang duduk disampingnya. "Tidak ada, Paman. Hanya merenungkan kesalahan di masa lalu," jawab Dean tersenyum.


"Sampai kapan kau akan terlarut dalam duka di masa lalu, Dean? Karna kau sesali pun percuma, karna semua tak akan lagi sama. Bangkit dari masa lalu dan tatap jauh ke depan, itu akan membuatmu menjadi lebih baik,"


Dean menitihkan air matanya. "Aku sangat menyesali apa yang terjadi di masa lalu, Paman. Jika saja aku tidak bodoh dan tidak mudah terhasut oleh orang lain. Aku tidak akan sehancur ini. Aku telah kehilangan segalanya. Cinta, kasih sayang, kepedulian. Dan aku juga kehilangan satu-satunya keluarga yang aku miliki di dunia ini. Dia membenciku, Paman. Dia membenciku karna kebodohanku," Dean menundukkan wajahnya, air matanya jatuh secara perlahan tapi pasti yang kemudian membasahi wajahnya.


Pria setengah baya itu mendesah panjang. Kali ini dia tidak mengatakan apapun lagi, dia memahami betul apa yang Dean rasakan saat ini. Karna dia juga pernah berada diposisinya.


"Dean Leonil, ada tamu untukmu,"


Seorang petugas menghampiri Dean dan mengatakan jika ada tamu untuknya. Sontak saja Dean mengangkat wajahnya."Tamu untukku?" Dean mengulangi ucapan petugas yang berdiri di depan Sel.


"Ya, dia seorang perempuan yang sangat cantik. Dan sepertinya ini pertama kalinya ada tamu untukmu. Cepat temui dia," Dean mengangguk.


Dean menghentikan langkahnya saat iris matanya menangkap siluet seorang perempuan yang begitu dia rindukan sedang menunggunya di sebuah ruangan dengan dinding kaca sebagai pembatasnya.


"Luna," Dean bergumam lirih.


Air mata Dean kembali menetes dan membasahi wajahnya. Dia merasa sangat bahagia melihat kedatangan Luna di sana.


Dean mendekati Luna kemudian duduk di sebuah kursi, posisi mereka saling berhadapan dengan sebuah dinding kaca dengan beberapa titik lubang sebagai pembatasnya.


"Luna, kau datang mengunjungiku," Dean menatap Luna dengan mata berkaca-kaca. Namun tak ada jawaban, Luna hanya diam seraya menatap Dean datar."Bagaimana kabarmu, adikku?Sepertinya kau dalam keadaan baik-baik saja, Oppa lega melihatnya," Dean kembali tersenyum.


"Tidak perlu banyak berbasa-basi. Dan jangan merasa senang dulu karna aku mengunjungimu, karna jika bukan suamiku yang memaksaku, aku juga tidak akan sudi. Karna sudah melihat keadaanmu saat ini, sebaiknya sekarang aku pergi. Dan ini titipan dari, Vio eonni," Luna meletakkan bingkisan berisi makanan titipan Viona di atas meja.


"Luna, tunggu," seru Dean.

__ADS_1


....


"Tidak bisakah kau memaafkan, Oppa? Oppa, tau jika kesalahan Oppa padamu tidak akan pernah termaafkan. Tapi, Luna... Kita adalah keluarga, dan kita hanya memiliki satu sama lain. Seharusnya kita bisa bersama-sama dan saling menguatkan, Lun," Dean menatap Luna dengan sendu.


Luhan tertawa mengejek. "Apa kau bilang? Kita hanya memiliki satu sama lain? Kau salah besar jika berfikir demikian, Leonil Dean. Karna aku tidaklah sendirian, aku memiliki banyak orang-orang hebat di sisiku. Suamiku, kakakku, orang tua kandungku dan mereka yang teramat sangat menyayangiku,"


"Tapi mereka palsu, Luna,"


"JUSTRU KAU-LAH YANG PALSU, DEAN!!" Luna menyela cepat.


Jika bukan karna permintaan Zian. Tentu saja Luna tak akan sudi datang menemui Dean. Jangankan untuk menemuinya. Untuk mendengar namanya saja sudah membuat Luna merasa sangat muak


Luna mendesah panjang. "Aku rasa tidak ada gunanya juga aku terus di sini, aku pergi..."


Luna bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Bahkan Luna tak menoleh sedikit pun pada Dean yang tengah menatap sendu kepergiannya. Hati Dean begitu terluka melihat kepergian Luna. Dan dia sadar, jika hubungannya dan Luna hanya menjadi kenangan.


-


Bukan lagi rahasia jika seorang Zian Qin tidak menyukai pesta....


Alasannya sudah sangat jelas. Zian membenci tempat yang penuh dengan orang karna menurutnya itu sangatlah membuatnya tidak nyaman.


Tak peduli acara apapun yang dirayakan, pesta merupakan sesuatu yang berisik, menjengkelkan, sesak, mengganggu, tidak berguna, dan setiap kata sifat lain yang dapat dimasukan ke daftarnya.


Dibandingkan harus berada di gedung pesta, tentu Zian lebih memilih berada di club malam. Meskipun sama padatnya seperti suasana di dalam pesta. Setidaknya club malam bisa memberikan kesan tersendiri untuknya.


Dan Zian hanya datang untuk kepentingan bisnis saja. Bahkan dengan enggan Zian mengakui, itu diperlukan dalam dunia bisnis.


Bukan lagi omong kosong bila Zian sangat mencintai perusahaannya, tapi dia bersumpah tidak akan keberatan untuk mengabaikan hal ini –pesta.


Jadi itu masuk akal jika saat ini Zian berada dalam suasana hati yang cukup jelek ketika Adrian datang ke kantornya sebelum jam 8 untuk menyeretnya pergi ke pesta launching. Dia sudah berencana akan pulang ke rumahnya lebih awal seperti janjinya pada Luna. Tapi sepertinya Zian harus mengingkari janjinya itu malam ini.


Zian mulai merasa muak, dibanding berdiri di pesta yang ramai dan penuh sesak dengan sebuah senyum palsu di bibirnya. Zian lebih memilih berada di area pemakaman.


Seorang wanita tinggi dan menawan berumur tiga puluhan, dalam balutan gaun hitam bermodel kemben yang tiba-tiba lewat dan melemparkan senyum menggoda ke arahnya.


Demi Tuhan, pikir Zian. Dia bergidik sendiri. Bekerja menghadap beberapa dokumen di kantor akan lebih baik daripada terjebak di tempat mengerikan seperti ini.


"Jangan terlalu galak, Zian!" Sebuah lengan merangkul lehernya. "Kau membuat semua gadis cantik di sini pergi!" ucap Adrian seraya terkekeh geli,

__ADS_1


Zian mendecih dan menatap tak suka pada sahabatnya tersebut. Sedangkan Adrian langsung terkekeh geli. "Kau tahu, alasanku mengajakmu untuk ikut denganku agar kau dapat bersantai dan bersenang-senang!"


"Maksudmu alasan kau menyeretku ke sini," koreksi Zian. "Aku tak ingat pernah SETUJU!!" Zian menekan diakhir kalimatnya.


"Oh, kau melukaiku!" Adrian memegang dadanya dengan dramatis. "Senyum, bodoh, senyum! Biarkan dunia tahu bahwa kau tidak mengintimidasi seperti yang terlihat. Kau tahu bagaimana mereka menggambarkanmu di media."


"Lalu?"


Adrian mendengus panjang. Berbicara dengan Zian terkadang memang menguji kesabaran dan mentalnya. "Sekarang kemari, pergi ambil champagne kemudian hampiri seorang gadis lalu ajak dia berdansa,"


"Aku tidak berminat. Daripada harus menghabiskan waktu bersama mereka. Lebih baik aku pulang dan bercinta dengan, Luna. Itu jauh lebih baik!!


Adrian meringis mendengar ucapan Zian. Tanpa menghiraukan sahabatnya itu, Zian beranjak dan meninggalkan acara begitu saja. Dan parahnya lagi dia meninggalkan gedung pesta sebelum acaranya di mulai.


-


Angin malam semilir berhembus. Menggoyangkan bunga-bunga dan rumput liar dengan eloknya. Membuat kelopak-kelopak dandelion berterbangan oleh hembusan angin.


Demi kata yang bermakna. Sungguh Luna merasa gundah dalam malam-malam dingin yang seakan menyelimuti roh dan jiwanya. Seakan menjalani kehampaan yang menjalar di setiap detik hembusan nafasnya. Wanita itu duduk di bangku taman dambil menikmati keindahan mawar yang tumbuh dengan suburnya dihalaman belakang rumahnya.


Hari ini Luna merasa sangat buruk, benar-benar buruk malah. Pertemuannya kembali dengan Dean setelah sekian waktu malah membuka kembali luka lama dihatinya yang belum juga mengering. Jika bukan karna Zian yang memintanya, Luna juga tak akan sudi untuk pergi menemuinya.


Luka yang Dean goreskan dihatinya terlalu dalam sehingga akan sangat sulit luka itu untuk sembuh dalam waktu yang cepat. Tidak, Luna tidak sudi untuk memaafkannya, bahkan ketika Dean sudah menjadi tulang-belulang sekalipun, Luna tak akan memaafkannya.


Luna menyeka air matanya yang hampir menetes. Di dongakkan wajahnya pada langit malam bertabur bintang yang ada di atas sana.


Dan dari jutaan bintang yang tertaburan menghiasi langit, ada satu bintang yang menarik semua atensinya. Dan itu adalah satu-satunya bintang yang terlihat paling terang diantara bintang-bintang lainnya. Luna kembali terisak pilu, dengan lirih kemudian dia bergumam...


"Papa, aku merindukanmu,"


Tiba-tiba saja Luna mulai terisak. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. Dadanya masih terasa sesak dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Di mana dia harus kehilangan salah satu orang yang paling berharga dalam hidupnya, yakni ayah angkatnya.


"Brengsek!! Dean kau benar-benar brengsek!!" umpat Luna marah.


Masih sambil terisak, Luna segera menoleh kebelakang ketika indera pendengarannya mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Luna segera bangkit dari posisinya kemudian berlari menghampiri orang itu dan memeluknya.


"Hiks, aku merindukannya, Oppa. Aku merindukan, Papa," Luna terisak semakin keras dalam pelukkan Zian. Dia menumpahkan semua rasa sakit dan kepedihan hatinya di dada Zian.


Zian tak memberikan respon apapun. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Luna. Meletakkan dagunya di atas kepala coklat Luna, Zian membiarkan Luna terus menangis tanpa berniat untuk membujuknya. Dia membiarkannya jika menangis akan membuatnya merasa lebih baik.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2