
Deretan bangunan-bangunan pencakar langit berjejer. Sorot lampu-lampu yang berasal dari apartemen maupun gedung-gedung itu berkedip-kedip bagaikan kumpulan emas yang menyilaukan saat terkena cahaya.
Di sebuah apartemen kelas atas, seorang wanita bergaun hitam berdiri anggun di balkon kamarnya, Menikmati hembusan angin malam yang berhembus dingin. Mata hazelnya menatap kosong kedepan, sesekali jari-jari lentiknya menyetuh gelas kaca yang beirsi coktail, menggenggamnya dan dengan perlahan menyesapnya. Minuman yang memabukan itu perlahan mengalir membasahi tenggorokanya.
Angin malam berhembus sangat dingin, namun wanira dengan gaun model kemben itu tetap bisu tak bergeming, sepertinya ia enggan berbicara pada malam atau bahkan untuk sekedar mengusap lenganya yang bergetar akibat udara malam yang kian menusuk.
Wanita itu sedikit tersentak saat merasakan sesuatu yang hangat jatuh diatas bahunya disusul sepasang tangan memeluknya dari belakang. Punggung kecilnya bersandar pada dada bidang seseorang yang tersembunyi apik dibalik kemeja hitamnya.
"Udara di sini sangat dingin, kenapa tidak masuk? Kau bisa sakit," ucap orang itu tanpa melonggarkan sedikit pun pelukkannya.
"Jika aku kedinginan, bukankah ada Oppa yang bisa membuatku merasa hangat," wanita itu 'Viona' mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik kanan milik Nathan. "Kau dari mana saja? Kenapa pergi tanpa memberitauku?" tanya Viona. Nathan pergi satu jam setelah percintaan mereka tadi.
"Membereskan seekor serangga pengganggu. Kau terlihat sangat lelah tadi, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu," ujarnya.
Viona melepaskan pelukkan Nathan kemudian berbalik dan posisi mereka saling berhadapan. "Kau membunuh lagi?"
"Hn,"
"Kenapa?"
"Karna dia memang pantas mati!!"
"Apakah tidak ada cara untuk menyelesaikan masalah tanpa harus ada pertumpahan darah? Aku tidak ingin membunuh lagi," Viona menatap Nathan dengan sendu.
"Sebaiknya kita masuk, kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri di sini," Nathan mencoba mengalihkan perbincangan. Nathan tidak ingin menbahas apapun untuk saat ini. "Aku sangat lelah,"
"Baiklah, kita masuk saja," Viona memilih mengalah dan menuruti Nathan.
Diluar sana bulan sabit memancarkan sinarnya yang semakin temaram, burung-burung malam mulai menyanyikan sebuah lullaby lagu pengantar tidur di malam yang sendu ini.
Berkali-kali Viona mencoba untuk menutup matanya tapi dia tidak bisa. Matanya memang tertutup, tapi dia tidak benar-benar tidur. Viona merubah posisi berbaringnya dan berhadapan dengan Nathan yang sepertinya sudah tidur. Viona mengibaskan tangannya di depan wajah Nathan namun tidak ada respon.
"Oppa, apa kau sudah benar-benar tidur?" tanya Viona memastikan. Namun tidak ada respon dari Nathan. Viona mendesah berat. "Oppa, aku tidak bisa tidur," renggek Viona sambil mengguncang lengan Nathan.
"Lalu?"
"Lalu apanya? Jangan tidur dulu dan temani aku," renggek Viona sambil terus mengguncang lengan Nathan.
Pria itu mendesah berat. Nathan membuka kembali mata kanannya kemudian merubah posisinya menjadi duduk. Viona tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" usul Viona dengan mata berbinar-binar.
"Memangnya kau ingin jalan-jalan kemana? Ini hampir tengah malam Nyonya Lu!!"
Viona menekuk wajahnya. "Kalau tidak mau ya sudah, aku juga tidak akan memaksa," wanita itu membuang muka. Nathan mendesah berat.
"Cepat ganti pakaianmu. Aku tidak ingin kau terus-terusan memakai pakaian kurang bahan seperti itu." Viona tersenyum lebar dan mengangguk dengan antusias.
"Oke, dengan senang hati," Viona pun segera melesat pergi. Sedangkan Nathan hanya bisa mendengus danenggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.
.
.
.
Sepasang suami-istri terlihat terus berjalan di tengah hiruk pikuknya malam di Kota Seoul, mereka berdua dengan setia berjalan di tengah dinginnya malam di antara para pejalan kaki yang berlalu lalang saat ini.
Malam ini cukup cerah untuk mendorong sebagain penduduk Kota Seoul untuk menikmati suasana malam Ibu Kota Korsel ini, sehingga trotoar jalanan utama kota itu terasa sesak oleh jutaan manusia.
Mereka berdua tetap berjalan pelan dengan tangan mereka yang saling bertauran. Meskipun hampir tengah malam, namun kora masih tetap hidup dan ramai.
__ADS_1
Mereka, Nathan dan Viona menikmati ketukan pada sepatu masing-masing yang bertepukan dengan permukaan trotoar. Sesekali Nathan menatap wanita disampingnya dan tersenyum tipis. Sekali-kali Viona mendongakkan kepalanya ke atas, melihat binar lampu gedung di sekitarnya yang cukup untuk menggantikan cahaya bintang yang tak nampak di langit.
Wanita itu sedikit mengangkat sudut bibirnya. Ia tersenyum mengingat-ingat semua memori indah bersama Nathan dulu. Viona fikir jika hidupnya akan terasa hampa dan sunyi tanpa kehadiran Nathan lagi. Apa yang menimpanya lima bulan yang lalu membuatnya terpaksa berpisah dari sang suami selama beberapa waktu.
Hatinya sekaligus terasa sesak setiap kali mengingatnya. Tapi Viona tetap berusaha untuk tersenyum, dua tidak ingin terlihar lemah di depan orang lain mengingat jika dirinya sedang berperan menjadi orang yang berbeda. Dia hanya ingin menunjukkan kalau ia tetap tegar tapi serasa hatinya tak mengijinkan.
Selama lima bulan terpisah jauh dari Nathan membuat hati Viona terasa sesak. Dadanya seperti ditekan dan terhimpit bongkahan batu besar. Dan untuk itu dia tidak ingin berpisah lagi meskipun hanya satu detik saja.
Dan akhirnya mereka sampai di pinggiran Sungai Han, tempat yang penuh dengan kenangan. Mereka bertemu di sini untuk pertama kalinya saat itu usia Viona masih lima tahun. Terlihat oleh wanita cantik itu, bayang-bayang sepasang anak kecil laki-laki dan perempuan yang sedang duduk di pinggiran sungai, saling berbincang dan berbagi cerita.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tegur Nathan melihat kediaman Viona.
Wanita itu lantas menoleh dan menggeleng. "Tidak ada, hanya sedikit mengenang masa lalu kita di sini. Di sinilah pertama kalinya kita bertemu, saat itu usiaku masih lima tahun. Aku selalu memanggilmu Oppa tampan, kau sering sekali menggendongku dipunggungmu. Kau memperlakukanku dengan hangat dan penuh kelembutan. Katakan jika aku gila karna memiliki rasa padamu saat usiaku masih sangat kecil, tapi itulah faktanya. Aku selalu bermimpi untuk menjadi pendampingmu suatu saat nanti."
"Dan kemudian suatu hari aku berkata untuk menikahimu ketika usiamu sudah dua puluh satu tahun? Aku ingat saat kau tersenyum, menagis dan saat kau tertawa. Semua kenangan-kenangan indah itu masih terekam jelas di dalam ingatanku,"
Kedua mata Viona lantas membelalak. "Oppa, apa kau sudah mengingat semuanya? Tunggu, kau mendapatkan kembali ingatan masa lalumu?" Viona menatap Nathan tak percaya. Pria itu mengangguk, dan selanjutnya bibir Viona berada dalam pagutan bibir Nathan.
Mereka berciuman dibawah terangnya sinar bulan purnama yang menghiasi gelapnya langit malam ini.
Ciuman lembut tapi menuntut itu terasa memabukkan bagi Viona yang tak terlalu berpengalaman. Yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah meremas kemeja belakang Nathan erat-erat. Viona bisa merasakan jantungnya berdetak puluhan kali lebih kencang daripada biasanya. Ia yakin Nathan bisa merasakannya juga dilihat dari seberapa dekat tubuh mereka. Meskipun ini bukan pertama kalinya, tapi Viona selalu berdebar setiap kali berciuman dengan Nathan.
Viona mengerang pelan ketika Nathan memindahkan tangan kanannya ke sisi kanan pipi Viona. Nathan menempatkan tangannya sedimikian rupa di sepanjang rahang hingga tengkuknya dan membimbing Viona untuk memperdalam ciuman mereka.
Bibir dan lidah Nathan benar-benar membuatnya gila. Membuat Viona selalu merasakan jika tubuhnya seperti teraliri listrik yang menyebar ke seluruh bagian tubuhnya tanpa terkecuali, melewati pembuluh-pembuluh darah untuk kemudian berkumpul lagi di suatu titik dan meledakkan bom kebahagiaan di hatinya.
Kebahagian itu membuat kakinya terasa seperti jelly yang ia yakin tak akan kuat menopang berat tubuhnya sendiri untuk lebih lama lagi. Dan jika saja tangan Nathan tak menopang pinggulnya, sudah pasti ia akan jatuh terduduk sejak tadi. Sungguh Viona sangat bahagia dengan kebersamaan mereka saat ini. Dan Viona tidak ingin jika sampai terpisah lagi.
Nathan mengakhiri ciumannya dan tersenyum tipis. Jari-jarinya mengusap liur dibibir Viona. "Kita pulang saja, aku benar-benar lelah dan ingin segera beristirahat." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona. Dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan Sungai Han.
-
Kebaikkan akan selalu menang dari kejahatan
Dan itulah yang dialami oleh Bram Winata. Kini ia harus menelan ludah pahit akan kenyataan yang sudah tidak bisa diputar balik.
Bangkrut, pailit.
Itulah sebutan yang tepat bagi kondisi perusahaannya saat ini. Bukan hanya perusahaan, rumah, tanah, segala aset serta hartanya pun terancam lenyap untuk menutupi hutang-hutang yang disebabkan oleh kebodohannya sendiri.
Kondisi miris yang berusaha disembunyikannya mati-matian dari semua orang, termasuk Sandora Lim yang tak lain dan tak bukan adalah mantan kekasih gelapnya.
Bram kehilangan beberapa investor terbesarnya yang kemudian mereka bergabung dengan sebuah perusahaan besar yang dipimpin oleh seorang CEO muda yang begitu hebat. Dan semua itu bermula ketika Bram ingin menyingkirkan putri dari mantan musuh besarnya yang ternyata adalah istri dari orang yang menghancurkan perusahaannya.
Kini tak banyak yang bisa Bram lakukan selain meratapi nasibnya. Nasi sudah menjadi bubur dan Bram tau jika semua tidak akan bisa kembali seperti sedia kala.
"Kau sudah terlalu banyak minum, Bram. Kau bisa mabuk," Dora merebut gelas itu dari tangan Bram kemudian meletakkannya di atas meja. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kau terlihat sangat buruk,"
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pening saja. Apa yang membawamu datang kemari?"
"Aku menbutuhkan dana, perusahaanku dalam masalah besar. Bisakah kau meminjamkan satu milyar won padaku?"
Sontak Bram mengangkat wajahnya. "Apa kau sudah gila? Satu milyar won bukanlah jumlah yang sedikit. Bagaimana mungkin aku bisa membantumu jika perusahaanku sendiri saja sedang dalam masalah besar. Jadi cari orang lain saja, sebaiknya kau keluar sekarang. Aku sedang tidak ingin diganggu,"
"Kau mengusirku? Tidak semudah itu. Dan lagi pula apa artinya satu miliar won untukmu? Dan beginikah kau membalas semua kebaikkanku padamu? Apa kau lupa siapa yang dulu membantumu ketika kau berada dalam masalah? Dan ini adalah pertama kalinya aku meminta bantuab darimu, dan kau malah menolaknya?"
"Tapi masalahnya aku tidak memiliki uang sebanyak itu,"
"Bohong!!" Dora Menyela cepat. "Kau fikir aku tidak tau jika kau membohongiku. Baiklah, kau sendirilah yang memaksaku melakukan ini, apapun kan aku lakukan untuk mendapatkan uang itu, bahkan jika harus membunuhmu!!"
__ADS_1
Mata Bram membelalak. "Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan senjata itu!!" pinta Bram menuntut.
Dora menyeringai tajam. "Maaf, tapi aku harus melakukan ini padamu," Dora melepaskan dua tembakkannya dan membuat Bram jatuh tersungkur tak bernyawa. Dora bergegas menemukan semua uang dan aset-aset berharga milik Bram. Dan setelah mendapatkannya, Dora meninggalkan kediaman Wiranata dengan membawa semua harta hasil dari rampokannya.
Dan setibanya di luar, Dora membakar rumah bertingkat tiga itu untuk menghilangkan barang bukti. Wanita itu tersenyumpuas. "Sampai jumpa lagi di Neraka, Bram Wiranata!!"
-
" AAAAHHHHHH.????"
BRAKKKK...
Shion menjerit ketakutan dan membanting ponselnya begitu saja saat melihat sebuah rekaman mengerikan yang entah dari mana datangnya tiba-tiba saja muncul di dalam ponselnya, tanpa menghiraukan ponselnya yang telah hancur berkeping-keping. Shion beranjak dari tempat itu sampai sayup-sayup suara seseorang memanggil namanya menghentikan langkahnya.
"Shion Choi, temani aku. Aku kesepian di sana."
Degg...
Shion tersentak setelah mendengar suara itu. Dengan ragu Ia menolehkan kepalanya, kedua matanya membulat sempurna melihat sosok yang sangat mirip dengan Viona berdiri di belakangnya dengan sekujur tubuh penuh darah. Sosok itu mengulurkan tangan padanya, Shion menggeleng dan berjalan mundur.
"Shion, Shion Choi, Shion, temani aku. Aku sangat kesepian."
"Tidak mau, kau sudah mati. Pergi dan jangan menggangguku, pergi kau. PERGIIIIII.???" jerit Shion sambil memejamkan matanya.
"Shion, temani aku. Aku kesepian, jebal."
Shion menutup rapat-rapat telinganya dan menggeleng, Ia tidak mau bila arwah Viona sampai membunuhnya. Ia berbalik dan berlari sekuat yang Ia bisa, namun sulit. Seperti ada yang menahan kakinya.
"Shion, Shion, aku sungguh sangat kesepian di sana. Ikutlah denganku dan temani aku,"
"Pergiiiiiii!!" jerit Shion untuk yang kesekian kalinya.
Dan jeritan keras Shion yang kencang langsung menyita perhatian beberapa orang yang berada di gedung bioskoptermasuk kedua sahabatnya yang kini menjauhinya karna menganggapnya kurang waras.
"Dina, Sanny, usir hantu itu dan minta dia untuk tidak menggangguku lagi." pinta Shion sambil memegang kedua tangan sahabatnya. Namun dengan kasar mereka berdua menghempaskan tangan Shion dengan kasar.
"Berhentilah berhalusinasi Choi Shion, tidak ada siapa-siapa di sini." ucap Dina menegaskan.
"Apa kalian tidak melihat ada wanita yang berdarah-darah berdiri di sana? Aku mohon, tolong aku."
"Kau benar-benar kurang waras Choi Shion, kita berdua jadi curiga padamu. Apa jangan-jangan kau memang ada hubungannya dengan kematian wanita itu?" selidik Sanny
"A-pa yang kau bicarakan. Aku tidak ada hubungannya dengan kematiannya, dan aku tidak tau apa-apa." balas Shion meyakinkan.
"Shion, Shion,"
" Pergiiiiii, jangan menggangguku lagi." jerit Shion pada sosok Viona yang masih terus membayanginya.
"Temani aku, aku kesepian."
"Tidak mau, aku tidak mau matiiiii!!" Ahion berteriak dan berlari dari tempat itu, meninggakan semua orang yang tengah mengerumuninya.
"Sepertinya dia benar-benar sudah gila." ucap Dina dan di balas anggukan oleh Sanny.
"Kau benar, ya sudah. Semuanya bubar." seru Sanny.
Setelah semua orang meninggalkan tempat itu, terlihat Viona keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tersenyum puas melihat Shion yang sangat ketakutan, ternyata boneka porselen yang Tania datangkan dari luar negeri bisa menggantikan sosoknya sendiri. Hingga membuat Shion sangat ketakutan.
"Nikmati hari-hari burukmu, Shion Choi. Dan" tunggu yang lebih menyakitkan dari ini. Aku pastikan semua orang akan menjauhimu dan menganggapmu kurang waras, aku akan membuat hari-harimu menjadi mimpi buruk yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya."
__ADS_1
-
Bersambung.